Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 50


__ADS_3

Hari pengejaran telah tiba. Tepat hari ini.


Sesuai perjanjian yang diberikan Kim Sungjun pada Kim Yongjun.


Tim Bang Jefri yang mendapat tugas utama untuk mengejar Yohan, anak dari Kim Yongjun. Sementara ada satu tim lain yang memiliki misi mengejar Kim Yongjun sendiri. Ayah Juna dan Juna termasuk dalam tim tersebut.


Dengan beranggotakan enam orang, Tim Bang Jefri berhasil menerobos kediaman Yohan dengan paksa. Berkat adanya orang dalam di apartemen yang dihuninya, meski menyebabkan kerusakan dan keributan, Tim Bang Jefri tak mengundang satu pun polisi.


Hingga Yohan balas menyerang, tak terima waktu santainya diganggu oleh preman bayaran yang ganas dan haus darah. 


Yang membuat Bang Jefri tak habis pikir adalah karena anak itu punya senapan yang telah keluar dua pelurunya di tangannya. Dua orang dari Tim Bang Jefri menjadi korbannya, kini sudah luka-luka dengan simbahan darah yang banyak, beruntung Yohan hanya menghunus ke arah kakinya hingga tak dapat memungkinkan korban jiwa.


Tetap saja, hal tersebut tidak disangka-sangka.


Sebab kemarin, Yohan tampak tak berdaya saat dipukul atau diancam. Malam kemarin Tim Bang Jefri berhasil menangkap Yohan, namun sayang, Elvan melepaskannya karena alasan pribadi.


Bang Jefri sempat marah, sempat hilang kendali dan hendak memukul Elvan, sampai kemudian Elvan menjelaskan alasannya berbuat seperti itu dengan air mata bercucuran dan tangis yang ditahan kuat-kuat.


Elvan bilang, Yohan sudah meminta maaf atas kelakuan ayahnya pada Elvan, sehingga Elvan tak punya kewajiban lagi untuk membencinya. Yohan tak bisa memilih karena siapa dia dilahirkan, tak pernah bisa memilih untuk tak dilahirkan oleh orang jahat, karenanya, Elvan merasa Yohan tak bersalah.


Elvan tak mau berbuat salah lagi. Setelah ayahnya, dia tak mau Yohan jadi korban hanya untuk mendapatkan kesedihan atau makian atas takdir yang dia punya.


Memang, Elvan pun paham dia tak bisa mengesampingkan misi hanya karena alasan dan perasaan pribadi, namun ia akan tetap melaksanakan misinya.


Hanya dengan keringanan dan waktu yang berbeda.


Jika harus, jika memang terpaksa, Elvan akan melakukannya esok hari. Bukan malam saat Yohan disergap dan dikurung dengan tangan serta kaki terikat di sebuah bangku kecil yang menyiksa hingga tumbuhkan luka.


Yohan juga akan berjanji untuk tak saling melukai jika nanti Elvan dia hadapi. Jika terpaksa, jika tak ada jalan lain, mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dan karenanya, Elvan dan Yohan akan saling memahami jika itu terjadi.


Ketika saatnya tiba, hari ini, Elvan tak pernah menyangka Yohan punya pistol di tangannya. Yang berani-beraninya ia tarik pelatuknya untuk lukai orang. Elvan paham, Elvan mengert, bahwa itu semua adalah bentuk pembelaan diri.


Sayangnya, Elvan menganggap bahwa hal itu terlalu berlebihan. Sangat berlebihan.


Lagipula, Elvan dan timnya sama sekali tak memakai senjata. Hanya tangan kosong dan mental baja. Elvan benar-benar tak bisa terima langkah yang diambil Yohan akan seekstrim ini.


Elvan tak mau menghakimi sekarang. Oleh karena itu, nanti setelah semuanya selesai, ia akan minta penjelasan. Yang entah akan berujung pada permusuhan atau pemakluman.


