Dari Korea

Dari Korea
LSF - 29


__ADS_3

Ketika akhirnya tiba waktunya tengah malam, Luhan bangun saat mendengar suara alarm. Kalau sudah diniatkan, Luhan bisa langsung bangun. Saat melihat Lethan dan Lingga yang masih terlelap, Luhan menggoyang-goyangkan tubuh mereka hingga akhirnya terbangun.


Luhan langsung beranjak. Menuju balkon dan diikuti oleh Lingga dan Lethan yang masih setengah mengantuk.


"Buset, dingin banget." Luhan kembali berbalik saat merasa hawa dingin yang menusuk tulang. Dia mengambil sesuatu di atas kasurnya. "Jaket, jaket."


Melihat Luhan begitu, Lethan dan Lingga juga ikutan mengambil sesuatu yang berfungsi untuk menghangatkan badan mereka.


"Brrrrrr, dingin." Lingga masih berkata begitu saat telah memakai jaketnya dan mengeratkannya dengan gigi bergemeletuk sedikit kedinginan.


Angin malam kali ini lumayan kencang dan Luhan merasa bisa beku karenanya.


"Huuuuuuuuuu." Lethan membuang napasnya ke tangan sebagai upaya untuk menghangatkan badannya yang dingin meski sudah memakai selimut kamar hotel.


Melihat Lethan mengunakan selimut, mata Lingga dan Luhan membulat.


"Nggak pake selimut juga dong, Ege. Ntar kalau bau rokok juga berabe jadinya." Lingga segera menyuarakan ketidaksetujuannya.


"Dingin, Ege." Lethan menjawab tak acuh.


"Ck. Nih," kata Luhan agak kesal seraya memberi sebatang rokok pada Lingga. Kemudian dia berjalan pada Lethan dan memberinya hal yang sama seperti Lingga. "Nih."


Luhan menatap kedua temannya dengan tajam. "Udah, diem lo pada. Sekarang langsung cus aja."


Ketika mau merokok, Lingga memikirkan sesuatu. Keningnya mengerut saat melihat Luhan. "Lo bawa koreknya kagak?"


"Eh, eh, eh?" Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian, menepuk keningnya dengan keras seraya membuang napas kecewa. "Buset, lupa, ****!"


"Ck." Lingga jadi emosi. Dia memberi batang rokok di tangannya pada Luhan kembali. "Si Lutung, makin **** aja otaknya."


"Anjuir lo. Mending tidur langsung lah dari tadi gue." Lethan turut memberikan kembali barang yang sama pada Luhan yang hanya bisa tersenyum polos tanpa dosa.


"Punya temen **** banget ya ampun." Lingga mencaci dengan nada sarkas dan wajah kesal. "Gue lebih **** lagi karena temenan sama temen **** itu. Hadeuuuuuuuuuuuhhhhhhhhh. Lucunya hidup ini."


"Ck." Luhan tertawa kecil, kemudian memasukkan kembali rokoknya ke saku celana untuk setelahnya memeluk Lingga dengan erat. "Brrrr, dingin."


"Jangan meluk, Bangsit. Geli gue ah." Lingga menggerak-gerakkan bahunya, meminta Luhan untuk menyingkirkan dirinya.

__ADS_1


"Dingin, Ling." Luhan merengek.


"Sekali lagi lo meluk, gue tendang lo sampai ke bawah." Lingga mengancam emosi.


Luhan langsung mengambil jarak dari Lingga, kemudian memeluk dirinya sendiri seraya menikmati pemandangan kota yang indah dengan gemerlap lampunya.


***


Museum.


Adalah tempat pertama yang dikunjungi oleh segenap orang-orang yang mengikuti study tour kali ini. Luhan tak begitu menikmati karena dia tak begitu menyukai apa-apa yang ada di dalamnya.


Penjelasan yang diberikan pun terasa sangat membosankan. Jadi, Luhan dan Lethan hanya mengobrol sendiri dengan topik yang muter-muter soal acak. Lingga tanpa yang paling semangat karena dia dapat banyak shoot bagus untuk kameranya. Langit juga tak jauh beda dengan Lingga. Dari semuanya, Langit memang yang paling tertarik dengan sejarah.


Bahkan dia pernah bilang kalau di IPA, Langit merasa sebagai anak yang tersesat.


Karena di museum harus hati-hati dan tidak boleh berlarian apalagi main-main, jadi Luhan merasa sangat mengantuk. Ternyata semembosankan ini hari pertama mereka.


Beruntung ada teman-temannya yang menemani Luhan.


