Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 Last Part


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu.


Waktu demi waktu Ily habiskan dengan bekerja, merancang baju dan keluar untuk bersenang-senang dengan Yohan. Dalam waktu itu, perlahan-lahan, secara berangsur-angsur, Yohan menceritakan semuanya dari awal.


Mengenai kehidupannya sejak kecil dengan ayahnya, kemudian perubahan sikap ayahnya, konfliknya dengan ayah Juna, lalu berakhir pada kenyataannya terakhir yang bukan hanya pahit, juga sebagai penutup yang manis bagi hubungan Yohan dan ayahnya.


Ily juga bercerita tentang Elvan, Eza, sampai Raihan. Laki-laki yang sudah menemaninya selama lima tahun itu akan menikah satu minggu lagi. Yohan awalnya marah karena bisa-bisanya laki-laki itu sudah akan menikah setelah tak lama melamar Ily. Namun, marahnya teredam saat kenyataannya Ily menolak lamarannya karena dirinya sendiri.


Yohan semakin menaruh hatinya pada Ily, begitupula sebaliknya.


Hingga tibalah di mana Yohan dipertemukan dengan Raihan di pernikahannya. Ily mengajak Yohan ikut serta datang dan itu tak apa-apa kata Raihan.


Ketika saatnya tiba, semua orang mengalami pasangan pengantin baru, Ily dan Yohan datang bersamaan. Ily tak pernah menyangka bahwa istri sah Raihan kini adalah Shasi. Ily tak tahu bagaimana kisahnya mereka bisa kembali bersama namun ia turut senang karenanya. Ini berarti sudah menjadi takdir mereka.


Sementara itu, Raihan dibuat tak menyangka lagi bahwa wajah Yohan akan benar-benar seperti Lee Joehee alias Korea banget.


Raihan kira Ily bercanda soal dirinya yang punya teman dekat dari Korea atau ya, minimal cuma mirip orang Korea aja, tapi nyatanya teman dekat Ily itu Korea tulen.


"Selamat, ya, box pizza-nya udah gue kasihin ke penjaga di depan," kata Ily agak jutek karena Raihan menyebalkan bahkan di saat-saat hari bahagia. Ily menyalaminya singkat, kemudian tersenyum lebar pada Shasi. "Cantik banget, Si!"


Shasi tersenyum malu-malu, tampak tak seperti dirinya yang biasanya, yang bodo amat dan percaya diri. "Makasih, Ly."


Jika tak ada dirinya, maka Ily yakin Shasi tak akan terluka. Ily tau, Shasi paham, namun keduanya tak membicarakan hal itu. Tentunya, dengan adanya pernikahan ini, semua masalah dan kekeliruan telah diselesaikan dengan baik.


Hanya tinggal bahagia saja.


Untuk itu, Ily memberi cokelat pada Shasi. Semoga dengan begitu, Shasi selalu bahagia dan tersenyum manis seperti cokelat itu.


"Makasih, Ly," kata Shasi sekali lagi.


Ily mengangguk seraya tersenyum, kemudian hendak menarik tangan Yohan untuk kembali ke tempat duduk semula saat laki-laki itu terlibat perang tatapan dengan Raihan. Ily dan Shasi kompak membuang napas jengah melihatnya. Beruntung orang-orang sudah selesai memberi salaman dan ucapan selamat sehingga Ily dan Yohan menjadi yang terakhir dan paling lama.


"Oh, lo yang namanya Yohan," kata Raihan dengan senyum miring. Jika dibandingkan dengannya, Raihan merasa wajahnya lebih unggul dari wajah Yohan. Raihan melihat Yohan dengan teliti dari atas sampai bawah, kemudian kembali lagi ke mata dengan tatapan 'apasih yang Ily liat dari cowok Korea ini?'.


"Oh, ini yang namanya Raihan?" Yohan balas berkata dengan nada serupa. Senyumnya terukas untuk meremehkan Raihan. "Makasih udah jagain Ily selama gue nggak ada."


Raihan salut akan sopan santun dan tata krama yang Yohan punya. Bagaimana caranya memperlakukan Ily dan sikap lembutnya. Jadi, ia hanya mengangguk dan paham mengapa Ily sampai melepaskannya hanya untuk bersama Yohan. "Oke. Sama-sama."


"Gue udah kasih satu box cokelat kayak yang Ily kasih," tambah Yohan santai.


"Oke, makasih."


"Oke, sama-sama."


Ily tertawa, kemudian menarik tangan Yohan untuk dibawa kembali ke tempat duduknya. "Udah, ah, Yohan ayo! Happy wedding sekali lagi, ya!"


Shasi tersenyum seraya mengangguk atas seruan Ily. Namun, Raihan tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya saat melihat tangan kiri Ily sudah terpasang cincin di jari manisnya yang serupa dengan milik Yohan ketika Raihan melihatnya pada detik berikutnya mereka pergi.


Bukan hanya itu yang mengejutkan sebenarnya. Ada satu hal lain yang mengejutkan.


