
******, deh.
"Eh ... Sari." Luhan berusaha bersuara semanis dan seramah mungkin saat melihat Sari—ketua kelasnya. Bahkan dia tersenyum sampai kelihatan gigi-giginya sekaligus. "Apa kabs, Beb?"
Kening Sari mengerut. Alisnya menulis tajam. Matanya menyorot lurus-lurus pada Luhan dengan dingin. Dia melihat ada yang aneh dengan keluarnya Langit serta dua temannya yang lain beberapa saat yang lalu.
Dan rupanya hal ini terbukti benar karena dia menemukan Langit bersama Luhan yang masih memakai tasnya dan wajahnya masih tampak segar. Seperti baru saja mandi, karena baru saja bangun tidur.
"Telat, lo?" Tanya Sari akhirnya, dengan nada yang amat tak suka.
Luhan tertawa kecil. Terdengar meremehkan. Langit diam saja di sebelahnya, ia sepenuhnya menyerahkan situasi genting ini pada Luhan. Terserah lah pokoknya, Langit cuma pengen bakso.
"Menurut lo? Apa gue kelihatan lagi jualan sayuran?" Luhan jadi jengkel sendiri.
Sari melotot. Seolah memberi pedang ke arah Luhan dan kalau mulut Luhan mengeluarkan kata-kata bercanda lagi, maka dia akan menusuknya dengan pesan tak kasat mata itu.
Luhan jadi takut juga melihatnya. Dia membuang napas panjang. "Aduh, galak amat. Iya, Beb, iya. Gue telat. Kenapa emangnya?"
Sari menipiskan bibirnya. Kemudian tangannya terangkat, untuk menjewer telinga Luhan. Mendapatkan perlakuan itu, Luhan langsung kesakitan dan merendahkan diri untuk mengikuti tinggi Dari yang menjewer telinga kini.
"A-a-aw!" ringis Luhan. Tak dipungkiri, Sari benar-benar membuatnya kesakitan luar biasa. "Lepas! Lepas! Lepas, sekarang, AWWWWW!"
"Udah kelas dua, anggota OSIS, tapi masih aja telat. Enaknya diapain, nih?" tanya Sari dengan nada marah. "Pak Abdul ke mana, sih?"
Pos satpam kosong dan Sari heran ada sesuatu dibaliknya. Tak biasanya begini. Sari menatap Langit dengan penuh tuntutan, namun laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan menunjuk Luhan. Seolah memberitahu bahwa semuanya ini didalangi oleh Luhan.
Sari mengangguk tegas saat mendapatkan informasi itu.
"Sayang—" Luhan ingin menjelaskan dahulu, namun Sari langsung menarik telinganya tanpa ampun. "AW! SAKEEEEEET!"
"Gue bawa lo ke Pak Dani aja."
"EH, BENTAR, BENTAR!" Luhan menahan tangan Sari dengan sekuat tenaga. Membuat langkah Sari terhenti dengan terpaksa.
"Apa?!" balas Sari marah.
Luhan tersenyum manis dan bersuara dengan nada memelas. "Bisa nego-nego dulu, nggak?"
Sari membuang napas keras-keras. "Nggak ada!"
***
Nurmala Sari adalah sosok ketua kelas yang tegas dan disiplin. Luhan mengakui hal itu. Namun, dia tak suka dengan Sari karena berkat perempuan itu, Luhan beserta tiga temannya kini ada di ruang BK bersama Pak Somad untuk melakukan interogasi dan hukuman yang tepat untuk kelakuan mereka.
__ADS_1
Jadi, sebelum pergi, Sari menjelaskan bahwa Luhan ini telat dan Langit membukakan gerbang untuk Luhan, sementara Lingga dan Lethan—dua teman lain dari Luhan—mengajak Pak Abdul—satpam sekolah—untuk pergi karena dua anak nakal itu mengatakan bahwa mereka butuh bantuan Pak Abdul untuk membenarkan sesuatu yang nyatanya hanya sebuah pot yang pecah di depan kelas.
Dalam perjalanan pulang, Pak Abdul, Lingga dan Lethan bertemu dengan Langit, Luhan dan Sari. Sari langsung saja menyeret tiga orang yang ditemuinya itu ke ruang BK untuk memberi kesaksian.
