
Lili ingin menangis saja. "Yah, masa gue harus jalan?"
"Bege sih tadi sok nolak ajakan Theo," gemas Lili pada dirinya sendiri. Terpaksa, karena tak ada lagi pilihan. Lili akan berjalan saja.
Langit sudah sangat sore. Jika Lili jalan kaki, kemungkinan besar dia sampai di rumahnya ketika malam. Mungkin butuh satu jam untuknya berjalan.
Lili mendesis kesal. Ingin sekali memaki, ingin sekali menangis, ingin sekali berteriak, namun itu semua jelas tidak akan menyelesaikan masalah ini.
"Kuatkan kaki hamba--" suara permohonan Lili pada Sang Pencipta tidak tersambung lagi sebab matanya menangkap sosok seseorang di atas motor yang familiar di gerbang sekolah.
Pemilik motor itu melepas helm-nya dengan segera saat melihat Lili berjalan ke arahnya. Wajah datar Theo segera menyambut wajah putus asa Lili yang mulai dihiasi senyuman cerah.
"Theo?"
Theo tersenyum simpul. Kemudian memberikan helm-nya pada Lili. Meski begitu, Lili tak langsung menerimanya.
"Lo nungguin gue?" tanya Lili takjub. Kok bisa Theo sebaik ini padanya?
"Sebenarnya gue selalu mastiin lo pulang sama ojol," balas Theo santai. Sejak menitipkan Titi ke rumahnya, Theo menganggap Lili sebagaimana Titi yang harus diperhatikan juga oleh Ily.
Theo memposisikan diri sebagai Ily.
Mulut Lili terbuka dengan wajah syok. "Kok bisa?!"
"Kenapa nggak bisa?"
"Theooooooooo," rengek Lili merasa sangat berterimakasih. "Lo bikin gue pengen karungin lo buat dipajang di museum supaya orang kayak lo selalu dikenang."
"Senang mendengarnya." Theo tersenyum senang. Tersentuh karena Lili begitu senang hanya karena kebiasaannya untuk memastikan Lili pulang dengan selamat.
"Eh?" Lili hampir tak bisa membedakan apakah ini mimpi atau hayalannya. Maksudnya, saat ini Lili benar-benar merasa tak berada di dunia nyata. Tanpa aba-aba, ia mencubit pahanya. "Aw!"
Theo mengerjap terkejut. "Lo kenapa?"
__ADS_1
"Hah?" Lili bertanya seperti orang linglung. "Oh? Eh, gue nggak apa-apa, Yo. Cuma mastiin ini mimpi atau nggak. Ternyata nggak."
"Aneh," tukas Theo sambil memandang Lili bingung. "Kurang obat ya lo?"
Lili meringis panjang. Ia ingin bicara, namun agak tak enak. Setelah agak lama berpikir, akhirnya dia bicarakan itu. "Kayaknya di sini lo yang kurang obat, deh, Yo. Lo kenapa tiba-tiba senyum, tiba-tiba peduli banget dan tiba-tiba ... tadi ... puji gue cantik ...?"
Suara Lili semakin pelan karena malu. Dia bahkan menunduk dengan jari-jari tangan bertaut gugup.
Theo tersenyum tipis. "Nggak boleh emangnya gue begini?"
"Ya, nggak gitu juga," balas Lili sambil masih menunduk. Theo jadi tak bisa melihat bagaimana wajahnya dan itu membuatnya penasaran. "Aneh aja lo begini. Kayak ada sesuatu ... yang gue nggak tau, apakah itu baik ...." Lili mendongakkan kepalanya, menatap Theo dengan pandangan tak terbaca. "... atau buruk?"
"Lo mau tau?" tanya Theo cepat. "Kalau mau, ayo naik."
Tak ada lagi yang mengendalikan Lili selain rasa penasaran akutnya. Tanpa berpikir lebih lama dan mungkin bisa memperumit segalanya, Lili naik ke motor Theo setelah memakai helm yang disodorkan laki-laki itu dan mereka berdua pun melaju membelah jalanan sore menjelang malam di atas kendaraan beroda dua itu.
