
Setelah agak lama terima karena berpikir keras, Jae berdeham. "Gue udah berjanji."
"Hah?"
"Gue udah berjanji sebagai OSIS--"
"Kak, aku mohon, Kak. Aku nggak mau punya tiga cap merah." Entah mengapa Lili bisa bicara lancar seperti ini padahal dia sangat gugup. "Plis, Kak, aku bakal lakuin apa aja deh buat Kakak."
Jas makin kebingungan.
"Kakak lagi bikin film baru, kan? Aku udah liat posternya di-IG. Aku mau jadi cameo, tukang sapu-sapu lokasi shooting atau apapun itu, Kak! Aku bersedia!" seru Lili berapi-api. "Asal Kakak biarin aku kali ini aja, ya. Pliiiiissssssssss."
Kini, senyum Jae tercipta. Senyumnya bisa membuat Lili kenyang satu tahun. Lili seperti tak butuh apa-apa lagi saat telah melihat senyuman lebar Jae hingga lesung di kedua pipinya tercipta, tepat di depannya, hanya untuknya.
OMG, Lili bisa saja mati sekarang. Lili merasa saat ini adalah masa paling bahagia dalam hidupnya.
"Aduh, gue melanggar janji gara-gara lo."
Lili meringis. "Maaf, Kak. Tapi aku mohon, kali ini--"
"Hari Minggu."
"Eh, iya, apa, Kak?"
"Gue butuh banyak cameo, orang yang suka rela kayak lo khususnya. Buat kelancaran film juga, soalnya ini dilombakan. Lo bisa datang ke lokasi shooting hari Minggu, tempatnya nanti gue share lock." Jae mengambil ponselnya untuk diserahkan pada Lili yang seketika kebingungan saat menerimanya. "Tulis nomor hp lo, nanti gue kontakin."
Lili menahan senyum super senangnya. Dengan pipi memerah, ia mengetik di ponsel Jae, menyimpan nomor ponselnya di kontak milik Jae.
__ADS_1
Semuanya bagai mimpi, apalagi saat Jae kembali menerima ponselnya dengan senyum lebar seperti sebelumnya.
"Lili?" Jae menatap Lili lebih lekat. Ketika ingat, ia melebarkan pupil matanya. "Oh, orang Korea itu! Kelas lo pembimbing gugusnya gue, kan?"
"Eh, Kakak baru inget?" Lili merasa sedikit kecewa, namun itu tak seberapa dengan senyum dan Jae menyimpan nomor ponselnya. "Iya, aku Liliana Kim, si Korea Cupu."
Korea Cupu yang dimaksud Lili adalah sebutan yang ia terima saat penutupan MPLS dari pembimbingnya. Setiap anak mendapatkan julukan jelek yang menggambarkan dirinya.
"Masih ingat aja sebutan itu." Jae tertawa kecil, semakin membuat nyawa Lili berterbangan di awang-awang sana. "Lo tau kan itu cuma bercanda? Jangan dimasukin ke ati."
"Iya, Sambal Kecap."
Jae mendapatkan julukan itu dari kelas yang ia bimbing waktu MPLS kelas Lili karena kelihatannya Kak Jae berbakat berkata-kata pedas dari wajahnya, namun tidak dengan kata-katanya.
"Eh, *****, jangan diinget-inget dong. Malu gue." Jae berdecak kecil, membuat Lili tertawa tanpa dosa karena membuat Jae kesal. "Yaudah, balik ke kelas sama. Awas ketahuan sama OSIS lain."
Jae tertawa, menepuk kecil pundak Lili untuk setelahnya berbalik pergi. Meninggalkan Lili yang langsung lemas dibuatnya.
Lili menampar pipinya keras-keras.
"*****, sakit!"
Ketika Lili tiba di kelas dengan tas dijinjingnya, Theo memerhatikan perempuan itu.
Mulai dari pertama kali ia masuk, mengambil kertas tugas Matematika di meja guru dan ketika akhirnya perempuan berkacamata bulat itu duduk di kursinya.
Lili yang senyum-senyum seperti orang gila membuat Theo heran. Namun, Theo tak bertanya banyak dan menaruh lembar kertas ke meja Lili setelah Lili duduk.
__ADS_1
Lili mendongak, menatap Theo dengan heran. "Apaan nih? Kok ngasih lagi? Gue udah ngambil."
"Kerjain."
"Emangnya gue babu lo?"
"Lo bisa nggak dapet cap merah gara-gara siapa?"
Lili membuang napas panjang. Terpaksa, dia tersenyum dan menerima kertas kerja Theo. "Oke, fine. Kalau ketahuan Pak Toto--"
"Lo yang maksa buat ngerjain punya gue."
"What? Otak lo jatoh di pagar belakang, ya?"
Theo tersenyum miring. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dengan tatapan mengintimidasi pada Lilin yang jelas saja langsung mundur secara perlahan sampai mentok.
"Gue nggak tau kenapa lo bisa seberani itu terus balas ucapan gue." Theo berdecak kecil, mengambil anak rambut Lili dan memain-mainkannya dengan cara seperti psikopat yang menyiksa korbannya secara batin. Lili ketakutan benar-benar dibuatnya. "Gue nggak suka orang banyak bacot."
"Oke, oke, oke, oke, oke, Theo." Lili memejamkan matanya, kemudian dengan tangan kanan, ia mendorong dada Theo untuk menjauh dari wajahnya. Lili mengangkat kedua tangannya sebagai tameng agar Theo tak dekat-dekat dengannya. "Oke, oke, gue bakal kerjain punya lo."
Theo menatap Lili datar, kemudian keluar dari kelas.
Lili tak peduli banyak Theo mau ke mana meski dia sangat penasaran, yang harus ia lakukan adalah menyelesaikan tugasnya berikut tugas Theo dengan tulisan yang tidak boleh dikenali Pak Toto sebagai tulisan satu orang.
Meski begitu, meski sangat kesal dan merasa direndahkan karena diperlakukan seperti pembantu, Lili bisa tersenyum saat mengingat bagaimana interaksi dirinya dan Jae tadi.
***
__ADS_1