
"Jadi, Yohan itu pembunuh sama pengedar, ya? Ngeri juga. Untung gue nggak sempet pacaran, ih, amit-amit," ungkap Tiffany dengan wajah jijik ketika bertemu Ily di kamar mandi dan sedang sama-sama bercermin.
Mendengar celotehan perempuan cantik itu, Ily hanya tersenyum maklum, kemudian mencuci tangannya dengan telaten tanpa berniat untuk membalas.
Sudah tiga hari berlalu.
Segalanya berubah kelabu bagi Ily. Yohan menjauhinya, sekalipun duduk satu bangku, laki-laki itu tak mau berbicara pada Ily. Selalu saja mengakhiri ajakan obrolan Ily dengan pergi ke luar kelas. Begitupula cemoohan orang-orang, sindiran-sindiran tajam dan tatapan-tatapan benci dari sekitar. Itu semua seolah jadi makanan sehari-hari Yohan.
Ily melihatnya, Ily menyaksikannya dan Ily tersiksa karenanya. Bagaimana pun, Ily tetap teman Yohan. Meski awalnya Ily begitu malas, namun perlahan dirinya menerima dan membutuhkan teman seperti Yohan.
Yohan baik, Yohan jujur, Yohan tulus.
Mengapa orang-orang melihatnya dengan masa lalu? Yohan yang sekarang telah berbeda. Sama sekali tak terlihat seperti orang jahat.
Ily memang tak terlihat peduli di depan Yohan, namun di belakangnya ia berdoa. Semoga Yohan baik-baik saja, semoga Yohan tak patah semangat, semoga Yohan bisa bertahan sepertinya dahulu.
"Nggak nyangka banget sih, muka polos gantengnya itu nggak mencurigakan sama sekali. Anaknya sopan dan kayaknya pinter, tapi pernah berbuat kejahatan. Dunia memang adil, nggak ada yang sempurna ataupun serba kekurangan. Tapi tetep aja ngeri, ya. Sekali pernah membunuh, ada kemungkinan seseorang akan dibunuh lagi. Masa depan kan nggak ada yang tau." Tiffany tak bosan untuk mengungkap isi pikirannya dan membuat Ily hampir memutar bola matanya saking bosannya. "Eh, lo nggak takut gitu, Ly?"
Ily menipiskan bibirnya, kemudian mematikan kran air dan mengambil tisu gulung di sampingnya. Ia mengelap tanahnya yang basah, membuang tisu bekasnya ke tempat sampah dekat kakinya, kemudian baru menatap Tiffany dengan datar.
"Berisik."
Entah kerasukan setan apa, Ily bisa seberani itu dan seketus itu pada nada bicaranya. Tatapan matanya sangat tegas dan ketika Tiffany masih terkejut tanpa diberi waktu untuk membalas berkata-kata, Ily meninggalkannya begitu saja.
Langkah yang Ily ambil panjang-panjang, sebab dirinya merasa sangat pusing. Ingin segera sampai di kelas dan berisitirahat di meja dengan kepala di atas lipatan tangan. Ily ingin hari ini segera berakhir, kemudian tidur segera dan bermimpi indah.
Jika bisa ia ingin menikah dengan Shawn Mendes dan hidup bahagia di mimpi itu, dalam imajinasi kekalnya.
Namun, seluruh ekspektasi indah Ily harus hancur ketika melihat Yohan duduk di kursi sebelah tempat duduk Ily yang telah ditukar dengan yang baru kemarin itu. Sebab meja Yohan yang dulu sangat kotor dan bau karena sampah yang entah dimasukkan oleh siapa. Sekolah pun sedang menyelidikinya, namun sampai sekarang masih belum ditemukan.
Laki-laki Korea itu tampak tenang, membaca buku latihan soal yang sudah terdapat penjelasannya. Ily berdeham, mencoba untuk berjalan normal mendekatinya.
Dua langkah lagi Ily benar-benar sampai di mejanya, Yohan lebih dulu berdiri dan membukakan jalan untuk Ily masuk dan duduk di kursinya. Ily mengeryit, namun tak bertanya lebih lanjut.