Juna turut datang ke pernikahan Raihan.


Kenyataan itu jelas sangat mengejutkan karena selain Raihan yang tak mengundang kedatangannya, Raihan sama sekali tak mengenal Juna. Pernah bertemu saja tidak. Namun, buat apa melarang kedatangannya jika sudah terlanjur.


Tak apa, semua orang berhak bahagia pula di hari bahagianya.

__ADS_1


Elvan yang mengajak Juna karena merasa laki-laki itu sudah banyak membantunya dan salah satu menjadi teman yang berarti bagi Elvan. Juna sebenarnya tak begitu tertarik, namun tetap saja datang karena penasaran.


Dan siapa sangka dia bertemu Tiffany karena yang Ily mengajaknya. Mereka menyapa secara canggung dan Elvan senantiasa meledek Juna karenanya.


"Malu-malu gitu, jadi jijik gue," kata Elvan sebagai realisasi dari ejekannya.


Tiffany sekarang sedang berbincang seru dengan Ily dan Juna hanya bisa melihatnya dari jauh. Juna tak mau menggangu Tiffany dengan perasaan sekarang.


"Udah ada yang punya belum, sih, dia?" Juna bertanya begitu pada Elvan dengan suara kecil.


Elvan berdecak meremehkan. "Kalau berani dan janur kuning belum melengkung, nggak perlu tanya-tanya begituan. Langsung sikat aja, Jun."


"Ngomong doang sih gampang," balas Juna tak suka. Ia mengambil minum dan meneguknya sekaligus untuk meredakan kerongkongannya yang super kering karena gugup.


"Cinta butuh pengorbanan, cuy," kata Elvan sok bijak. "Nggak ada pengakuan yang mudah, nggak ada juga perjuangan yang mudah. Sekalipun mudah, mungkin lo pake cheat."


Juna tertawa. Meremehkan perkataan Elvan yang seperti omong kosong, namun kenyataannya ia memikirkan perkataan itu dalam-dalam di hatinya.


Mungkin. Mungkin, Juna akan menghampiri Tiffany lagi untuk terakhir kalinya setelah acara selesai. Setelah tak ada siapa-siapa.


Juna jelas butuh suasana yang serius dan sepi untuk menyuarakan perasaannya.


"Semangat, deh!" seru Elvan seolah tahu pikiran Juna saat bagaimana tatapan laki-laki itu lurus-lurus pada Tiffany. Elvan tersenyum penuh arti saat Juna pura-pura tak mengerti dengan menaikkan kedua alisnya.


Tak sampai di sana, setelah pengantin wanita yang mengejutkan, kedatangan Juna yang tak terduga, Eza pun tak kalah andil untuk membuat keterkejutan nyata.


Demi apa, Eza datang dengan menggandeng seorang perempuan cantik berdarah campuran. Maksudnya, wajahnya itu super duper bule. Elvan dibuat ternganga karenanya.


"Jangan bilang ini yang namanya--"


"Iya, ini Ayla," potong Eza dengan wajah angkuh. Sangat merasa puas ketika dapat membungkam mulut Ily dan Elvan yang awalnya meremehkan bahwa dirinya punya seseorang yang dicintai mati bernama Ayla. Kemudian, Eza beralih mengenalkan Ayla pada yang ada di sana. "Pacar gue. Calon ibu dari anak-anak gue."


Ily mengerjap tak percaya. Kemudian memalingkan wajahnya dengan perasaan malu tak karuan. Ia kira Eza benar-benar berbohong soal Ayla. Elvan pun sama dengannya.


"Jangan malu-malu!" tekan Eza supaya Ayla percaya diri menegakkan kepalanya. "Aturannya di sini mereka yang harusnya malu! Mereka pernah anggap kamu pacar virtual aku!"


"Pacar boongan?" Ayla balas bertanya dengan mata mengedip cepat. Menatap teman-teman Eza yang belum ia lihat sebelumnya. "Mereka?"


Eza mengangguk. "Iya!"


"Maaf, ya, gara-gara aku nggak mau difoto ya jadi kamu nggak bisa buktiin bahwa aku ini ada?" Ayla cemberut sedih.


Wajahnya itu membuat Ily turut merasa bersalah. "Maafin gue, Za." Ily mengatakannya tiba-tiba dengan datar.


"Maafin gue, Za." Elvan turut bersuara.


Sekarang Yohan paham situasinya. Begitupula dengan Juna dan Tiffany yang sejak tadi hanya memerhatikan dengan wajah bingung. Tiga teman itu memang tak ada hari tanpa membuat masalah.


Eza melipat tangannya dengan wajah kesal. "Hm, iya," balasnya jutek.


"Sekarang acara pelemparan bunga oleh pengantin wanita untuk ditangkap oleh siapapun yang akan mendapatkan keberuntungan untuk menikah pada waktu berikutnya, secepatnya!" Suara dari pembawa acara yang menggelegar di gedung pernikahan ini membuat perhatian seluruh tamu undangan tersita.


