Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 03


__ADS_3

"Kamu nggak sekolah?"


Ibu bertanya ketika melihat Ily keluar dengan baju piyamanya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, padahal. Sarapan sudah tersedia di meja makan dan ayah sudah menyantapnya dahulu sementara ibu menyeduh susu cokelat favorit keluarga.


"Udah bebas, sih, seminggu lagi kan udah graduate," jawab Ily seraya berjalan menuju kulkas. Membukanya dan mengambil sebuah botol air mineral untuk dibawa ke meja makan.


Ily duduk di samping ayahnya, membuka tutup botol air mineral itu dan meneguknya dengan perasaan senang. Sensasi dingin dan segar menyapa tenggorokannya, membuat Ily tersenyum setelah selesai menelannya.


"Kamu ini kebiasaan, ya, minum air dingin pagi-pagi. Nggak baik tau," kata ibunya dengan wajah khawatir. "Masih muda kamu itu. Nggak lucu kalau ada penyakitan."


Ily menyunggingkan senyum lebarnya, tanda tak merasa berdosa. "Iya, bu."


"Udah seminggu lagi, ya, kamu mau keluar dari SMA. Mau lanjut ke mana, nih, jadinya?" Ayah bertanya dengan wajah penasaran sekaligus bangga.


"Aku masih belum yakin, sih. Tapi sastra Inggris UI adalah target aku." Tangan Ily mengambil piring sarapannya dan mulai menyuapkan nasinya. "Maaf, ya, ayah, ibu. Aku mengecewakan."


Ibu berdecak tak terima. "Nggak, ah. Kamu nggak mengecewakan, Ly. Kamu udah bekerja keras."


Ily tersenyum tipis. Dirinya tak merasa begitu.


"Ayah nggak berharap banyak sama kamu, Ly. Ayah nggak punya target buat pendidikan kamu atau prestasi kamu. Ayah hanya senang karena kamu. Hanya Ily." Ayah menambahkan dengan nada menenangkan hati. "Ily yang sehat dan apa adanya."


Dikatakan seperti itu, membuat Ily semakin merasa bersalah dengan ayah dan ibu. Semakin membuat motivasi Ily tinggi untuk dapat mencapai targetnya meski dirinya masih ragu-ragu.


"Kalau kamu hari ini nggak akan sekolah, mending ikut ibu ke butiknya Bu Rima, kita pesen baju buat perpisahan kamu," ajak ibu tiba-tiba. Membuat Ily mendongak dari piring sarapannya dan menatap ibu dengan wajah bingung. "Siap-siap, ya. Jam sepuluh kita berangkat."


"Bu Rima siapa?" tanya Ily, menyuarakan kebingungannya. "Kayaknya pernah denger, deh."


"Itu temen ibu waktu SMA. Rumahnya nggak jauh dari sini, kok. Tiga puluh menit nyampe." Ibu menjawab santai, menuangkan susu yang ia racik pada dua gelas untuk setelahnya ia sodorkan pada dua orang yang ia sayangi di depannya. "Ibu mau beres-beres, kamu beres-beres kamar aja sambil nunggu jam sepuluh. Jangan dulu main laptop, ibu nggak suka."


Ily cemberut. "Iya."

__ADS_1


Dibandingkan bersih-bersih, jelas Ily lebih memilih menonton serial drama. Namun, tentu Ily harus menjadi anak yang berbakti untuk orang tuanya.


Tiga jam berikutnya ia habiskan untuk membuat kamarnya bersih dan wangi.


***


Di sebuah butik bernuansa putih, Ily dan ibu turun dari mobilnya. Ily membenarkan tali tasnya seraya memandang butik berlantai dua itu dengan kagum. Mulai dari luarannya, bersih mengkilap kacanya sampai riasan tembok yang bercorak batik dengan garis hitam.


Elegan, namun pada nyatanya buruk itu sangat sederhana.


Ily menyukai pada pandangan pertama.


"Ayo," ajak ibu seraya menarik tangan Ily untuk masuk tanpa malu-malu. Ibu sudah bersahabat dengan Bu Rima sejak kurang lebih 20 tahun yang lalu. Sudah sering juga ia memesan baju keluarga pada Bu Rima.