Setelah melukai dua rekan timnya yang kini ambruk, perhatian Elvan serta Bang Jefri dan yang lainnya teralih sebab terlalu terkejut, Yohan mengambil langkah untuk kabur. Larinya cepat, bertenaga dan seolah miliki arah tujuan.


Dengan gesit, Elvan serta Bang Jefri mengejarnya. Mereka kehilangan jejak ketika tiba di pelataran apartemen, kemudian memutuskan untuk berpencar.


Elvan pilih kanan, Bang Jefri kiri, sementara dua orang lainnya ke arah jalan raya dan bagian belakang apartemen. Mereka berlari sekuat tenaga, seolah nyawa mereka jadi taruhannya jika membiarkan Yohan lolos.


Sedikit, Bang Jefri melihat ada tubuh yang bergerak dalam kegelapan di bangunan depannya depannya saat telah berlari menempuh jarak tertentu. Bang Jefri masuk ke parkiran bawah tanah dengan napas terengah-engah.


Bersamaan dengan itu, ada suara tembakan pistol yang semakin membuat Bang Jefri panik. Ada rasa takut, namun Bang Jefri tetap melaju.


Karena luas dan atapnya pendek, parkiran bawah tanah menjadi tempat di mana asal suara tak bisa dideteksi dengan jelas. Suaranya cepat menyeluruh hingga membuat kebingungan.


Karenanya, Bang Jefri pelan-pelan saat mengambil langkah.


"Woi, di mana lo?"


Suara Bang Jefri menggema di tempat parkir bawah tanah itu. Di setiap sela mobil, ia lihat teliti, mencari-cari orang yang tadi berlari lalu sembunyi di sjnj. Bang Jefri berdecak kesal saat hampir sampai ke ujung tempat parkir, ia tak kunjung menemukan sosok Yohan.


Srek!


Suara robekan baju itu membuat Bang Jefri menoleh ke asal suara dengan pandangan awas. Kakinya bergerak lebih cepat dari akalnya, kemudian menemukan Elvan yang tengah bersandar di salah satu pilar dengan napas terengah-engah. Perutnya terluka, memancarkan cairan merah segar yang banyak dan telah disumpal oleh kain yang baru saja dia robek.


Bang Jefri mengernyit seraya bergegas membantu Elvan menghentikan pendarahan di perutnya dengan merobek lengan baju panjang yang dia pakai. Elvan meringis saat Bang Jefri mengikat pinggangnya untuk menahan darah keluar dari perutnya.


Meski dalam hatinya, Bang Jefri amat khawatir pada Elvan yang kini memiliki luka tembak di perutnya, dia berusaha tenang untuk melanjutkan misinya.


Lagi pula, kehilangan teman saat menjalankan misi, bukan hal yang jarang terjadi dan Bang Jefri lalui.


"Lo kenapa ada di sini?" Justru, tanya itu yang pertama kali keluar dari mulutnya.


Tidak ada kata yang bisa Elvan keluarkan. Tenggorokannya terlalu kering dan jika ia bergerak sedikit saja, perutnya terasa perih sekali. Namun, sekuat tenaga, Elvan menunjuk arah kanannya, untuk memberi Bang Jefri petunjuk ke mana Yohan berlari.


Bang Jefri mengangguk, kemudian menepuk pundak Elvan supaya kuat setelah sebelumnya menelepon tim medis sewaan ayah Juna yang telah berjaga. Bang Jefri melangkah gesit, berlari menuju arah kanan dan mendapati bayangan Yohan yang telah berlari berbelok keluar parkiran.


Anak itu cepat sekali gerakannya. Bang Jefri tak menyangka dirinya dapat kelelahan hanya untuk mengejar satu nyawa. Yohan seperti bukan manusia, sebab langkahnya seolah tak bersuara.

__ADS_1


Sedikit, Bang Jefri tahu hubungan Elvan dan Yohan yang sampai membuat Elvan memutuskan untuk membiarkannya Yohan kabur malam kemarin. Bang Jefri jelas bisa menerima mengapa Elvan bisa bertindak seperti itu, Bang Jefri memahami dan memaklumi.


