
Di sebuah meja makan mewah dengan makanan yang tak kalah berkelasnya, dua orang saling berhadapan. Yang satu sedang makan dengan elegan dan yang lainnya makan tanpa gairah. Hanya suara gesekan pisau yang merobek daging steak dan kunyahan kecil yang terdengar. Pada malam dingin, sepi dan sunyi.
"Sekolahnya seru?" tanya sang Ibu, memecah keheningan.
Anaknya segera mendongak, menelan makanannya dan mengangguk kecil. "Seru."
"Kamu pasti mengerti, ya. Apa yang harus dilakukan dan tidak." Ibu mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya. "Ibu akan percaya padamu. Juga pada anak itu."
"Siapa?" tanya Yohan bingung. Setahunya ia tak punya saudara atau kerabat di sini.
Ibu mengulas kecil senyumnya di wajah yang telah menua namun masih jelita itu. "Ilyssa. Berteman saja dengannya. Ibu yakin Ily anaknya baik. Atau kalau bisa, kalian menikah saja. Ibu akan restui."
Yohan tersedak ludah secara tiba-tiba. Ia akan bersuara dan menolak mentah-mentah jika Ibu tak membungkam dengan kalimatnya.
"Kelihatannya kamu juga tertarik, Yohan," simpulnya. "Iya, kan?"
Yohan pura-pura makan dan menunduk pada makanannya. Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering dan tenggorokannya seolah tersekat hingga tak bisa membalas perkataan ibunya.
Ayolah, Ily hanya tetangganya yang kebetulan sekolah di sekolah yang sama dan duduk di meja yang sama. Arah jalan mereka sama dan wajah jika Yohan dan perempuan itu bersama-sama.
Maksudnya, Yohan juga butuh teman untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ini dan Ily memiliki sifat unik, ia cepat berubah-ubah emosi. Yohan jelas penasaran, mengapa bisa terjadi demikian.
Ditambah lagi Ily merupakan orang pertama yang ia kenal. Yohan tak mau punya banyak kenalan dan menurutnya, satu saja cukup.
"Jangan batasi perasaanmu. Itu adalah anugerah yang sangat berharga."
Yohan lagi-lagi tersedak. Ia langsung meneguk segelas air dan menatap Ibunya dengan sorot mata tegas.
"Aku hanya berteman, Bu. Jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Ya, kita lihat saja nanti. Aku Ibumu, aku tahu semua tentang anakku. Dan hormon yang meledak-ledak itu," kata Ibu dengan senyum lebar, ia menompang dagunya dengan kedua tangan yang bertaut sambil menatap Yohan lamat-lamat. "Apakah akan kamu pendam, atau justru dibiarkan meledak di luar."
Yohan mengepalkan tangannya dengan kesal. "Ibu," rengeknya frustasi. "Aku tak punya hormon yang meledak-ledak itu!"
"Ya, ya, ya, terserah." Ibu memutar bola matanya jengah sendiri. Entah keturunan dari siapa, tapi Yohan keras kepala sekali dengan perasaannya.
***
"Lagi? Kenapa?"
"Kamu akan hemat jika seperti ini," jawab Yohan enteng. "Ayo."
Ily menghela napas pelan. Memang, menguntungkan baginya jika terus-menerus berangkat-pulang sekolah bersama Yohan. Apalagi Yohan ini laki-laki yang tampan, kapan lagi dirinya dapat dibonceng oleh orang Korea?
Namun, Ily kembali lagi pada kenyataan. Ia harus mengantisipasi sesuatu, menghindari petaka sebisa mungkin. Oleh karenanya, Ily bersikeras untuk pulang sendiri hari ini. Tadi dirinya telah berangkat bersama Yohan dan kini tak mau pulang bersama.
Hari ini Yohan tak berbuat macam-macam. Laki-laki itu hanya tidur saat jam istirahat dan memperhatikan guru yang mengajar. Ily bersyukur, namun tetap saja kini Yohan memaksanya untuk pulang bersama.
"Aku ada urusan, kamu duluan saja," kata Ily memberi alasan.
Mata Yohan menyorot tajam. "Urusan apa?"