Ily memilih untuk membuka buku kosong dan mengerjakan soal matematika yang diulangankan kemarin. Sebenarnya kini Ily dan Yohan agak canggung.
Sudah dua hari sejak Yohan menjaga jarak dari Ily. Laki-laki itu duluan menuduh Ily dan membuat Ily marah, kecewa serta sedih. Berlanjut pada perubahan sikap laki-laki itu, Ily merasa dirinya memang tak bisa untuk dekat lagi dengan Yohan.
Segalanya telah berubah. Ily tak dapat lagi melihat Yohan dengan normal, kenyataan bahwa Yohan adalah seorang pembunuh tak bisa dihilangkan dan membuat Ily sedikit ketakutan.
Bagaimana jika ia juga jadi korban?
Namun, Ily segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Jangan berpikir buruk dulu, tidak mungkin Yohan membunuhnya. Bagaimana bisa anak yang selalu memberi traktir padanya, membunuhnya begitu saja?
Dipikir-pikir Ily juga tak pernah jahat pada Yohan.
Ketika berbagai pikiran masuk dalam pikirannya, bel sekolah berbunyi. Waktunya pulang. Ily tak berniat untuk langsung pulang karena dia masih betah dan entah kenapa, Yohan juga tak beranjak dari duduknya. Laki-laki itu justru menidurkan kepalanya di atas lipatan tangan dengan wajah menghadap Ily.
Entah apa maksudnya, tapi Ily merasa diperhatikan meski mata Yohan terpejam. Tangannya jadi gemetar setiap kali mengguratkan tinta dan pipinya memanas tiap kali mencuri lirik pada wajah tenang laki-laki itu.
Ily mendesah dalam hati, matanya justru terkunci pada bulu mata lentik laki-laki Korea itu. Lama ia memerhatikan, bertapa mulusnya wajah itu, betapa putihnya warnanya, betapa mancungnya hidung itu, lalu pada bibir merah mudanya yang membuat siapapun melihat Yohan sebagai anak polos yang bahkan tak tahu apa itu modus dalam kamus Eza dan buaya dalam kamus Elvan.
Senyum Ily tercipta, pada wajah polos itu, mengapa dirinya begitu tega menjauhi tanpa menjelaskan lebih lanjut. Harusnya Ily bertanya, kemudian baru mengambil langkah.
Akankah ia tetap berteman dengan Yohan, atau justru menjauh seperti orang asing.
Ily menggigit bibirnya, segera menggeleng-gelengkan kepalanya ketika sadar dirinya kini lupa pada soal-soal yang akan ia kerjakan sebab terfokus pada wajah Yohan yang sedang tertidur.
Fokus, Ily, fokus!
Namun, yang namanya godaan, Ily yang sangat lemah imannya jelas kembali lagi menoleh pada Yohan.
Kapan lagi dia akan melihat yang seperti ini?
Dengan senyum senang, ia mengambil ponselnya dan membuka fitur kamera. Dengan was-was, ia menonaktifkan suara pada kameranya dan siap memotret Yohan dengan keberanian penuh.
Tanpa berpikir lagi, Ily menyentuh layar ponselnya.
Flash!
Oh. Shit.
Kameranya memang berfungsi, suaranya memang senyap, namun Ily lupa mematikan flash lampu kameranya. Dengan wajah memerah, Ily melihat Yohan perlahan mengernyit dan membuka matanya.
Laki-laki itu tampak terkejut, tak percaya dirinya telah tertidur barusan. Namun, Yohan jelas sadar barusan Ily memotretnya tanpa izin. Yohan memilih tak perduli, langsung mengambil tas beserta peralatan tulisnya dan hendak beranjak.
"Yohan," tahan Ily seraya menarik tangan Yohan dengan wajah memelas. "maaf, aku tadi mengambil wajah tidurmu."
"Aku tak peduli," balas Yohan datar, secara perlahan melepas tangan Ily dari tangannya dengan lembut. "Aku duluan."
Ily berdecak. "Kamu kenapa sih?"
