Dari Korea

Dari Korea
LSF - 37


__ADS_3

Besoknya anggota OSIS seksi bidang enam kembali mengawasi anak-anak yang latihan untuk O2SN. Termasuk Luhan dan Sari.


Di tengah-tengah mengawasi, Luhan merasa ada firasat yang mengharuskannya untuk melihat ke tempat Sari. Dan benar saja, saat Luhan ke sana, Sari tengah berhadapan dengan laki-laki yang kemarin.


Luhan berdecak melihatnya.


"Bukan siapa-siapa, tapi kayak siapa-siapa." Lagi-lagi Sari tersenyum lebar saat mereka berdua tengah membicarakan sebuah topik. Kening Luhan mengerut tajam melihatnya. "Kapan lagi Sari senyum lebar gitu ke cowok?"


Bahkan setelah Luhan berada dekat dengannya, Sari tak menyadari. Luhan jadinya kesal sendiri.


"Ekhm." Luhan berdeham keras.


Akhirnya membuat perhatian Sari teralih padanya. Wajahnya bingung saat mendapati Luhan ada di dekatnya. Laki-laki yang awalnya menjadi lawan bicara dan lawan tawa Sari jadi tersadar juga.


"Kalau gitu, gue lanjut latihan lagi, ya," pamitnya kemudian.


Sari mengangguk dan laki-laki itu segera pergi dari hadapan. Luhan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan mata menyipit curiga.


"Lah? Ngapain lo di sini? Atlet renang diawasin sama siapa?" Sari malah bertanya pada Luhan pada detik di mana fokusnya sudah tak lagi pada anak-anak yang berlatih taekwondo.


"Ada anggota OSIS yang lain, anak UKS juga kok yang jaga. Tenang aja." Luhan menjawab dengan santai dan sebuah senyuman. Kemudian matanya menahan saat menahan Sari tepat di mata hitamnya. "Ini lo lagi ngapain kok ngobrol sambil senyum-senyum sama Sari? Bukannya latihan."


Luhan menipiskan bibirnya. Waduh, dia harus jawab apa, nih?


Kalau tiba-tiba dia bilang cuma pengen ketemu sama Sari aja pasti ujungnya digaprot. Luhan sudah kapok kena jitakan, pukulan, sikutan, sampai jambakan oleh Sari. Luhan tak mau mengalaminya lagi.


Namun ... apa yang harus dikatakannya sekarang saat jelas-jelas dia ke sini untuk memastikan Sari masih ada di bumi?

__ADS_1


"Gue mau nitip jam tangan." Tiba-tiba mulut Luhan berkata begitu. Bahkan taoaia sadari sebelumnya. Kemudian, dua segera bersikap bahwa tujuannya ke sini memang untuk itu. "Takutnya pecah waktu tanding nanti."


Luhan mulai melepas jam tangan kesayangannya. Meski berat rasanya—woyajelas dong, jam tangan ini adalah kado ulang tahun dari ayahnya yang harganya bukan main-main, kalau Luhan menghilangkannya pasti langsung disemedi tujuh hari tujuh malam, tetapi Luhan tetap melepaskannya.


"Ooh." Sari hanya bereaksi sesingkat itu.


Luhan tersenyum, kemudian mengambil tangan Sari untuk dia pakaikan jam tangan itu ke pergelangan tangan Sari sendiri. Sari tak menolak, dia menerima dengan suka rela.


Luhan senang saat Sari menjadi seseorang yang penurut dan baik hati. Jadi, dia tersenyum lebih lebar lagi saat menatap Sari yang kini telah memakai salah satu harta berharga miliknya di pergelangan tangannya.


Jika Satu memakai jam tangannya, maka Sari juga merupakan barang berharga miliknya.


"Yaudah, gue ngawasin yang latihan lagi, ya." Luhan pamit dengan hati yang terasa berat. Namun, kakinya tidak beranjak sedikitpun.


"Oke." Sari mengangguk kecil. Kemudian dia berbalik dan duduk untuk mengawasi anak-anak yang latihan taekwondo di depannya. Matanya tampak lebih berbinar, apalagi saat Luhan menyadari bahwa tatapan Sari lebih dominan pada laki-laki yang kemarin dan beberapa saat yang lalu membuat Sari tertawa lebar.


Luhan memilih untuk duduk di sebelah Sari. Tanpa disadari Sari yang entah kenapa jadi fokus ke anak laki-laki itu, Luhan turut memerhatikan laki-laki yang jadi perhatian khusus Sari itu.


Kalau soal wajahnya, Luhan no comment sebab menurutnya, tidak ada yang tampan sekali dirinya, ayahnya, kakeknya, ayah kakeknya, kakek kakeknya dan laki-laki yang lahir sebelumnya.


"Siapa sih? Kenalan lo?" tanya Luhan kemudian, sempat mengagetkan Sari. Sebab Sari pikir Luhan sudah pergi dari sini sejak beberapa saat yang lalu.


Karena sudah tertangkap basah tengah memerhatikan seseorang lebih lekat dari seharusnya, Sari berdeham dan menjawab sejujurnya, "Asalnya bukan. Tapi sekarang udah kenalan."


Luhan berdecak frustasi. "Waduh, gawat."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Awas kalo lo naksir." Luhan menatap Sari penuh peringatan. "Bahaya, nih."


"Ngaco aja lo." Sari tertawa meremehkan. Menurutnya, Luhan bicara tak masuk akal barusan.


Luhan menipiskan bibir. "Namanya siapa?"


"Deon." Sari menjawab sambil tersenyum tipis. Bikin Luhan makin panas saja.


"Kelas berapa?" tanya Luhan bak polisi yang sedang mengintrogasi seorang tersangka.


"IPS 3."


"Seangkatan?" Luhan bertanya lagi.


"Iya."


"Ganteng, ya?" Dengan berat hati dan mengesampingkan harga dirinya.


Sari terdiam agak lama. Membuat Luhan sedikit berdebar karena takut kalau—


"Nggak. Biasa aja." Sari menjawab begitu.


"Tapi lo senyum-senyum. Heran gue." Luhan menukas cepat. Kalau tidak bertanya terus terang dari sekarang, Luhan pasti akan menyesal. "Demen apa demen lo sama dia?"


"Lo sendiri sebenarnya di sini mau ngapain? Atlet renang bakal kenapa-kenapa kalau misalnya lo nggak ngawasin." Sari membalas tak suka. Wajahnya kembali tegas dan jutek seperti biasanya. "Lo balik lagi aja sana."


"Oh, iya." Luhan teringat sesuatu. "Gue juga mau nitip gelang. Soalnya bakal kebasahan kalau gue pake terus. Lo pake aja, ya, takut kelupaan juga kan nanti repot. Thank you."

__ADS_1


Waktu Luhan melepas gelangnya untuk diberikan pada Sari dan langsung pergi setelahnya, Sari tersenyum lebar dengan wajah cerah yang senang. "Barang raziaan. Terkumpul tanpa ada razia resmi."


***


__ADS_2