
aku ...."
"Kak Aura!" perempuan lain yang sepertinya adik dari perempuan yang menangis pada Theo muncul, berlari dengan wajah khawatir. Wajah keduanya seperti pinang yang dibelah dua, hampir tak bisa dibedakan.
Namun, usia membuat mereka bisa dibedakan.
Lili terlalu terkejut hingga lupa untuk berpikir untuk melakukan apa-apa.
"Leo ...." perempuan di depan Theo menangis tersedu-sedu dan memeluk Theo dengan erat. Tubuh Theo menegang, membeku, tak bisa berbuat apa-apa. "Jangan pergi lagi ...."
"Aduh maaf, ya," kata adiknya seraya segera melepas pelukannya kakaknya yang disebut Aura itu pada Theo.
Baguslah pelukannya terlepas. Theo membuang napas satu-satu dengan mata yang masih terpaku terkejut pada Aura. Namun, adiknya harus berkorban untuk menjadi cakaran Aura karena meronta ingin mendekati Theo. "Kak ayo, pulang, Kak!"
"Leo ... Leo ... aku udah nunggu kamu lama banget. Ayo, Leo kita pulang. Aku bakal ...." Aura terus berkata-kata dengan lirih, berusaha menatap Theo meski adiknya sudah berusaha untuk menahan. Seperti ada sedih yang sangat dan bahagia dalam suaranya.
"Udah, Kak, udah. Bang Leo udah nggak ada, Kak. Ayo, pulang ...."
"Nggak--"
"Sebaiknya kalian pergi, deh. Bukannya saya mau mengusir, tapi Kakak saya ...." Adiknya langsung memohon pada Lili dan Theo. Wajahnya tampak sangat frustasi. "Maaf, ya. Tapi saya minta tolong. Kakak saya sedikit terguncang saat ini, kalian ...." Ia menatap Theo dengan tatapan tak enak. "Tepatnya, kamu kemungkinan besar adalah penyebabnya."
Lili mengangguk. Sepertinya pergi dari sini adalah pilihan paling tepat. Dia berdiri lebih dulu, kemudian menarik tangan Theo yang sudah lemas.
Theo tak bilang apa-apa dengan wajah yang masih terguncang saat mereka berdua sudah sampai di motor Theo yang terparkir di pintu masuk taman.
"Yo," tegur Lili.
Theo mengerjap-ngerjap. Tersadar. Ia menatap Lili dengan tatapan kosong.
"Itu ... siapa?" tanya Lili agak ragu. "Kok manggil lo Leo?"
"Gue ... gue nggak tau siapa itu, gue nggak kenal." Theo menggeleng lemah.
Kening Lili mengerut samar. "Terus Leo siapa?"
"Abang gue."
"Bukankah dia ...." Lili tersekat saat akan melanjutkan, "udah meninggal?"
"Iya." Theo menjawab cepat. Wajahnya tampak sangat keruh.
"Kayaknya sewaktu hidup dia berhubungan sama Kakak yang tadi. Dan karena dia lihat wajahnya lo yang mirip sama kakak lo, Kakak itu jadi kepikiran lagi." Lili berusaha menebak-nebak. "Lo nggak tau Kakak lo ada urusan apa sama Kakak yang tadi?"
__ADS_1
"Gue nggak tau." Theo berdecak keras. Garis wajahnya tampak mengeras dan itu artinya sebuah peringatan untuk Lili tidak bicara lagi. "Udahlah, kita pulang aja."
***
Siapa perempuan itu?
Apa hubungannya dengan kakaknya?
Pertanyaan itu terus menerus berputar di benak Theo. Seberapa lama pun dia berada di kamar Leo untuk mencari petunjuknya, Theo hanya mendapatkan hasil yang nihil. Tak ada foto perempuan itu, tak ada catatan tentang Leo yang punya kenalan perempuan dan tak ada benda-benda yang bisa menghubungkan kakaknya dengan perempuan tadi.
Apa perempuan tadi hanya nyasar saja?
Apa dia tidak waras?
Ah, tidak mungkin. Bagaimana perempuan itu tahu tentang Leo setelah melihat Theo?
Terlalu kebetulan jika hanya dianggap angin lalu.
Theo mengingat-ingat namanya.
Adiknya pernah bilang perempuan itu namanya Aura. Theo mengingat-ingat apakah kakaknya pernah bicara juga tentang Aura?
