Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 27


__ADS_3

"Kak Theo," rengek Titi dalam perjalanannya menuju panti asuhan ketika lagi ini Theo akan berangkat sekolah. Sebelum itu, Theo selalu mengantar Titi ke pantai asuhan.


Titi yang posisinya berada di depan Theo langsung saja Theo beri respon. "Iya, kenapa? Ada yang mau Titi bicarain?"


"Aku mau ke rumah Kak Lili," kata Titi.


Theo mengerjap-ngerjap bingung. "Maksudnya?"


"Titi nggak mau ke panti asuhan lagi, Kak. Di sana Titi bosen. Nggak ada temen main. Titi maunya di rumah Kak Lili kayak kemarin," jelas Titi dengan suara yang agak dikeraskan karena angin pagi membuatnya suaranya samar-samar terdengar.


"Emangnya Bu Anis nggak ngajak main?" tanya Theo berusaha menenangkan.


"Bu Anis selalu tidur, Kak. Titi bosen banget jadinya, sama aja kayak sendirian di rumah," balas Titi sedih. "Di rumah Kak Lili ada Luhan, ada Ibunya juga. Mereka baik-baik dan mau main sama Titi. Pokoknya, Titi pengen ke rumah Kak Lili, Kak!"


"Luhan? Dia siapa?"


"Adiknya Kak Lili, Kak. Lucu banget, pokoknya Lili pengen ketemu dia lagi sekarang!"


Theo jadi serba salah. Namun, pada akhirnya dia ingin menyalahkan Lili karena telah memperburuk keadaan Titi.


"Tapi, sekarang kita udah hampir sampai, Ti."


"Yaudah, balik lagi aja. Ke rumah Kak Lili pokoknya!"


"Aduh, Ti."


"Titi sedih kalau Kakak nggak kabulin permintaan Titi."


Theo mendesah pasrah. Dia memutar otaknya sekali lagi, mencari penjelasan supaya Titi tidak terus menuntut untuk ke rumah Lili.


"Kalau kita sekarang ke rumah Kak Lili, nanti Ibu sama Luhan kaget. Kita nggak bisa langsung ke rumahnya gitu aja," jelas Theo akhirnya. Dia mematikan mesin motor ketika telah sampai di depan sebuah panti asuhan, Ten keluar tengah ketika Theo menurunkan Titi.


Jika Theo belum memperkenalkan Ten kepada kalian lebih detail, Theo akan memberitahu kalian sekarang.


Ten adalah keturunan Thailand yang tersesat di pelabuhan, orang tuanya entah bagaimana bisa terpisah dengannya saat Ten ketiduran di kapal. Laki-laki itu awalnya tak bisa bahasa Indonesia sama sekali dan terus menangis di dekat pelabuhan.


Sampai sepasang nelayan mengadopsinya. Namun, sayang, hanya sebentar karena ekonomi mereka tidak lancar sehingga terpaksa melepas Ten ke panti asuhan. Pasti asuhan yang kini menjadi tempat Titi berada saat Theo sedang sekolah.


Tentang bagaimana Theo bisa bertemu Ten, mereka berdua bertemu di arena balapan. Ten yang suka melihat balapan selalu menjadi suporter untuk temannya. Ten yang duluan mengajak kenalan dan akhirnya jadi akrab karena satu sekolah, SMA Aksara Nusa.


Seperti biasa, Ten menunggu dalam diam saat Theo melakukan perpisahan dengan Titi. Sebab selanjutnya, Ten akan dibonceng Theo ke sekolah.


Selalu begitu setiap hari.


Theo berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan Titi. "Titi Kakak titip ke Bu Anis dulu, ya hari ini."


"Ya, gimana dong? Titi pengen main di rumah Kak Lili aja, Kak. Nggak mau di sini," rengek Titi tetap menuntut.


Theo paling tak suka melihat wajah adiknya sedih. Seperti sekarang.


"Yaudah, hari ini Kakak mau bilang dulu ke Ibunya Kak Lili, kalau dibolehin, besoknya Titi bisa ke sana," jelas Theo akhirnya, tersenyum menenangkan dan itu turut membuat senyum Titi tercipta. Hati Theo pun damai melihatnya. "Hari ini Titi di sini dulu, ya."


"Iya!" balas Titi dengan senyum yang mencapai matanya. "Besok berarti Titi bisa ke rumahnya Kak Lili, ya?"


Theo mengangguk kecil. "Kakak bakal usahain."


Meski rasanya akan terasa sulit, namun karena Titi langsung memeluk lehernya dengan erat, Theo merasa hidupnya terasa ringan dan lebih berarti.


