Dari Korea

Dari Korea
22


__ADS_3

Kesepakatan Yohan dan Eza sudah kedaluwarsa. Harusnya Yohan dan Ily sudah bisa satu bangku lagi, namun Yohan lagi-lagi tak masuk.


Ily sudah mengirim banyak pesan pada laki-laki itu, namun tak kunjung ia mendapat balasan. Pelajaran semakin intensif karena Try Out dilaksanakan Minggu depan. Ily khawatir pada Yohan yang ketinggalan lumayan banyak sebab tak sekolah dua hari tanpa keterangan.


Padahal nilai-nilai Yohan sangat bagus dan bahkan mungkin bisa menyabet juara pertama di kelas. Ulangan hariannya rata-rata sempurna dan jujur, Ily sangat-sangat iri dengannya.


Pasalnya, Yohan terlihat jarang sekali belajar sepertinya, mengafalnya pelajaran berulang kali ataupun latihan soal seperti yang selalu Ily lakukan setiap malam.


Jika besok tak sekolah, guru BP akan memanggil orang tuanya. Ily menggigit bibirnya, bingung apakah ia harus mengetuk pintu di depannya ini atau justru pergi saja tak peduli apapun.


Pulang sekolah Ily diantar Elvan. Sepupunya itu masih mengingatnya untuk selalu bahagia dan tak dekat siapapun, namun Ily tak bisa menjauh dari Yohan. Entah kenapa, kini Ily berada di depan rumah Yohan.


Ingin Ily adalah bertemu, bertanya dan belajar bersama untuk Try Out. Namun, satu detik kemudian dia berbalik, berlari kencang menuju rumahnya.


Kalau Ily bertemu Yohan, ia malu dan tak sanggup. Malu karena Ily pikir ia merindukan Yohan dan tak sanggup karena ia takut Yohan kenapa-kenapa.


Benarkah Ily merindukan Yohan? Padahal hanya dua hari belum bertemu. Ily pasti sudah gila.


Sampai di rumahnya, Ily masuk kamar dan mandi. Berharap pikirannya kembali jernih. Ily berlanjut membuka buku-bukunya dan berlatih soal sebanyak mungkin sampai lupa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Perutnya berbunyi saat ia sedang membereskan peralatan belajarnya. Ayah dan Ibunya belum pulang sejak tadi, Ily berpikir mereka kerja lembur dan memutuskan untuk keluar kamarnya.


Ily berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan menghela napas panjang ketika yang ia lihat hanyalah minuman. Ily berdecak, kembali masuk dalam kamarnya dan memakai jaket.


Mengambil kunci dari atas meja, Ily keluar rumahnya. Biasanya ada penjual nasi goreng dan sate di depan jalan masuk perumahannya, jaraknya hanya 100 meter dan tak butuh waktu banyak untuk Ily berjalan kembali menuju rumahnya.


Namun, belum lima langkah lagi ia menuju gerbang rumahnya, Ily melihat Yohan keluar dari rumahnya dalam balutan serba hitam serta topi yang menutup hampir separuh wajahnya.


Yohan tampak tak menyadari kehadiran Ily, sampai ketika laki-laki Korea itu mendongak, tubuhnya tampak menegang. Ily segera berlari menghampirinya, dengan tangan menenteng dua kantung, satu berisi nasi goreng dan satu lainnya berisi sate ayam.


"Yohan," sapa Ily dengan napas terengah-engah.


"Ah, Ily," balas Yohan datar seperti biasanya. "Malam-malam seperti ini kenapa kamu di luar?"


Suara aneh dan Ily merasa hatinya tersayat saat mendengarnya. Namun, ia tak memikirkan lebih lanjut, barangkali itu hanya perasaan sesaat. "Aku baru beli nasi goreng dan sate. Kamu sendiri?"


"Aku akan jalan-jalan sebentar. Kepalaku pusing."


