
Sebulan Ily belajar dan membantu Bu Rima, hasilnya lumayan membuatnya bangga.
Jika awalnya Ily tak bisa menggambar, kini ia bisa membuat desain sederhana yang tak jelek-jelek amat. Jika awalnya Ily tak bisa membuat pola dan menghitung ukurannya agar bisa sesuai dengan kenyataan, kini ia bisa memperhitungkan ukuran polanya dalam kertas dengan baik meski butuh banyak waktu dan kesalahan untuk dikatakan suatu keberhasilan.
Bu Rima bilang proses belajar Ily normal-normal saja sebab Ily tak belajar satu bulan penuh; tiga puluh hari. Ily hanya datang ke butik Bu Rima tiga hari seminggu karena Ily harus mempersiapkan diri untuk ujian masuk tahun depan.
Ily tak mau mengambil resiko akan gagal lagi dengan malas-malasan melatih diri.
Sore ini Ily selesai urusannya dengan Bu Rima. Dia hendak pamit pulang saat Bu Rima menahan lengannya untuk setelahnya menelepon anaknya.
Iya, Raihan.
Ily tersenyum segaris, merasa jantungnya berdetak kencang dengan nyaman. Entahlah, Ily merasa jika kegugupan ini sangat menyenangkan untuk dirasa. Sudah lama rasanya sejak ia tak bertemu Raihan. Laki-laki itu sibuk kuliah sebagai mahasiswa baru dan Ily segan untuk menganggunya.
Lagipula, Raihan kan sudah punya pacar.
Berbeda lagi dengan Eza. Teman laki-laki itu lebih sibuk mengobrol dengan Ily lewat video call. Mulai dari pengalaman hujan deras di kafe tempat dia memainkan gitar, sampai pertemuannya dengan bule yang belum pernah Ily lihat sampai sekarang. Ily pernah menganggap bahwa Eza hanya bercanda atau mengkhayal, sampai Eza mengirimkan screenshot sebuah chat antara dirinya dan Ayla, nama perempuan bule yang sering diceritakan itu.
Ily ingin bukti lebih jelas seperti foto, namun Eza mengatakan itu rasanya tidak sopan jika harus meminta begitu saja pada Ayla. Sementara itu, Ayla tak lagi terlihat di mana-mana meski Eza sudah bertanya.
Setiap pertanyaan mengenai sekolah atau umur, Ayla selalu membelokkan pembicaraan dan seolah ingin membatasi diri supaya dirinya dan Eza hanya sebatas teman.
Iya, h a n y a t e m a n.
Sakit. Ily saja sangat prihatin pada Eza.
Ketika Ily mengatakan kepada Eza untuk menyerah saja, Eza justru menjawab dengan tegas bahwa Ayla adalah perempuan yang akan dia perjuangan bahkan sebelum mereka kenal dekat dan tahu satu sama lain. Pokoknya, Eza berkata seperti itu seperti hendak menikah dan hidup bersama Ayla di masa depan sampai akhir usia mereka.
Ily hanya tertawa, menghargai keputusan Eza tanpa menghina yang ujungnya hanya akan membuat Eza terluka.
"Kamu jangan dulu pulang, ya, Ly." Bu Rima berkata begitu setelah sesaat menelepon Raihan untuk menyuruhnya ke sini.
"Kenapa, bu? Ada tugas lain?" tanya Ily, menyuarakan bingungnya.
"Nggak," balas Bu Rima seraya menggeleng kecil. "Tunggu aja Raihan. Nanti kamu biar dianterin dia."
"Eh? Ibu kok sampai repot-repot gitu? Kan ada ojol, banyak kendaraan umum juga di sana," heran Ily merasa tak enak sekaligus ingin menolak. "Lagian Raihan juga kan kayaknya capek udah kuliah. Bukan hanya badannya, otaknya juga pasti lelah. Ily nggak mau ngerepotin."
"Hari ini hari apa?" Bu Rima justru membahas hal lain.
Meski dengan kening mengerut bingung, Ily tetap menjawab dengan benar. "Hari Selasa."
"Nah, kalau hari Selasa, Raihan jadwal kuliahnya cuma sampai jam dua siang."
Ily langsung melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya. "Sekarang udah jam lima. Kayaknya Raihan lagi istirahat, bu."
"Idih, sok tau."
"Hehehe."
"Raihan lagi ada di kedai bakso, kok. Bentar lagi dia ke sini. Dari suara santainya, kayaknya dia punya waktu luang."
Ily tersenyum segaris. "Mendingan Raihan anterin ibu aja ke rumah. Ily naik ojol aja."