Pertanyaan Ily membuat Yohan terdiam, menghentikan langkahnya dengan mulut terkunci rapat.
"Kamu tiba-tiba menyalahkanku, menjauhiku dan membuatku serba salah. Yohan, teman tidak sepantasnya memperlakukan temannya seperti ini."
Mendengar keluh Ily yang menyayat hati, Yohan akhirnya berbalik dan menghadap Ily sangat dekat. Pandangannya mengunci pada Ily.
"Kamu mau berteman dengan pembunuh sepertiku? Serius?" tanya Yohan dingin, menusuk dengan tajam pada hati Ily secara langsung.
Ily tertawa hambar pada pertanyaan rendahan itu. "Aku tahu rasanya, Yohan. Aku tahu menjadi kamu... karena aku juga pernah membunuh seseorang."
Mata Yohan memancarkan keterkejutan yang nyata. "Apa katamu?"
"Aku pernah membunuh temanku sendiri," jawab Ily dengan nada yang lebih tegas dan matanya mulai berkaca-kaca. Itu refleks dan Ily tak mampu menahannya. "Aku pernah punya teman dekat, Yohan. Mereka Vini dan Villy. Keduanya kembaran dan sangat dekat denganku. Kami bertiga memiliki banyak kesamaan dan selalu tertawa bersama. Bahkan saat sedih pun, kami selalu saling bercerita. Kami sudah seperti keluarga. Sangat lengket."
Air mata Ily menginterupsi perkataannya sendiri. Napas Ily mulai terengah-engah dan ia menghapus air matanya lebih dulu sebelum kembali melanjutkan. Sementara Yohan hanya mendengarkan meski tangannya sudah terkepal erat ingin segera menghapus air mata itu dan merengkuh tubuh sedih Ily.
"Sampai satu hari, orang tua Vini dan Villy memutuskan untuk bercerai. Vini dan Villy sangat sedih. Mereka tak segan-segan naik ke atas gedung tinggi tempat ayah mereka bekerja." Ily lagi-lagi mengelap air mata yang membanjiri wajahnya. Kejadian dahulu yang kembali diceritakan jelas membuatnya sangat sedih. "Mereka bodoh, mereka melompat begitu saja saat aku sedang tidur siang. Mereka sempat meneleponku, namun aku terlambat mengangkatnya karena sedang bermimpi indah. Sial, aku ini teman yang sangat tak berguna.
"Mereka mau mengucapkan selamat tinggal saat itu. Aku terlambat dan hanya menemukan secarik kertas berisi ucapan selamat tinggal," lanjut Ily dengan suara serak. "Andai aku tak bahagia sendiri saat itu, mungkin Vini dan Villy masih hidup saat ini. Bahagia dan sedih bersama-sama."
Yohan mengangkat tangannya untuk mengelus pundak Ily saat Ily mendongak dan membuat gerakannya terinterupsi. "Kamu tahu mengapa aku menceritakan ini?"
Alis Yohan terangkat. "Kamu hanya ingin curhat?" tebaknya dengan hati-hati.
Ily memutar bola mata dan memukul dada Yohan dengan kesal. "Aku ingin kamu sadar! Jangan bersedih sendiri, kamu ada teman. Aku."
Yohan hanya menatap Ily. Bukan maksudnya untuk mengabaikan kata-kata Ily, namun ia nyaman menatap mata tulus Ily itu. Menenangkan, menyejukkan dan menyenangkan.
__ADS_1
Sampai Ily salah tingkah dibuatnya. "Aku juga pernah diolok-olok seperti kamu saat Vini dan Villy meninggal. Mereka menyalahkanku karena aku yang terakhir mereka menelpon. Aku sedih, jelas. Tak ada yang mau mengerti diriku saat itu."
"Kenapa? Ayah Ibumu ke mana? Sepupu dan temanmu juga." Yohan tampak tak mengerti.
"Mereka sama menyalahkanku. Bukan karena mengira aku penyebab mereka meninggal, tapi karena menyalahkan diriku yang tak pintar memilih teman." Ily menunduk, masih merasa sangat tertekan akan kesedihan. "Karena itu aku malas lagi untuk memiliki teman. Jika ada masalah, itu akan repot."
