Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 86


__ADS_3

"Wleee, wleee!"


Mual Theo masih terasa bahkan setelah dia mengeluarkannya berulang kali. Akhirnya tubuh Theo ambruk di tepi closet. Napasnya memburu, satu-satu. Dadanya terasa sesak. Kepalanya pening. Theo merasa hidupnya kacau kembali.


Leo ... ternyata lebih-lebih buruk dari yang Theo duga sebelumnya.


Theo tak tahu bahwa Leo sebrengsek itu.


Salahnya karena percaya dan bahkan berharap Leo akan kembali dari kuburnya. Theo menyesal sudah rindu atau berharap Leo baik-baik saja di alam sana.


Jika Leo harus menerima hukuman berat, Theo tak peduli lagi. Leo pantas begitu.


Leo meninggalkannya, Leo meninggalkan Aura, Leo merusak kepercayaan orang-orang yang mencintainya.


"KAK THEO, ADA TELEPON DARI KAK LILI, NIH! UDAH DUA PULUH KALI! KAKAK MANDINYA LAMA BENER, DARI JAM ENAM SAMPAI JAM TUJUH. KAK?!"


Bel selesai Theo menghardik Leo dalam hati dengan penuh kebencian, Titi menginterupsinya dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi dan berteriak keras.


Theo akhirnya bangkit. Mencuci wajahnya dan keluar dengan senyuman lebar saat mendapati Titi menyodorkan ponselnya.


"Nih, Kak," kata Titi. "Kak Lili nelepon terus, tuh. Ada apaan, ya? Kak Theo sama Kak Lili pacaran?"


Theo langsung berjongkok. Menatap Titi dengan khawatir. "Titi tau pacar-pacaran dari siapa?"


"Dari TV di rumah Kak Lili!" seru Titi riang.


Theo menipiskan bibir. Mengusap rambut Titi dengan sayang. "Titi ...."


Suara Theo terinterupsi oleh panggilan dari Lili. Theo mengalihkan perhatiannya sesaat pada ponselnya, kemudian pada Titi kembali. "Kakak angkat telepon dulu, ya."


"Ih, di sini aja." Titi merengek. Menahan tangan Theo supaya tetap pada posisinya kini. "Titi pengen denger obrolan Kak Theo sama Kak Lili."


Theo membuang napas kecil. "Oke deh, kalau Titi mau begitu."


Dia kemudian bersila dan meletakkan ponselnya di depan. Ponselnya terletak di tengah-tengah Titi dan Theo yang duduk berhadapan. Menerima panggilan Lili dalam mode loud speaker.


"Theo!" seru Lili begitu panggilannya tersambung. Nadanya kedengaran khawatir sekali. "Lo ke mana aja, sih?"


"Dari tadi Kak Theo di rumah." Theo menjawab begitu karena tak mungkin dia berkata-kata kasar di depan Titi. Lingkungan Titi tentu harus baik agar besarnya dia tak tumbuh seperti Leo. "Kak Lili kenapa telepon?"


Titi tersenyum lebar. "Kayaknya Kak Lili khawatir ke Kak Theo," bisiknya senang.


Theo turut tersenyum lebar. Di depan Titi, dia menjadi pribadi hangat dan menyenangkan.


Agak lama untuk mendengar jawaban Lili. Mungkin perempuan itu bingung mengapa Theo yang biasanya seperti serigala, kini berubah menjadi kelinci manis.


Memang, di rumahnya, pipi Lili memanas dan jantungnya bekerja ekstra saat mendengar suara Theo. Lili seperti mau gila. Sejuta spekulasi terbentuk segera dalam benaknya.


Lili mencoba mencari pembenaran, namun tak kunjung didapatkan jika dia tak bertanya.


Theo kenapa? Pikirnya keras-keras.

__ADS_1


Ingin dia bertanya begitu, namun tak mau, dia terlalu malu.


"Nggak. Kak Lili ngecek aja, soalnya tadi Kak Theo kelihatan sakit. Bibirnya pucet, nggak kayak biasanya. Kak Lili jadi khawatir." Lili turut berbahasa seperti Theo. Mungkin akhirnya ia mengerti sesuatu. "Tapi ... Kak Leo sekarang sehat-sehat aja, kan?"


"Iya. Kak Leo sehat-sehat aja sekarang. Cuma itu kan?" Theo memaksakan nada suaranya agar terdengar ceria di telinga Titi. "Teleponnya udahan aja, yuk?"


Tanpa menunggu balasan, Theo memutus panggilan teleponnya dengan Lili. Dia buru-buru mematikan ponselnya dan menatap Titi dengan senyum lebar.


"Titi lapar?"


Titi mengangguk semangat.


"Ayo kita makan malam." Theo segera bangkit dari duduknya dan mengambil tangan mungil Titi untuk dibawa ke dapur. Saat Titi telah duduk di kursi meja makan, Theo menatapnya dengan lembut.


"Mau dibikinin apa?"


"Kakak bisa bikin brownies nggak?" tanya Titi dengan binar senang. "Titi suka brownies. Di rumah Kak Lili banyak."


Theo tersenyum sedikit. "Besok Kakak belajar, deh. Sekarang kita makan sama telor dadar pake sosis. Yes or yes?"


