Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 117


__ADS_3

Lili di hadapkan pada sebuah gedung yang sepertinya sudah tak lagi beroperasi. Temboknya beberapa bagiannya sudah roboh, bolong-bolong. Lantai yang dipijak saat Lili masuk sangat kotor dan hitam. Beberapa lagi retak dan rusak dimakan usia dan iklim.


Theo memimpin jalanan. Menuju atap terbuka dari gedung yang tak terpakai ini. Tempat Dika dan dirinya mengenal satu pengedar. Biasanya akan dipakai malam, jadi kalau sore-sore aman-aman saja.


"Theo," lirih Lili ketika Theo mulai melangkah menaiki tangga. Lili menatap tangga itu dengan pupil mata bergetar. Ada ingatan buruk tentang tangga bagi Lili. Lili menatap Theo dengan mata berkaca-kaca, "takut."


"Sini." Theo turun dua anak tangga untuk tangan Lili begitu aja. Hendak mengajaknya untuk naik bersamaan dengannya. "Pegang tangan gue."


Lili tak bergerak saat Theo mulai menarik tangannya. Theo menatap Lili dengan bingung. "Ayo, naik. Kenapa diem aja?"


Lili balas menatap Theo penuh curiga dan perhitungan. "Lo nggak modus, kan?"


"Kalau nggak mau ya nggak apa-apa." Theo langsung melepaskan tangannya dan berdeham agak canggung.


Lili meringis keras. "Nggak akan roboh, kan?"


"Buktinya gue masih berdiri tegak." Theo melangkah menaikki tangga dan membentangkan kedua tangannya dengan lebar. Memberi bukti bahwa tangannya baik-baik saja meski sudah sangat berlumut dan tampak sangat kotor dengan genangan air di mana-mana.


Lili menarik napas dalam-dalam. Mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mengangguk penuh tekad seraya menatap Theo lurus-lurus. "Gue sendiri aja. Nggak apa-apa."


Theo merasa miris. Kemudian, dia berbalik dan mulai melangkah lagi. Belum dua langkah ia ambil, sebuah tangan tiba-tiba terasa menyentuh ujung bajunya dengan kuat.


Theo menahan senyum saat ini.


Lili mencengkram baju Theo, sampai sakit rasanya kulit pinggang Theo karena tangan Lili turut mencengkramnya. Meski begitu, meski sakit, Theo menahannya sampai mereka benar-benar merasa di atap.


Bentangan langit jingga dan sang Surya yang hampir tenggelam langsung memenuhi pandangan. Di bawahnya ada sederet gedung-gedung lagi, pohon-pohon dan mobil-mobil yang melaju dengan warna-warna dan cahaya-cahaya menakjubkan.


Mata Lili seperti mau meleleh melihatnya. Dia segera berlari ke ujung dan memegang tembom pembatas atas gedung sambil melihat-lihat lebih seksama.


"Sayang banget gue nggak bawa HP." Lili berkata dengan sedih, menatap Theo dengan senyuman kecewa. "Pengen difoto, Yo."


"Gue bawa HP." Theo segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. "Mau difotoin?"


"Mau!" seru Lili semangat.


Kemudian, Lili berpose seperti biasa. Dan Theo memotretnya. Dua kali. Pertama, dari belakang saat Lili merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kedua, saat Lili berbalik ke arah kamera dan tersenyum tipis yang membuat langit senja lagi-lagi menjadi background fotonya.


Theo merasa de ja vu.


"Udah." Theo kembali berdiri di sebelah Lili setelahnya.


"Cepet banget." Lili memberi komentar.


Theo menatap Lili dengan bingung. "Mau lagi emangnya?"


"Ya, nggak juga. Cukup kok segitu doang buat gue." Lili tertawa geli. "Jangan dihapus, ya! Langsung kirim ke IG gue aja!"


"Iya." Theo mengangguk kecil.


Lili mengalihkan pandangannya ke depan. Pada langit sore yang hendak berakhir. "Jadi, mau cerita apa?"