Pada akhirnya, Langit, Lingga, Luhan dan Lethan berdiri berjajar di depan Pak Somad yang memasang wajah garang, menjadi terdakwa yang perlu dihukum. Namun, sebelum itu terjadi, Luhan serta tiga temannya itu tentu ingin menyuarakan alasan mereka untuk terhindar dari hukuman.
"Niat saya baik, Pak. Suer-an." Tentu saja Luhan menjadi yang pertama dalam urusan nge-les.
Pak Somad menatapnya dengan tajam. Dirinya hendak menjawab saat suara lain turut bersuara, menginterupsi niatnya.
"Saya menolong teman yang mau sekolah, Pak." Langit angkat suara. Wajahnya memelas dan sok polos. "Kasian, kan hari pertama sekolah."
"Saya ingin mengejar cita-cita di sini, Pak. Saya nggak bisa bolos lagi hari ini, Pak. Apalagi seperti kata Langit tadi, ini hari pertama sekolah." Luhan menambahkan dengan cepat.
"Jadi, selama ini kalian telah melakukan trik seperti itu?" tanya Pak Somad dengan mata melotot lebar-lebar. Guru BK yang telah mengabdi selama lima belas tahun itu berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya sebab tak percaya dengan anak-anak didiknya yang rupanya bertingkah senakal ini. "Sepertinya saya harus pasang CCTV di gerbang."
"Pak," mohon Luhan dengan amat memelas. Kedua tangannya disatukan secara dramatis, "maafkan saya sekali ini aja. Besok-besok saya akan berangkat pagi banget, deh."
"Kamu ini anggota OSIS juga, kan?" tanya Pak Somad kemudian.
"Eh ...." Luhan menipiskan bibirnya. Kalau Pak Somad bawa-bawa nama OSIS, pasti akan jadi masalah besar. Luhan jadi bimbang. Kemudian, dia menoleh pada Langit yang ada di sampingnya. Saat Langit menatapnya penuh arti disertai anggukkan kecil, Luhan membuang napas kecil akhirnya. "I-iya, Pak. Bener. Saya anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah."
"Kenapa bisa?" Pak Somad bertanya tak percaya.
"Kok bisa anak kayak kamu jadi anggota OSIS?!" tanya Pak Somad dengan murka. Tanpa aba-aba lagi, mantan atlet lompat jauh itu menendang kaki Luhan dengan keras..
"Aw! Aw! Aw! Pak, sakit!" jerit Luhan amat kesakitan dia menyentuh kakinya yang sakit dan saat itu Pak Somad melihat lingkar pinggang celananya yang polos.
Sontak, mata Pak Somad melotot lagi. "Eh, eh?" Pak Somad mencengkram bahu Luhan untuk berdiri lagi dengan paksa dan memeriksa lingkar pinggangnya dengan cepat. Wajahnya mengeras lebih-lebih saat mendapati sesuatu. "Kamu nggak pake sabuk?"
Luhan baru tersadar. Dia hanya bisa nyengir tak bersalah sambil meringis karena kakinya masih berdenyut-denyut sakit. "Maaf, Pak. Hehehe."
"Apa?" Alis Pak Somad menukik tajam. "Hehehe?" Pak Diman mendekatkan wajahnya pada Luhan. "Kamu pikir saja lagi bercanda? Hah?"
Tangan Pak Somad tidak bisa diam saja saat menghadapi anak nakal yang tak taat aturan seperti Luhan. Dengan kekuatan penuh, tangannya mencubit besar pinggang Luhan dan memutarnya hingga menciptakan sensasi sakit dan perih yang fantastis bagi Luhan.
"Aw! Aw!" Pinggang Luhan menggeliat ke sana ke mari. Matanya memejam karena kesakitan. "Pak, ini namanya penyiksaan. Saya bisa laporkan, lho."
"Pintar banget kamu ngomongnya." Pak Somad bilang begitu, namun tetap melepas cubitannya dari pinggang Luhan. "Kalau kamu mau lapor saya, maka saya akan lapor orang tua kamu atas kelakuan kamu selama ini. Udah berapa kali kamu telat dan berhasil masuk begini?"
Luhan takut kalau orang tuanya turut terseret ke masalahnya di sekolah. Luhan sudah cukup mengerti dengan kesibukan orang tuanya dalam membuatnya bahagia. Luhan tak mau mengecewakan mereka.