Yohan mengulas senyum tipis, agak melunak dan wajah dingin penuh murka tertahan itu perlahan memudar. "Seperti diriku."
Ily langsung melotot. "Tidak! Kamu sangat polos dan aku yakin tak akan membuat masalah. Berjanjilah."
"Kamu seperti Ibuku," ledek Yohan sebal. "Aku bosan berjanji, takut aku akan ingkar."
Ily cemberut. "Kalau begitu, jangan bersedih sendiri. Jangan menjauhiku. Bukan aku yang menyebarkannya."
"Lalu siapa? Aku hanya memberitahumu," balas Yohan tak mengerti.
"Aku juga tak tahu. Kita akan mencarinya bersama-sama."
Tangan Yohan terangkat untuk menghapus jejak air mata di pipi Ily secara tiba-tiba, membuat Ily mendadak beku dan perlahan pipinya terasa panas. Dunianya mendadak jungkir balik dan Ily tak tahu apa yang harus diperbuat.
"Terimakasih karena masih berteman denganku. Maaf, sebelumnya aku terbawa amarah."
Kemudian tanpa izin, Yohan membawanya dalam dekap.
***
Jadi, siapa yang menyebarkan masa lalu Yohan hingga semua orang menatapnya tak lagi sama, menggunjingnya setiap kali bertemu dan membuat Yohan mendapat kecaman serius dari guru BK jika tak ingin ditendang dari sekolah?
Jawabannya tak akan terjawab jika Ily tak bertanya apapun pada siapapun.
Orang yang bisa dibilang dekat dengan hanya ada dua di sekolah, selain Yohan. Elvan dan Eza. Ily menanyai keduanya di telepon. Mungkin saja mereka tahu karena koneksi mereka lumayan luas.
Sampai akhirnya Ily bertanya pada Eza, lalu laki-laki itu menjawab, "Elvan yang nyebarin berita itu, Ly. Gini ceritanya."
***
Hari pertama Yohan pindah
"Za, lo tau nggak sih cowok yang tiba-tiba ada di kursi sebelah Ily yang biasanya kosong itu?" Elvan bertanya ketika Eza baru saja selesai ganti baju dan hendak pulang. Elvan pun tampak sama, seperti setelah latihan basket karena rambutnya yang basah.
Eza mengeryit atas pertanyaan Elvan. Hari ini ia belum mengunjungi kelas Ily LAGI, jadi dia tak tahu apapun. "Gue nggak tau."
"Gue udah liat, tapi mukanya tuh mencurigakan banget. Gue takut Ily kenapa-kenapa, asli," keluh Elvan ketika keduanya mulai berjalan beriringan di koridor sepi menuju parkiran sekolah.
"Jangan menilai orang dari luarnya aja, lah, Van." Eza berdecak mengingat dengan wajah tajam. "Lo tanya dulu, baru bilang gitu."
"Orangnya dari Korea, goblok. Itu kulit kayak porselen aja, kinclong, Bambang." Elvan berkata dengan nada sewot. "Mau nanya, gue udah minder duluan. Lo aja sana tanya, ntar kasih tau gue."
Eza mendelik sebal pada temannya itu. Lalu menjitak kepalanya sambil berdecak. "Si goblok."
"Si bucin!" balas Elvan menendang pantat Eza, kemudian kabur dengan motornya sebelum sempat Eza balas lagi.
Melihat kepergiannya, Eza berdecak dan **** senyum sembari berjalan menuju mobilnya. Dia harus menjemput Mia dan laporan pada Ibunya.
Keesokan harinya
Pagi sekali Elvan datang, sengaja. Ia mengunyah permen karet dalam mulutnya sambil menunggu kedatangannya.
Lima menit kemudian, dugaan Elvan benar. Ily datang bersama Yohan, beriringan. Sepertinya dari rumah, mereka sudah datang bersama-sama. Elvan berdecak dan mengeluarkan ampas permen karetnya pada kursi Ily.
"
Good mowning, Chili-ku sayang," sapa Elvan sambil bangkit. "Abang pamit dulu, bye!"