"Langsung aja?" Angin berhembus pelan. Membuat anak rambut Lili menari-nari kecil.


Indah. Begitu saat Theo melihatnya. Meski hanya wajah samping Lili yang dia lihat.


"Kenapa harus ditunda-tunda?" tanya Lili tanpa melihat Theo. Pastinya langit sore lebih indah dari Theo. Begitu pikir Theo.


Soalnya, gue pengen lebih lama sama lo. Theo membatin dengan senyum jomlo yang cintanya bertepuk sebelah tanga.


"Nggak mau liat sunset dulu?" tanya Theo. Mencoba berusaha untuk membuat waktunya bersama Lili lebih lama.


"Ya, sambil lo cerita dan gue dengerin, kita liat sunset."


"Oh. Oke." Theo menipiskan bibirnya. Baiklah, sepertinya Lili tak berpikiran sama dengan Theo. Jelas, Lili ingin secepatnya berpisah dengan Theo setelah sunset berakhir.


Theo menarik napas dalam-dalam. Nada suaranya berubah serius saat mengatakan, "Ini tentang Dika sama Sherin."


"Oh, iya." Lili melukis sebuah senyum di wajahnya."Gue penasaran sama mereka."


"Waktu SMP—"


"Gue udah tau sampai tiba-tiba Sherin deketin lo dan bikin Dika anggap lo musuh." Lili cepat-cepat memotong. "Lo cerita kelanjutannya aja."


"Tau dari mana lo?" tanya Theo heran. "Perasaan gue nggak pernah kasih tau."

__ADS_1


"Dari Ten."


"Lo bikin gue ngeri juga, ya." Theo tak percaya Lili berjuang sampai segitunya untuk tahu kisah hidupnya. Sampai bertanya pada Ten yang bahkan tak pernah Theo kenalkan padanya. Alias, Ten itu pastinya orang asing bagi Lili.


Namun, Lili nekat bertanya-tanya padanya tentang Theo. Sungguh, Theo merasa Lili adalah orang yang luar biasa. Perempuan yang luar biasa.


Ah, tidak.


Mungkin kini, atau setidaknya sebentar lagi, penulis yang luar biasa.


Luar biasa gila. Luar bisa nekat.


Lili tertawa kecil. Merasa direndahkan tiba-tiba. "Ngeri-ngeri gini lo suka."


"Nggak." Mulut Theo berkhianat dengan cepat dari hatinya.


"Lah?"


"Nggak salah kata-kata lo." Ternyata, mulut Theo lebih cerdik dari hatinya. Membuat Lili jadi agak kesal.


"Ih, Theo. Serius." Lili mengentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Menatap Theo dengan pandangan lelah. "Lanjut cerita aja, deh. Biar cepet."


Theo tersenyum. Oke.


"Sebenarnya Sherin deketin gue karena dia nggak mau Dika jauh-jauh sama dia. Karena waktu Dika naik ke kelas dua di SMK, Sherin sering liat Dika pulang malem dan kayak cuek banget sama Sherin." Theo menjelaskan dengan cepat. "Sherin takut ada apa-apa sama Dika, jadi dia tes Dika. Dengan deketin gue, Sherin bisa tahu serius atau nggaknya Dika lagi, Sherin bisa tahu cinta atau enggaknya Dika lagi ke dia. Butuh waktu enam bulan buat begitu. Sekarang udah enam bulan lebih satu minggu sejak Sherin begitu."


Lili mengangguk-angguk. Meski sebenarnya ia iri sekali dengan percintaan antara Sherin dan Dika.


"Satu Minggu yang lalu, Dika datengin rumah gue." Theo melanjutkan dengan nada pelan dan penuh kebahagiaan. "Dia bilang tentang penjelasan Sherin ke gue dan minta maaf karena salah paham. Sherin sama Dika sekarang udah baik-baik aja. Dika udah minta maaf ke Sherin dan janji dia nggak akan begitu lagi. Sherin juga minta maaf kalau Dika merasa diragukan banget."