"Heh, nggak."
"Ily nggak enak, bu."
"Nggak enak apa?"
"Kan di sini Ily cuma bantu-bantu, bahkan belajar banyak. Aturannya Ily Yang ngasih, bukan ibu."
"Ye, perhitungan banget jadi cewek. Nggak, ah. Udah. Kamu nurut aja sama ibu."
"Kasian Raihannya pasti capek, bu."
"Anak cowok adanya buat dijadiin babu, hehehe." Bu Rima berjalan ke depan untuk keluar dari butiknya saat melihat motor Raihan melaju dan mulai mendekati butiknya. Ily mengikutinya dari belakang dengan segera. "Abis anterin kamu, baru Raihan anterin ibu."
Ily semakin kasihan dengan Raihan.
Namun, Ily tak punya alasan lain lagi untuk menolak karena Raihan sudah berada di depannya. Laki-laki itu memakai kemeja merah dengan jins hitam yang membuat kulitnya tampak lebih terang, rambutnya agak acak-acakan habis memakai helm dan ada tas kecil hitam di depan dirinya yang duduk di motor.
Wajah Raihan kelihatan tak selelah atau sekusut yang Ily duga. Sebab dari spekulasi dirinya yang setiap hari melihat instastory Raihan yang berisi tumpukan buku dengan caption 'nugas lagi' disertai emoticon mengantuk yang jelas saja mewakili bagaimana lelahnya Raihan saat melewati hari kuliahnya.
Melihatnya sore ini, Ily berubah pikiran. Raihan lebih segar dan ada senyum saat melihatnya, yang jelas saja berdampak lagi pada jantung untuk menambah ritme detaknya begitu signifikan.
"Ly."
"Oy, Han."
Keduanya menyapa singkat.
"Han, ini anterin Ily, ya." Bu Rima langsung memberi perintah dengan nada enteng. "Nanti balik lagi buat anterin ibu. Mau, ya?"
Raihan terdiam sebentar, berpikir.
__ADS_1
"Nanti ibu tambahin uang jajannya."
Senyum Raihan berkembang lebih lebar dari seharusnya. "Yaudah, ayo, Ly. Naik."
Bu Rima mendengus. Menepuk kecil lengan Raihan yang segera terkekeh membalasnya.
"Eh?" Ily jadi kebingungan. Secepat itu kah Raihan memutuskan jika ada embel-embel 'nanti ibu tambahin uang jajannya'?
"Siapa juga yang nggak mau uang," balas Raihan seolah mengerti arti pandangan ibunya dan Ily. "Nggak ada."
Ily tersenyum tipis. "Bener juga, sih."
"Yaudah, sip," kata Raihan enteng. Segera, tangannya menarik tangan Ily untuk naik ke motornya. Ily sempat terkejut, namun pada akhirnya duduk di belakang Raihan di atas motor yang sama.
"Hati-hati," pesan Ibu Rima seperti biasanya.
"Iya, bu."
"Iya, bu."
Raihan tersenyum seulas, menoleh ke belakang untuk memastikan Ily sudah siap. "Udah?"
"Gas, masbro!"
***
Intinya, perjalanan ke rumah Ily berjalan lancar.
Namun, sesuatu membuat keduanya terjebak di gerbang rumah Ily.
Sebab satu pertanyaan Raihan.
"Nggak mau ngobrol dulu, gitu?"
Ily tertawa kecil. "Boleh. Tapi, ngobrol apa, ya?"
"Ngobrol aja, gitu." Raihan ikut tertawa kecil.
Sinar senja yang lembut, entah mengapa membuat Ily tampak sangat cantik dengan baju kuning labu dan rok tutu favoritnya yang berwarna cokelat kayu. Rambutnya dikepang satu dan ada jepit bunga di sisi kanannya. Lucu, cantik dan menawan. Itu kata yang cocok mendeskripsikan Ily sekarang di mata Raihan.
"Mau nanya apa, gitu?"
Ily langsung berpikir, tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat berbicara dengan Raihan untuk mengobati satu bulan tanpanya. "Lo apa kabar?"
"Baik, sih," balas Raihan seraya meringis tak habis pikir. Kenapa dari banyak pertanyaan, Ily justru menanyakan kabarnya yang sudah pasti terlihat jelas jika melihatnya kini? "Lo sendiri gimana? Nyaman sama ibu gue selama ini?"
"Woah. Keren."
"Thanks."
Kemudian, rasa semangat saat bercakap itu hilang begitu saja. Topik pembicaraan seolah hilang begitu saja, hingga perlu cukup lama untuk pembicaraan kembali berjalan.
