
Lili sebenarnya bukan tipikal anak yang malu-malu.
Lili bisa menyapa siapa saja, berkenalan dengan siapa aja dan mengobrol dengan siapa saja dengan bahasan apapun.
Namun, ada satu orang yang membuat Ily malu untuk melakukan hal di atas.
Siapa lagi? Jelas itu Kak Jae.
Lili tak pernah berani menyapa Kakak Kelasnya yang satu itu, dia selalu gugup duluan dan mana bisa dia bersuara saat ada di dekatnya sana Lili hampir tidak bisa bernapas?
Itu yang terjadi saat Lili melewati gerbang sekolahnya, di mana ada Kak Jae yang turut menjaga gerbang untuk mengawasi atribut anak-anak SMA Aksara Nusa.
"Kak, tolong dasinya dipake, ya!" tegur Jae waktu Lili melewatinya. Wajah seriusnya itu membuatnya tegas, namun juga membuat hatinya berdebar. Lili bisa sepanjang hari melihat wajah Kak Jae untuk memastikan jantungnya berolahraga dengan benar.
Jae menegur Theo yang rupanya berjalan di depan Lili. Waktu yang tepat karena Lili punya urusan dengan Theo. Meninggalkan Jae yang sangat sulit untuk diraih Lili, Lili berjalan cepat mengikuti langkah Theo.
"Yo, Theo." Lili menyapa ala-ala Bas Boy dan kawanannya seperti yang dia baca di cerita Wetfed.
Theo melirik Lili tanpa minat, kemudian fokus berjalan lurus menuju kelas.
Lili menipiskan bibirnya, berusaha bersabar. "Tumben nggak kesiangan?"
Tet Tet Tet Tet
Suara bel masuk sekolah berbunyi tepat ketika Lili berkata seperti itu. Setelahnya, Lili tertawa hambar. "Hampir telat, ya, Te."
Theo mendengus kecil. Tampak sangat tak tertarik untuk berbicara dengan Lili.
Lili pun akhirnya menyerah. Dia diam saja selama perjalanan ke kelasnya dan duduk di kursinya dengan damai saat Theo melempar tasnya untuk setelahnya keluar kelas lagi.
"Lah, Li? Lo barengan sama Theo? Lo udah dapet informasi apa aja? Rahasia hidupnya itu apa? Dedek Titi yang kemarin disebut-sebut itu siapa? Lo udah banyak info? Bagi-bagi dong, gue penasaran!"
Gema yang mendapati Lili masuk bersamaan dengan Theo langsung menyerang Lili dengan beragam pertanyaan. Membuat Lili pusing sendiri dan berdecak kesal.
"Cuma kebetulan bareng masuk gerbang, Gem." Lili menjawab malas. "Gue belum punya informasi apapun soal dia karena gue ngintilin dia aja belum. Hari ini mungkin bakal."
"Oh gitu," tukas Gema paham. "Semangat deh!"
"Heh, lo juga ikut dong!" seru Lili menuntut.
__ADS_1
Gema langsung tertawa tanpa dosa. "Gue ada latihan buat lomba essai minggu depan. Kata Bu Alda, gue dispen hari ini seharian penuh."
"Kok bisa?! Lo nggak ngasih tau?!" Lili bertanya lantang karena terkejut. Hingga beberapa anak di kelas merasa terganggu.
"Kecilin dikit napa itu suara, hadeh."
"Masih pagi, *****."
"Berasa dunia milik sendiri aja!"
Lili meringis, menyatukan kedua tangannya dengan senyum menyesal. "Maaf, semuanya. Maafkan hamba, khilaf, nih. Hehehe."
"Makanya kalau kaget direvisi dulu biar nggak ganggu orang," cemooh Gema.
"Heh, dikira naskah apa direvisi dulu!" gerutu Lili gemas. "Lo kapan ikutan lomba gituan? Kok nggak ngasih tau? Gue juga pengen ikutan lomba tentang nulis-nulis gitu."
Gema berdecak. "Gue juga baru dikasih tau semalem dan orang-orang buat lomba udah pas. Kalaupun lo mau ikutan, harus menghadap Bu Ghina."
"Yah, jahat banget. Nggak ajak-ajak gue Bu Ghina." Lili cemberut, namun selanjutnya tersenyum pada Gema. "Yaudah, kalau Bu Ghina pilih lo sama yang lain, pasti itu yang terbaik. Lagian juga gue mau fokus bikin cerita Bad Boy."
Gema tersenyum lebar, menepuk-nepuk kepala Lili dengan bangga. "Nah, gitu baru Lili."
Guru pelajaran pun masuk, mulai mengajar dan Theo sudah kembali lagi ke kursinya saat itu tiba. Gema yang dispen hilang dari kursi sebelah Lili, menyisakan keheningan yang membosankan bagi Lili saat mengikuti pembelajaran.
