
Ayah selalu bilang pada Theo untuk tak melakukan hal-hal yang dapat membuat citranya buruk jika masih ingin hidup damai.
Selama ini, Theo pergi ke club, pergi ke arena balapan dan membeli obat-obatan, Ayahnya tak pernah tahu. Ibunya juga.
Theo pikir selamanya akan baik-baik, namun tidak ketika Ayah berkunjung ke rumah tanpa izin. Theo merasa Ayahnya akan melakukan sesuatu yang tidak Theo sukai.
Theo yang baru saja keluar dari kamar Titi setelah membuat adik perempuannya itu tertidur, terkejut ketika melihat sosok ayahnya sedang duduk di sofa.
Hubungannya dengan Ayah tak pernah dekat lagi sejak penceraian terjadi. Theo rasa juga tak akan pernah bisa. Sebab sikap Ayah telah berubah seratus delapan puluh derajat, laki-laki itu gila kuasa dan pengabdian dari orang-orang.
Maka kedatangannya setelah sekian lama tak membuat Theo senang sedikit pun.
Ayah mendengar suara langkahnya, sebab itu kepalanya langsung bergerak, menatapnya dengan bingung ketika melihat pakaian keluar yang dipakai Theo.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ayah langsung.
Theo mengambil tempat duduk di hadapan Ayah. "Ayah kenapa ke sini?"
Ayah membuang napas panjang, untuk setelahnya menatap Theo lekat-lekat. "Kalau kamu mau tetap bersama adikmu, lebih baik turuti Ayah. Mulai besok kamu tinggal sama Ayah."
"Terus Titi gimana?" Theo jelas-jelas langsung menolak permintaan Ayah.
"Untuk itu mudah saja. Ayah akan sewa pengasuh."
"Theo menolak."
Ayah tertawa, menatap Theo dengan penuh peringatan."Atau mungkin ayah akan sewa pembunuh. Kamu mau adikmu bernasib sama seperti kakakmu?"
"Maksud ayah?" Mata Theo membulat dan menatap Ayah dengan tajam. Ada sesuatu yang tak bisa dua mengerti dari perkataan yang barusan Ayah lontarkan.
Rasanya ada sesuatu yang janggal.
"Kehilangan." Ayah segera membalas. "Kamu akan merasakan kehilangan lagi. Leo memang mengakhiri hidup atas kemauannya sendiri, tapi hidup Titi kini ditentukan oleh pilihan kamu. Ingat, kamu ini berbahaya."
Semenjak Leo meninggalkannya, Ayah selalu bilang bahwa Theo berbahaya ketika Theo bersedih dan Ayah menghampirinya. Ayah tak pernah memberitahukan alasannya mengapa sampai menyebut Theo begitu, namun seiring berjalannya waktu, Theo menerimanya.
Dia merusak pertemanan, dia memecah kepercayaan dan dia membuat orang lain terluka.
Jelas, Theo berbahaya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Theo muak, akhirnya diberi keberanian untuk mengungkapkan. "Kenapa ayah melakukan semua ini?"
Ayah menatap Theo dingin. "Ayah hanya ingin kamu menjadi seperti ayah."
"Tapi Theo nggak pernah mau itu."
"Hidup ini bukan kamu yang memutuskan, Theo." Ayah berdiri, menatap Theo lurus-lurus. "Jangan membuat ayah marah atau akhirnya melakukan hal yang akan kamu sesali."
Kepalan tangan Theo menguat. "Aku minta satu bulan untuk merenungkannya."
Ayah awalnya terdiam, Theo kira Ayah akan menentang ucapannya. "Ya, baiklah. Akan ayah tunggu."
***
Seperti ucapannya tadi sore, Theo datang ke arena balapan untuk bertemu dengan Regan. Berbeda dengan Theo yang hanya membawa Lucas dan Ten di sisinya, Regan lagi-lagi membawa dua puluh temannya yang kemungkinan besar merupakan teman satu karirnya.
"Gue menolak untuk ikut lo jadi pembalap di Australia," kata Theo langsung pada intinya begitu mereka berdua berhadapan.
Regan menarik senyum miring. Wajahnya tampak kecewa, namun ditahan. "Coba jelasin kenapa."