"Lo sendiri gimana kuliahnya? Kayaknya capek banget. Tiap kali gue liat story lo, nggak jauh dari tumpukan buku sama kertas-kertas tugas." Ily menyuarakan rasa penasarannya.
Raihan tersenyum kuda. "Ya, lumayan capeklah, Ly. Tiap hari kayaknya gue bikin essay buat mentransformasikan pikiran gue jadi tulisan. Belum lagi tugas kelompok yang pastinya pusing karena kita bersatu sama orang-orang dengan bermacam-macam pikiran serta karakter."
"Bagus, dong, Han." Ily menyikapi dengan berbeda. "Itu pengalaman baru. Jangan dibuat jadi derita. Bayangkan aja itu langkah untuk sambut dunia baru. Gue yakin, bentar lagi juga lo bakal menikmati semua itu."
Mendengar penuturan tulus dari Ily, membuat Raihan merasa tak enak dan tampak tak bersyukur karena hampir setiap hari ia mengela napas karena bosan dengan rutinitas kampusnya.
"Oke, Ly. Kita lihat aja ke depannya."
"Bagus, deh."
"Em... terus...?" Raihan menunggu pertanyaan baru dari Ily.
Ily cemberut. "Giliran lo dong yang tanya."
Mata Raihan bergerak ke atas, berpikir. Tangannya terangkat untuk mengusap dagu, semakin menjelaskan bahwa Raihan kini sedang berpikir keras. Ily melihatnya dengan tawa tertahan, namun tetap menunggu tanpa menunjukkan bahwa dia sedang menertawakan gaya Raihan kini.
Angin lembut yang tiba-tiba berubah jadi agak ribut menerbangkan debu-debu halus hingga membuat nata Raihan kelilipan. Mata itu langsung mengerjap-ngerjap dan tampak berair.
Raihan meringis panik, mengibaskan tangan satunya ke mata sambil menarik-narik tangan Ily dengan tangan yang lainnya.
"Ly, Ly, Ly, tiupin dong, wuanjir ini kayaknya ada batu yang masuk, ah," keluh Raihan seraya meminta bantuan Ily. Anak laki-laki yang sudah memiliki KTP itu merendahkan tubuhnya agar kepalanya sejajar dengan kepala Ily. Jarak sedekat ini jelas membuat telinga Ily memanas, jantungnya berdebar lebih kencang dan rasanya gugup sekali. "Tiupin mata gue, dong. Ly, tiupin, Ly, ayo!"
Mata dengan bulu lentik itu berada tepat di hadapan Ily. Dipaksa untuk terus membuka oleh salah satu tangan Raihan agar ditiup Ily dan debu nakal yang masuk itu bisa pergi.
Ily mendekat, kemudian meniup pelan-pelan.
Raihan mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian. Ily hanya menunggu hasilnya, kemudian terkejut saat Raihan berdecak dan menarik-narik tangannya lagi.
"Ly, agak deketan dong, yang kenceng tiupnya juga! Ini gue nggak nyaman," pinta Raihan menuntut. "Tadi lo tiupnya nggak keras. Ini masih adaan batu kecilnya."
Ily tak pernah menyangka jika ada hari di mana dirinya meniup mata seorang laki-laki sedekat ini. Bahkan Elvan dan Eza belum pernah sedekat ini dengannya.
__ADS_1
Sekuat tenaga, Ily meniup mata Raihan yang sibuk lebar hingga Raihan merasa matanya agak perih. Segera, Raihan menarik diri dan memejamkan matanya agak lama.
Sesat kemudian, senyumnya tertarik di wajah tampan itu.
"Agak perih, sih, tapi batunya udah hilang," katanya memberitahu. "Makasih, ya, Ly."
Ily tersenyum. "Iya, sama-sama."
Mata Raihan kembali terbuka. Kini, sudah tak mengerjap-ngerjap dan berair seperti sebelumnya. "Oke, gue mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Lo ada rasa nggak sama gue?"
Kening Ily mengerut, matanya membulat dan kakinya seperti hilang kekuatan hingga rasanya ingin sekali jatuh sekarang untuk menghindari pertanyaan itu.
Kenapa dari sekian pertanyaan mudah dan logis, Raihan justru menanyakan itu?
"Kalau nggak ada ya nggak apa-apa," tambah Raihan cepat, ingin membuat Ily tak merasa terbebani atau bingung untuk menjawab. "Kalau ada juga ya nggak apa-apa. Bukan masalah sih sebenarnya, cuma di sini gue yang masalah."
"Masalahnya apa?"
"Masalahnya ada di gue."
