
Setelahnya, Pak Dodo pergi.
Jelas, tanpa adanya pengawasan, Theo langsung duduk di pinggir lapangan dekat tiang bendera yang teduh karena ada pohon yang menaunginya. Theo membuang napas capek, keringat sudah membanjiri seluruh badannya dan membuat haus terasa amat jelas.
Mata Theo menyipit, kemudian berhenti saat melihat kelasnya. Di sana pasti ada Lili dan tanpa aba-aba, Theo langsung berteriak.
"KIMCHI!"
Suaranya yang lantang jelas saja membuat kelas XI IPA 3 yang mengerti tentang kata yang diteriakkan Theo menaruh perhatian pada Theo. Beberapa dari mereka berusaha melihat Theo, tanpa terkecuali Lili yang menjadi target utama Theo barusan.
Lili mengernyit bingung. Melihat Bu Desi dengan takut-takut. Kelasnya hanya disuruh membaca materi dan sebenarnya Lili pun bosan, justru lebih tertarik dengan maksud Theo.
Tahu-tahu, Theo mengirim pesan ke grup kelas dan membuat Lili yang selalu aktif di media sosial itu mengeceknya dengan mata membulat.
Theo: sini lo
Beberaoa anak kelas yang juga aktif langsung bertanya apakah Lili yang maksud. Namun, Theo tak kunjung mengirimkan balasan. Lili mengernyit, segera mengirimkan balasan.
Lili: gue?
Theo: iyalah, siapa lagi
Lili: lah? Buat apa?
Theo: mau diculik?
Lili langsung mematikan ponselnya. Dengan pandangan geram, perempuan itu membuang napas pendek. Tangannya kemudian terangkat, membuat beberapa anak kelas yang mengerti tertawa kecil.
Mereka pikir Lili dan Theo akan memulai akhirnya yang bisa menghibur.
"Bu, izin ke toilet."
"Ya, boleh."
Lili mengangguk. Bagus, berjalan sempurna. Selanjutnya, Lili segera melangkah diam-diam agar tak tampak mencurigakan untuk setelahnya sedemikian waktu berlalu, dia berada di belakang Theo.
"Ada apa, nih?"
"Beliin minum." Theo langsung berkata begitu sambil menyerahkan selembar uang berwarna oren pada Lili.
"Lah, *****, emangnya gue babu lo?" Lili bertanya tak suka. Meski begitu, wajahnya menunjukkan penasaran yang nyata. "Btw, lo ngapain sampai dihukum sama Pak Dodo?
Theo mendengus kecil. "Kalau penasaran, beliin minum dulu. Gue haus."
__ADS_1
"Lo punya kaki?" tanya Lili jadi sarkas, merasa kesal lagi.
"Lo punya mata?" Theo membalas gak mau kalah. Kemudian menggerak-gerakkan kaki panjangnya dengan wajah kesal. "Ini kali, gablok."
"Nggak usah pake gablok juga kali. Anak TK aja tau itu kaki," tukas Lili paling naik darah.
"Ya lo giblok sih pake nanya gue punya kaki atau kagak."
"Ya maksud gue, lo kan punya kaki, harusnya dipake dan beli minum sendiri aja. Nggak usah suruh-suruh gue."
"Gue bakal beli sendiri kalau tau gue nggak bakal ketemu Pak Dodo diperjalanan cuma buat nambah berat hukuman gue," jelas Theo malas. "Anggap amal baik aja, beliin gue minum sekarang. Cepet. Haus gue."
Lili memutar bola matanya, dia hendak membalas lagi saat Theo mengatakan sesuatu yang seolah menutup semua kemampuannya untuk menolak perintah Theo.
"Gue kasih kesempatan lo buat tanya lima kali."
Lili langsung tersenyum, namun jelas sekali senyum itu dipaksakan. Lili mengambil uang dari tangan Theo. "Oke anggap ini amal baik, ya."
Theo menggerak-gerakkan tangannya, menyuruh Lili untuk cepat.
Lili tersenyum manis sekali lagi. Kemudian berbalik dan saat dua langkah baru ia tempuh, Theo bersuara, "ketahuan Pak Dodo, sore nanti gue beneran culik lo."
Tangan Lili mengepal kuat-kuat. Daripada takut, kini Lili merasa sangat kesal.
Namun, ketika akan melewati kelasnya, Lili langsung berbalik cepat hingga apa yang dilihat anak-anak kelas berserta Bu Desi hanyalah melesatnya sosok yang tidak dikenali.
Bu Desi sendiri adalah guru yang tak acuh dengan anak-anak. Asal dirinya absen dan nilai anak-anak bagus, maka kewajibannya dianggap selesai. Mau bagaimana pun cara agak nilai itu tercapai bagus, Bu Desi menerimanya.