Namun, ia tak akan segan pada apa-apa yang menandai musuh ayah Juna. Bang Jefri telah berjanji untuk mengabdi, telah berjanji untuk setia dan berjanji untuk tak mengingkari janjinya tersebut.


Apalagi setelah mengetahui bahwa Yohan sama kejamnya dengan Kim Yongjun, sampai bisa-bisanya menggunakan alat panas untuk melukai. Bahkan sampai tak tega melukai Elvan, yang Bang Jefri tahu adalah sahabatnya sendiri.


Maka dari itu, ia akan memastikan nyawa Yohan ada di tangannya.


Agak sulit, apalagi ketika dia kehilangan jejaknya di sebuah perumahan yang tak dia kenal. Karena di sana, Yohan berlari dan bersembunyi.


Bang Jefri berdecak keras, mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menyalurkan rasa frustasinya. Jika harus mencari di sana, akan membuang waktu karena perumahan bukan tempat sesimpel lapangan parkir.


Banyak rumah, tentu saja, yang menjadikan lekuk-lekuknya tempat persembunyian yang lumayan aman dan terjaga. Belum lagi ada satpam yang pasti tak membiarkan ada kerusuhan atau pengejaran yang dapat bahayakan dan mengganggu nyawa penghuni rumah-rumah yang ada.


Atas kemungkinan itu, Bang Jefri berbalik. Ia memilih untuk menyerah, kembali, untuk melihat keadaan Elvan.


Sebab anak itu adalah yang anggota paling muda di timnya, masih banyak impian dan harap yang tak boleh hilang dari diri Elvan. Bang Jefri telah berjanji pada dirinya untuk menjaga seluruh anggota timnya.


Menjaga masa depan mereka. Menjaga hidup mereka. Mungkin juga ... menjaga keluarga mereka.


***


Pulang dari rumah Ily, Raihan tak mau berkata-kata banyak. Ayah, ibu dan Joehee mengerti akan Raihan. Mereka membiarkan saja Raihan yang bilang akan di kamar dan keluar setelah merasa baikan.


Di kamarnya, Raihan menatap dengan sedih fotonya dengan Ily dulu, saat dia berada di penghujung tahun ajaran Sekolah Dasar. Mengingat bagaimana karena dia dan Ily ditunjuk untuk jadi perwakilan untuk sungkem pada ibu bapak guru, menjadi langkah awal kedekatan dirinya dan Ily.


"Kak!" Seruan Joehee membuat Raihan tersentak, kemudian berbalik dan mendapati Joehee tersenyum sedikit padanya. Seseorang yang baru dia tahu adalah adiknya sendiri dalam satu minggu itu nyelenong masuk ke kamarnya begitu saja. Wajar, sih, Joehee anaknya gampang bergaul dan lagi, Raihan dan Joehee sudah saling mengenal lima tahun yang lalu karena Joehee sudah lebih dulu tertarik pada Raihan.


Pertama karena ketampanannya, kedua karena kharismanya dan entah mengapa Joehee rasa, dulu saat pertama kali melihat Raihan, ada tali transparan yang dapat menghubungkan keduanya.


Hingga kini terbukti bahwa mereka adalah adik-kakak.


Rasanya sudah familiar untuk hidup satu rumah.


"Jangan sedih," kata Joehee sambil menepuk pelan pundak Raihan.


Raihan tertawa sarkas. "Siapa yang sedih?"


Jari telunjuk Joehee menunjuk dada Raihan langsung. "Ini. Hati kakak."


Raihan berdecak seraya memutar bola matanya, dengan wajah tak suka, ia menjauhi tangan Joehee darinya. "Sok tau kamu."


"Bukan masalah ditolak aja, Joehee," balas Raihan dengan senyum pahit. "Kakak udah terlalu suka Ily. Makanya, saat dikasih tau bahwa Ily nggak ada kemungkinan untuk balas, rasanya sakit banget."


"Serius? Kakak sesuka itu ke Kak Ily?"