Tanpa menghiraukan bagaimana reaksi Ily, Elvan menatap Yohan yang sedikit lebih tinggi darinya itu dengan tajam sebelum benar-benar keluar dari kelas itu. Elvan menatap matanya tadi, betapa dingin dan datarnya. Seperti tak takut apapun dan Elvan kaget dibuatnya.
Cepat-cepat ia melangkah menuju kelas Eza dan bersyukur Eza sudah datang dan duduk di kursinya dengan damai. Namun jadi rusuh ketika Elvan langsung menggebrak mejanya dengan tak santai.
"Weh, kodok sawah, kok lo ngagetin?!" Eza meletakkan tangannya di atas dada dengan wajah kaget. Jantungnya berdebar kencang dan matanya melotot. "Ada apa, kampret?!"
"Za, gue barusan ketemu sama temen sebangkunya Ily. Gile, Za, kayaknya dia bos preman," lapor Elvan sambil berbisik keras. Langkah yang bodoh untuk membuat anak kelas Eza mendengar.
"Apa? Kok bisa?" Eza yang awalnya sebal, tentu saja langsung tertarik atas obrolan ini.
"Matanya, Za, matanya bilang kayak gitu, gue tadi ngeliat," balas Elvan percaya diri. "Gue yakin dia itu orang jahat. Kita harus jauhin dia dari Ily!"
Eza menjitak kepala Elvan dengan kesal, kemudian berkacak pinggang dengan wajah malas. "Lo tuh, ya, dibilangin jangan liat orang dari luarnya aja. Harus ada buktinya, Van. Lo udah tanya belum?"
"Bomat. Pokoknya gue yakin."
Elvan menatapnya tajam, kemudian pergi begitu saja tanpa membiarkan Eza untuk membalas. Eza mengepalkan tangannya, menatap kepergian teman bodohnya itu dengan senyum miring.
"Si goblok."
Berkatnya, Eza penasaran dengan sosok itu.
Sampai ketika di kantin, akhirnya Eza bertemu dengan orang itu. Ily membawanya ke sini. Sementara Ily memarahi Elvan yang entah apa salahnya, Yohan diam di dekatnya.
Seperti yang dibilang Elvan, Yohan dari Korea, jelas warna kulitnya sangat mencolok. Ily yang merupakan anak rumahan yang jarang terkena paparan sinar matahari saja sudah kalah telak dengan Yohan. Pertama kali yang Eza perhatikan adalah penampilannya.
Yohan tampak rapi dan menuruti aturan. Seragamnya lengkap dan tak kusut. Bentuk rambutnya tak jauh beda dengan yang lain, masih terpaku pada aturan. Penampilannya tampak normal dan tak mencerminkan bos preman seperti yang Elvan katakan.
Wajah yang dingin dan mata hitam misterius. Itu yang membuat Eza risih akan kebenaran perkataan Elvan.
Namun, dia tak bertanya lebih lanjut.
Sama seperti Elvan, ia juga minder berhadapan dengan Yohan.
Hari ulang tahun Ayah Ily
Di sini Elvan mulai berani. Dia mulai memperingati Yohan untuk tak dekat-dekat dengan Ily. Namun, Yohan tak mengindahkannya. Eza hanya diam, menonton dan bertindak sesuai alur saja.
Elvan sebenarnya sudah geram, ingin segera bertanya apakah Yohan punya maksud tertentu tentang kedatangannya pada hidup Ily, namun ia menahannya karena ada Ily di sana.
Elvan hanya khawatir pada Ily Yang mungkin saja akan menangis, sedih atau ataupun itu yang membuat Elvan ingin berteriak pada dirinya sendiri tentang ketidaksanggupannya menjaga diri Ily. Sepupu sekaligus sahabatnya.
Dua hari setelahnya
Elvan membawa Yohan pergi ke gedung kosong yang Elvan hafal sebagai bekas pabrik sepatu. Setelah berebut mengantarkan Ily dan mendapat penolakan yang sama, kemarin dan hari ini, Elvan merasa muak dan terganggu pada kehadiran Yohan.
