Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 48


__ADS_3

Mata Theo refleks memejam saat terkena lemparan itu.


"SELAMAT ULANG TAHUN, LILIIIIIIIIIIII!"


"Pruttttt!"


"Wihhi--eh? Kok cowok? Siapa nih?" Suara perempuan dengan rambut panjang yang tak Theo kenal terdengar. Membuat Theo membuka matanya kembali dan wajahnya mematung. Saat itu, Lili langsung hadir, menyerobot lewat tubuh Theo untuk melihat seluruh keluarga beserta keluarga teman-teman orang tuanya tersenyum padanya.


Ily membawa sebuah kue putih dengan angka satu dan tujuh sebagai lilinnya. Yohan memegang sebuah topi kerucut dan yang lainnya membawa balon-balon.


Lili tersenyum penuh haru, matanya berkaca-kaca. Bahkan ia lupa bahwa hari ini hari ulang tahunnya. Lili menutup mulutnya dengan tangan.


"Ihhhhhhhhhhhhhh," suara Lili panjang. "Kok pada inget? Aku aja lupaaaaaa?"


"Masa sama ultah sendiri lupa?" Seorang perempuan yang tingginya sebahu Lili langsung berjalan ke depan, memakaikan sebuah kalung bunga dari sedotan bekas. "Selamat ulang tahun, Kak Lili!"


"Makasih, Yalya," balas Lili senang. Menyambut anak dari Ayla dan Eza dengan senyuman lebar. Anak itu baru masuk SMP dan masih imut seperti tahun kemarin.


Kening Yalya mengerut saat dia menoleh pada Theo yang masih mematung. "Btw, dia siapa, Kak?"


"Temen," balas Lili singkat, kemudian menarik tangan Theo. "Ayo, gabung aja, Yo!"


"Eh?"


Tahu-tahu Theo ditarik ke ruang tengah dan turut berdiri di antara keluarga-keluarga yang hadir, sementara itu Lili langsung ditarik untuk diapit oleh Ily dan Yohan.


"Gantengnya," kata Yalya pelan saat mengangumi wajah Theo. Sengaja, Yalya mendekatkan diri di samping Theo.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, sayang," kata Yohan seraya memakaikan topi kerucut pada kepala Lili. Semua orang memakainya juga, ya, kecuali Theo yang tampak asing dengan semuanya.


Jelas Theo tiba-tiba dibawa ke sini.


"Kakak!" seru Titi tiba-tiba memeluk kaki Theo.


Theo langsung berjongkok. Tersenyum dan membelai lembut rambut adik perempuannya. Dengan adanya Titi, Theo tidak begitu merasa kesepian di keluarga yang nampaknya amat hangat ini.


"Makasih, ayah," balas Lili senang. Mencium pipi Yohan tanpa aba-aba.


Yohan tersenyum lebar. "Udah gede anak Ayah."


"Senangnya punya anak yang cium pipi tanpa harus diminta," kata Eza dengan nada penuh arti, jelas-jelas meledek Yalya yang selalu kabur dan malu-malu kalau soal cium mencium.


Yalya kontan menunduk malu ditempatnya.


Ily tersenyum geli. Kedatangan Eza, Ayla, Yalya, Raihan, Shasi, Rasha--anak Raihan dan Shasi, Theo dan Titi, jelas menambah seru suasana perayaan bertambahnya umur Lili.


Biasanya ulang tahun Lili didatangi teman-teman tetangga satu komplek, namun semakin hari, mereka tampaknya semakin jauh sehingga Yohan dan Ily memutuskan untuk melakukan perbedaan pada perayaan ulang tahun kali ini.


Hanya keluarga dan teman-teman dekat saja yang hadir.


Dari awal hari ini, mereka sudah antusias. Mencetuskan berbagai ide untuk kejutan dan kado. Sejak lagi, Ily sibuk membuat kue, Yohan sibuk memberi arahan pada bawahannya karena dia ada urusan sehingga tak ada di lapangan, Eza dan Ayla dipercaya untuk mendekorasi ruangan tengah ini hingga bernuansa hitam putih yang etis dan Instagramable, sementara Yalya dan Tasha bertugas untuk membungkus hadiah seapik mungkin. Ah ya, Luhan dan Titi ditugaskan untuk meniup balon-balon yang didominasi hitam dan putih.


Karena temanya kali ini adalah monokrom.


Untuk mengingat masa putih abu-abu (anggap saja hitam bisa mewakili) yang penuh kenangan.

__ADS_1


Sayangnya, anak itu tampaknya tak ingat sama sekali tentang ulang tahunnya sampai kejutan ini ia hadapi.


"Kamu kenapa sampai nggak ingat ukuran sendiri, sih?" tanya Ily heran. Lili hanya tertawa tanpa dosa. "Tapi, pokoknya selamat ulang tahun yang ke tujuh belas! Semoga ...."


Perkataan Ily menjadi aba-aba untuk Lili menyatukan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya dengan hati yang mulai memanjatkan doa. Semua orang hanya melihatnya, sampai kemudian Lili meniup lilin yang menyala di hadapannya dengan senyum senang.


"Ye! Waktunya makan-makan!" seru Yalya riang.


Sontak membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


"Nanti dulu, ya, potong kue dulu," kata Yohan dengan senyum maklum.


Yalya tertawa tanpa dosa.


"Heh, jangan malu-malu." Eza melotot pada anaknya yang pecicilan itu.


Ily segera memotong kue itu, ditempatkan di atas piring kecil untuk setelahnya diserahkan pada Lili. "Suapan pertama untuk seseorang yang paling Lili sayang. Siapapun boleh, asal benar-benar dari hati."


Lili mengambil alih piring berisi potongan kue itu dari tangan Ily. Semua orang kontan menunggunya, penasaran siapa yang akan dipilih oleh Lili yang pastinya berputar di antara Ily dan Yohan.


Dua orang yang menjadi kandidat paling kuat selalu menjadi yang paling mendebarkan hatinya setiap kali Lili berulang tahun. Lili adalah anak baik yang adil. Dia memberi Yohan pada ulang tahunnya yang pertama dan memberi pada Ily di ulang tahunnya yang kedua. Begitu seterusnya, sampai kini, seharusnya giliran Yohan kembali jika Lili mengulang kebiasaannya di masa lalu.


Namun, Lili tampaknya akan memilih jalan yang berbeda. Dilihat dari bagaimana matanya melihat seluruh orang yang ada, dengan penuh arti dan menimbulkan banyak kecurigaan.


"Lili bakal kasih ini ke ...." Lili sengaja menggantungkan ucapannya, hingga akhirnya dia mengangkat sendok yang membawa kue di tangannya ke dalam mulutnya sendiri. Lili mengunyahnya dengan senyuman lebar. "Aku! Ye!"


Semua orang kicep. Tak menyangka bahwa itu akan terjadi. Bahkan bagi Theo dan Titi.

__ADS_1


***


__ADS_2