"YEEEEESSSSS!"


Mendengar Titi ceria, cukup untuk menutup semua pelik yang Theo rasakan.


***


Ketika Theo datang ke kantin dan duduk di meja yang mana telah ada Ten yang duduk di salah satu kursinya. Laki-laki yang mengaku dari Thailand itu tersenyum-senyum seperti orang yang baru saja mendapatkan lotre.


Theo berkata begitu saat telah membawa makanan untuk dia makan. Ten masih senyum-senyum sambil memakan sotonya. Dia hanya menatap Theo tanpa berniat untuk menjawab dalam waktu dekat.


"Ada apa, sih?" tanya Theo kelewat penasaran.


Senyum Ten makin lebar. Gigi-giginya makin kelihatan. "Keliatan banget emangnya?"


"Jelas. Banget." Theo mengaduk-aduk baksonya. "Itu gigi nggak kering apa?"


"Ck. Ya, gimana nggak seneng, Yo. Gue diusulin buat ambil kuliah di Jepang, Yo." Ten tertawa kecil. "Sama Pak Toto."


Sebenarnya Theo merasa sangat bangga. Dia senang Ten bisa mulai terlihat akan sukses dengan menemukan jalan emas untuk hidup ke depannya nanti.


Namun, Theo hanya mengekpresikan perasannya dengan senyum tipis. "Terus mau lo ambil?"


"Pak Toto maksa." Ten mengangkat bahunya seperti hal itu remeh. "Gue mau nggak mau, ambil ajalah. Mubazir."


"Lo juga seneng pasti." Theo menatap Ten dengan penuh arti. Wajahnya juga turut senang. "Mau ngambil juga kan lo tanpa dipaksa-paksa?"


"Kalau gue maksa, sedangkan ekonomi gue nggak mumpuni, buat apa?" tanya Ten dengan nada sarkastik.


"Jadi Pak Toto yang biayain?" tanya Theo heran. Keningnya berkerut samar. "Emangnya beasiswanya nggak full?"


"Yang full beasiswanya." Ten menjawab dengan cepat. "Semuanya udah ditanggung."

__ADS_1


"Terus kenapa masih pikiran ekonomi segala?"


"Ya, kan awal-awalnya butuh biaya, Yo." Ten membuang napas panjang dan mulai menghitung dengan jari-jarinya. "Naik pesawatnya buat ke sana. Sewa kost. Dikira kost juga ditanggung apa? Nggak, Yo. Cuma makanan sama biaya kuliahnya aja yang gratisan."


"Ooh." Theo paham. Senyumnya tercipta tipis, segaris. "Ya, gimanapun selamat. Cita-cita lo kan keliling dunia?"


"Ngaco banget." Ten tertawa terhibur.


"Kenapa?" tanya Theo heran.


"Gue nggak punya cita-cita buat keliling dunia."


"Terus apa? Bukannya lo mau banget keluar Indonesia?"


"Tapi gue maunya ke Thailand." Ten menjelaskan dengan jengah. Sebenarnya dia mau untuk bercerita, tapi hanya Theo satu-satunya yang ada untuk menampungnya. "Gue ingetin banget, Yo. Gue tuh orang Thailand tulen. Gue mau cari orang tua gue."


"Gue semogain lo ketemu, deh." Theo memakan baksonya dengan wajah datar.


"Kok nada suara lo kayak ngejek, Yo?" Kening Ten mengerut tajam. Sorotnya tampak menusuk pada mata Theo. "Jangan bilang lo meragukan gue sebagai orang Thailand asli?"


"Lo nggak bisa bahasa Thailand." Theo menukas tegas.


"Lah, emangnya semua orang dari suatu negara pasti menguasai bahasa negara itu?"


"Jelas." Theo menjawab yakin, cepat. "Gimana dia bisa komunikasi kalau nggak bisa ngomong pake bahasa negaranya sendiri?"


Ten berdecak tak suka. "Gue cuma lupa, Yo."


"Hiya. Hiya."


"Dibilangin lo ngeyel." Ten memutarkan bola matanya dengan jengah. "Sebel gue."


"Kalau sebel, ya muntah sana," balas Theo santai.


"Yo." Ten menatap Theo lurus-lurus. "Lo mau gue muntahin?"


"Lo mau gue muntahin balik?" Mata Theo balas melotot.


Ten membuang napas panjang, berat dan tersiksa. "Jadi kangen Lucas."


"Tiba-tiba?" tanya Theo merasa tersinggung.


"Biasanya dia suka jadi temen gue buat lawan lo. Sekarang gue nggak ada pawang." Ten menyeringai lebar.


"Sampah." Theo memaki.


"Gini-gini Matematika gue nggak pernah delapan, ya." Ten menatap Theo dengan rendah. "Dengan begitu, setidaknya gue jadi sampah berkelas."


Theo menyadari tentang dirinya yang tak pernah mendapatkan nilai delapan selama sekolah. Dia tersenyum tipis. Kemudian menunduk dengan pikiran mulai berkecamuk.


Kapan ya Theo bisa membanggakan seseorang?

__ADS_1


***


__ADS_2