Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 110


__ADS_3

Ketika Ily keluar dari kamar rawat Lili, Laura juga keluar dari kamar rawat Theo. Keduanya duduk agak berjauhan di kursi tunggu. Tak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing setelah Laura menelepon Ily dan mengabarkan tentang keadaan Lili.


Hingga akhirnya Laura memilih untuk memulai lebih dulu.


"Ibunya Lili ...." Laura menoleh pada Ily dengan senyum tak enak waktu Ily Balas menatapnya dengan bingung karena barusan dirinya dipanggil Laura. "Saya turut menyesal atas kejadian ini."


"Nggak apa-apa, Ibunya Theo. Lili juga sudah lumayan membaik. Apalagi dia didatangi teman-temannya." Diluar dugaan, respon Ily jauh lebih bersahabat dari dugaan Laura. Bahkan ada senyum di wajahnya yang sama lelah dan sedihnya dengan Laura. "Theo sendiri bagaimana?"


"Lumayan baik. Theo juga sudah bisa tersenyum lagi." Laura mengangguk bersyukur. "Tapi saya rasa ada yang aneh dari senyumnya."


"Ya, tak ada yang tak terluka atas kecelakaan ini." Ily menukas penuh rasa. Dia menatap Laura, menguatkannya lewat tatapan itu. "Meski begitu, perlahan, dengan waktu, semuanya pasti akan sembuh dan beberapa hal kembali seperti semula."


"Iya."


Beberapa hal. Batin Laura. Pasti akan ada hal-hal yang tak bisa kembali seperti semua. Laura sedikit kecewa.


Namun, Laura paham perasaan Ily, karenanya dia tak mendebat lagi


"Seperti takdir, tak ada yang salah dan benar atas kejadian yang menimpa Theo dan Lili." Ily kembali bersuara. Nadanya berubah tajam dan tegas. "Saya pikir ini sebuah teguran."


Laura menatapnya dengan bingung.


"Teguran untuk lebih memerhatikan Lili." Ily tersenyum tipis pada Laura, kemudian mengalihkan pandangannya dengan anggukan penuh tekad. "Untuk lebih menyeleksi siapa saja yang bisa berhubungan dengan Lili."


Laura tertawa terpaksa. "Ah, iya benar sekali."


"Iya." Ily mengangguk lagi.


Laura paham semuanya.


Hubungannya dengan Ily tak akan selancar sebelumnya. Mungkin, akan sangat renggang hingga rasanya sangat canggung bahkan untuk sekedar bertukar kata selamat pagi lagi.


Begitupula dengan anaknya, yang mungkin tak bisa lagi bertemu dengan Lili.

__ADS_1


***


Theo bisa pulang pulang hari ini.


Tentang kabar Lili, dia tak tahu apapun. Awalnya Theo akan melupakan saja semuanya, mengubur hatinya, memasang topeng dan berlagak baik-baik saja. Theo juga akan melanjutkan kehidupannya sesuai cita-citanya.


Kehilangan Lili, bukan berarti dia kehilangan semangat untuk menggapai mimpinya. Lili hanya salah satu dari mimpinya yang mungkin saja bisa digantikan.


Theo tertawa pada dirinya yang bahkan tak bisa terdengar tegas dan yakin saat memikirkan kalimat kedua dari paragraf di atas.


"Theo, kenapa?" Laura yang berada di sampingnya, berjalan di sisinya langsung bertanya heran saat Theo tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Mereka berhenti koridor taman.


Alasan mengapa langkah Theo berhenti adalah karena dia melihat sosok Lili yang duduk sendirian di bangku taman. Dengan dikelilingi orang-orang yang memiliki teman, Lili tampak sangat kesepian.


Hati Theo berdenyut. Kemudian menoleh pada Laura. "Bu, aku mau nyamperin Lili dulu, ya."


