
Sari speechless.
"Lo kan mau jadi ikan gue?" tanya Luhan kemudian.
"Hah?" Kening Sari berkerut dalam.
"Oh. Ck. Sorry." Luhan tersadar bahwa dirinya ini salah bicara. Matanya mengerjap-ngerjap salah tingkah. Luhan tak tahu kenapa Sari melepas tasnya saat ia hendak menjelaskan, "Maksudnya, lo mau nggak jadi pacar gue? Gue bakal perhatian sama lo, gue bakal menyukai lo sepenuh hati, gue bakal—"
Byurr!
Ternyata Sari membuka tasnya untuk mengambil botol Tupperware di dalamnya, membuat tutupnya dan menuangkan isinya tepat di wajah Luhan.
Luhan merasa de ja vu saat memejamkan matanya dengan titik-titik air yang mulai merambat di wajahnya, kemudian pada kerah seragamnya. Luhan mengusap-usap wajahnya agar mendingan dan titik-titik air tak menghiasi wajahnya lagi.
"Untung gue masih punya air minum." Sari menutup kembali botol Tupperware miliknya itu dan memasukkannya kembali ke dalamnya tas seraya berkata penuh kekesalan tertahan pada Luhan. "Sepertinya lo masih belum sadar, ya. Ck. Ck. Ck."
Kemudian, Sari berlalu pergi begitu saja.
"Ck." Luhan jelas tak terima. Dia berlari untuk menyusul langkah Sari seperti sebelumnya. "Heh, Sari! Tunggu!"
Ketika Sari akhirnya berhenti di depan gerbang yang sebenarnya agak jauh dari tempat Luhan memarkirkan motornya, Luhan tetap bertanya, "Mau dianterin nggak?"
"Mbak Sari?" Tiba-tiba ada seorang ojol yang muncul dan berhenti di depan Sari sambil melihat layar ponselnya.
Sari segera mengangguk. "Iya." Dia memang memesan ojol sejak keluar dari kelas.
"Perumahan Mawar Melati Semuanya Indah-indah?" tanya Abang ojolnya itu, memastikan.
"Iya." Lagi, Sari mengangguk.
"Blok F, nomor 7?" tanya Abang ojolnya lagi, memastikan.
"Iya."
Abang ojolnya mengangguk, kemudian memasukkan ponselnya ke saku jaket official aplikasi pesan ojol yang dikenakannya untuk setelahnya memberi helm pada Sari untuk dipakai.
Tanpa basa-basi lagi, Sari naik ke jok belakang motor Abang ojolnya setelah memakai helm.
__ADS_1
Abang ojolnya mulai menderukan motornya. "Baiklah. Let's go."
Melihat Sari dan motor Abang ojol itu sudah pergi melaju, Luhan buru-buru berlari ke arah motornya terparkir. Luhan memakai helmnya dan menyalakan motornya. Kemudian, Luhan turut melaju dengan motornya.
Luhan mengikutinya. Luhan mengikuti Sari.
Tak lama kemudian, Luhan sampai di sebuah perumahan yang lumayan sepi. Namun, Luhan tak masuk ke dalamnya. Dia hanya melihat Sari dan motor yang ditumpanginya mulai menekan dan berakhir berhenti di depan sebuah rumah.
Ketika Sari turun, perempuan itu menoleh ke belakang dan mendapati Luhan di sana. Luhan tersenyum tipis saat keberadaannya disadari Sari.
Sari menatapnya yang ada di ujung jalan dengan mata tajam. Kemudian, perempuan itu masuk dengan langkah kesal dan penuh amarah tertahan.
Luhan hanya menyunggingkan senyumnya. Dia menikmati debarannya indah dalam dadanya setiap kali melihat Sari.
Bahkan dari jauh sekalipun.
Bahkan saat Sari juteknya minta ampun.
