Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 2


__ADS_3

Sebelumnya ....


"Kamu tau nggak apa yang bikin aku nggak mau pisah sama kamu?" Ily bertanya pelan.


"Apa, deh?"


"Karena kamu Yohan." Ily berbalik untuk menatap Yohan dengan senyuman lebar. Tangannya menyentuh pipi Yohan dengan lembut. "Kalau nanti kita punya anak, aku ingin namanya ada 'Kim'-nya kayak kamu. Biar sifat pengertiannya nular."


Yohan turut tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Kalau kita punya anak, aku mau namanya ada 'L'-nya biar anak itu 'love' ke aku kayak kamu ke aku."


Ily menepuk pelan dada Yohan, tertawa geli untuk setelahnya memikirkan masa depan mereka bersama anak-anak dan akhirnya tak bisa tidur karena terlalu bersemangat.


*** h a p p y r e a d i n g ***


Hari-hari Yohan dan Ily terasa begitu menyenangkan. Terasa begitu ringan dan penuh kenangan.


Yohan dan Ily banyak menghabiskan waktu bersama, dengan tawa dan penuh rasa. Hari demi hari berganti, dengan silih peduli dan kasih sayang mereka melewatinya seperti detik demi detik. Bulan ke tahun, terasa sangat cepat karena keduanya punya kesibukan masing-masing. Ily dengan Lembaga Bimbel-nya, karena dia menjadi guru di sana dan Yohan dengan Always Happy yang sering waktunya jelas saja bertambah besar.


Tahun ke tahun berlalu, terasa seperti mimpi bagi mereka.

__ADS_1


Hingga satu buah kebahagiaan tiada Tara hadir, mewarnai kisah mereka.


"Aduh, lucu sekali cucuku," kata ibu Ily saat melihat anak pertama Ily yang kini sudah berumur genap tiga bulan. Ily Masih tampak lemah dan baik ibu Ily maupun Yohan, keduanya bergantian untuk menjenguk atau memberi Ily saran.


Mengurus Ily dan anak pertamanya, Yohan juga tampak kewalahan. Rambut laki-laki berumur dua puluh enam tahun itu tampak seperti anak ayam yang baru lahir; acak-acakan dan belum dikeramas lagi sejak dua Minggu yang lalu.


"Udah mulai hitam rambutnya." Ibu menggendong anak Ily dengan lembut, mengambil alih dari Ily. "Jadi, namanya siapa, Ly?"


Ily tersenyum tipis.


Dia mengingatkan bagaimana dirinya dan Yohan pernah berdebat panjang soal nama anak pertama mereka.


"Sama dong kayak aku, coba beda I di depannya." Ily berdecak kurang setuju. "Nggak, ah. Jangan itu. Terlalu pasaran juga kedengarannya."


"Em ...." Yohan berpikir lagi. "Ilsa aja gimana?"


Ily mengurut pangkal hidungnya dengan frustasi. "Itu kan cuma dibalik huruf pertama sama keduanya, Yohan. Coba yang lebih kreatif."


"Lana aja gimana?" Yohan terus berusaha agar dapat disetujui oleh Ily sarannya.

__ADS_1


"Kok nama cewek-cewek semua?" Ily mengusap perutnya yang masih berusia dua bulan kandungannya. "Gimana kalau cowok?"


"Aku yakin cewek, sih." Yohan menukas cepat, entah dari mana perkataannya bersumber, tapi dia tampak yakin sekali. "Gimana itu kalau Lana?"


"Bentar, aku juga pengen namaku ada di nama anakku, tapi jangan sampai kedenger mirip banget," tukas Ily seraya berpikir lagi. "Aku Ily, Lana tambah Ily ... Liliana aja gimana?!"


Mata Yohan membulat, langsung setuju. "Liliana Kim! Pas sekali, enak didenger dan dari huruf L pula!"


Ily mengangguk-angguk. "Iya, itu aja deh. Bagus, kan?"


"Super bagus!" Yohan mengacungkan jempolnya, kemudian mencium perut Ily dengan sayang. "Halo, Lili! Eh, kok namanya mirip sama kamu, Ly? Katanya nggak mau mirip-mirip?"


Ily tersenyum senang. "Tapi, Liliana bagus, kan?"


Kening Yohan mengerut. Baru saja dia hendak mendebat, namun dia langsung ingat sebuah pertanyaan tentang 'perempuan itu selalu benar'.


Jadi, Yohan tersenyum saja dengan senangnya. "Nggak sabar ketemu Lili-ku yang cantik*."


"Namanya Lili, Bu," balas Ily. "Liliana Kim."

__ADS_1


***


__ADS_2