
Eza: Ly, gue mau curhat dong
Ily berdecak ketika membaca pesan tersebut. Ia melirik Bu Rima yang masih sibuk melayani pelanggan sebelum akhirnya fokus untuk berbalas pesan dengan Eza.
Ily: curhat ya curhat aja. Bayar aja nggak
Eza: kok sewot wuanjay
Ily: sewot pala lu
Eza: hahaha, jadi gini, Ly
Ily: apa wuanjir gue nungguin
Eza: haha
Ily: up
Eza: wkwkwkwk
Ily: gue sibuk, Za
Eza: AKHIRNYA LYYYY
Eza: AKHIRNYA GUE KETEMU AYLA LAGI CIHUY ACIKIWIR ASEK-ASEK
Ily: gue doain semoga jodoh, deh
Eza: makasih :*
Ily: fotoin dong, pengen liat
Eza: nggak
Ily: gue makin curiga Ayla-Ayla itu bohongan
Eza: eh, bukan gitu. Takutnya nanti lo minder sampe kerak bumi kalau gue liatin Ayla ke lo
Ily: ha-ha
Eza: yaudah, deh, Ayla udah nungguin gue hehe. Dah~~
Ily: -_
Eza: doakan Fahreza akan punya pacar bernama bebeb Ayla hari ini
Ily: Amin
"Lagi chat-an sama siapa, Ly?" Bu Rima bertanya ketika Ily masih menatap layar ponsel, niatnya untuk membalas pesan dari Raihan. Namun, kedatangan Bu Rima membuat Ily mematikan ponselnya dan tersenyum pada Bu Rima.
"Sama Eza," balas Ily dengan tawa tanpa rasa bersalah. Kemudian ia menyodorkan kertas yang sudah ia buat pola di atasnya. "Kalau begini, gimana, bu?"
Bu Rima segera menerima kertas sket yang tergambar hasil gambar Ily. Matanya meneliti baik-baik, namun tak lama, keningnya mengernyit bingung.
"Lengannya kok pendek? Kan baju lebaran itu kebanyakan lengan panjang, Ily," kata Bu Rima menyuarakan rasa kurang pasnya atas pola buatan Ily.
"Oh harus panjang, ya? Ily kira pendek juga bisa," balas Ily seraya tertawa kecil, sebenarnya merutuki kebodohannya. Kemudian, dengan refleks ia mengambil kembali buku sketnya untuk diperbaiki. "Ily benerin dulu, deh."
"Yaudah, bagus." Bu Rima tersenyum, kemudian duduk di sebelah Ily karena sudah tak ada lagi pelanggan yang harus dilayani.
Ily mengernyit saat Bu Rima mendekat. "Kenapa, bu? Ada yang perlu dibenerin lagi?"
Bu Rima menggeleng. "Nggak."
Ily mengangguk. "Oke, bu."
Keheningan segera melingkupi keduanya karena Ily sibuk menggambar pola yang baru dan Bu Rima sibuk dengan pikirannya. Ia ingin menyuarakan sesuatu, tapi agak tak yakin.
"Mulai suka, Ly?"
"Hm? Suka apa, bu?"
"Raihan," balas Bu Rima cepat. Senyumnya terkembang seperti tak sabar menunggu jawaban Ily.
Tanpa Ily ketahui, Bu Rima menyuarakannya setelah lama berpikir.
Ily langsung terdiam. Bigung untuk menjawab karena rasanya masih mimpi. Kemarin, Raihan mengatakan sesuatu yang membuat Ily kepikiran sampai semalaman. Sore itu menjadi sore paling berarti bagi Ily.
Dengan cokelat diberikan, Raihan membalas perasaan Ily. Meski katanya cokelat itu bukan Raihan yang membeli, tetap saja rasanya Raihan memberikan cokelat itu dengan tulus.
Enam tahun yang lalu, Ily yang mengatakan sesuatu untuk Raihan.
Dipikir-pikir kembali, Ily sangat malu pada dirinya yang dahulu. Dia yang masih polos dan belum sepenuhnya mengerti akan cinta. Dia yang begitu mudah menyukai dia yang terlihat tampan saat tertawa.
Sebenarnya, Ily dan Raihan tak bisa dikatakan dekat sewaktu SD. Mereka hanya kenal satu bulan sebelum perpisahan karena menjadi perwakilan untuk sungkem dengan guru. Mereka juga terpisah kelas dan jarang berinteraksi sebelumnya.
Waktu kecil, Raihan tak sepintar sekarang hingga jarang ikut lomba akademik bersama Ily. Selalu yang perempuan dari kelas Raihan yang menjadi perwakilan untuk lomba di kelasnya. Sementara Ily, ia selalu menjadi perwakilan kelasnya karena nilainya selalu menjadi yang terbaik.
Ily dan Raihan pun awalnya sangat canggung, bahkan sulit untuk saling menyapa karena keduanya sama-sama tak berniat untuk menjadi akrab. Hingga Elvan dan Eza nimbrung, Ily dan Raihan tak bisa dicegah untuk mulai akrab.
Beberapa kali mereka membahas hasil Ujian Nasional dan beberapa soal yang agak nyeleneh di ingatan. Kemudian, beralih pada hobi masing-masing yang akhirnya berujung pada sesi saling cerita yang panjang. Waktu satu bulan yang dialami latihan untuk upacara perpisahan dan masuk sekolah jenjang yang lebih tinggi itu menjadikan Ily dan Raihan dekat.