"Yeay! Makasih, Kak!"


***

__ADS_1


"Buset, lo bercanda, kan?"


Theo tersenyum jahat. "Gue serius."


"Ini keterlaluan, Theo." Lili menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Gue bakal lapor ke guru BK. Lo bully gue."


"Lo yang duluan bawa Titi ke rumah lo Tampa seizin gue."


Gema yang duduk di dekat dua orang berkebalikan pribadinya dengan wajah bingung. Meski banyak pertanyaan yang bercekol di benaknya, Gema memilih untuk diam saja dulu sampai Theo pergi sebab dia tak mau mengajak lebih dekat Theo untuk menjadi ribet hidupnya seperti apa yang sahabat satu mejanya rasakan kini.


Satu Minggu ini Gema serasa banyak ketinggalan. Tahu-tahu, Lili dan Theo yang asalnya hanya dua asing yang tak peduli satu sama lain, kini jadi sering berbalas kata alias debat.


Lili juga tampak tak takut dengan Theo. Gema sangat merasa aneh. Kok bisa gitu, ya?


Wajah Lili yang sudah bagaikan benang kusut itu menatap Theo tak terima. "Ini terlalu banyak, Theo. Mana gue bisa selesain semalem?"


Jadi, Theo menyuruh Lili mengerjakan semua tugas remedial ya karena bolos dan tidak lulus KKM saat evaluasi harian. Totalnya ada lima dan semuanya kegiatan merangkum.


"Yang ada, tangan gue pada keriting kali," keluh Lili.


"Itu salah lo. Paham?" Theo tak peduli banyak. "Makanya nanti-nanti kalau mau bertindak ngotak dulu."


"Kayak yang suka ngotak aja." Lili tertawa meremehkan.


Gema saja melotot mendengarnya, apalagi Theo. "Lo bilang apa barusan?"


"Nggak kedengeran emang?" Lili bertanya kesal. Ketika Theo akan membalasnya lagi, Lili buru-buru mengangkat tangannya, menahan kata-kata Theo. "Oke! Oke, fine! Bakal gue kerjain! Puas?"


"Bagus."


Setelahnya, seperti sebelum-sebelumnya, Theo berlalu pergi dari kelasnya, pastinya pergi ke kantin sementara Lili harus mengerjakan tugas Theo karena tak mau tersiksa lagi di kemudian hari.


"Li." Teguran Gema membuat Lili paham apa yang harus dia katakan selanjutnya. "Bisa lo ceritain kenapa bisa hubungan lo sama Theo bisa jadi kayak gini?"


"Kayak babu sama majikan?" Lili memperjelas.


"Iya." Gema mengerutkan keningnya. "Kok bisa? Terus tadi Theo sebut-sebut Titi dibawa ke rumah lo. Jadi, Titi itu siapa?"


Akhirnya, selama hampir dua puluh menit, Lili menjelaskan semuanya. Bermula dari Lili yang membuntuti Theo dan melihatnya terlibat transaksi yang sangat mencurigakan, dihukum bersama pada pelajaran Pak Toto di depan kelas, lagi-lagi dihukum bersama di depan tiang bendera oleh Pak Dodo, bertemu di mall dan mengenal Titi--adiknya Theo, menjadi tukang suruh Theo atas riset yang Lili lakukan pada hidupnya, sampai mengambil Titi ke rumahnya tanpa izin.


"Cuma ngambil adiknya ke rumah doang, tapi Theo sampai kesel kayak gitu," simpul Gema heran. "Kok bisa Bad Boy sayang banget sama adiknya?"


"Gue juga nggak tau," balas Lili sama herannya. "Tapi, Theo beneran Bad Boy, Gem. Semalem aja dia bau alkohol, kentara banget abis mabok."


"Serius?"


"Iya!"


"Wah, wah, semakin menarique, ya," kata Gema dengan senyum lebar.


"Alah, menarik-menarik," ledek Lili tak terima. "Yang ada gue tersiksa, Gem. Liat Ini lima buku? Keriting dah jari gue."


"Lo kan udah bisa nulis, Li."


"Ya, ini beda, Gem."


Gema hanya tertawa.


"Eh, Gem. Lo tau nggak?" tanya Lili semangat.


"Apa, deh? Mana gue tau, kan lo belum ngasih tau," balas Gema agak kesal.

__ADS_1


"Gema ...." Lili tersenyum penuh senang dan matanya berkaca-kaca dalam artian bahagia. "Kak Jae punya kontak gue, dong."


