Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 47


__ADS_3

"Kamu dari mana saja?"


Ily ditanya begitu ketika sampai di rumahnya. Ayah dan ibunya masih belum tidur, duduk di sofa bersebelahan dengan televisi menyala di depannya. Ily sempat melihat jam sewaktu ia turun dari mobil Yohan.


Pukul sepuluh malam.


Jelas, ayah dan ibunya kini menatap Ily dengan wajah tak suka. Ily tadi bilang akan keluar satu jam. Artinya, sekarang ia telat satu jam untuk pulang. Seharusnya, bukan masalah besar karena Ily sudah dewasa, bisa menjaga diri dan kini sudah pulang dengan selamat dan sentosa.


Namun, pasti ada sesuatu selain masalah kepulangannya yang membuat wajah kedua orang tuanya berbeda dari biasanya, tak ramah atau bahagia.


"Aku habis jalan-jalan, Bu," jawab Ily jujur. "Aku mau langsung ke kamar aja, ya, soalnya udah ngan---"


"Sini dulu sebentar. Ada yang mau ibu omongin," potong ibu cepat. Menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya, tepat di antara ayah dan ibu.


"Sini, Ly," ajak ayah ikut-ikutan. Nadanya tegas dan membuat Ily tak bisa membantah meski kini ingin sekali tubuhnya merasakan kenikmatan dan kelembutan kasur di kamarnya.


Akhirnya, Ily duduk di antara kedua orang tuanya setelah melepas tas selempang yang sebelumnya mengait di bahunya. "Mau apa, Yah, Bu?"


Ily menarik senyum tipis. Menatap Ily dengan sayang, seraya mengaitkan anak rambut Ily ke telinganya. "Mau langsung atau basa-basi dulu?"


Ily terkekeh kecil atas pertanyaan retorika ibunya. "Langsung dong, Bu."


"Yah," kata ibu pada ayah, memberi kode. "Langsung aja katanya."


"Oke," tukas ayah santai, kemudian tersenyum saat perhatian Ily teralih padanya. "Ibu sama ayah udah memutuskan buat menjodohkan kamu, Ly. Untuk menikah tahun depan. Kamu mau?"


Tubuh Ily seperti dialiri aliran listrik seketika itu juga. Wajahnya mematung tanpa ekspresi, matanya agak membulat dan mulutnya terbuka sedikit karena terkejut.


Ily tak bisa berkata-kata.


"Ly," kata ibu seraya mengambil tangan Ily untuk ia genggaman dan melakukan gerakan memutar dengan jempolnya, memberikan rasa nyaman dan berharap Ily akan mengerti. "Kamu mungkin belum capai cita-cita kamu, belum capai semua angan kamu, tapi umur dan pengalaman kamu sudah cukup untuk kamu menikah. Ibu harap kamu bisa melanjutkan cita-cita dan angan-angan yang belum tercapai dengan jodoh kamu kelak. Hanya saja, ibu pikir, jika kamu terlalu menunda-nunda ... akan kurang baik nantinya."


Ily menunduk.


Ayah melihatnya dengan pengertian. Kemudian menepuk-nepuk bahu Ily pelan, berharap dengan begitu, Ily akan mempertimbangkan dengan matang. "Ayah nggak akan maksa kalau Ily nggak mau."


Ibu meringis, ketika merasa kata-kata yang dipilih ayah tidak sesuai rencana sebelumnya. Tentu saja, dengan itu, kepala Ily terangkat untuk menatap ayah dengan penuh harap.


"Beneran, Yah?" Ily langsung bertanya begitu, dengan nada penuh harap yang jelas membuat ayah tak tega untuk mengatakan tidak, meski dalam hatinya, ia menyesal sekali berkata seperti beberapa saat yang lalu.


"Iya, Ly," balas ayah kemudian. "Kalau Ily belum siap, belum mau, ayah dan ibu bisa mengerti. Toh, ini hidup kamu, terserah kamu, pilihan kamu."


Senyum Ily terkembang. Mulai lebar, hingga perlahan mencapai matanya yang kemudian menciptakan bulan sabit di sana.


"Terimakasih, ayah!"


Jelas sekali, tahun depan, Ily tak siap untuk menikah.


"Tapi, Ly," tukas ibu seraya menarik dagu Ily dengan lembut supaya menatapnya lagi. "Kalau pilihan dan keinginan kamu menghasilkan sesuatu yang buruk untuk kehidupan kamu selanjutnya, ayah sama ibu nggak terima."


Ily kembali dibuat berpikir.


Ibu menarik napas kecil, mengembuskannya pelan kemudian. "Gini, Ly. Ini memang hidup kamu, tapi ayah sama ibu mau memberi kamu saran dan pepatah untuk kamu menjalankannya. Ibu sama ayah juga kan nggak mau kamu punya kehidupan susah yang menyedihkan."


