
"LILI!"
Teriakan Ily membuat Lili langsung berdiri dari duduknya. Semula dia akan menulis lagi tentang Theo, namun panggilan Ily jelas lebih penting.
Mereka baru saja selesai makan malam dan Lili heran mengapa Ily memanggilnya. Piring-piring juga sudah dicuci dan seharusnya tak ada lagi pekerjaan bersih-bersih rumah yang harus Lili kerjakan.
"Kenapa, Bu?" tanya Lili heran, pada Ily yang sedang sibuk memberi minyak telon pada Luhan.
"Itu ada Imel di depan."
"Hah? Siapa?"
"Lupa sama temen sendiri?" Yohan bertanya dengan nada sarkastik.
Lili mendengus kecil. "Ih, Ayah jahat."
"Ya, itu tetangga sekaligus sahabat kamu lho. Masa lupa?" tanya Yohan tak mengerti.
Lili menipiskan bibirnya. Tak membalas pertanyaan Yohan dan lebih memilih melangkah menuju ruang tamu. Mata Lili membulat saat melihat sosok Imel yang memang benar-benar asli.
"IMEL!" seru Lili kelewat senang.
Imel langsung tersenyum lebar. Perempuan berponi rata itu segera bangkit dari duduknya dan menghambur ke pelukan Lili yang erat.
"Lo ke mana aja, sih?" tanya Lili kecewa. Perasaan marahnya yang dulu terkumpul hingga menjadi gunung tinggi sirna sudah saat dia melihat Imel dengan wajah cerianya seperti biasa.
Imel tak berubah.
Ketika pelukan mereka terurai dan kemudian duduk bersampingan di sofa ruang tamu rumah Lili, barulah Imel menjawab. Wajahnya sama sedih dan kecewa seperti Lili.
"Gue kan harus shooting, Li. Gue sibuk." Imel langsung curhat. "Pagi-pagi gue harus bangun, mandi, terus ke salon, terus ke lokasi shooting, hafalin naskah, latihan supaya nggak gugup, beberapa kali take juga karena ada kesalahan teknis. Capek banget, gila. Maaf kalau gue nggak bales telepon lo waktu itu."
Lili terperangah. Secepat itu, dia segera merasa bersalah. "Gue juga. Gue juga minta maaf karena nggak balik nelepon lo waktu lo telepon gue."
"Oh, kapan?"
"Eh?" Lili turut bingung. "Lo lupa apa gimana?"
Imel mengerut kening dengan pandangan heran saat Lili segera pergi untuk mengambil ponselnya di kamar. Tak akan kemudian, Lili kembali dan memperlihatkan pada Imel sejarah misscall darinya.
"Ini, Mel. Lo pernah misscall gue."
Kening Imel mengerut dalam. "Tapi, gue nggak ... oh, mungkin gue lupa. Maaf, ya. Kebanyakan pikiran, nih."
__ADS_1
"Kayaknya lo salah pencet deh, ya," kata Lili kecewa berat. Imel yang sibuk itu sudah pasti tak ada waktu untuk menghubunginya.
Imel membulatkan matanya dengan panik. "Nggak gitu juga, Li. Mungkin gue lupa. Jangan gitulah, gue jadinya nggak enak banget."
"Ya, nggak apa-apa. Wajar, toh. Sekarang lo udah mau jadi artis aja." Lili tersenyum maklum, hatinya benar-benar tulus saat ini. "Triple kill, dong. Udah terbitin buku, bukunya diadaptasi jadi film, filmnya dimainin sama lo juga. Hebat banget, gila!"
Imel tersipu malu-malu. "Gue juga nggak bakal gini kalau nggak bareng-bareng sama lo."
"Tapi lo ada di puncak sendirian, Mel," balas Lili datar. "Nggak bareng-bareng."
"Li," kata Imel pelan. Menyentuh pundak Lili dengan wajah tak senang. "Gue jadi nggak enak sama lo. Apa gue bikin salah buat lo?"
Lili terdiam lama. Dalam hatinya, ia merutukki diri mengapa harus bersikap seperti ini yang justru membuatnya tampak menyedihkan.
"Gue yang salah, Mel. Gue yang salah. Gue yang salah," kata Lili kemudian. "Bukan lo. Tenang aja."
Imel tak tahu apa alasan tepatnya Lili bersikap begini. Namun, Imel tak mau suasananya terus menyedihkan padahal tujuannya ke rumah Lili bukan begitu.
"Yah, intinya kedatangan gue di sini karena gue pengen makan es krim bareng lo sekarang. Udah lama banget soalnya, kangen," balas Imel riang. "Mau nggak?"
Wajah Lili langsung senang. Namun, meredup lagi saat ingat sesuatu. "Lo udah selesai shootingnya?"
"Nggak. Gue dikasih libur. Dua hari aja tapinya. Gila aja, ya," jawab Imel dengan tawa kecil. "Tapi gue seneng karena bisa habisin waktu sama lo. Jadi, call?"