"Ak--"


Suara Ily terpotong karena perut Yohan mengeluarkan suara. Ily dan Yohan sama-sama terdiam. Kemudian, Ily tertawa terbahak-bahak sendirian.


"Kamu lapar, Yohan," kata Ily disela tawanya, membuat Yohan memalingkan wajahnya dengan kuping memanas. "Mau makan bersamaku?"


Yohan langsung menoleh, menatap Ily dengan mata berbinar. "Boleh?"


"Of course. Follow me," balas Ily senang. Langsung saja gadis itu menuntun Yohan untuk masuk ke rumahnya, duduk di kursi taman di halaman belakang. Tempat di mana Yohan pernah bernyanyi dengan gitarnya.


"Orang tuamu ke mana? Aku tidak melihatnya," kata Yohan saat duduk dan memerhatikan Ily yang sibuk membuka bungkusan nasi gorengnya.


"Ah, mungkin mereka ada kerja lembur," balas Ily seadanya.


"Kamu sendirian?" tanya Yohan memastikan.


"Iya."


"Kamu tidak takut?" tanya Yohan lagi.


"Tidak. Aku aman di kamarku."


"Kamu melakukan apa di kamarmu?"


"Aku belajar. Minggu depan Try Out."


"Kira-kira orang tuamu pulang kapan?"


Ily berdecak, agak terganggu dengan Yohan yang tiba-tiba seperti sedang mengintrogasi dirinya. "Kenapa kamu banyak tanya, sih?"


"Aku khawatir," jawab Yohan jujur. "Kamu sendirian. Bahaya."


"Aku terbiasa sendiri, Yohan," balas Ily dear seulas senyum tipis. "Jangan khawatir. Itu aneh."


Dalam hati, Ily sudah menjerit-jerit tak jelas sebab Yohan yang kini mendekat sambil mengernyitkan keningnya. "Aneh kenapa?"


"Kamu mengkhawatirkanku. Itu aneh."


"Tidak boleh, ya?"

__ADS_1


Mendengar suara kecewa Yohan, Ily langsung menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. "No!"


"Lalu?"


Ily langsung terdiam. Mengerjapkan matanya, memikirkan alasan dengan cepat. "Ah, lebih baik kita makan dulu. Nanti dingin, jadi kurang enak."


Senyum Yohan terulas, namun hanya sedikit, seolah tenaganya tak cukup untuk dia tersenyum lebar.


"Kamu duluan saja," katanya lembut. "Aku sisanya."


Ily melotot. "Nggak. Ini udah aku bagi dua. Ayo, makan bersama."


Yohan mengangguk. "Ya sudah. Ayo makan."


Mereka mulai menyuapkan nasi. Mengunyah dan menelan. Benar-benar makan dalam keheningan. Yohan sepertinya menyukainya karena laki-laki Korea itu tak muntah ataupun mencela. Ily sendiri gugup karena beberapa kali harus bertabrakan kepala saat sedang menyuap di kertas nasi yang sama.


"Aduh," ringis Ily ketika untuk kedua kalinya kepala mereka berdua saling bertemu sebab menyuap bersamaan.


"Sakit, kah?" tanya Yohan agak khawatir, bahkan ingin menyentuh kepala Ily jika Ily Tal langsung menjauh dan tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku hanya kaget," kata Ily menjelaskan. "Makan lagi saja, ayo."


Hanya butuh lima menit untuk nasi goreng dan sate habis. Ily mengambil air minum untuk dirinya dan Yohan. Mereka menutup makan dengan minum seteguk air dan suasana kembali hening.


Ily sibuk memikirkan pertanyaan mana yang sepatutnya ia tanyakan lebih dulu, sementara Yohan hanya diam. Menunggu apa yang ingin Ily bicarakan.


Sampai akhirnya waktunya tiba, Ily bersuara. "Dua hari ini kamu ke mana?"