"Bu ... selama ini, Ily sudah hidup bahagia. Nggak pernah Ily merasa sedih, apalagi ada ayah dan ibu yang selalu di samping Ily," balas Ily tulus. Menggeleng pelan atas rencana kedua orang tuanya sebelumnya. "Kalau soal menikah, aku belum yakin, bu."


"Kenapa?" tanya ibu lembut.


Ily tak bisa menjawab.


Jika ada seseorang yang ingin Ily menikah bersamanya, tentu orang itu adalah seseorang yang telah mengajaknya dan berkomitmen dengan serius. Namun, sejauh ini, belum ada yang seperti itu. Entah Ily yang membuat seseorang sulit untuk mengungkapkan, atau memang seseorang yang sudah sulit untuk terus terang dari dalam dirinya.


Ayah berdeham, membuat lamunan Ily buyar.


"Kamu sudah ada pacar, Ly?"


Ibu hampir memukul lengan ayah atas pertanyaan konyolnya, namun Ily telah lebih dahulu menjawab. "Nggak ada, sih, Yah. Tapi, ada seseorang yang sangat aku suka."


"Raihan?" tanya ibu cepat.


Ily menggelengkan kepalanya dan itu membuat ayah serata ibu terkejut. Dengan mata dan mulut terbuka hampir bersamaan.


"Terus siapa?" tanya ayah kemudian.


"Yohan, Yah," jawab Ily dengan senyum tertahan, wajahnya berekpresi bangga saat menyatakan perasaannya pada kedua orang tuanya secara bergantian. "Yohan, Bu."


"Hah? Orang Korea itu?"


"Iya, tapi jangan bilang-bilang. Maluuuuuu."


"Emangnya kamu anak SD, pake malu-malu segala."


"Dasar! Anak siapa, sih?"


"Anaknya ayah sama ibu, dong!"


Ayah dan ibu saling melempar pandangan geli untuk kemudian mencibir serempak. "Idih!"


"Ayaaaaah, ibuuuuuuu," rengek Ily, memaksa untuk memeluk ayah dan ibunya yang mulai berusaha untuk menjauhinya. "Iiiihhhhh, jangan kabuuuuur."


***

__ADS_1


Yohan mendadak tak bisa dihubungi.


Padahal, lembaga bimbel tempat Ily bekerja itu sudah memberikan satu pekan liburan tahun baru untuk Ily. Dengan begitu, Ily akan menghabiskannya bersama Yohan. Hari sudah pagi, udaranya tak begitu dingin dan Ily ingin jalan-jalan dengan Yohan.


Sayangnya, ponsel laki-laki itu tak aktif. Bahkan, chat Ily semalam juga belum dibalasnya.


Dari pagi, wajah Ily sudah bete. Ayah dan ibunya jadi khawatir, namun Ily menjawab bahwa ia baik-baik saja.


Kemudian, Ily hanya berdiam diri di kamarnya. Memainkan ponselnya sedemikian rupa dengan harapan ada pemberitahuan dari Yohan.


Waktu terasa berjalan sangat lambat saat Ily menunggunya.


Karena ini, Ily merasa hubungan dirinya dan Yohan kembali ke nol. Meski Yohan telah tepati janjinya dan bahkan Ily merasa, perasaan laki-laki itu tak berubah padanya, ketidakpastian kehadirannya di sini membuat Ily meragukan segalanya.


Apakah kata-kata Yohan kemarin itu benar-benar tercetus dari dalam hatinya, apakah pelukan itu benar-benar tulus diberikan hanya untuk Ily, dan apakah ... apakah Yohan akan membicarakan sesuatu yang dulunya Ily anggap candaan tak bermutu.


Sewaktu akan mematikan ponsel, ponselnya itu telah lebih dulu bergetar tanda ada panggilan masuk dan Ily langsung menjawabnya ketika melihat nama Eza sebagai penelepon.


"Ly, sini," kata Eza langsung, begitu Ily mengangkatnya.


"Ke sini ke mana?" tanya Ily dengan kening berkerut. Beruntung sekarang ia sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi dan cocok untuk keluar.


"Studio gue. Ada Elvan." Eza memberi jeda yang lumayan lama hingga ia melanjutkan dan membuat Ily bagaikan berada dalam mimpi. "Ada Yohan juga."


Beringsut, Ily memakai tasnya. "Otw."


"Oke, ditunggu."


Sambungan telepon terputus dan Ily segera mengambil sepatunya untuk ia pakai kemudian.