Tau apa yang lebih lucu? Lili sama sekali tak mengetahuinya sampai Imel yang memberitahunya.
Memang, kadang Imel mempertahankan darah Korea yang mengalir di tubuh Lili. Apakah asli atau ...
"CALLLLLLLLLLLL!" teriak Lili kelewat semangat.
Imel tertawa keras. "Let's go!"
Sejurus kemudian, keduanya telah jalan-jalan di komplek dengan satu batang eskrim cone di tangan masing-masing. Jalan-jalan malam dengan banyak obrolan selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi Lili dan Imel.
Sejak SMP, mereka selalu begini.
Seraya menempuh perjalanan ke rumah, sekitar sepuluh menit, mereka berjalan sangaaatttt lambat untuk saling bercerita.
Dulu, yang memulai selalu Lili. Soalnya anak itu waktu SMP, kelasnya terkenal sebagai sarang anak-anak bandel, anak-anak tukas bolos, anak-anak tukang dandan dan bucin. Pokoknya jelek-jelek dan bikin guru yang mengajar membuat banyak cerita.
Mulai dari telat masuk agar terhindar dari anak-anak nakal, sengaja tak masuk bahkan pernah kejadian atau memberi tugas segunung dengan alasan yang tak bisa Lili telusuri kebenarannya.
Pokoknya waktu SMP, Lili merasa salah masuk sekolah dan salah juga masuk kelas. Masa Lili yang kalem, diem dan nggak neko-neko ini disatukan sama orang-orang dengan pribadi berkebalikan?
__ADS_1
Beda dengan Lili, waktu SMP, anak kelas Imel itu kalem-kalem. Bahkan beberapa anak menorehkan prestasi yang gemilang. Tak banyak cerita dari kelas Imel karena kelasnya selalu damai-damai saja.
Selain saling bercerita tentang kelas masing-masing, Lili dan Imel juga kerap berbagai pendapat tentang novel yang pernah mereka baca. Tentang betapa kagumnya mereka pada Vela Novela, berdiskusi tentang aturan penulisan yang baik sampai pernah mencemooh penulis yang menurut mereka sangat beruntung sebab karya-karyanya bisa laku keras padahal menurut Lili dan Imel, gaya ceritanya itu 'sedikit' membosankan.
Banyak sekali kata yang mereka lontarkan setiap kali bertemu.
Karenanya kini, mereka sangat rindu masa-masa itu.
"Kayaknya udah hampir dua tahun ya kita nggak gini?" Imel bersuara dengan wajah sedih.
Lili menggigit es krim cone miliknya lebih dulu sebelum akhirnya menjawab, "Iya."
"Sayang banget," balas Imel dengan senyum tipis. "Emang ya, pelajaran SMA itu pada susah-susah. Lo gitu juga nggak?"
"Iya, sih, bener." Lili mengangguk kecil. Mulai semangat untuk bercerita. "Susah-susah pelajarannya. Nggak bisa gitu kita belajar satu kali. Harus terus diulang dan diulang lagi di rumah. Bikin waktu nulis jadi kepotong juga."
"Bener, setuju," tukas Imel. "Apalagi kalau gurunya itu tipe ...."
"Yang ngasih tugas doang, tapi ulangan harus bagus nilainya."
Lili dan Imel mengatakannya bersamaan. Sejak SMP, kadang mereka juga bicara tentang kekurangan guru dan tipe guru yang tak mereka sukai.
Sontak, Lili dan Imel tertawa karena ucapan masing-masing.
"Ada ya di sekolah lo guru kayak gitu?" tanya Imel geli.
"Iya," jawab Lili cepat. Sorot matanya memancarkan semangat luar biasa. "Buanyyyyakkk!"
Imel tertawa puas. "Aduh, kayak udah lama banget gue nggak ketawa."
"Ke mana aja deh lo? Kok bisa kayak udah lama nggak ketawa?" tanya Lili heran.
"Sama lo maksudnya," kata Imel dengan nada manja dan langsung memeluk Lili dari pinggir dengan erat.
Membuat Lili bergerak geli. "Ih, Imel lo kenapa sih, anjuir? Nggak kayak biasanya. Jadi serem gue."
Imel tetap memeluk Lili dan bahkan memejamkan matanya dengan senyuman lebar. "Nyaman aja sama lo. Gini terus, ya! Sampai tua!"
Meski awalnya geli dan malu, akhirnya Lili tertawa. Tawa yang menyiratkan kebahagiaan dan kebanggaan. Dia senang dan bangga memiliki teman seperti Imel yang kerap kali membuatnya iri dan kelewat kesal karena seolah meninggalkannya di belakang begitu saja.
Meski begitu, mau seiri atau sekesal apapun Lili, dia tak bisa memberi Imel lebih dari lima menit.
Sahabatnya itu terlalu berharga untuk dibenci.
__ADS_1
***