
"Menurut lo Lili cantik nggak?"
Mata Lli langsung membulat panik, rasanya sangat malu. "Ih, apasih, malu gue, Mil. Jangan digitu-gitu dong."
"Theo, jawab dong." Mila mengabaikan perkataan Lili.
"Cantik." Theo menjawab setelah ada sedikit jeda setelah suara Mila. Dia menatap Lili lurus-lurus. Dengan wajah datar dan gugup yang ditahan, dia menjelaskan, "Lo cantik Li."
Cewek-cewek yang ada di kelas itu melongo. Terkejut luar biasa. Tak pernah menyangka mereka bisa mendengar Theo memuji seorang perempuan atau menatap Lili seperti suami yang menatap istri tercintanya.
Lili sama tercengangnya.
Mila langsung menepuk-nepuk paha Lili dengan riang. "Tuh, kan? Ish, gemes gue sama lo!"
Selanjutnya, Lili menunduk. Malu sekali.
***
"Mau bareng, nggak?"
Ditanya begitu tanpa aba-aba membuat Lili kehilangan keseimbangan di tangannya hingga tas yang semula akan dia gendong terjatuh ke lantai kelas.
__ADS_1
Mila yang mendengar suara jatuhnya tas itu sontak terkejut karena dia sedang fokus membereskan koran-koran di ujung kelas. Khawatir akan ada apa-apa, Mila segera menyusul keberadaan Lili ke depan kelas. Bersama empat temannya yang menjadi asistennya, Mila menghadap Lili.
"Li? Lo nggak apa-apa, kan?"
Lili tersenyum kikuk pada Mila. Kemudian segera mengambil kembali tasnya. "Gue nggak apa-apa, Mil. Ayo, pulang!"
Theo hanya tersenyum tipis seraya mengikuti langkah enam cewek di depannya saat Lili langsung memeluk lengan Mila untuk berjalan di sisinya. Mereka melangkah menuju parkiran. Sudah jelas Lili menghindarinya.
Sayang sekali, Theo tak suka tak diacuhkan seperti ini.
"Besok kita mulai dekor, ya," kata Mila memberitahu. "Sambil latihan catwalk juga."
Lili cemberut. "Harus banget, Mil?"
"Oke, deh," balas Lili paham.
Tak lama kemudian, Mila berserta teman-temannya yang lain berpamitan karena arah rumah yang berbeda. Sore mulai menampilkan akhir eksistensinya saat Lili mendongakkan kepalanya ke atas.
Segera, Lili membuka ponselnya untuk memesan ojek online. Harusnya Lili sudah memesannya, jika saja tangan Theo tak menutupi layar ponselnya itu.
Otomatis, Lili mendongakkan kepalanya ke arah Theo. Bahkan Lili tak menyadari bahwa Theo masih ada di sini. Matanya sontak membulat sempurna.
__ADS_1
"Theo?"
"Kok kaget gitu?" Alis Theo terangkat sebelah. "Lo nggak denger tadi gue ngajak pulang bareng?"
Lidah Lili kelu. Bola matanya bergerak ke sana ke mari, tak sekalipun berani membalas tatapan mata Theo lagi. Lili jadi ingat kejadian tadi dan terlalu memalukan baginya untuk berhadapan dengan Theo seolah tak ada apapun yang terjadi.
"Itu ... anu ... em ... gue. Itu. Aduh, gimana, ya. Hm, itu, Yo. Gue," gagap Lili saat tak kunjung menemukan alasan untuk pergi dari Theo. "Aha!"
Wajah Lili langsung cerah ketika akhirnya dia menemukan sebuah alasan. Bahkan kini ia berani membalas tatapan Theo yang sedari tadi menatap lurus ke arahnya. "Bukannya lo mau gue jauh-jauh, ya? Bukannya lo mau gue nggak campur-campur urusan lo? Bukannya kemarin udah terakhir kali gue bisa boncengan bareng di motor lo? Kenapa ... terus kenapa sekarang lo ngajakin pulang bareng?"
Theo mendengus, menatap Lili dengan geli. "Ya udah. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa," katanya datar, kemudian segera berlalu pergi. Berjalan menuju motornya dan menyalakannya.
Ditinggal begitu, Lili tercengang. Benar-benar tak percaya dengan arah jalan pikiran Theo. Namun, mau marah sekarang pun rasanya sia-sia saja karena Theo sudah memakai helm-nya dan bersiap untuk pulang.
Lili mendengus keras. Dia menunduk lagi, memesan sebuah ojol. Biasanya ada promo yang membuat ongkos lebih murah. Namun, karena sudah sangat sore, tak ada promo yang tersisa.
"Yah, sayang banget," keluh Lili kecewa. "Tapi nggak apa-apa deh dari pada nggak pulang."
Lili seharusnya sudah bisa memesan ojol itu. Namun, tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi ponselnya akan mati.
"Ih, jangan mati dulu, dong. Ish, gue kan nggak ada uang lagi, anjuir. Ish, woi!" Lili panik. Menyentuh-nyentuh layar ponselnya dengan panik sebelum akhirnya ponsel itu benar-benar mati.
__ADS_1
Lili ingin menangis saja. "Yah, masa gue harus jalan?"