***
Suara panggilan penuh putus asa Luhan sama sekali tak mendapatkan respon dari Sari karena ketua kelasnya itu langsung berlalu pergi ke luar kelas untuk sebuah tujuan yang tak Luhan ketahui. Hari ini jam pelajaran kosong di dua jam pelajaran awal, jadi anak-anak di kelas pada gabut.
Jelas, termasuk Luhan beserta tiga temannya.
"Yah, dikacangin." Lethan meledek dengan wajah menyebalkan, pura-pura sedih. "Sakitnya ...."
"Bacot lo." Luhan memutar bola matanya dengan jengah.
"Jadi, mulai sekarang ikannya Sari?" tanya Lethan memastikan.
Luhan mengangkat kedua bahunya, tak begitu yakin. "Kayaknya gitu. Gue juga nggak nyangka bisa suka sama itu cewek. Ya gimana ya, hati itu ... siapa yang bisa tahu, Bro?"
"Najong." Lethan tertawa geli.
"Pasti susah ya? Sari tuh duduknya di belakang lo selama ini. Dia udah denger mantan-mantan lo. Pasti udah ilfeel duluan, dah." Lingga yang sedari tadi diam-diam mendengarkan percakapan Luhan dan Lethan menukas.
"Lo pada nggak tau aja gimana ekspresinya Sari tiap kali gue sama Luhan ngobrolin cewek." Lethan berkata dengan semangat. "Percaya atau nggak, dia selalu tendang kursi gue atau Luhan sebelum kabur keluar kelas sambil ngata-ngatain nama binatang."
__ADS_1
Langit angkat ketawa. "Ha ha ha ha ha ngakak deh."
"Ya .... Emang sih. Kayaknya bakal susah buat gue berjuang. Tapi, cowok mana yang milih nyerah gitu aja waktu suka sama cewek yang kerasnya kayak batu?" tanya Luhan dengan mata penuh tekad. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap teman-temannya dengan penuh arti. "Gue harus berjuang sekuat tenaga lah. Ditolak satu kali itu bukan apa-apa."
"Lah, lo udah dor Sari?" tanya Lingga kebingungan.
Luhan mengangguk santai. "Yoi. Kemarin."
"Buset." Lingga mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah super terkejut. "Nggak kayak biasanya, nih."
"Gue tes dulu aja." Luhan mulai menjelaskan dengan santai. "Gue kira Sari itu tipe-tipe cewek yang selama ini suka sama gue, tapi doi jutek-jutek pura-pura nggak suka gitu. Kayak ... benci tapi cinta, lah."
Kening Lethan mengerut dalam, menatap Luhan dengan tajam. "Lo pikir ini novel?"
"Lo pikir ini drakor?" tanya Langit dengan geli.
"Lo pikir ini film genre romantis?" tambah Lingga dengan raut wajah dan nada serupa.
"Ya kan gue ngira aja. Emang agak nggak masuk akal, tapi gue pengen pastiin aja." Luhan membalas agak dongkol sebab teman-temannya ini suka cepat judging sesuatu tanpa mendengarkan lebih lanjut. "Dan ternyata ... itu cewek emang kagak demen sama gue, keliatan banget dari mata itemnya itu. Malah gue yang suka sekarang, ****. Hadeuuh."
Lingga tersenyum miring, tampak menikmati penderitaan Luhan kali ini. "Karma ya, Bro?"
"Dibanding karma, lebih tepat dibilang senjata makan tuan, dah." Lethan menukas cepat.
Luhan hanya diam, tak bisa membalas karena memang benar apa-apa yang dikatakan teman-temannya itu.
"Syukur deh, kayaknya aksi mancing lo kali ini lebih seru dari biasanya." Langit berkata begitu dengan wajah menantikan.
"Kita nonton aja, deh." Lingga mengangguk-angguk.
"Sedia popcorn, Lang." Lethan membalas secara otomatis.
"Siap, Bandar." Langit mengacungkan jempolnya dengan senyuman lebar.
Luhan membuang napasnya dengan tak suka. "Dasar temen luck nut."
***
__ADS_1