Ily hampir akan pergi begitu saja jika tak ingat sesuatu. Ini kesempatan bagus, saat semuanya telah berkumpul. Meski agak lama, Ily bersiap-siap lagi untuk membawa sesuatu ke studio musik Eza.


***


"Hai, Ly."


"Yo, Chilli."


"Sini, Ly."


Yohan, Elvan dan Eza menyambut kedatangan Ily dengan gaya masing-masing yang sukses membuat senyum Ily berkembang kian lebar. Tiga kotak pizza yang dibawanya jelas mengundang perhatian dibandingkan rambut sepunggung Ily yang dikepang dan diberi jepit bunga-bunga yang lucu, yang mana jarang sekali Ily pakai.


"Woah, pake ada jamuan segala," kata Eza riang, segera menghampiri Ily untuk mengambil kotak pizza-nya, namun Ily justru menjauhkannya dari jangkauan Eza.


"Weh, jangan sentuh-sentuh!" seru Ily seraya duduk sofa yang berada di depan sofa tempat Yohan dan Elvan duduk, sementara Eza duduk kembali di sebelah Elvan dengan wajah sedih.


"Galak amat, sih, Ly," keluh Eza sambil cemberut layaknya anak kecil.


"Benar, Ly," tukas Yohan setuju.


"Ck, ini bukan pizza." Ily memberikan kejelasan, namun kemudian keningnya berkerut bingung. "Sebelum itu, kenapa Yohan sama Elvan bisa ada di sini?"


"Masalah cowok," balas Eza, enggan menjelaskan panjang lebar.


"Oke, gue pergi lagi kalau nggak dikasih tau," rajuk Ily seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Elvan, Eza dan Yohan saling melempar tatapan bingung. Mereka bertiga sama-sama tak mau memberitahu Ily, namun tentu kini situasinya berbeda. Ily mungkin akan terus merajuk dan mereka bertiga sama-sama tak mau didiamkan Ily.


Akhirnya, Yohan mengangguk. Anggukannya menciptakan persetujuan dari Elvan dan Eza sehingga salah satu diantara mereka harus terjun untuk menjelaskan.


"Oke," kata Eza kemudian, memutuskan untuk menjadi orang yang menjelaskan. "Jadi gini, Ly ...."


Meluncurkan sebuah cerita dari mulut Eza. Mulai dari pertemuan Elvan dengan Juna untuk menemui pemilik dari pabrik sepatu tempat ayahnya bekerja yang rupanya adalah ayahnya Yohan. Kemudian, bagaimana Juna dan Yohan bisa bertemu sebagai saudara dan konflik yang terjadi di antara kedua ayah mereka yang mungkin menjadikan hal buruk terjadi.


Ily jelas terkejut, mendengarkannya dengan napas tertahan.


Ily tak mau memberikan pendapatnya, yang jelas saja tak menyukai sikap ayah Yohan yang mengambil dana adiknya sendiri, ayahnya Juna. Ily takut akan menyakiti hati Yohan, Ily takut Yohan akan bersedih.


Seminggu ini, ayah Yohan sibuk mengumpulkan orang-orang untuk pergi dari sini, untuk menjaganya agar tetap selamat sebab ayah Juna sudah mengikrarkan bahwa dia akan melakukan kekerasan karena ayah Yohan tidak mau diajak kerjasama atau bertanggung jawab atas dana yang telah diambilnya.


Jika dana yang diambil itu sedikit, tentu ayah juga akan memakluminya. Jelas saja, dana yang diambil Kim Yongjun sebanding dengan 10 emas batangan 1 kg.


Gila saja.


Yohan tak berbicara banyak atau banyak perubahan dalam ekspresi wajahnya.


Di sini, Yohan juga sebenarnya khawatir akan terkena dampaknya, sebab wajahnya sudah terkuak di depan Kim Sungjun dan antek-anteknya, termasuk Elvan dan Bang Jefri. Namun, berkat adanya, Elvan, Yohan dapat selamat karena Elvan menutup-nutupi keberadaan Yohan dari rekan setimnya, juga Bang Jefri.


"Ya, intinya sekarang ada konflik antara kubu Yohan sama Elvan yang mungkin nggak sesepele yang lo, kira Ly. Mungkin, ya, pahit-pahitnya, akan ada seseorang di antara Elvan dan Yohan yang akan terluka." Elvan menjelaskan kesimpulannya. "Dan mereka berdua ketemu di sini buat berjanji."


"Berjanji apa?" Ily bertanya penasaran.


"Ada deh, perjanjian antara lelaki," kata Yohan dengan senyum misterius.


Ily cemberut. "Ih, kasih tau, atau---"


"Sebisa mungkin, aku tak akan melukai Elvan." Yohan memotong dengan cepat, takut Ily akan marah dan berujung menyikapinya dengan dingin. "Kami berjanji seperti itu."