Lili tak bisa menahan senyumannya. Dia juga turut bahagia mendengarnya. "So sweet."


"Memang. Gue jadi kangen waktu dulu." Theo mengangguk setuju. "Tau apa yang dibawa Dika lagi?"


"Apa?"


"Dia liat nomor truk yang nyenggol kita."


"Terus?" Lili membulatkan matanya, super super tertarik.


"Kendaraan itu ilegal dan sekarang udah hilang entah ke mana. Kita nggak bisa minta tanggung jawab. Udah hampir satu bulan Ibu gue cari truk itu, tapi nggak dapet-dapet." Theo menunduk dengan kesedihan menyertainya. "Akhirnya kita nyerah aja. Lo juga terima aja kan?"


"Baguslah." Theo tersenyum. Menatap Lili dengan penuh arti. Kemudian menepuk pelan pundaknya. "Nah, itu cerita terakhir gue. Semoga lo bisa selesaikan cerita itu, ya. Gue nunggu banget. Semangat!"


Lili hanya mampu tersenyum.


"Judulnya apa?" tanya Theo penasaran.


"Kalau gue jujur, lo kayaknya kecewa." Lili tak menjawab pertanyaan Theo. Justru menatap Theo dengan tatapan yang sulit Theo terka artinya apa. "Kalau gue bohong, apa gunanya?"


"Maksud lo?"


Lili menarik napas kecil, kemudian tersenyum satu garis. "Gue berhenti buat jadi penulis, Yo."


"Kenapa?" Theo tak bisa tak terkejut. Matanya membulat sempurna, begitupula dengan mulutnya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya. "Bukannya itu jantung lo?"


"Hidup seseorang bisa berubah kapanpun, Yo." Lili justru tertawa santai. Seolah dirinya tak apa bicara begitu. Tak berdampak pada hatinya. "Lo aja berubah. Masa gue nggak?"


"Gue nggak ngerti." Theo menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mau menerima perkataan Lili yang menurutnya tak masuk akal. "Gue berubah dan menemukan cita-cita. Tapi, lo berubah dan menghapus cita-cita."


"Gue merasa nggak cocok jadi penulis, Yo. Terlalu berat tantangannya."


Jika memang itu alasannya, Theo masih tak bisa menerima. "Gue pikir lo adalah tipe orang yang pantang menyerah."


"Awalnya sih gitu, Yo." Lili membuang napas lelah. "Tapi, makin ke sini, gue juga makin capek. Gue nggak mau terluka lagi karena terus jalan ke jalan penulis."


"Tapi, lo jangan terlalu kecewa." Lili buru-buru menambahkan saat Theo mau membuka suaranya. "Gue udah janji sama lo. Gue akan bukuin cerita tentang lo dan bagi royaltinya."


Theo akhirnya bisa tersenyum lagi. "Gue seneng kalau begitu."


"Mungkin buku tentang lo bakal jadi novel pertama dan terakhir yang gue tulis." Lili mengangkat bahunya seraya mengalihkan pandangannya dari Theo ke matahari yang semakin lama semakin menghilang. "Yah, tapi lo jangan berharap-harap banget. Kita nggak tau ceritanya bakal lolos terbit atau nggak."


"Pasti." Theo membalas yakin. "Gue yakin bukunya pasti terbit."


"Nggak nyangka denger itu dari lo." Lili tertawa hambar.

__ADS_1


Theo tersenyum kecut. "Pengennya denger dari Kak Jae, ya?"


"Kalau itu sih udah gue denger." Lili menukas cepat.


Saat menyadari Theo jadi diam dan wajahnya berubah sedemikian rupa, membuat Lili tersenyum jahil. "Cie, cemburu ya?"


Theo masih terdiam.


"Daripada lo cemburu, gue kasih tau aja kalau Kak Jae itu udah punya pacar sejak tahun lalu. Namanya Stella. Cantik banget. Kayak model." Lili menjelaskan tanpa diminta. Membuat Theo kembali menerbitkan senyuman yang kemudian dia tahan susah payah. "Jahat sih, nggak dipublikasi gitu. Gue kira selama ini Kak Jae jomlo."