Ily tersenyum canggung, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya dan ia tak berani membalas tatapan Yohan. "Em... itu... aku... harus membeli sesuatu. Ini rahasia, aku malu mengatakannya dan lebih malu lagi jika kamu mengetahuinya."
"Tak perlu malu padaku, aku akan mengantarmu. Ayo, tunjukkan jalannya," balas Yohan tak peduli.
"Ish, Yohan--"
"Akan kubelikan untukmu, sebagai tanda pertemanan."
Ily menatap Yohan heran. "Apa?"
"Ya, kita ini teman, bukan?" Yohan mengangkat bahunya tak peduli, seperti tak yakin atas ucapannya.
Namun, Ily menangkap hal lain. Matanya langsung berbinar dan tersenyum lebar. Tangannya mengepal, menahan badan yang sudah ingin melompat-lompat bahagia sejak tadi.
"Kamu mau traktir?!" tanyanya riang.
Yohan mengerjap. Tak percaya Ily dapat berubah sedramatis ini. Namun, untunglah, perubahannya bukan menjadi Ily yang marah-marah seperti kemarin.
"Ya udah, ayo!" seru Ily seraya melompat menaiki motor Yohan dan berpegangan pada bahunya.
__ADS_1
Di depannya, Yohan tersenyum miring dan langsung menyalakan mesin.
"Kamu bukan aktivis sekolah, ya?" tanya Yohan dengan suara yang dikeraskan, namun masih fokus pada jalanan di depannya.
"Capek! Aku mending langsung pulang!" jawab Ily sama kerasnya. "Eh, di sini! Berhenti, Yohan! Stoooop! Aduh!"
Kepala Ily harus mentok pada punggung keras Yohan karena motornya berhenti secara mendadak. Ily meringis keras, sementara Yohan menahan ringisannya dengan menggigit bibir.
Mereka berdua turun bergiliran, kemudian Yohan menatap Ily yang masih memegang kepalanya dengan khawatir.
"Kepalamu terluka?" tanyanya lembut.
"Punggungmu terbuat dari apa sih?! Sakit, tau!" seru Ily justru marah.
Yohan merasa tak terima dimarahi seperti itu. "Aku juga sakit! Punggungku sakit! Kepalamu yang terbuat dari apa! Dasar batu!"
"Woah, dasar lo ya!" Ily mengangkat tangannya, hampir melayangkan satu tabokan pada kening Yohan jika saja Yohan tak ikut mengangkat tangannya dan menahan tangan Ily.
Mereka justru melakukan high-five dan Ily melotot karenanya. Ily akan marah lagi saat Yohan menggerakkan jari-jari tangannya, menggenggam tangannya dan membawanya ke bawah. Otomatis, Ily melepasnya dengan salah tingkah.
"Ka-kamu ngapain, sih?" tanyanya pelan, malu dan salah tingkah. Wajahnya menunduk sambil menaut-nautkan jari tangan.
Yohan menahan tawa melihatnya. Masih penasaran mengapa ada manusia yang cepat sekali berubah emosinya. Dari ketus, kemudian bahagia, lalu kesal dan kini malu-malu.
"Kamu mau membeli apa?" tanya Yohan, menatap minimarket di depannya dengan bingung. "Ayo."
"Ah, iya! Kamu yang traktir, kan?" Ily mengangkat wajah, langsung berseri-seri dan segera melangkah riang memasuki minimarket.
Yohan tertawa geli, mengikuti langkah Ily dan masuk. Mereka melewati jajaran cokelat batangan, mie instan, sabun mandi, susu, pencuci wajah, detergen dan Ily hanya melihat-lihat sambil bergumam tak jelas.
"Kamu mau membeli apa?" tanya Yohan agak kesal. "Sejak tadi kamu hanya berputar-putar, melihat-lihat dan bergumam tidak jelas."
"Kamu kesal, ya? Ya udah, pulang saja duluan."
Yohan memutar bola mata. "Aku akan menunggumu di luar."
Ketika laki-laki itu akhirnya pergi dan kini hanya tinggal Ily sendiri, Ily tak tahan untuk berjongkok dan mendesah frustasi. Mengapa harus dirinya yang mendapat kesialan ini?