__ADS_1
Ia langsung berhadapan dengan Yohan. Matanya tajam dan berusaha mengintimidasi Yohan yang tampak datar-datar saja.
"Mau lo apa, hah? Kenapa masuk ke kehidupan Ily?" tanya Elvan tajam.
"Bukan urusanmu," balas Yohan dengan senyum miring yang membuat kecurigaan Elvan menebal.
"Gue tau lo dulunya pernah berbuat kejahatan, makanya pindah ke sini," kata Elvan, berhasil membuat Yohan menutup mulutnya dengan wajah memutih.
Elvan tertawa melihatnya. "Gue bener."
"Gue tidak berencana jahat pada Ily," balas Yohan membela dirinya sebelum Elvan pergi.
"Gue nggak tanya." Elvan menciptakan seringai puas sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh.
Meninggalkan Yohan yang sibuk merenung, hingga tertinggal jauh dan tak hafal jalanan. Hampir membuatnya terlambat tiba di sekolah.
Beberapa jam sebelum Yohan bertemu Juna
"Thanks, yo," kata Elvan ketika bertemu Eza di kantin. Duduk di hadapannya dengan wajah penuh peluh dan tangan disatukan di atas meja. "Udah jauhin si preman dari Ily."
Eza mengangguk, menegak air mineralnya dan kembali pada ponselnya. Teringat pada beberapa hari yang lalu, ia dan Yohan bertaruh di lapangan. Itu semua perintah Elvan dan Eza dengan senang hati melakukannya.
Namun, Elvan baru berterimakasih dua hari sebelum kesepakatan Eza dan Yohan berakhir. Lima hari kemarin ke mana saja dia?
Eza tertawa sarkas atas itu. "Traktir gue cokelat."
"Dih, anjir? Kok lo kayak cewek?" Elvan membelalakkan matanya terkejut.
"Buat Mia, njir. Nyokap gue suka. Otomatis gue harus baik-baik sama dia." Eza menjawab cuek.
"Jangan main-mainin cewek, lah, Za." Elvan memperingati dengan wajah memelas. "Udah berapa cewek yang udah lo bikin keluar air matanya?"
"Udah berapa kali lo bikin emak lo nangis?" balas Eza tak mau kalah.
Berkat itu, Elvan terdiam seribu bahasa setelah mengumpat. Tak mau membahas itu lagi, Elvan akhirnya menghela napas kecil dan menatap Eza dengan wajah kecewa.
"Tapi sayang, cuma satu minggu. Harusnya lo bilang selamanya aja," katanya kembali seperti biasa. "Asli, gue yakin dia asalnya preman. Makanya waktu gue nuduh gitu, dia diem. Orang normal kan pasti langsung nolak mentah-mentah. Ya, nggak?"
Eza menatap Elvan dengan tajam. "Asal dia belum aksi jangan nuduh asal, Van. Kasian. Nanti dosa dia berkurang gara-gara lo gituin. Udah tau dosa sendiri banyak, malah mau nambah aja."
Elvan memutar bola mata. "Ini demi keselamatan Ily, Za. Mikir nggak sih, lo?"
"Gue mikir, Van," balas Eza serius. "Tapi nggak sedangkal itu."
Ditinggal Eza begitu saja, Elvan mengepalkan tangannya. Berpikir bahwa dirinya dan Eza tak bisa lagi bekerjasama karena perbedaan persepsi.
Elvan akhirnya ikut bangkit. Ia berlari menuju parkiran dan berniat untuk menemui Ily di rumahnya. Ketika ia melihat Yohan juga pergi dengan motornya dalam kecepatan luar biasa, Elvan membelokkan niat dan mengikuti Yohan diam-diam.
Di sinilah ia melihat Yohan dan Juna. Mereka berkelahi. Mungkin karena Juna berpikir Yohan merebut Tiffany darinya. Elvan sudah memerhatikan dari awal, karenanya ia dapat berspekulasi sendiri.
Elvan tercengang sebenarnya. Atas akhir dari pertandingan itu.
Juga sedikit takut.