"HAH, KOK BISA?!"


Beruntung anak kelas sudah pada ke kantin, jadi tak ada yang merasa terganggu dengan pekikan terkejut yang disuarakan Gema secara ultrasonik.


"Jadi gini, Gem, hehehe ...." Lili menceritakan pertemuannya dengan Jae dan bagaimana Jae bisa menyimpan nomor Lili dalam ponselnya. ".... nah, gitu, Gem."


"Beruntung banget, lo," tukas Gema turut senang. "Semoga jodoh, deh."


Lili mengangguk semangat. "Iya, semoga aja, hahahaha."


Gema turut tertawa senang. Sebenarnya masih tak menyangka juga ketika akhirnya cinta Lili mengalami peningkatan--secara, Jae dan Lili itu bagaimana langit dan bumi alias jaraknya sangat jauh, namun Gema senang karenanya.


Mungkin, sebentar lagi Lili akan melepaskan predikat jomlo-nya yang sudah melekat dari lahir.


"BTW, lomba essai lo Itu menang nggak?" tanya Lili ketika teringat.


"Harapan satu." Gema tersenyum tipis. "Nggak dapet piala atau piagam, jadi nggak diumumin pas upacara tadi."


Lili langsung menepuk-nepuk punggung Gema. "Itu udah bagus, dong! Daripada gue, sama sekali nggak ikut dan nggak menang."


Gema tersenyum lemah, kemudian memeluk Lili dengan erat. "Tapi lo enak. Orang tua dukung. Lah, gue? Gara-gara ikut lomba kemarin dan jadi ketinggalan pelajaran, ibu gue sampai sobek-sobek kertas yang isinya puisi-puisi gue."


"Hah?!" Lili langsung menarik Gema dari pelukannya dan menatapnya dengan mata melotot. "Yang lo bikin dari kelas sepuluh? Yang tebel itu? Yang mau lo jadiin antologi puisi?"


Gema mengangguk lemah. "Iya, Li."


"Lah, gimana dong?" Lili jadi khawatir. "Sayang banget, Gem. Tapi, kok lo nggak keliatan sedih? Kalau gue, udah pasti menangis tujuh hari tujuh malem kalau tulisan gue sampai dirobek-robek atau laptop gue direset."


"Ya, untungnya udah gue pindahin di hp," balas Gema santai. "Intinya, Ibu gue nggak suka banget gue nulis-nulisan. Dari marahnya dia sama benci sama puisi yang gue buat, gue pastinya nggak bisa terbitan antologi, Li."


"Yah, jangan nyerah gitu dong!" seru Lili menyemangati. "Lo belum usaha bujuk Ibu lo kan?"


"Udah, Li," balas Gema lemah. "Setiap hari malah."


"Terus jawaban Ibu lo?"


"Selalu sama tiap kalinya," jawab Gema jujur, merasa sangat sedih dan putus asa. "Jadi penulis itu cuma buang-buang waktu. Ujungnya buku kamu pasti usang dan dibuang. Sekarang fokus aja belajar, lulus dengan nilai yang tinggi, cari beasiswa, kuliah, terus kerja di tempat yang bagus dan nggak halu atau nggak jelas kayak penulis."


Dada Lili langsung terasa terbakar; membara. Napas Lili memburu. "Kok Ibu lo sadis banget, sih? Gue yang denger dari lo aja merasa terhina, *****."


Gema mengangguk kecil. "Makanya, gue nggak begitu semangat lagi buat lanjut jadi penulis antologi puisi."


"Yah, sayang banget. Puisi-puisi lo bagus padahal," tukas Lili dengan wajah kecewa. Kemudian dia menatap Gema dengan sorot mata membara. "Gue harus semangat buat bikin cerita Bad Boy ini, nih. Gue pengen terbitin ini buku."


"Semangat, Li!" Gema mengangguk-angguk menyemangati.


"Sip! Udah gitu, gue bakal bawa buku cetak gue dan tunjukkin itu ke Ibu lo," cetus Lili serius.


"Iya, bagus--eh? Kok Ibu gue? Kan lo juga punya Ibu, Li."


"Mau gue bilangin kalau lo juga bisa bikin buku dan hasilkan uang dari itu," balas Lili. "Kayak gue."


Gema tersenyum penuh haru.


"Makanya, sekarang susun isi buat antologi puisi lo buat diterbitkan dari sekarang. Jangan langsung nyerah. Ayo, kita berjuang bersama-sama!"


Senyum Gema kian mengembangkan, penuh hasrat dan haru.


***

__ADS_1


__ADS_2