Karena itu, Luhan menoleh lagi pada Langit. Seperti sebelumnya, ia minta saran dengan berbisik, "Jujur jangan?"
__ADS_1
"Ya, jujurlah!" Yang sebenarnya masih bisa terdengar oleh Pak Somad. Diam-diam, Lethan dan Lingga mencibir betapa bodohnya Luhan kini. Sementara Langit yang berada di sebelah Luhan secara langsung harus tahan dengan intimidasi dari Pak Somad. "Kamu bercandain saya?"
"Maaf, Pak." Luhan tersentak kaget dan langsung meminta maaf. Kemudian, dia menatap Pak Somad dengan hati-hati. "Kalau boleh saya bilang nih. Hidup ... kalau terlalu serius itu bisa serangan jantung. Jadi harus ada gelombang-gelombangnya biar nggak kaget kalau ada sesuatu yang datang tiba-tiba. Intinya, harus ada bercanda—"
"Luhan, bege." Langit berbisik tajam di telinga Luhan saat melihat wajah Pak Somad yang sudah mau meledak seperti bom yang bisa menghancurkan dua kota sekaligus.
"Oke, Pak." Luhan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Luhan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan. Dia bersiap untuk berkata jujur. "Saya melakukan penipuan pada Pak Abdul baru satu kali, Pak."
*Mengumpat pada Luhan dalam bahasa kasar* —Lingga.
*Mengumpat pada Luhan dalam bahasa binatang* —Langit.
"Mengumpat pada Luhan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar* —Lethan.
"Jujur!" seru Pak Somad, kelihatannya sudah tak bisa menahan emosi lagi saat bicara dengan Luhan.
"Itu udah jujur, Pak." Luhan menjawab dengan berani. "1% sih."
Pak Somad lagi-lagi membuat kedua bila matanya melotot. "Jadi, kamu udah begini seratus kali?"
"Ya, mana saya itung-itung, Pak." Luhan mengalihkan pandangannya dengan wajah tanpa dosa. "Uang juga bukan."
"Anjuir lo." Langit menyikut tulang rusuk Luhan dengan emosi.
Luhan masih memasang wajah tanpa dosanya dengan santai meski ketiga temannya sudah mengirim sinyal yang kira-kira berbunyi, "udah lah, bege, jangan debat lagi. Pegel nih kaki!'.
"Bapak capek. Aslian." Pak Somad membuang napasnya dengan lelah.
"Istirahat makanya, Pak." Masih saja Luhan menyahuti perkataan Pak Somad. Tanpa permisi, Luhan mulai berbalik keluar ruangan setelah bicara, "Kita ke kelas aja, ya. Dadah—"
"Lutung!" tahan Lama Somad dengan cepat.
Langit, Lingga dan Lethan kompak menahan tawa mereka agar tak meledak. Bukan satu kali dua kali Luhan mendapatkan panggilan Lutung. Hal itu dikarenakan saat kelas sepuluh, ada Kakak OSIS yang meledek Luhan dengan Lutung karena kulitnya yang putih dan mulus.
Kakak OSIS itu ingin kulit Luhan setidaknya agak cokelat dan berbulu seperti laki-laki kebanyakan. Karena kan, nama itu doa. Jadi, moga-moga aja Luhan mirip-mirip sama Lutung.
Berkat itu, Luhan benci Kakak OSIS itu hingga dirinya masuk juga ke OSIS untuk belas dendam. Sayangnya, Kakak OSIS itu sudah pindah sejak semester dua Luhan sekolah di sini.
Luhan benar-benar benci disebut Lutung sebab dia benar-benar jauh-jauh lebih-lebih tampan dari Lutung.
"Eh?" Karena itu, Luhan menatap Pak Somad dengan amarah tertahan kali ini. "Bapak manggil saya apa?"
"Luhan! Luhan! Luhan, maksud saya!" seru Pak Somad mengoreksi. Dia selalu ingat Lutung soalnya kalau melihat atau mendengar nama Luhan. "Sekarang kamu minta maaf sama Pak Abdul. Kalian juga! Terus bilang ke Pak Abdul bahwa kalian akan lakukan apapun suruhannya selama satu minggu ini!"
__ADS_1
***