Kadang, Lili jadi malas belajar pelajarannya.
Jadi, berusaha untuk tak dipergoki oleh guru siapapun saat akan membeli minum, menjadi tantangan menyenangkan bagi Lili. Dia tak pernah bolos kelas, hanya untuk nongkrong di kantin atau Wi-Fi-an.
Lili benar-benar anak rajin yang penurut, sampai dia bertemu Theo dan jadi seperti ini.
Ayah, Ibu, maafin Lili. Hari ini Lili malah ke kantin waktu pelajaran Bu Desi.
Kantin benar-benar sepi saat Lili masuk ke dalamnya. Sebelum itu, Lili memastikan dulu, bahwa di sana benar-benar tak ada guru, di depan atau di belakangnya, barulah Lili melesat ke dalamnya.
Lili melakukan proses transaksi super cepat dan berlari kembali keluar dari kantin. Lili memeluk botol air mineral kuat-kuat seraya turut menunduk melewati koridor-koridor kelas.
Seperti sebelumnya, ketika melewati kelasnya, Lili beraksi cepat. Sosoknya ditangkap Theo di tempat dia duduk. Melihatnya, Theo tersenyum miring. Lili benar-benar seperti anak cupu lainnya saat disuruh.
Aneh sekali, sebab perempuan itu tampak tak ketakutan seperti yang lainnya saat berhadapan dengan Theo.
__ADS_1
Ketika memikirkan keanehan Lili yang lebih tepatnya disebut unik, tahu-tahu Lili sudah duduk di sebelahnya dengan napas satu-satu.
Tanpa kata, Lili menyerahkan botol air mineral yang baru saja dibelinya pada Theo. Theo mengambilnya dan segera membuka segel tutupnya, kemudian membuka tutupnya dan meminum isinya dengan ekspresi wajah yang membuat Lili melongo melihatnya.
Peluh-peluh yang menghiasi pelipis Theo bagaikan suasana yang dirasakan Lili sekarang. Bagaimana jakun Theo naik-turun saat meminum air segar itu membuat Lili meneguk ludahnya susah payah.
Theo seperti iklan air mineral di sebuah siang yang terik yang dapat melegakan haus dan Lili larut di dalamnya.
Ketika air mineral dalam botol itu hendak mencapai kata habis, Lili langsung menahannya. Membuat Theo mengernyitkan keningnya dan menjauhkannya bibir botol dari mulutnya.
"Ngapain lo? Lepas. Gue mau minum lagi."
"Nggak mau bagi-bagi, gitu?" tanya Lili dengan wajah memelas. "Gue juga capek, Theo. Lo tau berapa meter tadi gue lari?"
"Lo tau berapa lama gue panas-panasan tadi?"
"Lo tau betapa tegangnya gue di kantin tadi?"
"Lo paham sakitnya telinga dijewer sambil jalan dari kantin ke tiang bendera?"
"Lo ...." Lili kehabisan kata-kata. Dia melepaskan tangannya dari botol yang juga dipegang Theo, kemudian menatap Theo dengan benci. "... lo bener-bener jahat, Theo. Lo pelit banget, najis."
Theo mendengus. "Ini uang gue."
"Tapi gue yang beliin."
Melihat bagaimana sedihnya Lili kini, akhirnya Theo memberi botol air mineralnya. "Yaudah, nih."
"Woah, makasih, ya!" Lili langsung menerimanya dan meminumnya hingga tak tersisa satu tetes pun. Setelah selesai, dia mengembalikan botol kosong itu. "Nih."
"Buang sendirilah," balas Theo datar. "Nanti bayar."
Lili menatap Theo dengan tak percaya. "Sumpah lo? Seriusan minta gue bayar?"
"Jangan suka bikin gue ngulang perkataan," tukas Theo, menatap Lili dengan tajam. "Sekarang, mending lo pergi daripada kepergok Pak Dodo."
"Lo bener-bener, ya, Theo." Lili berdiri dengan kesal yang ditahan. "Lo cuma manfaatin gue."
"Lo juga manfaatin gue buat cerita lo."
Dan Lili tak bisa membalas Theo lagi.
Akhirnya, Lili memutuskan untuk pergi seperti bagaimana kata Theo. Lili bisa saja langsung melanjutkan langkahnya, namun dia melihat sosom Pak Dodo yang sedang berjalan ke arahnya. Tahu-tahu, Pak Dodo sudah ada.
__ADS_1
"Theo." Lili kembali lagi ke samping Theo. Wajahnya khawatir. "Ada Pak Dodo."