Tak butuh terkejut untuk Yohan mendengar pertanyaan itu sebab dirinya sudah bisa menebaknya sejak awal. "Kamu pernah bilang akan jadi temanku selamanya."


"Ha?" Ily heran mengapa Yohan tiba-tiba berbicara seperti itu, namun ia mengangguk akhirnya. "Iya, aku memang pernah bicara seperti itu. Kenapa?"


"Itu pertama kali aku mendengar seseorang berkata seperti itu, padaku yang hanya seorang pendatang dengan identitas yang belum jelas diketahui," balas Yohan sambil menunduk, membuat Ily semakin buta untuk melihat wajahnya karena topi hitamnya. "Aku lega, aku senang, aku bersemangat untuk menanti hari esok. Bersamamu. Orang yang ingin berteman denganku selamanya."


Ily terbatuk salah tingkah. Pipinya memanas dan ia yakin sekarang wajahnya semerah kepiting. Beruntung Yohan tak melihatnya.


"Tapi sekarang aku tak yakin kamu akan jadi temanku lagi."


"Ha? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Ily langsung penasaran.


"Kalau aku bilang aku ini bukan anak baik-baik, apa kamu akan menjauh?" tanya Yohan, secara perlahan memalingkan wajahnya pada Ily dan menatap matanya dengan sorot lembut.


Yohan tertawa kecil. "Tebakanmu lucu. Tapi, sebenarnya aku ini lebih dari preman."


"Kamu bercanda?" tanya Ily merasa terhibur. Sama sekali tak menganggap perkataan Yohan dengan serius. "Lucu sekali. Kamu punya bakat melawak."


Yohan ikut tertawa bersama Ily. Melepas rasa sesak yang sejak tadi berkumpul di dadanya hingga membuatnya sesak. Ia menyipitkan mata, menahan air mata, sambil meneruskan tawanya sebab melihat Ily kini tertawa terbahak-bahak.


"Aku tak menyangka kamu ini bosnya preman, Yohan." Ily masih tertawa, bahkan ia harus menghapus sudut air matanya yang menitikan air mata.


"Aku lebih dari bosnya preman, Ilyssa," kata Yohan lirih. "Boleh aku memelukmu? Aku akan membisikkan sesuatu di telingamu."


Tubuh Ily seolah membeku, terlalu terkejut. Namun, kepalanya perlahan mengangguk, membuat Yohan segera memeluknya dan membuat penciuman Ily penuh dengan bau baju usang yang bercampur dengan mint khas Yohan.


"Dua hari yang lalu aku membuat seseorang terluka dan satu tahun yang lalu aku membuat seseorang meninggal. Aku bukan preman, aku pengedar narkoba."


Mata Ily membulat. Ia hampir kehilangan kemampuan untuk mengedip ketika Yohan mengeratkan pelukannya dan berbisik lagi.


"Aku tahu mungkin kamu tak ingin jadi temanku lagi," katanya dengan suara serak. "Tapi aku senang kamu pernah mau menjadi temanku. Terimakasih, aku senang."


Ily masih tak mampu mengendalikan dirinya sampai Yohan melepas pelukannya, kemudian tersenyum tipis dan mengacak rambutnya pelan.


"Selamat malam, Ily. Terimakasih atas segalanya. Sampai jumpa besok." Suara Yohan kembali normal, tak lirih atau berbisik seperti tadi. Yohan berkata lagi sebelum benar-benar meninggalkan Ily sendiri di kursi taman halaman belakang rumahnya. "Entah kita akan berjumpa sebagai orang asing atau masih tetap sebagai teman, aku akan menerima keputusanmu dengan senang hati."


Sesungguhnya, Yohan akan gila jika Ily akan menjauhinya esok hari.


***


Sekolah punya kebijakan tersendiri. Setiap kenakalan siswa akan diberi poin, dan jika poin telah mencapai 100, maka siswa tersebut akan dikeluarkan tanpa negosiasi lagi. Ily jelas tahu kenakalan seperti apa yang akan membuat seseorang yang melakukannya langsung ditendang dari sekolah.