"Banget, Joehee."


"Kok bisa begitu?"


"Mau kakak ceritain?" Raihan menawarkan diri untuk mengobrol lebih panjang dengan Joehee.


"Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan," balas Joehee ringan, segera menarik tangan Raihan untuk duduk di kasur tidur kamar kakaknya itu. "Kalau bisa, ceritain aja semuanya. Waktu Kakak SD, SMP, SMA, pokoknya semuanya aja, deh. Aku penasaran."


"Nanti gantian," tambah Joehee semangat.


Raihan tersenyum segaris. "Oke."


Dan meluncurlah sederet cerita dari mulut Raihan.


Hari di mana menjadi awal bagi Raihan dan Ily berkenalan, kemudian bersahabat dekat hingga akhirnya terpisah kembali karena berbeda pilihan masuk sekolah jenjang berikutnya. Ily pernah bilang dia menyukai Raihan, namun itu dulu.


Sebenarnya Raihan sudah menyukai Ily sejak dulu, namun terlalu gengsi dan malu untuk menyatakannya atau membalasnya. Sebelum dia sempat balas pernyataan perasaan Ily, ponsel yang memuat akun LINE-nya rusak karena terjatuh ke dalam kolam renang saat Raihan memainkannya di dekat tempat kubangan air berkaporit itu.


Raihan panik, namun tak bisa berbuat apa-apa karena ponselnya mati hingga terpaksa dibuang dan membeli lagi yang baru. 


Semenjak itu, Raihan tak pernah berharap lagi bisa bertemu Ily atau bersinggungan. Dunia Raihan seperti jungkir balik. Atas keputusannya, Raihan memilih jalan yang salah.


"Emang nggak ada cewek yang lain di sekolah kakak?" Joehee bertanya, menginterupsi cerita Raihan.


Raihan berdecak. "Banyak. Tapi nggak ada yang kayak Ily."


"Emangnya apa yang membedakan Ily sama yang lainnya?"


"Ily itu straight forward. Beda dari cewek lain yang munafik."

__ADS_1


Joehee tertawa hambar. "Oke." Kata-kata yang dipilih Raihan memang ekstrim, tapi Joehee bisa menerimanya karena dia kakaknya dan paling penting, sekarang dia lagi sedih.


Sudah pasti, jangan diajak berdebat. Yang perlu dilakukan hanya mendengarkan dan mengiyakan segala apa yang diucapkannya.


Kemudian, berlanjutlah kisah seorang Raihan.


Raihan lenih memilih untuk nongkrong di kantin waktu pelajaran yang gurunya menyebalkan, daripada tahan dalam kelas untuk belajar. Raihan lebih memilih untuk kabur dari kegiatan eskul dengan memanjat pagar belakang sekolah daripada harus panas-panas atau berkumpul dalam satu ruangan panas dengan banyak suara yang dapat memekakkan telinga.


Pada akhirnya, Raihan memilih membuat ibunya menangis daripada ciptakan senyuman di wajahnya.


Raihan tumbuh tanpa ayah dan saudara sejak SD, rasanya sangat sepi dan menyesakkan. Raihan selalu iri pada anak-anak dengan keluarga lengkap. Raihan selalu menginginkan hal yang lebih daripada apa yang dia miliki saat ini.


Entah sayangnya, atau beruntungnya, Raihan bertemu Randi dan kawanannya. Yang kebetulan sama-sama tak miliki keluarga. Bahkan, sejak kecil, Randi tak pernah tahu siapa kedua orang tuanya. Kata penjaga asuhan tempat dia tinggal, sejak bayi Randi sudah ditinggalkan.


Tak diinginkan.


Raihan dapat bersyukur dengan keadaannya setelah melihat Randi. Namun, Randi menariknya melebihi apa yang seharusnya dan Raihan juga menyanggupi serta mengikuti melebihi apa yang seharusnya.


Raihan jadi anak nakal, hanya untuk melupakan Ily serta kenangan indah lainnya. Sebab bermain dengan Randi, nyatanya jauh lebih menyenangkan.


