Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 112


__ADS_3

"Ini sebuah kebahagiaan. Sebuah keajaiban." Dokter yang menangani Lili selama ini mengabarkan. "Kepalanya mengalami benturan keras, tapi bagusnya nggak ada cedera serius. Pusing yang kamu alami kemarin itu pasti karena stress, kamu banyak pikiran, ya?" tanya Dokter itu pada Lili. Menatapnya dengan mata hangat dan geli.


"Hehe." Lili hanya mampu tertawa.


"Ah, syukurlah." Ily membuang napas lega mendengar kabar dari Dokter tersebut.


Yohan sama leganya. Lagi-lagi tersenyum haru dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Baiklah. Kalau begitu, saya pamit." Dokter itu mengangguk sopan dan hendak pergi. Tak lupa, ia juga tersenyum pada Yohan, Ily dan Lili yang ada di ruangan. "Semoga perjalanan pulangnya aman dan selamat."


"Terimakasih, Dokter." Lili berkata dengan senyuman lebar. Senang.


"Saya hanya melaksanakan kewajiban saya." Dokter itu balas tersenyum. "Kalau begitu, sekali lagi, saya pamit."


Ketika Dokter itu akhirnya pergi, Ily langsung memeluk Lili. Tak erat, namun Han dan sangat nyaman bagi Lili.


"Ah, syukurlah." Ily mencium puncak kepala Lili berkali-kali. Cukup lama."Terimakasih, Li. Terimakasih."


"Maaf sudah merepotkan selama ini, Bu." Lili mengusap punggung Ily dengan satu tangannya yang sehat.


"Sudah kewajiban Ibu untuk menjaga anak sendiri, bukan?" Ily melepas pelukan mereka dengan senyuman kecil. Menatap Lili dengan sayang. "Ayo, kita pulang."


"Iya! Aku kangen rumah!" seru Lili riang.


Yohan lebih dulu keluar waktu Lili digandeng Ily dengan senangnya. Keluar dari kamar rawat rumah sakit yang sesak dan penuh kesedihan. Mereka berjalan dengan senang hati melewati koridor.


Ily tersenyum penuh. Ia lupa pada sebuah fakta bahwa Yohan menentang keinginan Ily untuk tidak menyumbangkan buku-buku Lili.

__ADS_1


***


Lili senang sekali sudah pulang ke rumahnya kembali. Rasanya sudah sangat lama. Lili rindu kamarnya, Lili rindu buku-bukunya, Lili rindu segalanya tentang rumah dan apa-apa yang mengisi hidupnya.


"Li, makan dulu, yuk," ajak Ily setelah mereka benar-benar masuk.


Yohan langsung pergi ke kantor karena dia tetap harus bekerja meski setelah Lili pulang dan itu merupakan kabar bahagia yang seharusnya tak ia lewati, namun mau bagaimana lagi? Tanpa Yohan bekerja, keluarganya tak bisa makan dan hidup.


Sementara itu, Ily pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan saat Lili melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Tak ada Luhan di sekitarnya, sudah pasti adik laki-lakinya itu sedang tertidur.


"Lili mau ke kamar dulu." Lili menjawab dengan riang. Senyumnya tercipta dengan lebar. "Kangen."


Lili melangkah riang saat Ily mau menahan. Tanpa bisa mencegah, Ily melihat Lili yang kini membuka kamarnya dengan senang hati. Namun waktu Lili membuka kamar dan melihat bagaimana penampakannya kini, tubuhnya membeku dengan tatapan kosong.


Harusnya ini memang kamarnya. Ada tiga rak buku yang penuh, ada karpet lembut tempat biasa ia menulis, ada meja kecil yang fungsinya untuk Lili menulis juga.


Tak ada ... tak ada oksigen yang bisa membuat Lili hidup lagi.


Tubuh Lili luruh seketika. Dadanya sangat sesak. Napasnya terengah-engah dan berat. Lili menangis. Meski tanpa suara, air matanya turun begitu deras.


