Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 06


__ADS_3

Raihan dan Ily duduk bersampingan di salah satu anak tangga depan butik seraya menunggu kedatangan Eza. Hari mulai sore dan cahaya matahari tak begitu terasa menyengat. Justru hangat dan nyaman.


Jika Eza tak menjemput, mungkin Raihan akan mengantarkan Ily pulang.


"Jadi, lo suka ada di sini, ya?" Ily mengalihkan pandangannya untuk menatap Raihan dengan senyum kagum. "Bantuin ibu lo?"


Raihan berdeham kecil, antara malu dan bahagia. "Iya. Lagi libur juga kan soalnya."


"Oh, sekolah lo udah graduate?" tanya Ily memastikan.


"Iya, seminggu yang lalu," jawab Raihan dengan anggukan kecil. "Lo kapan?"


"Minggu depan," balas Ily cepat.


"Oh, gue boleh dateng?"


"Ya, nggak ada yang larang, sih."


"Yes!"


Ily tertawa melihat reaksi Raihan yang menurutnya terlalu bahagia. "Kenapa sih?"


"Nggak." Wajah Raihan langsung datar saat membalas pertanyaan heran dari Ily.


"Dih." Ily mendelik.


Raihan tertawa kecil menanggapi tingkah Ily yang begitu cepat berubah suasana hati. Beberapa saat, keduanya hanya menatap jalanan hening dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Ily berdecak, membuat perhatian Raihan teralih padanya.


"Oke. Jadi, lo bantuin ibu lo karena itu doang? Nggak ada yang lain?" Ily kembali pada topik awal.


Raihan mengangkat kedua bahunya. "Ya, daripada gabut atau lakuin yang nggak berguna, mending bantu ibu. Jelas, dapet pahala."


"Bener juga, ya," balas Ily dengan decak kagum. "Gue kapan ya bisa gitu?"


"Hah? Apa?" Raihan tampak tak mengerti.

__ADS_1


"Ya, gitu. Kayak lo, Han. Bantuin orang tua." Lagi-lagi Ily berdecak, kali ini karena kesal dan sedih. "Gue kerjaannya selama ini cuma diem di kamar, mainin laptop. Bersih-bersih aja jarang, gitu. Gue jadi sedih."


Raihan tertawa kecil. Menatap langit dengan pandangan menerawang ala-ala orang bijak yang pintar. "Perubahan itu soal kebiasaan, Ly. Dikit-dikit aja, yang penting rutin, biasa. Sekarang mungkin lo begini, tapi besok bisa kan berubah?"


Ketika Raihan kembali memalingkan wajahnya ke Ily, Ily melakukan hal yang sama sehingga mereka bertatapan penuh arti dalam beberapa saat lamanya.


Ily menarik senyum kecil di wajahnya. "Iya. Makasih, Han, atas motivasinya."


"Ya, sama-sama, santai aja," balas Raihan seraya tertawa renyah yang mirip dengan Bu Rima. Jelas, mereka ada kaitan darahnya.


Hembusan napas Ily terdengar sewaktu perempuan itu berpaling untuk menatap jalanan di depannya. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga suara angin berembus terdengar lumayan jelas.


Hal tersebut membuat Ily nyaman hingga memejamkan matanya dengan rileks. "Gue nggak tau kalau di sini enak banget rasanya.  Maksud gue, hanya karena gue duduk di jalanan dan menikmati angin. Gue merasa bahagia banget."


"Lo tau kenapa?" tanya Raihan seraya menahan senyum.


Ily membuka matanya, menoleh pada Raihan lagi dan menatapnya penuh minat. "Kenapa?"


"WOI ILY!"


Suara teriakan Eza yang memanggil dari motor tiga meter di depan itu menginterupsi keduanya. Ily dan Raihan serempak menoleh ke asal suara. Ily langsung bangkit ketika melihat Eza, sementara Raihan perlahan mengikuti di sebelahnya.


"Kenapa sih kok kayak abis lomba maraton aja? Dikejar polisi?" tanya Ily penasaran.