Seperti biasa, tak ada yang aneh dari Theo, laki-laki itu selalu menjatuhkan kepalanya ke atas lipatan tangan di atas meja. Entah tidur atau tidak, namun Theo tak bergerak barang sedikit pun sampai istirahat tiba.
Ketika guru telah pamit dan keluar kelas, anak-anak mulai membubarkan diri, turut keluar kelas. Melihat pergerakan Theo, Lili pun mengikutinya setelah jeda lumayan lama.
Dengan gerakan yang tidak terdeteksi karena tersamarkan ramainya anak-anak di koridor, Lili mengikuti langkah Theo. Laki-laki itu tak berbelok ke kantin, justru ke toilet laki-laki dan membuat Lili melotot panik.
"****** Lili, ayo sembunyi biar nggak ketahuan," gumam Lili dengan debaran kencang di jantung yang mulai menyerang. Ketika menguntit Jae, Lili tak pernah sepanik ini. "Theo pake pelet apaan ya? Kok bikin serem gini?"
Di depan toilet laki-laki itu, Lili berdiri di depan tempat sampah seraya memainkan ponselnya. Melakukan penyamaran. Lili berharap Theo segera keluar.
Ketika Lili memutuskan untuk membuka Wetfed, Theo keluar dari toilet laki-laki. Menunggu sesaat, Lili memasukkan ponselnya ke saku rok dan berjalan lagi mengikuti Theo dalam jarak aman.
Lili merasa benar-benar tegang.
"Aduh," umpat Lili super panik dan segera menunduk sambil membelit-belitkan jari-jari tangannya saat Theo tiba-tiba berbalik, menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Lili tak tahu apa yang harus dilakukan saat dia melihat sepatu Theo berbalik sepenuhnya ke arahnya, namun dia tak melangkah. Kemudian ada suara langkah di belakangnya dan wangi maskulin langsung tercium ke dalam indra penciumannya.
Lucas dan Ten baru saja lewat di sisi sampingnya.
"Ayo!" suara ajakan Lucas terdengar, lalu sepatu Theo kembali berbalik dan berjalan menuju kantin.
Lili menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya pelan. "Selamat, deh. Lega banget."
Lili kira Theo sadar dibuntuti oleh Lili. Namun rupanya ada Lucas dan Ten yang memanggil Theo untuk berjalan bersama-sama.
Kehadiran tiga diva itu membuat koridor ramai dengan sapaan-sapaan hangat dari para perempuan. Lili tersenyum meledek, padahal Jae itu lebih-lebih tampan dan mempesona dibanding tiga anak bandel yang kini berjalan di depannya.
Lili berdecak, menarik napas berat dan menipiskan bibirnya.
Saat tiba di kantin, karena penuh, sementara Theo, Ten dan Lucas langsung dapat tempat duduk berkat ada sekelompok perempuan yang mengalah, Lili harus terima dirinya berdiri saja di dekat tukang batagor. Posisinya kini dekat sekali dengan meja Theo, namun Lili berkamuflase dengan ponsel dan minuman kantong yang barusan dia beli.
Berkat ramai badan dan riuh suara, Lili aman dari deteksi Theo.
Menguping seperti tadi, Lili tak mendapatkan banyak informasi selain Ten yang dapat pujian, Lucas yang ketahuan menyontek dan Theo yang akan balapan liar malam ini. Sungguh sebuah penyia-nyiaan waktu.
Harusnya Lili menulis di kelas saja saat ini.
Lili tak menyadari, bahwa sejak di kantin, Theo menatap curiga pada kehadirannya.
"Yaudah, gue cabut, ya," pamit Theo akhirnya.
Lucas dan The hanya mengangguk. Memakan mereka belum habis, sementara Theo sudah selesai mengisi perutnya.
Mendengar suara Theo yang menandakan akan pergi, Lili turut bersiap-siap untuk mengikutinya lagi. Selang tiga langkah, Lili langsung mengikuti langkahnya. Namun pelan-pelan, karenanya jarak mereka kian signifikan saat Theo berbelok menuju perpustakaan.
Kening Lili mengerut. "Keajaiban dunia. Kenapa tiba-tiba Bad Boy masuk perpus?"
Pertanyaan itu tak akan pernah terjawab jika Lili tak turut masuk. Tanpa berpikir panjang, dia masuk ke perpustakaan dan terkejut saat Theo benar-benar menyambutnya dekat pintu.
"Ya ampun, kaget banget gue!" Lili menenangkan diri dengan menarik napas beberapa kali. ******, Lili sepertinya ketahuan. "Theo, kualat lo diem di deket pintu nanti jodohnya muncul tiba-tiba."
Tentu, Lili punya jurus jitu untuk tampak tak bersalah.
Theo melengos. Kemudian meninggalkan Lili begitu saja.
__ADS_1
"Sial," umpat Lili kesal. "Kalau gue ngikutin lagi, ketahuan banget. Itu cowok apa udah sadar kalau gue ngintilin dia?"
***