Tidak ada. Theo tak pernah mendengar kisah percintaan kakaknya. Leo itu malu-malu kalau soal cinta-cintaan. Theo paham itu.
Jika dia sudah tau ... mengapa sampai melihat Theo sebagai Leo?
Apa Aura dan Leo terlibat cinta seserius itu?
Karena pertanyaan-pertanyaan itulah Theo berada di taman ini lagi. Dia berharap dapat bertemu Aura dan bertanya sebanyak-banyaknya. Alasan mengapa Leo memilih bunuh diri.
Selama ini Theo tak percaya Leo pergi hanya karena penceraian orang tuanya. Sebab ... sebab kakaknya itu ...
***
"Kamu abis nangis, ya, Yo?" tanya Leo ketika dia masuk ke kamar Theo dan melihat adiknya tengah memejamkan matanya seraya berbaring di atas tempat tidur.
Matanya kelihatan bengkak dan jelas sekali Theo baru saja menangis.
Hari ini adalah hari kedua setelah Laura dan Tamrin benar-benar berpisah. Tak ada yang bisa mencerahkan suasana hati anak-anak mereka, namun tentu saja yang paling tua selalu mengorbankan waktu dan dirinya untuk membuat adik-adiknya tak begitu larut dalam kesedihan.
"Jangan bagus lah, Yo," kata Leo seraya duduk di sisi tempat tidur Theo. .
Sementara Theo pura-pura tidur karena tak memiliki semangat lagi rasanya untuk melanjutkan hidup.
__ADS_1
"Bang Leo janji bakal terus ada. Kira hadapi semuanya sama-sama. Bang Leo, kamu, sama Titi. Kita bisa lewatin ini semua. Kita bakal terus gapai cita-cita dan bikin orang tua bangga." Leo mengguncangkan tubuh Theo. "Yes or yes?"
Leo lah yang membuat Theo kembali bersemangat, setidaknya untuk sekolah pada esok harinya.
Sebab Leo sudah berjanji seperti yang dibilangnya tadi.
***
Tanpa disadari, air mata Theo menetes. Bersamaan dengan itu, dua melihat Aura dan adiknya. Penampilan Aura lebih baik dari kemarin. Dia melihat Theo, namun reaksinya tak seheboh kemarin. Adiknya juga melihatnya, wajahnya masih was-was dan penuh peringatan untuk Theo pergi sebelum kakaknya bereaksi.
Namun, Theo mengabaikan peringatan dari tatapan adik Aura. Dia bahkan menatap dengan berani pada Aura.
Hal yang tak Theo antusipasi, Aura menatapnya dengan tenang dan bahkan tersenyum tipis. Senyum yang mengandung luka dan perih.
Kening Theo mengerut bingung. Ketika akhirnya Aura dan adiknya sampai di tempatnya duduk, Theo turut berdiri dan mengahadap Aura berserta adiknya.
"Kak?" Adik Aura bertanya hati-hati. Takut Aura melakukan hal yang tidak-tidak.
"Nggak apa-apa, Ra. Kakak udah baik-baik aja." Aira tersenyum pada adiknya. Kemudian menatap Theo dengan lembut dan sendu. "Kamu itu adiknya Leo, kan?"
Theo cepat-cepat mengangguk. "Iya, saya Theo, Kak."
"Maaf, ya. Kemarin saya agak gila," kata Aura dengan tawa hambar. "Saya kira kamu Leo."
Suaranya sangat lemah dan sarat kesedihan. Aura kemudian duduk di kursi yang sebelumnya menjadi tempat duduk Theo. Adiknya turut duduk di sisi ujung.
Theo berbalik, menoleh dan menatap Aura dengan wajah bingung.
"Duduk," kata Aura mengajak.
Theo duduk.
"Kamu mirip banget sama Leo," kata Aura memecah keheningan. "Saya jadi keliru."
"Bang Leo udah meninggal," tukas Leo agak ragu. Ia menatap Aura lekat-lekat. "Kakak ... tau kan?"
"Iya." Aura mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca dan dadanya terasa sesak lagi saat mengingat dan harus menghadapi fakta itu lagi. "Kakak tau."
"Kalau boleh tau," kata Theo dengan nada sopan. "Kakak sama Bang Leo itu teman, ya?"
Aura tersenyum. "Saya sama Leo awalnya memang teman."
"Lalu?"
__ADS_1
"Kak," peringat adik Aura dengan lembut. "Harus banget Kakak inget lagi?"