Kemudian, dengan secepat kilat semua anak muda yang belum menikah berbondong-bondong, berbaris di depan Shasi yang membelakangi mereka dengan satu bucket bunga di tangannya yang siap dilempar.


Yohan berdiri di sebelah Ily dengan senyum penuh. "Doakan aku supaya dapet, ya."

__ADS_1


"Iya," balas Ily dengan senyum malu-malu. Jika Yohan menangkapnya, orang-orang akan tahu bahwa Yohan sudah memasang cincin di jari manisnya karena baik Yohan ataupun Ily, keduanya masih merahasiakan cincin pasangan yang melingkar di jari manis masing-masing.


Sementara itu, dalam hati terdalam Juna, laki-laki itu berharap dirinya mendapatkan bucket bunga itu setelah dipaksa Elvan untuk ikut dengan wajah pura-pura tak berminat.


Semua menanti dengan semangat.


"Kamu mau aku dapetin, nggak?" Eza bertanya pada Ayla dengan senyum bahagia.


Ayla menggeleng pelan, membuat Eza memandangnya dengan kecewa dan sedih. "Aku nggak percaya begituan. Tapi, kalau kamu mau, aku oke."


Eza tertawa geli, mengacak rambut Ayla sekilas untuk setelahnya bersiap-siap dengan semangat. Di sebelahnya, Elvan yang mendengarnya hanya mampu mendengus iri dan berharap dirinya yang dapat.


Soal perempuan mana yang menjadi jodohnya, ia tak peduli. Asalkan Elvan dapat bucket bunganya, sudah dipastikan ia akan segera menyusul Raihan.


"Tiga ... dua ... satu!"


Shasi menghitung dan pada hitungan terakhir, ia melempar bucket bunga itu tinggi-tinggi. Ily dan Yohan yang berada paling depan melewati kesempatan untuk dapat karena ikatan bunga itu telah melewati mereka--Ily cemberut dan Yohan segera mengusap-usap kepalanya untuk berkata bahwa tak apa-apa mereka tak mendapatkannya, hal serupa terjadi pada Eza dan Ayla yang tampak biasa-biasa saja, ikatan bunga yang dibungkus plastik tipis itu mulai bergerak ke bawah.


Tangan-tangan di bawahnya berlomba untuk menggapainya, sampai ada dua tangan yang pas sekali menangkap bucket bunga itu.


Dua tangan milik siapa itu?


"Ya! Elvan dan Juna bisa melakukan rencana resepsi mulai detik ini! HAHAHAHAHAHA!" Raihan yang langsung mengambil alih microphone milik pembawa acara pernikahannya itu tertawa puas kala melihat Elvan dan Juna sama-sama memegang bunga yang dilemparkan Shasi sebelumnya.


Di sana, di antara bunga yang dipegang keduanya, Elvan dan Juna sama-sama memasang wajah jijik untuk setelahnya membuat bunga itu.


"Najis gue nikah sama lo!"


"Heh, gue juga mana sudi, ya!"


Riuh tawa dari seluruh pendengar menyambut perdebatan Elvan dan Juna di hari berbahagia ini.


Ily menjatuhkan kepalanya di dada Yohan dengan tangan Yohan merangkul pinggangnya, keduanya mengulas senyum terhibur melihat Elvan dan Juna. Eza dan Ayla saling menggenggam tangan dengan tawa masih mengudara. Shasi tertawa seraya melihat ke arah Raihan yang juga tertawa puas melihat dua badut yang sedang beradu amarah dan jadi pusat perhatian.


Tiffany tak mau ketinggalan, dia juga tertawa untuk setelahnya mengambil bucket yang dijatuhkan dan semakin membuat suasana heboh lagi saat Juna mulai merebutnya. Meninggalkan Elvan yang dibuat melongo setelahnya.


"Ini kan punya gue. Gue yang duluan ngambil," protes Juna tak terima. Membuat Tiffany mengerutkan keningnya dengan tak suka.


"Barusan lo buang ini," balas Tiffany.


"Kalau lo nggak mau balikin, bunganya buat dipegang berdua aja." Juna berkata tanpa melihat Tiffany, perlahan memegang bunga yang Tiffany pegang. Wajahnya sudah memerah karena malu. "Gue rela, kok."


Atas perlakuan itu, pipi Tiffany ikut merona dan semua orang berseru senang merayakan pasangan baru yang terbentuk di luar dugaan.


—T A M A T—


Akhirnya cerita Ily dan Yohan selesai juga. Terimakasih atas kebersamaan kalian selama ini dan aku harap kalian puas ketika membaca part terakhir ini ya hehe


Stay healthy karena tentu saja aku nggak akan berhenti di sini hehehe


Ada yang mau extra part?


Ada yang mau side story?


Ada yang mau langsung lanjut baca Dari Korea 3 (generasi baru)?

__ADS_1


Ada yang mau .... (Isi aja deh bingung aku kalian maunya apa


Babay:*


__ADS_2