Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 48


__ADS_3

Dalam perjalanannya menuju butik Bu Rima, Ily memainkan Instagramnya. Ily memakai taxi online, sengaja agak dia bisa lebih bersantai. Rasanya lama sekali sejak dirinya naik taxi. Terakhir kali, waktu bersama Eza, lima tahun yang lalu.


Feeds Instagram Ily tak jauh dari qoutes tentang kehidupan, dunia kuliah, K-pop, kisah kasih pasangan dan pesan-pesan untuk bahagiakan orang tua. Ily selalu suka melihat foto estetis milik orang-orang, hingga tak terasa bahwa dirinya sudah menghabiskan banyak waktu dan kuota.


Ily tak pernah menyesal bermain Instagram lama-lama, sampai dia bertemu postingan terbaru Raihan.


Laki-laki itu memposting dua foto. Foto pertama, menampilkan dirinya yang tertawa saat akan memakan burger, matanya melihat ke kamera dengan membulat, seolah ada seseorang di depannya yang memotretnya tanpa persetujuan.


Awalnya, itu normal-normal saja bagi Ily.


Sampai ia menggeser layar untuk lihat foto di slide kedua. Jantung Ily seolah berhenti sejenak, sebelum akhirnya bekerja cepat kala melihat sosok perempuan di foto itu. Jika Raihan tampak menyadari saat di foto, kini perempuan itu difoto secara diam-diam, menangkap momen di mana dirinya sedang menyedot boba dengan mata melirik ke jendela di sampingnya. Benar-benar tipe foto candid yang estetis.


Dibawah dua foto yang diposting itu ada sederet kata yang diketik Raihan sebagai caption.


Raihn_


Pengennya balas dendam karena ngambil foto tanpa misi-misi, malah dapet foto candid yang beautiful @Joooehe


Ily hafal siapa perempuan itu. Dia orang Korea, sama seperti Yohan, baru bertemu dengan Ily kemarin lusa, Lee Joehee.


Selama ini, Ily tak pernah tahu ada sosok Joehee yang telah kenal dengan Raihan sejak dulu, sejak dia masih kuliah dan Ily baru-baru membantu Bu Rima, artinya, bisa jadi lima tahun yang lalu.


Jika Raihan menyembunyikan Joehee, kemudian mengemukakannya saat telah bertemu dengan Ily, itu adalah langkah yang menyakiti Ily.


Bisa jadi, lima tahun lalu, Raihan sering begini.


Ily jadi membayangkan saat-saat dirinya dan Raihan bersama, berbagi waktu dan menghabiskan masa bersama-sama. Canda dan duka selalu dirasa berdua.


Memang, Ily tak pernah menganggap Raihan lebih dari teman, namun kadang, ada ruang dalam hatinya yang menginginkan posisi Raihan itu lebih dari teman untuk Ily. Jika rasa ini muncul setelah melihat postingan itu, pasti ada hati Ily yang memberontak keras untuk ungkapkan ini pada Raihan.


Bahwa dengan begitu, Ily tak menganggap Raihan hanya teman seperti Elvan dan Eza yang tak pernah saling menaruh rasa.


"Mbak, udah nyampe, nih," kata supir tadi yang ditumpangi Ily setelah taxi Yang dikemudikannya berhenti di depan butik Bu Rima.


Ily tersenyum, memberi ongkos beserta tip dan mengucapkan terimakasih sebelumnya akhirnya membuka pintu taxi dan keluar untuk melangkah menuju butik Bu Rima.


Tadi, Raihan mengirimkan pesan berisi supaya Ily datang secepatnya ke sini. Entah apa maunya, tapi Ily tak mau menolaknya.


Waktu masuk, Ily disambut Bu Rima dan mengobrol sebentar mengenai keadaan dan rencana Ily untuk libur besok hingga waktu yang tak menentu karena dia ada urusan. Mengenai Yohan, tentu Ily tak memberitahukannya pada Bu Rima. Bu Rumah menerimanya dengan ramah, kemudian memberitahukan bahwa Raihan sudah menunggunya di lantai atas.


"Kalau gitu, Ily ke atas, ya, Bu," pamit Ily dengan senyum lebar seperti biasanya.


Bu Rima mengangguk pelan. "Iya, Ly. Sana."