Wajah Ily langsung cemas, bibirnya pucat dan keringat dingin mulai membanjir pelipisnya. "Aku khawatir, Yohan."


Yohan tersenyum.

__ADS_1


"Jangan sampai terluka." Ily menambahkan dengan lembut, meski masih ada rasa takut saat menyuarakannya.


"Gue juga pengen dong digituin." Elvan merengek manja.


"Lo juga sama!" seru Ily langsung galak, membuat Elvan terkejut. "Elvan, kalau sampai lo kenapa-kenapa, gue nggak akan pernah maafin lo."


"Ye..."


"Serius gue, ish!"


"Hiya-hiya."


"Elvan!"


"Apaaaaa?"


"Lo berdua. Cepet damai, deh. Bosen gue liatnya konflik mulu," kata Eza menengahi.


Ily otomatis menutup mulutnya kembali saat akan bersuara. Elvan kembali bersikap tenang sementara Yohan hanya menonton dengan wajah datar andalannya.


"Kapan?" tanya Ily tiba-tiba.


"Apanya?" Elvan menaikkan alisnya bingung.


"Kalian kapan akan perangnya?" Ily memperpanjang pertanyaannya agar lebih jelas.


"Kemungkinan besok, Ly. Atau lusa. Atau bisa kapan saja. Aku juga tak tahu pasti, namun besok, ayahku akan bertemu lagi dengan ayah Juna." Yohan menjawab dengan lancar.


"Oh, oke." Ily mengangguk-angguk.


"Cuma oh, oke?" Elvan bertanya dengan wajah tak percaya.


"Terus gue harus gimana?"


"Kaget, kek, apa, kek."


"Ah, kaget."


"Haha."


Eza memutar bola matanya, jengah atas kelakuan dua sahabat dekatnya yang kadang agak nyeleneh. Matanya kemudian tertuju pada kotak yang dibawa Ily. "Jadi, itu pizza rasa apa? Jenis apa? Kalau ada sapinya gue nggak mau."


"Oh." Ily baru tersadar akan kehadiran kotak pizza tersebut dan otomatis tersenyum seraya menyerahkannya masing-masing satu pada Elvan, Eza dan Yohan.


Tiga laki-laki itu menerimanya, meski dengan alis dan wajah yang bingung.


"Itu hadiah buat kalian. Buatan gue sendiri, dibuat sungguh-sungguh oleh cinta dan tulus dari hati yang terdalam. Kalian boleh buka waktu nggak ada gue, oke?"


"Sekarang?" Eza justru bertanya begitu.


"Nanti, setelah gue pergi."


"Kenapa?" Kini, giliran Elvan yang bertanya.


"Gue malu kalau lihat reaksi kalian secara langsung." Ily menunduk, saat ponsel yang diletakkan di atas meja sebelumnya, bergetar dan ada pemberitahuan pesan masuk yang langsung ia baca selanjutnya. Setelahnya itu, kepala kembali menegak. "Gue juga mau pergi bentar lagi."


"Ke mana? Bukannya katanya lo libur?" tanya Eza segera.


"Wah, kamu libur hari ini, Ly? Ayo kita jalan-jalan, Ly," ajak Yohan tanpa aba-aba.


"Iya, ayo!" Ily berseru senang. "Tapi nanti."


Dua kata selanjutnya dari mulut Ily membuat wajah penuh harap Yohan padam. Yang selanjutnya hanya mampu mengela napas tanpa lanjut berupaya untuk memaksa Ily. "Yah."


"Sekarang ini aku ada urusan. Tapi, hanya sebentar aja, kok. Paling cuma satu jam, nanti kalau kalian masih ada di sini, aku balik lagi."


"Mau aku antar?" Yohan ikut bangkit saat Ily bangkit dan membernarkan letak tas selempang di bahunya.


"Nggak usah, Yohan. Aku mau sendiri aja." Ily segera tersenyum menolak dengan sopan. Menatap ketiga laki-laki di depannya seraya melambaikan tangannya. "Bye, Boys."


"Bye!" seru Yohan dengan senyum sedih.


"Dadah!" Eza berseru begitu.


"Hati-hati, Ly!" timpal Elvan tak mau ketinggalan.


Yohan, Elvan dan Eza tersenyum penuh arti sewaktu Ily telah keluar dari studio musik  Eza. Ketiganya menatap kotak pizza dari Ily. Saatnya membuka hadiah.


***


**aku ada dua plan ending


kalian pilih


sad


or


happy


terus, ekspresi kan part ini dalam lima kata, baru aku lanjut whehehe**

__ADS_1


__ADS_2