Namanya Alista, rambutnya bergelombang sepunggung. Cantik, tapi bukan tipe Luhan. Entah kenapa, setiap melihat perempuan dengan rambut bergelombang, Luhan merasa tak tertarik saja.


Gimana ya, mereka jadi jelek kayak Tarzan aja.


Ya, selera orang kan beda-beda. Jangan hujat selera punya Luhan.


"Bagus, ya," kata Luhan. Dia melihat langit yang menghampar dengan indahnya. Dengan warna sore yang khas.


"Mau foto berempat nggak?" tanya Lethan mengajak.


"Difoto sama siapa?" tanya Lingga malah jadi bingung.


Soalnya tiap mereka mau difoto, pasti nggak bisa berempat. Jadi, gantian gitu, saling fotoin.


"Ya kan anak kelas banyak, ****. Kayak nggak ada siapa-siapa lagi aja," balas Luhan agak kesal. Kemudian dia mengambil kamera dari tangan Lingga untuk setelahnya mengetuk-ngetuk bahu Sari yang kebetulan ada di dekatnya saat itu.


Sari berbalik dengan wajah kebingungan. Matanya tajam seperti biasa dan keningnya mengerut tak suka. "Apa?"

__ADS_1


Luhan berusaha tersenyum menghadapi reaksi yang kurang bagus dari Sari. "Bisa tolong fotoin kita berempat?"


"Cepet." Tanpa disangka-sangka, Sari mengambil kamera dari Luhan meski dengan wajah yang berbanding terbaik dengan apa yang dilakukan tangannya. Sari bersiap untuk mengambil gambar.


Luhan segera berlari ke arah tiga temannya. Mereka saling merangkul dan tersenyum lebar. Kemudian, Sari memotretnya.


Empat laki-laki itu berganti gaya lagi. Mulai dari yang keren, yang lucu, yang kayak cewek, sampai yang benar-benar gila sampai yang saling gendongan. Sari memotretnya dengan senang hati tanpa protes.


Luhan jadi sayang. "Makasih, ya, Beb." Luhan berkata begitu saat mengambil karena Lingga dan melihat hasilnya dengan senyuman lebar.


Sari tak membalasnya, dia berbalik lagi untuk melihat langit sore yang indah.


"Gimana kalau kita Selfi berlima?" tanya Luhan dengan cepat, kemudian tanpa persetujuan, dia merangkul Sari dan kamera bertongsis milik Lethan yang sudah siap memotret itu mengambil gambar mereka berlima.


Meski tak terima dan terkejut, Sari tak mengomel banyak seperti biasa.


Malamnya, mereka ke Malioboro.


Hanya sebatas belanja dan menikmati jalanan malam yang estetis dan mengambil beberapa video tentang kesan mereka di sana. Lethan membeli banyak gelang dan gantungan untuk Dara juga keluarganya. Lingga membeli baju untuk kakak-kakaknya. Langit membeli sandal untuk di rumah. Sementara Luhan, dia tidak ikut pergi karena terserang sebuah penyakit yang selalu menyerangnya ketika berpergian.


Luhan mual-mual, masuk angin, sakit kepala dan harus istirahat untuk melanjutkan perjalanan besok.


Sangat disayangkan, namun mau bagaimana lagi. Tiga orang itu terpaksa menghabiskan waktu senang-senang bertiga saja. Rasanya ada yang hilang, tetapi ketiganya tetap bisa tersenyum dan bersenang-senang.


Besoknya dilanjut Jeep tour.


Beberapa anak dikelompokkan untuk naik ke mobil Jeep dan melewati jalanan terjal yang memacu adrenalin. Sampai berteriak-teriak ketakutan, tetapi tetap saja ada juga yang senang saat menikmatinya.


Ketika giliran kelompok Luhan, Lingga, Langit dan Lethan, ada sesuatu yang buruk terjadi.


Lagi-lagi, Luhan tidak bisa menikmatinya. Dia muntah. Ditengah-tengah jalan, Luhan diturunkan dan diantarkan untuk ke pantai dengan mobil biasa, melewati jalanan datar biasa.


Waktu di pantai, tak banyak yang sudah sampai. Hanya beberapa anak di kelasnya. Sementara Langit, Lingga, dan Lethan masih ada di mobil Jeep.


Luhan membuang napas, jadi kehilangan mood untuk melakukan apa-apa. Dia duduk di tepian yang agak jauh dari ombak pantai saat teman-teman yang lain sibuk bersenang-senang dengan itu.


"Lemah lo."

__ADS_1


__ADS_2