Tiba di lantai atas, Ily perlu mengedarkan pandangannya lebih dulu untuk melihat Raihan yang duduk di ujung kursi untuk pelanggan, tepat di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan favorit Ily. Langit tampak sangat cerah, awan-awan putih bergerak perlahan dan ada beberapa burung yang beterbangan menghiasi langit siang ini.


Raihan menoleh pada Ily sewaktu Ily melepas tas selempangnya dan duduk di depannya. Dengan kening agak berkerut, Ily menatap Raihan.


"Mau ada apa manggil gue, Han?"


"Gue ganggu nggak? Dijemput nggak mau, sih," gerutu Raihan setelah bertanya dengan nada yang agak tak enak.


Ily tertawa kecil. "Nggak ganggu, kok. Gue lagi libur ngajar. Gue pengen mandiri juga, dong, Han. Masa harus dianter-anter, dijempit-jemput udah gede gini."


"Nggak nyangka sih, kita gede bareng," tukas Raihan dengan senyum simpul.


"Iya," balas Ily dengan senyum serupa, matanya memandang pada langit, mengingat masa dulu, masa kuliahnya, masanya bersama Raihan. "Kangen banget."


"Dulu, lo sering banget telat bangun dan akhirnya nongkrong di warung nasi uduk. Sering juga lo salah bawa tas sampai maksa gue buat anterin balik, terus lo promosiin novel gue sebagai gantinya," cerita Raihan nostalgia. "Nggak jarang juga orang-orang bilang kita pacaran, saking deketnya. Lo pernah lake jaket gue juga karena waktu itu hujan, gue pernah pake sepatu lo karena punya gue ilang waktu masuk lab. Kita pernah dihukum bareng karena ikut-ikutan demo sama curat-coret bangunan kampus bagian belakang."


Ily tertawa terhibur. "Iya, bener. Masa yang nggak akan gue lupa emang waktu itu. Nggak nyangka sekarang, semua itu tinggal kenangan. Padahal, rasanya baru kemarin kejadiannya."


"Lo juga pernah panik banget waktu kamus lo hilang, sampai nangis dan bikin gue khawatir banget," lanjut Raihan, membuat Ily ikut mengingat-ingat dan membulatkan matanya saat ingat.


"Ya, gimana, ya. Kamus itu isinya catatan penting, penting banget. Gue nyusun itu tiga tahun, gimana nggak panik, coba? Kayak kehilangan hp yang isinya foto-foto aib temen atau film-film yang sudah banget didapatnya. Atau, memori ke formatlah. Gimana rasanya?"


Raihan tertawa. "Ah, I know."


"Kan."


"Lucu tapi."


"Lucu apanya?!"


"Tau tau, kamusnya ada di bawah bantal, wuanjay."


"Hehe. Udah ah, malu, jangan bahas itu."


Raihan berhenti tertawa, kemudian berpikir. "Eh, lo inget nggak waktu pertama kali lo belajar motor?"

__ADS_1


Ily terdiam sebentar, kemudian menunjukkan jari telunjuknya dengan mata membulat lagi. "Ah, inget gue! Inget banget, Han! Aduh, parah, sih, waktu itu."


"Lo jatoh."


"Sakit," ringis Ily seperti merasakan kembali bagaimana dia jatuh saat latihan mengendarai motor bersama Raihan. Ada Eza juga di sana, namun laki-laki itu tak membantu banyak. Justru mendokumentasikan kejadian jatuhnya Ily Dalam bentuk video yang masih ada sampai sekarang.


Jadi, Ily latihannya di sebuah lapangan. Namun, ada lubang yang lumayan dalam di sana, Ily yang baru pertama kali naik motor tentu ketar-ketir dan akhirnya terjebak di lubang itu sampai tubuhnya berguling ke depan karena sebelumnya ia menarik gas lumayan keras.


"Tapi lo nggak nangis," kata Raihan bangga.


Pipi Ily langsung memerah. "Lo sih, langsung meluk gue gitu. Pake erat banget lagi, gue kan jadi kaget. Jadi lupa mendadak sama sakitnya."


"Haha, bagus deh."


Ily tersenyum, kemudian keheningan melingkupi sesaat sebelum akhirnya Raihan kembali bersuara.