Tawuran, hamil dan narkoba.


Tanpa aba-aba, jika bukti telah jelas, sekolah tanpa segan akan mengeluarkannya. Siswa-siswi di sini jelas takut, tak ada yang berani melanggar sebab peraturan itu benar-benar mematikan. Jika ingin nakal, jangan sekolah sekalian, begitu pesan Kepala Sekolahnya.


Kemudian hari ini, sesuatu yang membuat Ily khawatir terjadi.


Entah bagaimana, berita tentang Yohan yang dulunya adalah pengedar narkoba dan sempat menjadi perbincangan di negara asalnya kini tersebar ke satu sekolah. Semua membicarakannya.

__ADS_1


"Dasar munafik. Gue kira anaknya kalem-kalem aja gitu. Eh, taunya, anjir cuma datang buat mencemarkan nama sekolah aja."


"Aduh, harusnya pengedar itu jangan di sekolahin!"


"Udah mau UN, nambah-nambah masalah aja, sih!"


"Nggak nyangka, asli!"


"Jijik!"


"Najis!"


"Tolol!"


"Pergi sana!"


Ily benar-benar heran dari mana asalnya berita ini. Setahunya ia tak memberitahu siapa-siapa meski kemarin malas Yohan bercerita sendiri. Ia tak pernah memandang Yohan berbeda setelah pengakuannya, Ily hanya terkejut dan tak bisa mengatakan apa-apa waktu itu.


Tahu-tahu Yohan sudah diperbincangkan seluruh warga sekolah dan ketika Ily masuk ke kelas, meja Yohan yang berada di sebelahnya terlah dicoret-coret dengan tip-x, spidol permanen dan terdapat sampah berbau di kolong mejanya.


Hati Ily merasa teriris melihatnya. Dengan langkah perlahan, ia mendekati meja itu dan mulai menahan tangis. Entahlah, air matanya tiba-tiba keluar dan membuat pandangannya memburam.


Sebuah tangan tiba-tiba terasa mencengkram bahu kanannya. Ily tahu dengan merasakannya, itu tangan Eza. Laki-laki itu tadi mengantarnya pagi-pagi sekali hanya agar Ily tak berangkat bersama Yohan.


Kini Ily menyesal, merasa gagal lagi sebagai teman. Ia khawatir Yohan melihatnya dan akan sakit. Dengan gerakan cepat, Ily membuka tasnya dan merobek kertas dari salah satu bukunya kemudian mengelap meja Yohan. Gerakannya keras, cepat dan asal-asalan, membuat Eza menghentikan gerakan itu segera.


"Ly, kenapa sih? Ini spidol permanen, percuma kalau lo gosok-gosok gitu. Dodol, ish," gerutunya sambil merongoh saku celananya dan mengeluarkan hampelas dari sana. "Nih, pake ini."


"Hah? Kok lo bawa-bawa ini?"


"Kan gue punya kantong Doraemon," jawab Eza asal, membuat Ily menatapnya dengan datar, sama sekali tak terhibur. Dia tersenyum sampai giginya terlihat. "Kalau begitu gue duluan, yo."


Ily hanya mengangguk. Sepeninggalnya Eza, Ily menatap anak kelasnya yang tampak tak peduli pada meja Yohan. Namun, Ily Tal memperdulikannya lebih lanjut, memilih untuk membersihkan meja Yohan sendiri dengan hampelas yang diberikan Eza.


Sementara itu, di koridor setelah ia dipanggil ke ruang BK, Yohan berjalan dengan wajah datar seperti biasanya.


Dulu, ketika Yohan berjalan di koridor, ia ditatap oleh banyak puja-puji, disanjung dengan mata berbinar, dan disuguhi sejuta senyuman. Kini, ketika Yohan berjalan di sana, orang-orang justru menatapnya dengan sinis, jijik dan penuh hujatan. Yohan jelas tak menyukainya, ia tak suka jadi pusat olok-olokan orang.


