Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 37


__ADS_3

"Ngeliat kamu tiap berangkat sekolah boncengan sama Theo, waktu pulang sekolah juga boncengan lagi, bikin Ayah inget masa muda sama Ibu," kata Yohan ketika Lili sedang sarapan bersamanya.


Lili menatap Yohan datar. Dia membenarkan letak kaca mata bulatnya dengan canggung. "Hari ini Lili mau dianterin Ayah aja."


"Lah, kenapa?"


"Theo lagi marah sama Lili." Lili menjawab dengan wajah cemberut. "Pasti dia nggak mau ngomong dulu sama Lili. Biarin aja, Yah. Nanti juga baik lagi."


"Kenapa deh bisa kayak gitu?"


"Ayah inget tentang Lili yang nanya Bad Boy dan mau nulis kisah tentang Bad Boy?"


Yohan sedikit berusaha untuk ingat, kemudian mengangguk saat ada kilas ingatan tentang waktu di mana ia pernah bercerita sekilas tentang Juna. "Iya, Ayah inget."


"Nah, objek riset Lili itu Theo, Yah. Dia Bad Boy-nya. Lili suka maksa cerita gitu ke dia, terus Theo-nya marah karena ngerasa Lili tuh maksa mulu dan egois," curhat Lili kemudian.


Yohan tampak bingung.


"Lili juga salah sih, nggak mikir panjang dulu tentang perasaan Theo. Wajar Theo sekarang marah.


---saat Theo telah datang ke rumah Lili---


"Nggak, Om," jawab Theo sewaktu Yohan bertanya apakah dirinya sedang marah pada Lili atau tidak. "Saya nggak marah ke Lili."


Yohan memasang wajah bingung, kemudian menatap Lili. "Lah, nggak marah kok dia."


Lili cemberut, tak terima disalahkan begitu saja. "Tapi kemarin keliatan marah."


"Ck, dasar ya anak cewek emang baperan." Yohan mengacak-acak rambut Lili dengan gemas. "Udah sana, barengan aja berangkatnya, Ayah ada urusan di toilet lagi. Aduuuuuh, dadah!"


Lili menatap kepergian Yohan dengan sedih. Entah kenapa, baru-baru ini Yohan mengalami masalah dengan perutnya. Jadi, mau tak mau, Lili menatap Theo. Theo membalas tatapannya dengan kedua alis terangkat.


"Beneran nggak marah lo?"

__ADS_1


"Ngapain juga gue marah?"


"Kemarin lo ...."


"Gue nggak marah, gue cuma kasih peringatan ke lo kalau ngikutin gue itu ada batasnya." Theo menjelaskan dengan sabar, beda sekali dengan kepribadian dirinya yang dulu. Mungkin efek sejuk pagi, atau yang sedang dia hadapi itu Lili. "Gue juga bakal cerita ke lo kalau ada sesuatu yang lain di hidup gue."


Mendengar penjelasan yang sebenarnya ditujukan untuk kebaikannya, Lili semakin merasa bersalah. Dia menunduk malu, menaut-nautkan jari tangannya dengan salah tingkah.


"Iya, maaf, gue nggak sabaran, gue egois."


"Lain kali jangan diulangi." Theo langsung menukas dingin, membuat Lili mendongakkan kepalanya lagu dengan wajah tak puas.


"Tapi, gue nggak bisa nahan rasa penasaran ini, Theo. Kaki gue tuh gatel kalau nggak gerak buat cari tahu tentang kehidupan lo."


Theo menatapnya tajam. "Lo harus ingat. Gue itu bahaya."


"Emangnya lo seberapa bahaya sih? Gue selalu penasaran dan nggak bisa nahan untuk nggak mendekati bahaya itu."


"Ck, kalau gitu, lo mau buktiin?" tanya Theo akhirnya, sudah lelah memberitahu Lili. "Biar lo nggak tanya-tanya lagi atau salahi gue kalau misalnya lo Jadi rugi kalau masuk dalam zona bahaya kehidupan gue."


"Kalau lo berani, malam ini kita go."


"Ha? Go ke mana?"


"Lo tau clubbing?"


"Mabok-mabokan?" Kening Lili mengerut bingung. Ketika Theo mengangguk atas pertanyaannya, Lili langsung menggeleng, menolak mentah-mentah. "Lah, nggak dong! No, Theo, No! Gue nggak mau mabok-mabokan."


"Bukan mabok-mabokan juga kali, di sana lo bisa seneng-seneng. Banyak event seru di dalam club malam itu." Theo menjelaskan dengan tenang, membuat Lili tak begitu memikirkan untuk menolak tantangan Theo. "Lo bakal tau rasanya kalau lo ikut."


"Ok. Jam berapa?"


"Buat pemula kayak lo, jam tujuh aja."

__ADS_1


"Gue takut dibolehin atau nggak." Lili meringis kecil, menatap Theo dengan khawatir.


"Kalau nggak mau tau yaudah. Gue nggak maksa." Theo menggedikkan bahunya tak acuh.


"Gue pengen!" seru Lili penuh tekad. "Gue bakal usahain! Gue juga penasaran kenapa sih orang-orang suka mabok-mabokan atau main malam di club itu."


"Mereka tau cara menghibur diri," kata Theo memberi pendapat.


"Main sama adik juga seru, kok." Lili membalas cepat." Lo punya Titi."


"Kadang itu membosankan."


"Tapi lebih baik daripada clubbing."


Theo hampir memutar bola matanya karena tak tahan dengan ocehan Lili. "Lo nggak akan tau rasanya kalau nggak merasakan secara langsung."


"Oke deh, Theo." Lili mengangguk yakin. "Gue bakal cobain."


"Gue tunggu. Harus dijemput--"


"Jemput, dong!" seru Lili memotong dengan cepat dan mata membulat penuh peringatan. "Kalau misalnya Ayah sama Ibu nggak izinin, lo bisa bantuin gue buat minta izin. Lo juga harus yakin mereka."


"Tanggung jawab di tangan lo, oke?" Theo melipat kedua tangannya dengan wajah datar.


"Heh, mana ada! Lo juga harus tanggung jawab karena bikin--"


"Gue nggak mau tanggung jawab. Gue nggak maksa lo. Lo sendiri yang mau." Theo menatap Lili tajam


Lili memejamkan matanya, mengambil napas kecil dan mengembuskannya pelan, berusaha bersabar. "Oke! Oke, fine! Gue tanggung jawab sendiri! Lo nggak perlu tanggung jawab! Puas?!"


"Puas, dong."


Untuk kali pertama, Lili melihat wajah seseorang yang katanya puas, tapi wajah itu tetap datar seperti tembok.

__ADS_1


***


__ADS_2