"Sekarang, apa lo udah merasa senang?"


"Sangat senang," balas Ily cepat. Tersenyum amat lebar hingga membuat hati Raihan menghangat melihatnya.


Raihan hanya terdiam melihatnya, memerhatikannya lamat-lamat. Tanpa kata, tanpa suara. Ily ikut memerhatikannya, namun dalam artian berbeda. Kemudian, kening Ily mengerut lagi.


"Btw, lo mau apa?" tanya Ily kemudian.


Ketika Raihan hendak menjawab, ponsel Ily lebih dulu berdering dan membuat fokus Ily teralihkan. Ily segera tersenyum polos. "Bentar, ya, Han. Mau cek dulu, siapa tau penting."


"Iya, boleh."


Rupanya ada pesan dari Yohan yang menanyakan kapan Ily kembali. Ily sontak tertawa kecil karena ia merasa baru saja tiba dan tak mungkin sudah capai satu jam meninggalkan Yohan.


Ketika Ily tertawa, Raihan melihatnya dengan pandangan cemburu tanpa Ily sadari.


Jangan dulu rindu, kayaknya aku kembali satu jam lagi. Sabar ya, Yohan. Hehehe


Ily membalas begitu dan selesai. Ponselnya itu kembali ia letakkan dan berbalik kembali pada Raihan dengan alis terangkat.


"Lanjut, Han. Lo mau apa?"


"Barusan dari siapa, Ly?" Raihan refleks bertanya.


"Yohan." Dan Ily refleks menjawab begitu.


Kemudian, hening melingkupi.


Karenanya, Raihan menunggu Ily untuk membuka mulutnya supaya dirinya mendapatkan sebuah penjelasan.


Merasa jika tetap diam tak akan mendapatkan jalan keluar, Ily akhirnya berdeham.


"Jadi, lo mau apa, Han?" Lagi-lagi Ily bertanya begitu.


"Yohan siapa, Ly?" tanya Raihan dengan berani.


Ily mengusap setengah wajahnya dengan bingung. Ia meringis sebelum akhirnya bersuara. "Dia temen gue."


"Temen?"


"Temen deket. Waktu SMA. Dia pindahan dari Korea, tetangga gue, hanya tiga bukan ada di Indonesia buat ikut UN dan lulus, setelahnya dia balik lagi ke Korea." Ily menjelaskan singkat dan padat. "Sekarang, dia udah kembali."


"Lo seneng?"


Ily mengangguk berkali-kali dalam tempo yang cepat. "Seneng banget, Han. Rindu gue akhirnya terhapuskan ... eh ... maksudnya ... e ...."


Keceplosan, Ily tak mampu berkata-kata lagi. Kini, ia malu sekali hingga tak mampu membalas tatapan Raihan.


Raihan tak menjawab, justru rahangnya mengeras dan bersamaan dengan itu, tangan kanannya membuka kepalannya yang sedari tadi menyembunyikan sebuah kotak beludru merah. Semua orang yang melihatnya pasti sudah tau apa yang terkandung di dalamnya.


"Ly," panggil Raihan supaya Ily melihatnya padanya dan melihat apa yang ada di depannya kini.


Raihan menggeser kotak beludru merah itu pada Ily.


Mata Ily membulat sesaat, kemudian menatap Raihan dengan mulut terbuka.


"Raihan ...."


Tanpa basa-basi, Raihan membuka kotak beludru merah itu dan terpampanglah sebuah cincin emas dengan permata cantik di atasnya. Ily dibuat tak bisa berkata-kata karenanya.


"Lo boleh jawab kapan aja, Ly."


"Raihan ...."

__ADS_1


"Sekalipun harus gue tunggu seumur hidup."


Ily meringis. "Raihan ...."


"Gue tau, gue paham, gue terima." Raihan segera menukas, seolah tahu apa yang dipikirkan Ily. "Apa kurang cukup?"


Ditanya begitu, Ily seperti perempuan tak tahu diri yang amat jual mahal. "Bukan begitu, Raihan."


"Terus apa?" tanya Raihan seolah sudah amat lelah.


"Lo ... bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik," kata Ily takut-takut.


Raihan menggeleng. Wajahnya menatap tegas. "Lima tahun udah gue coba berpindah hati. Hasilnya nihil, Ly. Gue nggak bisa."