Dua hari setelah itu
Eza tak tahu mengapa Elvan tak menjawab panggilannya sejak kejadian di kantin, ia meninggalkan Elvan begitu saja. Namun, ia punya firasat buruk sehingga mengira Elvan akan menghabisi Yohan sewaktu-waktu.
Ketika Ily memintanya untuk membantu diajari gitar untuk tugas Seni Budaya, Eza lega karena Elvan sama sekali tak terlihat semarah itu padanya. Laki-laki itu tampak ceria seperti biasanya.
Namun, Ily terlihat agak murung. Eza tak menanyakan alasannya, mungkin perempuan itu sedang ada masalah keluarga dan Eza tak mau membuatnya semakin terbebani.
Eza tak khawatir sama sekali pada kedua temannya itu.
Tanpa sepengetahuan Eza dan Ily, Elvan telah tau satu hal tentang Yohan. Mengapa laki-laki tak masuk sekolah. Jelas, alasannya karena Yohan telah membuat tepar seorang preman kaya di gedung kosong kemarin lusa.
Rencananya Elvan akan mencari tahu lebih lanjut dan membuat bukti yang kuat.
Kemudian pada suatu malam, Ibu Ily mengirimkan pesan padanya yang berisi tugas menemani Ily karena bibi dan pamannya itu akan pulang besok paginya. Ily selalu ketakutan kalau sendiri, karenanya Elvan harus menemani.
Elvan tak keberatan, toh ia juga tak ada kerjaan dan langsung saja memacu motornya menuju rumah Ily. Begitu sampai, rupanya Ily tak ada di rumah. Elvan masuk saja karena ia punya kunci cadangan dan duduk di sofa sambil tiduran, menunggu Ily datang yang entah pergi ke mana.
Kemudian sesuatu terdengar.
Elvan segera bersiaga, melihat Ily dan Yohan di halaman belakang sedang makan bersama. Elvan mengamati saja, menahan diri untuk tak segera mengusir Yohan karena ingin mendapati Ily bertanya mengapa teman sebangkunya itu tak sekolah.
Ily pasti menanyakan itu dan Elvan penasaran akan jawabnya.
Sampai Yohan menjawab melebihi yang diinginkan Elvan, seringainya tercipta dan terbongkarlah semua rahasia yang Yohan tutup rapat-rapat dari lingkungannya.
Satu sekolah satu. Bahkan Yohan langsung mendapat panggilan beserta orang tuanya.
Betapa merasa menangnya Elvan.
Saat itu juga, Elvan tiba-tiba menyuruh Eza membawa hampelas dan memberikannya pada Ily jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mungkin Elvan sudah menduga sesuatu dan itu benar-benar terjadi.
Eza memberi hampelas pada Ily untuk membersihkan meja Yohan yang telah dicoret-coret tanpa manusiawi dengan spidol permanen.
Eza paham, cara Elvan salah, namun niat laki-laki itu baik.
Hari ini
Setelah semua tersebar, tentang Yohan yang rupanya bukan seseorang yang baik-baik, Elvan tak begitu merasa senang. Ily tampak murung dan ia kesal karena mereka berdua tak menjauh.
Yohan dan Ily satu meja lagi, meski tak saling bicara beberapa hari yang lalu, tapi Elvan melihat mereka hari ini berpelukan. Entah apa yang terjadi, tapi Elvan menyerah.
Ia menelepon Eza dan memberitahukan semuanya. Persetan dengan akibatnya, Ily yang marah dan mungkin Yohan akan menghajarnya, tapi Elvan sudah lelah.
Mungkin perjuangannya akan dilihat buruk, namun niat Elvan hanyalah untuk yang terbaik bagi Ily.
Ketika Eza sudah memberitahukannya kepada Ily, perempuan itu langsung berdecak.
"Si bego."
Eza tertawa akan suara itu. "Lo ada di rumah akan? Sekarang gue ke rumah lo, ya. Mau abis nih pulsa gue. Masih banyak yang mau gue jelasin."
"Silahkan. Gue banyak waktu luang sekarang."
***
__ADS_1