"Gue balapan bukan untuk sesuatu yang serius."
"Lalu?"
Regan tampak tak suka. "Bukannya hidup lo udah nggak ada artinya?"
Rahang Theo mengeras. Lucas yang mengerti segera menepuk pundaknya untuk menahan supaya Theo tak emosi.
"Hidup gue masih ada artinya," balas Theo penuh penekanan.
"Oh, ya?" Regan mendekat dengan tatapan tajam. "Sayangnya, meski hidup lo masih ada artinya, gue harus bawa lo. Meskipun pake cara sekadar apapun."
Ten langsung maju. "Gue bisa lapor polisi. Theo udah baik-baik nolak lo."
"Tapi lo udah terima sepuluh juta gue." Regan menyunggingkan senyum santai. Perkataannya membuat Ten terdiam seribu bahasa. "Gimana? Mau some jalan lurus, atau harus yang belok-belok?"
"Gue bisa gantiin itu besok," balas Lucas turut bersuara.
Regan terdiam lama.
__ADS_1
"Gue menolak dengan damai. Apa itu belum cukup?" tanya Theo akhirnya.
"Gue butuh lo." Regan mengangguk penuh keyakinan. "Sebagai pengganti gue. Gue harus fokus ujian bukan depan, banyak pertandingan terbuka dan orang tua gue nggak izinin gue lagi setelah ini. Gue mau lo bawa nama gue, jadi adik gue."
Penjelasan Regan tak membuat hanya Theo yang terkejut, tetapi juga Ten dan Lucas. Dua orang itu menatap Regan seolah barusan laki-laki Australia itu mengatakan dia adalah Ibu Theo yang sebenarnya.
"Gue bisa minta orang tua gue buat angkat lo jadi anak mereka," tambah Regan dengan wajah meyakinkan. "Lucas bilang lo broken home dan nggak punya tujuan hidup."
"Gue menolak." Theo menukas cepat tanpa harus berpikir lama. "Dan gue punya tujuan hidup. Lo nggak perlu sok tau."
"Gue nggak ada waktu lagi di sini, Yo," kata Regan, berubah dengan nada penuh harapan. "Setidaknya bantuin gue kali ini."
"100 juta." Lucas terlihat gatal untuk tak bersuara. Membuat mereka yang mengetahui artinya menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
Lucas adalah orang yang bertemu Regan di bandara. Laki-laki itu terkenal di negara asalnya sebagai pembalap dan kedatangannya ke Jakarta adalah untuk liburan bersama keluarganya.
Lucas yang sedikit tertarik dengan dunia balapan berkat Theo ingin Regan turut mengenal Theo dan bersaing dengannya. Lucas ingin melihat perbandingan kekuatan keduanya jika diadukan.
Lucas memang salah, dia memainkan Theo dan Regan seperti mainan, tanpa tahu bahwa ujungnya akan menjadi Boomerang pada dirinya sendiri.
Bahkan membuat Theo dan Ten menderita.
Lucas yang memulai, maka dia pula yang harus mengakhiri.
Kemudian, di keheningan malam yang dingin, Lucas melanjutkan dengan tegas. "Apa itu nggak cukup buat menyelesaikan semuanya? Supaya lo nggak ganggu-ganggu Theo atau Ten dengan masalah lo?"
Uang selalu menjadi alat penyelesaian masalah terbaik, tercepat dan terbersih. Meski wajah Regan sangat menunjukkan ketidaksukaannya, namun pada akhirnya laki-laki menyerah untuk memaksa Theo.
"Harus banget emangnya lo pake uang segede itu buat Regan?" tanya Ten pada Lucas ketika Regan dan kawanannya telah bubar.
"Nggak apa-apa lah, Ten. Gue juga yang mulai semuanya."
Sebelum benar-benar pulang dan menaikki motornya, Theo tersenyum pada Lucas. Buka jenis senyuman penuh siasat buruk, namun terasa damai saat Lucas melihatnya.
"Makasih, Cas."
Lucas langsung tertawa renyah, ia menepuk-nepuk pundak Theo dengan wajah penuh arti. "Kata siapa semuanya gratis? Gitu-gitu lo harus ganti rugi juga, Yo."
"Bangsit."
__ADS_1
***
lanjut????