"Tapi, Raihan ...."


"Gue paham, Ly."


"Lo paham apa, Han?" tanya Ily dengan kening mengerut dalam.


"Orang tua lo bilang kemarin, lo hanya belum siap--"


"Salah." Ily menggeleng sambil menahan air mata yang mulai ingin menetes setelah membuat matanya berkaca-kaca dan pandangannya jadi memburam. "Lo salah, Raihan. Lo salah...."


Raihan mengerjap. "Salah ... gue salah apa?"


Ily menelan ludah dengan pahit. "Selama ini ... selama ini ... gue bukan belum siap, gue bukan mau mencoba, gue hanya ... gue hanya sudah punya perahu yang sudah berlabuh di hati."


Air muka Raihan tampak kacau. Ily juga sedih melihatnya, namun mau bagaimana lagi, hati tidak bisa dibohongi atau berpura-pura. Apa yang Ily ungkapkan adalah apa yang ia rasakan kini.


"Gue," tanggap Raihan agak terbata, "Gue paham, Ly. Oke. Fine."


Ketika Raihan kembali menutup kotak beludru merah itu dengan wajah menyerah yang putih asa, seperti ada sesuatu dalam tubuh Ily yang retak.


***


Ily membatalkan acara jalan-jalannya bersama Yohan.


Sekarang, dia ada di atas ranjangnya, menutup kepala dengan bantal. Ily sedang galau.


Jika dihitung-hitung, Ily jarang galau selama hidupnya.


Ily pernah galau sewaktu masih kuliah dulu. Dia ditugaskan untuk danus karena akan ada acara besar di kampusnya yang melibatkan jurusan kuliah Ily. Ily tak bisa berjualan atau memikirkan ide dengan cepat--di tambah lagi waktu itu dia sedang diam-diaman dengan Raihan dan Eza berada di fase sibuknya, karenanya semalaman ia galau dan galaunya seperti ini. Di atas ranjang, melamun, menutup wajah dengan bantal, berharap bisa tertidur saja dan melupakan semuanya. 


Sekarang, Ily galau lagi. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah sikap Raihan, juga Yohan. Bukannya Ily merasa diperebutkan dan harus bijak dalam membagi hatinya atau memutuskan satu hati, meretakkan satu hati untuk bersatu dengan hati yang lainnya.


Ah, Ily tak tahu jika sudah besar, dirinya akan berurusan dengan masalah hati.


Padahal, jika fokus karir saja, Ily mungkin tak akan sepusing dan segalau ini. Lebih baik berkutat dengan tensis dan menambah vocabulary atau membuat pola memusingkan daripada berperang dengan hati seperti ini.


Raihan dia buat sedih, kemudian Yohan juga, karena Ily tiba-tiba tak mau dihubungi olehnya.


Harusnya Ily memanfaatkan waktu. Yohan tak akan lama di sini, namun kini, dia justru kepikiran akan Raihan.


Sebenarnya, apa maksud Raihan benar sungguh-sungguh saat memberinya cincin?


Ily ingin percaya bahwa Raihan sudah sungguh-sungguh, namun ada bagian hati lain yang tak siap akan itu.


Mungkin Ily akan terus galau hingga larut jika ponselnya yang lupa disilent itu berdering keras hingga Ily hampir meloncat dari tidurnya.


Segera, Ily bangkit dan menempel ponselnya ke telinga saat rupanya Elvan menelepon.


"Ily."


Itu suara Yohan. Terdengar serak dan menahan sakit.


Mata Ily membulat. "Hah, kamu kenapa, Yohan?"


"Tunggu sampai Eza datang. Maaf aku merepotkan."


"Jangan nangis dulu," kata Elvan setelah mengambil kembali ponselnya dari Yohan.


"Ada apa sih?"


Elvan menutup sambungan telepon tanpa membalas pertanyaan Ily dengan jawaban yang membuat jantungnya tenang. Ily terus merapal doa saat bersiap-siap dan menunggu kedatangan Eza seperti apa yang dibilang Yohan.


Ada apa sebenarnya?


***

__ADS_1


**sedikit lagi menuju .... ending


kalau ada 15 komen, baru aku lanjut lagi hehew**


__ADS_2