Theo menepuk-nepuk punggung Lili. Menenangkannya. "Sabar, ya."


"Suara lo kedenger seneng daripada turut berdukacita."


"Eh, liat tuh!" Theo cepat-cepat berseru. Menunjuk ke arah langit yang membentang di depan sana. "Mataharinya mau tenggelam."


Lili segera teralihkan. Dan dengan begitu, Theo merasa de ja vu. Kejadian saat ini seperti dalam mimpinya. Hanya beda tempat saja.


Sama-sama indah. Sama-sama membuat Theo bahagia dan berdebar semangat.


"Bagus banget sunsetnya." Lili tersenyum saat tinggal setengah lagi bagian matahari untuk benar-benar hilang dari langit ini.


Theo tersenyum. Dia menikmati dalam diam. Serius dan penuh rasa.


"Tau nggak, Yo?" tanya Lili kemudian. Sebelum Theo membalasnya, Lili sudah lebih dulu menyuarakan jawaban dari pertanyaannya barusan, "Ini pertama kalinya gue liat sunset sama seseorang."


Bagi Theo, tak ada mimpi yang tak jadi kenyataan.


***


Waktu Lili pulang bersama Theo, terdapat Imel di depan gerbang rumahnya. Sahabat Lili itu tampak sangat sedih dan terkejut saat melihat Lili.


Lili segera menoleh pada Theo. "Lo pulang aja, Yo. Udah nyampe."


Theo mengulas sebuah senyuman. "Yaudah. Gue pulang sekarang."


"Hati-hati," pesan Lili.


"Sip." Hati Theo menghangat saat mendengar suara Lili barusan dan dia tak henti-hentinya tersenyum lebar saat akhirnya berbalik pergi untuk pulang.


Lili melanjutkan langkahnya kemudian. Menuju Imel yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya layaknya patung berair mata.


Lili tersenyum tipis. Jika Imel merasa bersalah, maka Lili juga.


Maka pada sore itu, keduanya berpelukan lama sekali. Seraya saling menangis dengan alasan yang berbeda.


Kemudian, mereka berdua melakukan pengakuan tentang alasan mengapa mereka menangis secara bergiliran.


Dengan terus terisak dan banjir air mata, Lili menjelaskan lebih dulu.


Lili dengan rasa menyesalnya karena kerap kali iri pada Imel dan menghujatnya dalam hati. Lili merasa seperti teman yang bermuka dua dan tak tahu diuntung. Tak berperasaan dan tak pengertian. Padahal Lili juga seharusnya berpikir bahwa Imel punya kehidupannya sendiri yang dia tak tahu apakah lebih baik darinya atau lebih buruk darinya.


Lili egois.


Sementara itu, ketika gilirannya tiba, Imel menyuarakan apa yang selama ini dia lakukan tanpa sadar.


Imel merasa sangat-sangat bersalah karena dia bahkan mengetahui kecelakaannya dan kemalangan yang menimpa Lili setelah Lili telah sembuh dan tampak baik-baik saja. Imel tak ada di waktu Lili sulit dan itulah yang membuatnya tak bisa dianggap sahabat lagi.


Imel dibutakan oleh pencapaian pertamanya yang sangat-sangat gemilang. Terlalu sibuk dengan bidang itu dan melupakan siapa sahabat yang selalu menemaninya di kala suka maupun duka.


Keduanya saling meminta maaf dan memaafkan atas semua itu.


Hingga pada akhirnya, tali persahabatan mereka tak bisa diputuskan.


***


**halo, apa kabar kalian?


semoga hari ini, hari kalian menyenangkan, ya


akhirnya WABBL akan selesai pada chapter 120. aku nggak nyangka ceritanya bakal sepanjang ini


apa kalian siap untuk menghadapi ending?


tentu harus siap, ya

__ADS_1


Theo, Lili beserta segenap WABBL mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena kalian sudah berada dan membaca cerita mereka sejauh ini


love, you**


__ADS_2