Angin lembut membelai wajah Lili selama perjalanan. Theo tak membawanya ke arah rumah, meski begitu, tak berselang lama, motornya berhenti.
Theo turun dari motornya dan membuat Lili mengikuti langkahnya. Mereka berdiri berdampingan dengan tangan memegang penyangga jembatan. Ada sungai berbatu di bawah mereka, airnya jernih dan lumayan dalam sepertinya.
Langit sore yang perlahan melahap matahari membuat Lili tersenyum lebar. "Bagus banget, Yo."
Theo tak membalas. Dia membiarkan Lili menikmati dahulu segala yang indah di sini.
"Jadi pengen foto," kata Lili semangat. Kemudian dia mengambil ponselnya di saku rok. Lupa pada kenyataan bahwa baterainya sudah habis, Lili menyodorkan ponselnya itu pada Theo. "Tolong fotoin yang bagus, ya."
Theo menerima ponsel itu tanpa membantah. Lili senang karenanya. Baik banget ini anak hari ini, sumpah, gemes, kata Lili dalam hati.
Saat Lili berpose ala-ala aktor drama yang melankolis, Theo mengerutkan keningnya saat ponsel Lili tak kunjung menyala.
Mungkin ini juga alasan mengapa Lili tak bisa memesan ojolnya.
"Hitung ya, kalau mau jepret. Gue bakal ambil tiga foto, kok, jangan khawatir," kata Lili memberi kejelasan. "Pose pertama."
__ADS_1
Lili memejamkan matanya, membiarkan angin lembut menggerakkan rambut panjangnya. Tangannya diletakkan di bawah dagu, menyangga kepalanya dengan siku bertumpu pada besi pembatas jembatan.
Lili tampak lucu, menggemaskan dan ... cantik.
Bukannya fokus mengambil gambarnya, justru Theo terpaku selama beberapa saat. Sampai akhirnya ia sadar dan buru-buru mengeluarkan ponselnya sendiri untuk memotret Lili.
"Ganti." Theo berkata. Membuat Lili segera berganti gaya tanpa sadar bahwa ia tak difoto oleh ponselnya sendiri.
Lili merentangkan tangannya, membuat angin lebih leluasa menari-nari dengan rambut lurus panjangnya. "Yo, foto dari belakang. Yang cantik, ya!"
Dengan lapang dada, Theo berjalan. Kini posisinya ada di belakang tubuh Lili yang menghadap cahaya senja. Foto Lili tercipta sangat cantik, dengan background senja dan rambut yang tampak hidup, menari.
Theo mengambil gambar tersebut. "Ganti."
Selepas Theo berkata seperti itu, Lili langsung berbalik. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Theo terkejut dan hampir melepas ponselnya jika dia tidak tanggap. Theo tak menyangka Lili akan tampak secantik ini di tengah cahaya oren.
Meski begitu, Lili tampaknya tak menyadari karena perempuan itu justru tersenyum lebar ke arah kamera dengan jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf V.
"Udah, Yo?"
Theo tersadar. Buru-buru, ia memotretnya. "Udah."
"Woah, mana coba liat!" seru Lili, segera merebut ponsel Theo dan melihat-lihat hasil jepretan tangan Theo. Matanya berbinar dan Theo hanya memandangnya dari samping. "Bagus-bagus banget, Theo! Makasih, ya! Eh ... tapi kok kayaknya ini buka HP gue."
Theo langsung mengambil alih ponselnya dari tangan Lili dan mengembalikan ponsel Lili. "Ini HP lo. Itu HP gue."
Mata Lili melotot sempurna. "Kok lo nggak bilang? Aduh, gue lupa kalau HP gue kan udah habis batrenya!"
"Nanti gue kirimin."
Lili jadi malu. "Iya, deh. Makasih."
Theo tersenyum tipis. Kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana dan berbalik menatap langit senja. Ah, tepatnya sebuah lahan khusus di bawah sana.
__ADS_1