"Gila, sih, gue nyasar, Ly. Tiga kali salah. Lo bayangin, *****, hadeuh," jawab Eza mengeluh. Ia hendak melanjutkan kesialannya yang lain saat di perjalanan tadi, ketika melihat sosok Raihan dan matanya membulat seketika. "Aduh, gue kayaknya pernah liat lo. Tapi rada lupa gitu... hm... RAIHAN?!"


Suara Eza langsung meninggi saat ingat siapa laki-laki yang berdiri di sebelah Ily kini. Eza langsung bangkit dari motornya dan memeluk Raihan ala-ala sahabat karib yang saling merindukan.


"What's up, bro?" Raihan menepuk-nepuk punggung Eza dengan senang hati.


Eza melepas pelukan itu dan menunjuk Raihan dengan wajah terpasang geli. "Sehat, man. Lo gimana?"


Alis Raihan terangkat seraya merentangkan tangannya. "Seperti yang lo lihat. Gue bugar dan sehat."


"Bagus," tukas Eza ikut senang. "Hm, harusnya gue ajak Elvan tadi."

__ADS_1


"Lah, Elvan masih sama kalian juga?" tanya Raihan terkejut. Ia tahu dari SD, Ily, Eza dan Elvan sudah bersama dan akrab seperti saudara sedarah. Namun, ia tak mengira persahabatan mereka akan berjalan selama itu.


"Kan Elvan sepupunya Ily, ege," balas Eza agak kesal. "Orang tiap hari dia mampir buat makan kayak musafir."


Ily refleks menepuk pundak Eza untuk memperingati. "Heh, nggak boleh gitu. Dosa, lho, nistain temen sendiri."


Raihan tertawa atas reaksi Ily yang menurutnya lucu. Namun, kembali serius saat menatap Eza. "Lah, Ily Sama Elvan itu sepupuan?"


"Lah, lo nggak tau?" Ily bertanya kemudian.


"Nggak, lah! Orang lo pada nggak pernah ngasih tau," jawab Raihan agak kesal. "Kayaknya gue doang yang disisihkan dari kita berempat. Kalian bertiga kayaknya seneng-seneng aja ya. Gue sendirian ditinggal."


"Ya, lo sih nggak ada kabar," tukas Eza langsung.


"Iya," sambung Ily setuju. "Ke mana aja lo?"


"Sorry to say, nih," balas Raihan dengan nada tak enak. "Gue lupa kalian semua semenjak masuk SMP. Lo bayangin dong, di SMP banyak temen baru yang asik. Gue sama lo pada kan beda sekolah, ya kali gue--"


"Za, yuk ah balik," potong Ily sudah merasa sebal dengan perkataan Raihan yang menurutnya dikeluarkan tanpa hati itu.


Eza mengangguk cepat. "Buruan naik."


"Eh, kok gitu? Gue kan belum selesai cerita?" Raihan tak terima, menahan motor Eza dengan wajah kecewa. "Jahat, sih."


"Cerita aja sama aspal," balas Ily kesal sendiri. "Lagian siapa juga yang mau dengerin cerita SMP lo sama temen baru sampai lupain gue, Eza sama Elvan."


Raihan meringis tak enak. "Perasaan gue sama kalian bertiga nggak sedekat itu, lho."


"Woah," tanggap Eza tak habis pikir. Menatap Raihan dengan ekspresi tak percaya dan merasa direndahkan. "Gue sakit hati, sih, Han."


"Udahlah, gas aja, Za," kata Ily yang sudah duduk di belakang. Ia menepuk pundak Eza agar cepat-cepat bergerak.


"Eh, tunggu dulu," tahan Raihan dengan wajah memelas. "Gue salah ngomong, ya? Maaf, dong. Maklum udah enam tahun, bos.  Lo pada baperan banget, dah."


"Pala lo ke bentur," tukas Eza tak peduli. Kemudian, melajukan motornya tanpa kata-kata lagi, meninggalkan Raihan dengan tanda tanya besar di kepalanya.

__ADS_1


"Salah gue apa sih, perasaan nggak ada, deh," keluh Raihan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


***


__ADS_2