Melihat anaknya bersimpuh sedih begitu, Ily mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan air matanya. Sebenarnya Ily tak tega. Namun, ia telah sepakat dengan Yohan untuk pura-pura lupa bahwa Lili hobi membaca, Lili bercita-cita jadi penulis.


Yang ada hanya Lili. Yang sedang mencari cita-citanya.


Bukan Lili yang bercita-cita sebagai penulis dan suka membaca. Yang mencintai buku-buku sampai tak bisa tidur jika tak ditemani buku-bukunya.


Oleh karena itu, untuk membuat rencananya dengan Yohan berhasil, Ily segera mengambil tubuh lemah Lili untuk dipeluk. Untuk ditenangkan.

__ADS_1


"Ibu ...." Lili merengek lirik dengan mata penuh Aru mata. Melihatnya, Ily teringat bagaimana pertama kalinya Lili menyadari bahwa tangan kanannya terluka. Sakit sekali. Anak itu terus menangis. "Kenapa buku-buku Lili pada ilang? Meja buat Lili nulis juga nggak ada. Kenapa, Bu?"


"Buku apa yang kamu maksud?" tanya Ily pura-pura tak mengerti dengan teganya. Ily harus bisa. Kalau tidak, anaknya ini akan terluka lagi dengan lebih-lebih.


Sumber luka Lili harus ditutup dengan baik.


"Buku-buku Lili. Buku fiksi Lili. Buku novel. Novel-novel Lili. Yang dibeliin Ayah, Ibu, Kak Yaya, Om Elvan sama Lili sendiri." Lili menjelaskan dengan suara tersekat-sekat akibat Isak tangisnya. Lili menatap Ily dengan frustasi. "Ada tiga rak asalnya. Sekarang mereka hilang ... Ibu kemanain mereka?"


"Kepala kamu kayaknya jadi aneh semenjak kecelakaan." Ily memeluk Lili dengan erat. Membungkam mulut Lili secara tidak langsung. "Kayaknya ingatan kamu agak berantakan, ya."


Apa ... katanya? Ingatan Lili berantakan? Napas Lili langsung memburu karenanya. Dia tak terima dibilang begitu sementara seluruh ingatannya kini baik-baik saja. Dokter yang bilang begitu.


"Nggak, Bu!" seru Lili keras. Melepas pelukannya dari Ily dan menatapnya dengan sorot tajam. Penuh penekanan. "Aku suka buku dan aku lagi nulis novel tentang Theo! Ingatan aku masih bagus! Aku yakin itu!"


"Nggak, Li. Nggak." Ily menggeleng dengan air mata mulia membanjiri wajahnya. Ily mengusap kasar pipinya dan menatap Lili lurus-lurus. Meyakinkannya dengan sungguh-sungguh. "Kamu sama sekali nggak suka baca buku dan nggak sedang menulis novel."


"Ibu selalu ajarin Lili buat nggak berbohong dalam situasi apapun," kata Lili lirih. Agak kecewa dan sedih. Suaranya amat lemah dan serak. Lili menatap Ily dengan tatapan tak percaya. "Apa barusan Ibu membohongi Lili?"


"Semua buat kebaikan kamu, Li." Ily menukas tegas. "Relakan aja semuanya. Oke?"


Lili tercengang. "Nggak, Bu! Nggak bisa!"


"Lili nggak bisa hidup begini!" Lili berseru kayaknya orang yang kehilangan seluruh hartanya dan harapannya untuk hidup. "Buku-buku Lili ... Lili butuh itu. Mereka oksigen dalam hidup Lili. Tanpa mereka ...," Lili tiba-tiba bangkit dengan sorot mata yang berubah. Penuh tekad dan niat memberontak. Lili menatap Ily lurus-lurus, "lebih baik Lili mati."


Kemudian, Lili langsung berlari keluar rumah. Ily yang menyaksikan itu langsung membulat matanya dan berlari sekuat tenaga untuk mengejar Lili.


"LILI!" teriak Ily khawatir.

__ADS_1


Lili tetap tak mendengarkan dan dia sudah benar-benar keluar dari rumah. Dia berlari melewati halaman dengan kaki tanpa alas kakinya.


__ADS_2