Tidak! Ily tak peduli apapun. Ini hidupnya, tak ada aturan siapapun yang bisa menghalangi jalannya. Dengan gerakan mantap, Ily mengambil kotak susu Hi-Ly itu dan membawanya ke kasir. Ia membayarnya dan keluar dengan satu kantung plastik dijinjing.
Yohan yang dari tadi menunggu, segera menegakkan badan dan menatap Ily dengan sorot datar. "Berapa?"
"Tiga puluh," jawab Ily sama datarnya.
"Kamu beli apa?" tanya Yohan penasaran. Namun tetap menyerahkan uang yang segera Ily terima. Ily memasukkan uang itu dalam kantung kresek dan menatap Yohan dengan polos.
"Ayo pulang," kata Ily sambil tersenyum lebar.
"Tidak, sebelum kamu katakan apa yang kamu beli." Yohan bersikeras menuntaskan rasa penasarannya.
Ily menghela napas panjang. "Karena kamu sudah traktir, aku kasih tau. Semoga kamu nggak ember, ya."
"Apa? Ember?" Yohan tak mengerti apakah telinganya kini mendadak rusak hingga mendengar kata-kata aneh dari Ily.
"Ah, lupakan." Ily mengibaskan tangannya tak peduli. "Aku membeli Hi-Ly."
"Apa itu?" tanya Yohan yang masih belum juga paham.
"Susu instan peninggi badan. Aku kesal karena diejek pendek, dibully karena pendek, dijauhi karena pendek. Aku ingin tinggi dan satu-satunya cara dengan minum susu ini. Meski kemungkinannya sedikit, aku harap tinggiku mencapai 160."
Yohan mengerjap tak percaya. Menatap Ily dengan sorot geli dan akhirnya tawanya pecah. Jelas sekali membuat Ily langsung cemberut dan kesal, marah juga karena merasa diejek.
"Aku sudah kebal. Silahkan tertawa sepuasnya. Dah, aku mau pulang," kata Ily ketus.
Yohan menahan tangan Ily dengan cepat. "Maaf, aku tertawa. Tapi, kita akan pulang bersama-sama. Ayo naik."
Ily diam, menatap Yohan dengan pandangan tak terbaca. Yohan pun melakukan hal sama, namun ia menampilkan raut wajah yang bingung.
"Oke, kita bicara nanti. Aku akan menyampaikan keluhku," cetus Ily setelah menimbang lama-lama.
Perjalanan mereka berlangsung hening. Yohan fokus pada jalanan di depannya dan Ily yang memang tak mau bersuara. Padahal kemarin-kemarin mereka selalu bercakap, entah itu tentang fakta-fakta sekolah atau tentang hobi Ily.
__ADS_1
Yohan selalu bertanya dan Ily yang menjawab. Namun, kini Yohan merasa berbeda, karena itu ia hanya diam. Memfokuskan diri pada satu titik.
Ketika akhirnya sampai, Ily segera turun dan menunggu Yohan berdiri di hadapannya. Ily menatap Yohan serius dan membuat Yohan ikut menatapnya serius.
Ily memejamkan matanya sejenak, kemudian mulai bersuara. "Kamu sepertinya sudah hafal jalanan ke sekolah. Aku tak memberi tahu, kamu tak bertanya tapi kita sampai di tujuan yang tepat."
"Ah... itu..." Yohan tampak gegalapan saat ingin menjelaskan, namun sepertinya Ily tak mengerti karena langsung melanjutkan perkataannya.
"Kita tak perlu lagi saling bersinggungan. Kita jalani hidup masing-masing saja, ya? Kamu cari teman yang lain saja," kata Ily serius. "Ya, Yohan?"
Yohan menggeleng cepat. "Aku tak mau. Aku tak bisa."
"Yohan, aku juga tak mau, aku tak bisa," balas Ily sama cepatnya.
"Kenapa? Aku menyinggung perasaanmu?" tanya Yohan takut-takut.
"Tidak. Tapi aku akan fokus mengejar cita-citaku, aku akan belajar, belajar dan hanya belajar. Aku tak bisa membantumu, maaf."