"Ya udah, sana." Laura tersenyum penuh, mengerti dengan apa yang ada di benak Theo dan menepuk pundaknya, menguatkan. "Ibu tunggu di mobil."


Dengan begitu, mereka berpisah. Theo melangkah hati-hati dengan tongkatnya. Menuju sebuah kursi dan duduk di samping seseorang yang benar-benar dia rindukan selama ini.


Rindu itu bergumul di hati Theo sampai dia bingung harus berkata apa. Theo benar-benar hanya duduk di samping Lili.


Lili yang menyadari keberadaan Theo awalnya tak mengindahkannya. Namun, beberapa saat kemudian, rasa penasarannya masih ada. Terlalu kuat untuk hanya dipendam.


"Udah mau pulang, Yo?" tanya Lili kemudian.


Theo tertegun. Dia pikir Lili sangat-sangat marah padanya hingga tak mau menoleh barang sedikitpun. Namun, perempuan itu jutsru menegurnya duluan. Mungkin, alasan Lili tak menoleh padanya karena cahaya mentari lebih indah daripada Theo.


"Eh, iya, Li." Theo menjawab canggung. "Gue mau pulang hari ini."


"Oh."

__ADS_1


Theo jadi tak enak. Dia meringis. "Lo sendiri ... gimana?"


"Mungkin besok." Lili akhirnya menoleh padanya. Membuat hangat dan sakit menyerang hati Theo secara bersamaan. "Ada kemungkinan kepala gue kenapa-kenapa soalnya. Kemarin baru dicek karena gue pusing banget, hasilnya besok baru keluar."


Bagaimana ini? Apa Lili akan kembali baik-baik saja seperti dirinya? Atau justru ... ah, Theo tak bisa melanjutkannya.


Theo tersenyum sakit. Jika bisa, Theo rela menerima sakit Lili agar perempuan itu bisa baik-baik saja.


"Maaf, Li."


Tanpa disadari, Theo baru bisa mengeluarkan itu setelah banyak waktu berlalu. Setelah banyak luka tertoreh. Setelah bagaimana sakit menyerang hingga rasanya mati rasa bahkan untuk napas dihela.


"Nggak usah minta maaflah, ngapain." Lili jutsru menjawabnya dengan ringan. Lili menatap Theo lurus-lurus. "Kita sama-sama punya nasib buruk aja. Katanya pengemudinya mabuk, ya?"


"Iya." Sebenarnya itu hanya spekulasi Theo. Entah benar atau tidak. Namun, anggap saja begitu agar mudah. Agar bisa menerima dengan cepat. Dengan lapang dada. "Kita nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak ada bukti."


"Nggak apa-apa."


Theo termenung.


"Gue udah terima semuanya." Lili mengalihkan pandangannya dari Theo. Menatap anak-anak yang bermain di sana dengan riangnya. "Awalnya gue marah banget sama lo, Yo."


"Yah," balas Theo tak terkejut, "wajar, sih. Siapa juga yang nggak marah sama gue?"


"Tapi setelah gue pikir-pikir, nggak ada yang salah di sini." Lili menukas cepat. "Lo nggak maksa gue dan gue juga nggak nolak. Apapun rencana lo hari itu, belum tentu semuanya berjalan sesuai rencana. Pasti yang terjadi itu udah kehendak-Nya. Dan itu pasti udah yang terbaik."


Theo lega.


"So, don't ever apologize to me again." Lili beralih pada Theo kembali. Menatapnya hangat dan membuat Theo meleleh hatinya. "No one is wrong here. Oke?"


"Ya, gimanapun," tukas Theo dengan senyum menyesal. "Harusnya gue nggak kepedean, Li."


"Kenapa emangnya?" tanya Lili bingung.

__ADS_1


"Waktu itu ...." Theo menarik napas panjang, bersiap-siap dan akhirnya menatap Lili dengan sorot mata tegas. "Gue mau ngaku."


__ADS_2