Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 47


__ADS_3

Lili tak bisa berhenti untuk tersenyum semalaman.


Lili tak pernah menyangka jika diberi kata-kata begitu oleh orang yang dia suka bisa membuatnya super senang seperti ini.


Bahkan ketika di sekolah, senyum itu tetap sama. Membuat Gema menatapnya dengan bingung. Sementara Theo yang merasa mulai hari ini sampai seterusnya tak punya kepentingan lagi dengan Lili, langsung saja keluar kelas untuk mencari udara segar atau ke kantin jika bertemu Lucas dan Theo.


"Lo kenapa deh?" tanya Gema langsung.


Dengan senyum yang masih melekat, Lili menangkup kedua pipi Gema dan menekan-nekannya gemas. "Kemarin gue sama Kak Jae berdiri sebelahan bersama rinai hujan, Gem. Bisa bikinin puisinya, pasti lucu banget. Kita ngobrol tentang adiknya Kak Jae dan dia bilang sesuatu, Gem."


Mata Gema langsung terbuka pada bukaan maksimal. "Dia bilang apa, Li? Dia nembak lo? Terus Theo gimana?"


"Lah? Kok jadi Theo, sih?" Wajah Lili langsung luntur bahagianya, terganti oleh wajah bingung.


"Ya, gue kira lo cinlok gitu sama dia. Secara, pulang sama berangkat bareng terus, bikin gosip setiap hari cewek-cewek," kata Gema dengan tawa kecil. "Oke, deh, lo dibilangin apa sama Kak Jae?"


Wajah Lili langsung semangat lagi. "Gue kan pertamanya tanya tentang adiknya, terus dia curcol gitu. Terus dia bilang, 'lo nggak perlu gimana-gimana, cukup mendengarkan aja gue seneng', katanya dia seneng, Gem!"


"Woah, congrats, ya!"


Lili tertawa senang. "Iya!"


***


"Buset, muka lo nggak ada niatan diupgrade emang?"


Mata Theo menatap Lucas tajam. "Maksud lo?"


"Makin tajem aja kayak samurainya Sasuke," balas Lucas ringan. "Gara-gara kemarin ditinggal Lili, ya?"


"Nggak."

__ADS_1


Ten tertawa. "Sebenarnya lo ada apa sih sama cewek kaca mata bulet itu? Dilihat dari sudut mana pun, lo kelihatan melihat dia lebih dari saat lo melihat Adit.


Theo memutar bola matanya. "Bacot lo."


"Mending langsung digas daripada direbut Ten," kata Lucas memberi saran. Dia benar-benar yakin Theo menaruh hati pada Lili, dilihat dari bagaimana paniknya laki-laki itu saat ditinggal Lili tiba-tiba kemarin.


"Kok jadi gue, anjeng?" Ten membalas emosi, tak terima namanya diikutkan dalam sebuah kalimat tak etis, matanya menatap Lucas dengan tatapan penuh murka. "Nyari mati, lo?"


"Oh, lupa." Lucas berdecak kecil. "Lo kan hatinya udah buat Pak Toto."


"Mau kiri apa kanan, Cas?" tanya Ten benar-benar serius.


"Peace, bro," balas Lucas tenang. "Nanti lo diserbu massal sama fans gue. Berabe, ntar."


Sementara Theo dengan wajah datar memakan batagornya, hanya melihat perdebatan kedua temannya yang tak lebih bertiga dari pertarungan merebutkan harta karun kosong.


Ten mendelik kesal, kemudian dia menatap Theo kala ingat sesuatu. "Regan ngajakin meet lagi, bro. Malam ini."


"Dari sejak kapan balapan ada tujuan?" tanya Ten geli. "Ya, Regan cuma seneng-seneng aja sama lo."


"Gue masih nggak ngerti kenapa dia sebegitunya sama gue." Theo angkat bicara setelah sekian lama memendamnya.


Lucas mengerutkan keningnya. "Sebegitunya gimana maksud lo? Maaf-maaf, nih, gue mikirnya jadi ambigu."


"Emang lo mikirnya apa-apa, bege?" tanya Ten dengan senyum geli.


"Gue pikir Theo mikir Regan tuh suka sama dia," jawab Lucas ragu-ragu, dia menatap Theo takut-takut dan benar saja laki-laki itu langsung menghujamkan tatapan penuh peringatan padanya. "Maaf, Yo, maaf, kalau gue salah."


"Regan kayak Dika," jelas Theo. "Gue pikir mereka pengen temenan sama gue, padahal ujungnya ada maunya."


"Yeeee." Ten membuang napas tak percaya. "Jangan suka suudzon gitu, dosa, Yo."

__ADS_1


"Bener, tuh," tambah Lucas. "Lo nggak tau aja Regan tuh anak Aussie, masbro, nggak ada budaya mereka malakin anak orkay kayak lo. Regan pembalap, woi, udah ada duit sendiri dong."


"Gue cuma bilang apa yang gue pikirin," balas Theo tak mau dihujat. "Lagian aneh banget, pembalap jago kayak dia masih mau nantangin gue."


"Kenapa? Takut lo?" tanya Ten, tanpa sadar membuat Theo terprovokasi.


"Nggaklah."


Ten mengangkat kedua alisnya. "Lalu kenapa? Tinggal acc, dong."


Theo menipiskan bibirnya, agak ragu-ragu dan harus berpikir lama hingga akhirnya dia mengangguk kecil. "Oke."


"Sip, deh."


***


"Dari tadi senyum mulu." Theo gatal untuk tak berkata begitu waktu Lili mengembalikan helm padanya. "Nggak pegel apa?"


"Hm?" Lili mendongakkan kepalanya yang masih terdapat senyum di wajahnya dengan begitu lebar. "Oh, nggak. Gue nggak apa-apa, hehe. Jangan aneh."


Theo menipiskan bibirnya. Entah mengapa dia tak senang pada sikap Lili hari ini. "Lo emang gini, ya, ke gue?"


"Eh? Gini gimana? Gue salah lagi?" Senyum Lili langsung lenyap. Keningnya mengerut dalam. "Perasaan hari ini gue nggak ngomong apa-apa ke lo."


"Habis manis, sepah dibuang."


Lili tak mengerti mengapa Theo bicara begitu padanya dengan nada kesal yang membuat Lili sangat merasa bersalah setelahnya. Namun, laki-laki itu tampaknya tak mau menjelaskan lebih lanjut dan malah berbalik untuk berjalan menuju rumah Lili.


Seperti sebelumnya, Theo membuka pintu dengan berani seolah rumah Lili adalah rumahnya sendiri. Harusnya Theo berjalan masuk dan mengambil Titi kemudian seperti biasanya, sampai tiba-tiba sebuah terompet dan serpihan kertas metalik dilempar ke arah wajahnya.


Mata Theo refleks memejam saat terkena lemparan itu.

__ADS_1


__ADS_2