"Aku bisa membalas membantumu. Minta saja, apapun. Kita saling bantu. Kamu juga harus membantuku, aku baru di sini, belum tahu apa-apa. Sekolah pun, aku belum mengafalnya. Aku membutuhkanmu." Yohan memutuskan dengan cepat tanpa membiarkan Ily menyanggah. "Besok pagi kita berangkat bersama-sama."
***
Benar-benar ada.
Sepertinya Yohan tak benar-benar mengerti perkataan Ily kemarin. Laki-laki itu tak menggubris keinginan Ily dan kini justru tersenyum di atas motornya. Pagi hari yang harusnya menjadi awal baru, kini menjadi petaka baru bagi Ily.
"Ayo, naik," ajak Yohan.
"Nggak mau," balas Ily mutlak. "Kamu kemarin dengerin aku nggak, sih?"
"Ilyssa," kata Yohan penuh penekanan. "Aku membutuhkanmu. Hanya kamu temanku."
Ily mengerutkan kening, menjadi terpikir akan sesuatu. Ia mendekat dan menatap Yohan serius. "Kamu butuh teman?"
Yohan mengangguk kecil. "Aku baru di sini, semuanya asing bagiku. Harus ada yang membantuku, menjadi temanku."
"Kalau begitu, akan aku carikan kamu teman," cetus Ily dengan senyum mereka. Merasa mendapatkan jalan keluar untuk terbebas dari orang Korea ini.
"Aku tak mau orang lain, Ilyssa," sergah Yohan, langsung melunturkan senyum Ily. "Mereka tak sesuai seleraku."
Ily tertawa hambar. "Kamu pikir aku makanan? Sesuai selera, katamu?"
"Bukan," balas Yohan kesal. "Maksudku, mereka tak cocok denganku, aku tak cocok dengan mereka."
"Lalu, aku?" tanya Ily bingung. "Aku juga tak cocok denganmu--"
"Tapi aku cocok denganmu." Yohan memotong dengan nada serius dan tulus.
Ily terdiam lama.
Sejak pertama kali bertemu dengan Yohan, Ily pikir dirinya mimpi. Bertemu dengan sosok setampan dan seasing itu dalam kehidupannya yang sepi ini. Ia tak pernah terpikirkan untuk bertetanggaan dengan orang Korea ataupun satu meja dengannya. Ily hanya berpikir dirinya selalu menjadi pemain pendukung dalam sebuah kehidupan.
Dirinya tak penting, dirinya tak menonjol dan tak akan menjadi yang utama. Ily menyerah, ia dijauhi dan trauma akan pandangan orang-orang. Ily takut dirinya akan salah, akan menyakiti orang lain jika ia memiliki seseorang yang dekat dengannya.
Masalah Elvan dan Eza berbeda. Mereka tak benar-benar Ily anggap dekat, namun tetap saja mereka selalu ada untuk Ily. Entahlah, intinya Ily tak punya teman dekat atau apapun itu.
Ia hanya akan fokus meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua. Masalah perasaan dan hormon remaja, Ily hampir tak pernah merasakannya karena dia menjauhi semua laki-laki dan semua laki-laki menjauhinya.
Ily puas hanya dengan dirinya sendiri dan kebahagiannya sendiri. Anggaplah Ily egois, ia tak mau memikirkan orang lain. Memang begitu keinginan Ily.
Dia sudah lelah mengurus diri sendiri, lalu kini harus berurusan dengan orang lain. Jelas, ini petaka yang harus Ily hindari. Meski dia senang, meski jauh dalam lubuk hatinya Ily gembira bisa dekat dengan Yohan, namun akal sehatnya menamparnya.
Akan rumit jika dia jatuh cinta, akan rumit jika dia menjalani ikatan, akan rumit kehidupan kemudian. Ily jelas tak mau kerumitan ini mencekiknya.
"Akan kubelikan apapun yang kamu mau sebagai balasannya. Aku akan..." Yohan tampak berpikir, lalu mengatakan dengan ragu, "traktir kamu?"
Mata Ily membulat sempurna. Seluruh pikirannya pecah, berganti dengan gelembung kebahagiaan yang hakiki. Tak ada manusia yang bisa mengabaikan kata gratis, kan?
"Aku akan menjadi temanmu selamanya!"
***
__ADS_1