Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 05


__ADS_3

"Tang, ting, tung, mana yang beruntung bakal aku pake biar beruntung," nyanyian Ily berhenti saat telunjuknya menunjuk kebaya uang sedang ia kenakan.


Daripada pusing berkepanjangan, Ily memilih untuk menggunakan cara asal untuk menghasilkan keputusan akhir. Hasilnya tak begitu berdampak banyak, karena Ily berbalik dan hendak menemui Bu Rima untuk memberitahu keputusannya.


Namun, sosok yang duduk di sofa tunggu itu membuat tubuhnya mematung.


Sontak, laki-laki yang sedari tadi memerhatikannya itu melambai tangan saat Ily menatapnya dengan wajah terkejut yang nyata. "Halo, Ily."


"Ra... ihan?" Ily menyuarakan ragunya setelah lama berpikir dan mengingat-ingat siapa laki-laki yang duduk lima meter di depannya itu.


Laki-laki itu menjentikkan jarinya dengan senyum lebar hingga deret giginya terlihat menyapa. Ia berjalan mendekat dan berhenti ketika berada satu langkah di depan Ily yang mendadak gugup.


"Iya, gue Raihan. Masih inget rupanya. Gue takut dan kaget tadi, soalnya muka lo kayak nggak inget gue gitu."


Ily tersenyum canggung. "U-udah lama banget soalnya nggak ketemu. Lupa-lupa inget jadinya."


Raihan tertawa kecil. "Udah enam tahun, ya. Kita sama-sama cuma sampai waktu kelas 6 SD. SMP sama SMA beda terus."


"Iya," balas Ily pelan. Suaranya mendadak lemah ketika berhadapan dengan Raihan. Laki-laki itu jauh lebih tinggi dan tampan sejak terakhir kali ia melihatnya. Wajar bagi Ily untuk merasa gugup.


"Jadi, ngapain lo di sini?" tanya Raihan basa-basi, memecah keheningan yang hampir menyerang keduanya.


Baru saja Ily membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan yang diberikan padanya, Raihan langsung memotong dengan mengacungkan jari telunjuknya. "Gue tahu! Lo pasti mau graduate, kan? Udah banyak sih temen-temen SMA gue juga yang nyewa kebaya di sini. Nggak nyangka juga lo bakal datang."


Ily tertawa hambar, menutupi rasa bingung mau membalas dengan apa lagi.


"Jadi, udah putusin, ya, mau pilih baju yang mana." Raihan menyimpulkan dari apa yang ia perhatian beberapa saat yang lalu. Kemudian menatap Ily dari atas sampai bawah. "Bagus, Ly. Cocok banget. Lo memilih yang tepat. Ayo, udah. Copotin bajunya, mau gue bungkusin."

__ADS_1


Mata Ily mengerjap tak percaya. "Lah? Lo anaknya Bu Rima?"


Kini, giliran Raihan yang mengerjap tak percaya. "Lah? Lo baru sadar gue anaknya ibu? Ya masa gue ada di sini kalau bukan anaknya, Ly? Lagian, ya, Ly, lo pernah gue kasih tau tentang ibu gue waktu perpisahan SD. Gue kasih fotonya juga waktu ibu nggak bisa datang karena ada urusan di luar kota."


Mulut Ily terbuka lebar, matanya juga. Benar-benar baru ingat dirinya saat ini. Mengapa Bu Rima terasa tak begitu asing padahal mereka baru bertemu pertama kali hari ini adalah karena Raihan pernah mengenalkannya secara tak langsung enam tahun yang lalu.


"Gue baru inget, Han, aduh!" Ily menepuk keningnya pelan. "Pantes, ya, gue ngerasa ada sesuatu gitu sama Bu Rima. Eh, ternyata Bu Rima itu ibu lo. Hadeh, nggak nyangka."


"Bima emang sesempit itu, Ly," tukas Raihan sambil menaikkan kedua alisnya, sok bijak.


Ily tertawa. "Apasih. Ibu gue sama ibu lo sahabatan. Itu yang bikin bumi terasa sempit bagi lo."


"Iya," balas Raihan dengan seulas senyum tipis, tak mau berdebat lebih panjang.


Ily membalasnya dengan senyum, namun tak bertahan lama karena setelah itu ia mengalihkan pandangannya dengan kikuk. Sumpah, Raihan beda sekali dengan Raihan yang dulu.


Sementara Ily segera berjalan cepat menuju fitting room untuk berganti baju. Selama itu, Ily memikirkan kembali tentang pertemuannya yang mengagetkan ini dengan Raihan. Sama sekali, Ily tak pernah membayangkan dapat kembali bertemu dengan Raihan.


Sejak setelah mereka lulus SD, Raihan seperti hilang. Maksudnya, ia tak pernah muncul bahkan dalam media sosial saat beberapa teman-temannya ketika SD itu menyala Ily secara online. Ily pun tak berusaha untuk mencari keberadaan dan keadaan Raihan.


Tak dapat dipungkiri, mereka kini bertemu tanpa disengaja.


"Cepet banget, gila," kata Raihan sewaktu Ily keluar dari fitting room dengan baju awalnya. Baju pink soda dan rok tutu berwarna biru langit.


Raihan tersenyum ketika mengambil kebaya dari tangan Ily dan mulai mengemasnya dengan telaten. Mulai dari melipatnya dengan rapi, sampai memasukkan dalam kantung kertas khas butik ibunya.


Semua proses itu terjadi begitu cepat hingga membuat Ily kagum sampai tak sadar kini Raihan tengah menyodorkan kantung kertas itu padanya.

__ADS_1


"Halo, Ily," tegur Raihan merasa aneh pada Ily yang tiba-tiba seperti melamun. "Ini baju lo."


"A, iya," tukas Ily gagap. Dengan kaku, ia mengambil kantung kertas dari Raihan. Kepalanya menunduk gugup. "Makasih."


"Sama-sama," balas Raihan cepat. "Mau pulang sekarang?"


Ily mengangguk. Baru saja hendak berjalan, ketika ponsel di tas selempangnya terasa bergetar tanda ada panggilan masuk. Segera Ily mengambilnya dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya.


"Iya, Za, ada apa?"


"Gue di butik."


"Oh, oke-oke."


Secepat itu, obrolannya dengan Eza berakhir.


Raihan menatapnya terus sampai Ily kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berniat untuk berjalan lagi.


"Itu tadi siapa, Ly?" tanya Raihan ketika keduanya berjalan bersampingan menuju lantai bawah untuk keluar.


"Eza."


"Eza?"


"Temen gue. Wak--"


"OH SI EZA!" seru Raihan kelewat kencang karena semangat. Membuat Ily tertawa karena Raihan sangat lucu wajahnya saat ini. "Udah lama banget nggak ketemu."

__ADS_1


"Iya, dia mau jemput sekarang."


__ADS_2