Bisa secepat itu manusia berubah. Dan Yohan takut Ily termasuk orang-orang itu.


Belum ada bukti yang jelas bahwa Yohan juga menyebarkan narkoba di sini, namun kasus yang dulu menimpanya itu membuat Yohan harus dipanggil guru BP sejak ia sampai di sekolah. Yohan diberi kesempatan sampai melaksanakan UN untuk tak terlibat dalam kasus apapun.


Yohan tak mengerti bagaimana bisa masa lalu dirinya kini terkuak ketika dia baru saja memberitahukannya pada Ily seorang. Bagaimana bisa kasusnya saat di Korea bisa diketahui satu sekolah hanya dalam semalam. Dan bagaimana bisa mereka tahu kasus itu bahkan sebelum Yohan memberitahu pada siapapun.


Seingatnya, ia hanya memberitahu Ily bahwa satu tahun lalu seseorang pernah terbunuh olehnya. Tak ada yang lain.


Rahang Yohan mengeras, ia mengepalkan tangannya dan berjalan dalam langkah cepat-cepat. Yohan benar-benar benci ketika dirinya diusik tanpa alasan yang jelas.


Kecurigaannya mengarah pada satu orang. Yang setiap kali melihatnya, laki-laki itu selalu memandang Yohan dengan curiga. Sialnya, laki-laki itu dengan dengan Ily, bahkan menjadi sepupu dan jelas-jelas punya kaitan darah yang dekat.


Apakah sifat mereka akan mirip?


Ketika Yohan sampai di kelasnya, anak kelas segera berbisik-bisik membicarakannya dengan mata jijik. Yohan tak memperdulikannya, terserah mereka ingin apa karena Yohan sudah lelah mengurusinya.


Pandangannya terarah pada Ily yang juga berbalik melihatnya dengan sebuah hampelas di tangannya. Yohan berjalan mendekat dengan segera dan melihat mejanya penuh coretan tak berkelas juga sampah-sampah di sekitarnya.


"Kamu sedang apa?" tanya Yohan berubah dingin dan tajam.


"Aku membersihkan mejamu. Ini sangat menggangu, bau dan kotor. Ayo bersihkan bersama-sama," ajak Ily dengan seulas senyum, berharap itu menular pada Yohan dan membuatnya merasa lebih baik.


Sebab tak ada yang lebih baik daripada ditemani seseorang saat sedang merasa terpuruk. Ily sangat memahami rasa itu, karena kini ia seperti ini.


Yohan menatapnya tajam, seolah tak menyukai sikap Ily. "Jangan pura-pura. Jangan main-main denganku."


"Maksudmu apa, Yohan?" tanya Ily terkejut, matanya membulat saat Yohan merampas hampelas di tangannya kemudian menginjaknya tanpa tega.


"Jangan pura-pura, aku tak menyukainya. Kukira kamu berbeda," kata Yohan tajam, rahangnya mengeras dan giginya menggertak, "tapi rupanya sama aja. Aku kecewa, Ly."


"Maksudmu, aku yang menyebarkan tentangmu?" Ily bertanya dengan satu air mata yang menitik, kemudian disusul titik-titik lainnya.


"Menurutmu siapa lagi?" Yohan telah gelap mata, tak peduli meski kini Ily menangis. "Aku hanya memberitahumu semalam."


Ily terisak. Tak menyangka Yohan bisa memandangnya seburuk ini. "Apa faedahnya untukku jika menyebarkannya?"


Yohan tersenyum miring, memandang Ily dengan tajam hingga Ily tak mampu mengenali siapa Yohan yang sekarang. Yohan mendekat, kemudian berbisik di telinganya dengan nada menusuk.


"Tanyakan saja pada otak licikmu itu."

__ADS_1


***


__ADS_2