Saat masuk, Ily tak mampu menutup mulutnya saking kagum dengan tatanan baju-baju indah dalam butik ini. Ily bukan orang yang begitu tertarik dengan dunia fashion, namun melihat ini, ada sepercik semangat dalam dirinya untuk terjun dalam dunia fashion dan model.


"Eh, Alisa!" seru Bu Rima ketika berlari mendekat dengan riang dan penuh senyum bahagia. Ketika sampai di depan ibu, Bu Rima langsung memeluknya dengan erat dan penuh rindu. "Ke mana aja? Gimana kabarnya?"


Bu Rima tertawa renyah. Tampak bahagia sekali dikunjungi oleh ibu. "Lancar, aja, lancar. Nggak ada masalah besar yang harus sampai hubungi kamu. Aku sehat-sehat aja, sih. Eh..."


Pelukan mereka terlepas begitu saja ketika mata Bu Rima menangkap sosok Ily yang celingukan dua meter darinya berdiri. Anak itu memakai rok tutu biru langit dan baju pink soda yang membuatnya tampak lucu dan menggemaskan di mata Bu Rima.


"Itu siapa, Alisa? Lucu banget, pengen diculik jadi menantu, deh," celetuk Bu Rima gemas.


Ily menoleh berkat suara ceplas-ceplos itu. Wajahnya langsung berseri dengan pipi bersemu malu. Ily mengangguk seadanya, menyapa dengan sopan.


"Eh, Ily, sini, dong, kenalan sama Bu Rima," kata ibu, menggerak-gerakkan tangannya, menyiratkan Ily untuk berjalan mendekat.


Masih dengan gerakan canggung dan wajah malu, Ily mengikuti arahan ibunya. Kini berdiri di dekat Bu Rima yang menatapnya penuh minat.


Ibu merangkul bahunya dengan bangga, membuat Ily kaget dan jantungnya berdebar kencang tanpa alasan yang cukup untuk ia paham. "Ini anakku, Rima. Namanya Ilyssa Devania. Mau lulus SMA Minggu depan, nih. Aku mau minta rekomendasi baju yang bagus buat Ily graduate."

__ADS_1


"Oh, ini, toh anaknya," simpul Bu Rima paham. Melihat Ily dengan senyum merekah lebar. "Cantik."


"Siapa dong ibunya?" Ibu tertawa bangga.


"Dih, sombong," tukas Bu Rima tak terima. "Anakku juga ganteng, kok. Udah gede sekarang, seumuran sama anak kamu."


"Woah, mana anaknya? Pengen liat," balas ibu antusias dengan mata membulat seperti ingin keluar dari tempatnya.


"Kepo banget," ledek Bu Rima sambil tertawa renyah.


Ibu menepuk kecil lengan Bu Rima dengan wajah merenggut kecewa. "Sebel, deh."


"Dia lagi main sepeda. Biasalah anak cowok, sukanya keluyuran."


Bu Rima tertawa karena ibu hanya membulat mulutnya dengan wajah tak puas. Tampaknya ibu amat ingin bertemu dengan anak Bu Rima. 


Ily ikut tertawa. Selain canggung, rasanya ada sesuatu yang membuat Bu Rima tampak tak asing baginya. Namun, Ily tak ingat apa itu. Jadi, ia hanya bisa mengikuti alur tanpa bertanya lebih lanjut.


"Berarti brukat dong?" Bu Rima memastikan, kembali pada topik utama.


"Iya, kebaya yang elegan gitu pengennya," jawab ibu cepat. Kemudian berpaling pada Ily dengan wajah bingung. "Kamu maunya warna apa? Ibu lupa."


"Biru," balas Ily seraya tertawa kecil. Kepalanya menunduk untuk menunjukkan rok tutu yang ia pakai. "Kayak rok aku."


"Oh, biru langit itu," tukas Bu Rima mengerti. "Yaudah, ayo kita liat-liat ke atas. Mana model yang kamu suka. Soalnya aku punya sepuluh model buat warna biru langit itu."


Ily mengangguk. "Iya."


***


gimana-gimana? komen di bawah, ya, untuk support terus siapa bisa update lancar^^

__ADS_1


__ADS_2