Kening semakin mengerut. "Apa masalahnya?"
"Gue ngebet banget pengen milikin lo sekarang," balas Raihan dengan tawa ringan, seolah ucapannya hanya seringan bulu kapas dampaknya pada Ily.
Padahal, tanpa Raihan tahu, badai tornado sedang menyerah perut Ily sekarang.
"Maksudnya?"
Raihan berdecak tak suka. "Ah, lo suka pura-pura nggak ngerti gitu."
"Idih, gue aslian nggak ngerti."
"Aslian nggak ngerti," balas Raihan pahit, sebelum meneruskan perkataannya yang hanya sepotong, ia berdeham dulu. "...atau menolak untuk mengerti karena memang nggak ada niatan untuk mengerti?"
Mulut Ily terbuka, inginnya menjelaskan. Namun, kata-kata yang ada di kepalanya seolah raib sehingga sulit untuk menemukannya. Ily akhirnya mengantupkan mulutnya, batal untuk bersuara.
"Yaudah lah, jangan terlalu dipaksain juga. Yang penting sekarang lo tau perasaan gue gimana ke lo." Raihan tertawa lagi, kemudian mengeluarkan sebatang cokelat dari sakunya. "Harusnya lo tau dari kecil, sih, semenjak gue selalu ketawa sama lo, muji-muji lo meski pake kata-kata yang sama sekali nggak mendeskripsikan suatu pujian, sampai selalu lihat lo di manapun lo berada."
Ily tak menjawab, justru mematung karena terlalu terkejut.
Raihan tersenyum segaris, kemudian mengambil tangan Ily untuk setelahnya ia letakkan sebatang cokelat itu ke telapak tangan Ily. Raihan memaksa untuk telapak tangan itu bisa mengepal, memegang batang cokelatnya kuat-kuat.
"Iya, cinta monyet lo nggak bertepuk sebelah tangan," balas Raihan dengan suara yang lebih serak sebelumnya, atau lebih rendah dari sebelumnya. "Maaf baru balas sekarang."
Ily tak kuasa menahan air matanya. Rasanya, haru begitu kuat menguasai dirinya kini. Ia menarik tangannya yang digenggam Raihan, sekaligus cokelat yang ada di genggamannya.
Ily tak dapat menjawab, justru membekap mulutnya dengan tangan yang tak menggenggam cokelat batang dari Raihan.
Melihatnya sesenang itu, Raihan tak kuasa menahan tawa. Satu tawa geli meluncur dari mulut Raihan dan membuat Ily semakin menunduk malu.
"Itu cokelatnya dari orang, maaf deh, besok-besok gue kasih yang pure hasil beli sendiri."
Ily langsung mendongak untuk setelahnya melotot pada Raihan. "Apa?!" Entah mengapa rasanya Ily ingin marah. "Kok lo--"
Makian Ily yang harusnya tersampaikan dengan amarah meledak-ledak, harus terinterupsi oleh suara dering ponsel Raihan. Raihan jelas merasa lega, ia segera menerima panggilannya.
Itu dari ibunya, Bu Rima tersayang.
Bu Rima menelepon Raihan untuk marah-marah karena anaknya itu lama sekali kembali. Raihan segera meringis meminta maaf dan mengatakan bahwa dirinya akan segera ke tempat ibunya.
"Ly, gue pamit, ya," kata Raihan cepat-cepat, sebelum akhirnya melaju dengan motornya dengan buru-buru sebelum Ily sempat membalas.
Jadilah, Ily hanya melambaikan tangan pada jalanan kosong bekas dilalui Raihan dengan motornya. "Hati-hati, Han."
Sementara itu, sesampainya di butik, wajah ketus dan marah Bu Rima segera menyapa Raihan yang hanya bisa terkekeh tanpa wajah bersalah.
"Ngapain aja, sih, hah?" tanya Bu Rima agak kesal. Dirinya sudah tiga puluh menit menunggu dan jika ia tak menelepon Raihan, bisa jadi jam tunggunya sampai satu jam.
Raihan meringis, kemudian tertawa hambar seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ngobrol dikit, sih."
"Ngobrol dikit kok sampai setengah jam?!"
"Yaudah, ngobrol banyak, deh."
"Hadeh. Kalau mau ngobrol, mending waktu libur aja. Biar puas."
"Kalau waktu libur, Shasi suka pengen jalan."
"Putusin kalau gitu." Bu Rima menatap Raihan tanpa rasa bercanda.
"Boleh, emang?" Raihan justru meminta ijin, juga saran.
__ADS_1
"Nggak mau, emang?"
***