Rokok, miras dan tawuran sudah pernah Raihan coba. Sampai mempunyai hutang yang melebihi seharusnya ketika keluar SMP. Raihan tak lagi berprestasi di sekolah, tak lagi jadi perwakilan untuk sungkem kepada ibu bapak guru.


Hidupnya berubah drastis. Ibunya sempat putus asa, karena amat sedih dan kecewa. Bagaimana sulitnya ibu berusaha, bagaimana susahnya ibu mengais rupiah sendiri, dan bagaimana membesar seorang anak sendirian.


Raihan tak tega melihat ibu. Pahit rasanya.


Kemudian, pada akhirnya, Raihan sadar bahwa apa yang dilakukannya ini salah. Seseorang pernah berkata; jangan sesekali membuat air mata orang tua lo jatuh, kecuali karena haru. Itu adalah siksa paling berat, bukti betapa brengseknya lo, bukti betapa bejatnya kehidupan lo dan bukti betapa tak bergunanya peran lo di dunia ini.


Seseorang yang merubah hidupnya. Siapa lagi jika bukan Shasi Afwanazwa yang kini telah berstatus manta pacar bagi Raihan.


Ketika itu terjadi, perlahan, Raihan berubah.


Meski sesekali berurusan dengan Randi dan Raihan tergoda lagi, pada akhirnya Raihan kembali memiliki ciptakan senyuman di wajah ibunya, bukan air mata dan kesedihan lagi.


Hingga akhirnya dia bertemu lagi dengan Ily. Merupakan sebuah keajaiban dan kebahagiaan hakiki bagi Raihan saat itu, namun sayang sekali. Ily tak miliki ketetapan perasaan seperti yang Raihan miliki, terbukti hari ini.


"Ily nggak ada perasaan lain pada Raihan. Ily menganggap Raihan sebagai salah satu teman paling berarti dalam hidup Ily. Selebihnya, Ily nggak ada keinginan untuk hidup bersama Raihan."


"Maaf sekali lagi. Maaf."


Ily menolak ajakannya. Menolak lamarannya. Menolak apa yang menjadi keinginan Raihan sejak dulu sampai sekarang.


Nyatanya, waktu lima tahun itu tak membuahkan hasil. Tak membuat perasaan Ily berubah kembali padanya.


"Jadi, kakak belum ada cewek lain lagi selain Ily yang disuka?" Joehee menyimpulkan dalam bentuk pertanyaan.


"Ada," balas Raihan. "Cuma kita terpaksa terpisahkan."


"Woah, siapa?" Mata Joehee langsung berbinar. Benar-benar tipe anak yang semangat seperti saat, Raihan tak pernah membayangkan kalau Joehee akan atau bisa menangis. "Kenapa bisa sampai terpaksa terpisahkan?"


"Kim Jennie." Raihan tersenyum segaris, menatap Joehee dengan pandangan serius. "Karena kita beda negara dan keyakinan."


Joehee refleks menampol kepala Raihan, takut ada sesuatu yang salah di dalamnya.


"Aduh, sakit, Joehee!"


***


**hai, hai, apa kabar? semoga kalian dijauhkan dari penyakit apapun itu, ya. jaga kesehatan juga^^ diem di rumah aja, belajar, daripada keluyuran nggak berfaedah


so? gimana, nih? langsung ending aja? /hahaha canda


50 komen baru aku lanjut hehe, bisa, ya?


semoga bisa, eh, pasti bisa, kalian kan hebat-hebat^^


mau nanya nih, kalian tim mana?


#timyohan


#timraihan


semoga apapun tim kalian, endingnya pas di hati, muehehehe


btw, ini 2311 kata, lho. kalian gumoh nggak bacanya? bosen nggak kalau panjang gini?

__ADS_1


oh ya, dari 1-10, angka mana yang akan pilih untuk menilai cerita ini? hehe terimakasih


see you**~~


__ADS_2