Saling berbagi tawa, saling berbagi suka dan tak jarang juga berdebat akan suatu hal. Misalnya, Raihan yang sering kali menegur Ily karena terlalu banyak membeli minuman bersoda karena entah kenapa, waktu kecil, Ily suka sekali minuman berkarbonasi itu.
Sebaliknya, Ily juga suka menceramahi Raihan yang kalau beli cilok itu suka memakai banyak sekali saos merah, bahkan kalau beli bakso, Raihan itu pakai sambalnya segunung. Ily khawatir perut Raihan akan meledak karena panas dan pedas.
Namun, Ily dan Raihan sama-sama tak bisa menghilangkan kesukaannya mereka pada minuman bersoda dan saos pedas atau sambal cabe rawit.
Pada akhirnya, keduanya saling membiarkan karena tak mau persahabatan jadi rusak hanya karena saling larang untuk makan atau minum sesuatu yang amat disuka.
Atas hal-hal kecil dan interaksi yang lumayan sering dilakukan, Ily mulai menaruh hati pada Raihan. Namanya juga anak SD, ya pokoknya begitulah.
__ADS_1
Raihan itu anak biasa saja sebenarnya. Tidak tampak pernah ikut aksi kenakalan remaja, bahasa yang dia gunakan pun sopan dan baik, prestasinya mungkin hanya jadi peringkat dua, tapi itu sudah bagus dibandingkan dengan Elvan atau Eza yang sama-sama laki-laki.
Raihan suka mengatakan kalau Ily tertawa, matanya jadi hilang dan itu adalah hal favorit Ily. Atau bagaimana laki-laki itu menawarkan makanan yang ia punya untuk Ily, tak seperti Elvan dan Eza yang lagi-lagi pelit. Raihan juga suka membuat lelucon-lelucon untuk menghibur Ily, tak lupa menanyakan kabar Ily karena saat itu musim sedang tak bersahabat.
Pada intinya, Ily suka Raihan.
Ily juga tak tahu mengapa bisa seperti itu. Itu sudah terjadi lama sekali.
Hingga keduanya terpisah selesai perpisahan. Ily, Elvan dan Eza melanjutkan di suatu SMP negeri yang sama, sementara Raihan hilang kabarnya begitu saja. Mereka baru mengenal Raihan satu bulan, tentu tak begitu dekat hingga tak tahu rumahnya untuk memastikan Raihan baik-baik saja.
Ily hanya memiliki Line Raihan yang sesekali aktif.
Elvan dan Eza tampaknya sudah melupakan karena mereka tak pernah membahas Raihan lagi sejak kelulusan, tak seperti Ily yang senantiasa memikirkan Raihan... dalam hatinya, dalam pikirannya.
Masa SMP Ily pun tak seberarti itu. Teman-temannya tak ada yang spesial, tak ada yang cukup berkesan untuk menggeser nama Raihan dalam kalbunya. Ada anak laki-laki yang langganan menjadi bulan-bulanan dengan Ily karena anak laki-laki itu pernah nembak Ily, tapi Ily tolak karena memang tidak ada rasa.
Anak laki-laki itu tak membuat Ily merasa bersalah, justru keduanya jadi sahabatan dekat. Namun, waktu SMA, dia seolah hilang dari kehidupan Ily karena berpisah sekolah.
Oke, balik lagi ke waktu Ily SMP.
Tiga bulan sejak jadi siswi baru di SMP, Ily mulai memberanikan diri untuk membuat pengakuan. Raihan terus menganggu pikirannya hingga Ily berani untuk mengirimkan pesan online pada Raihan yang isinya kira-kira seperti ini:
Raihan.... aku suka sama kamu.
Memang, sangat tak jelas karena terlalu tiba-tiba. Namun, Ily saja lupa waktu itu apa yang dia pikirkan hingga memutuskan hal yang sangat memalukan itu.
Wajah Ily memerah, kemudian mematikan ponselnya dengan jantung berdegup kencang menanti jawaban Raihan. Masalahnya, pesan itu adalah yang pertama setelah tiga bulan mereka putus kontak.
Ily juga tak tahu apakah Line Raihan sudah ganti atau tidak.
Hingga jam-jam berikutnya berlaku, akhirnya Ily memberanikan diri untuk mengaktifkan kembali ponselnya. Melihat apakah ada balasan atau tidak.
Sesuatu yang menyedihkan menyambut Ily ketika hanya ada tanda read saja pada pesannya yang sudah dikirim. Dari rinciannya, Raihan sudah membaca pesannya sejak satu jam yang lalu.
Dan belum ada balasan.
Entah apa yang merasuki Ily waktu itu, dia mengirim lagi beberapa pesan.
Heh, kok nggak dibales?
Kalau nggak dibales juga, kita nggak berteman lagi, ya
Raihan...
Kamu udah punya temen baru, ya, di sana?
Lebih seru pasti, ya?
Heiiiii
Nggak mau ngobrol lagi gitu sama aku?
Hannnnnn
Iya, Ily menangis karena merasa ditolak oleh Raihan dan langsung memasang suatu posting di akun facebooknya. Isinya kira-kira begini:
Broken heart 😭😭😢😢💔
Mengingat masa itu, Ily ingin mengubur diri sekarang juga.
Maka dari itu, balasan dari Raihan yang diutarakan laki-laki itu kemarin sore membuat Ily terkejut karena dirinya sudah melupakan rasa tak berbalas itu enam tahun yang lalu.
Meski kini, mungkin rasa itu akan kembali tumbuh dengan sendirinya, Ily masih bingung untuk menjawab pertanyaan Bu Rima. Dirinya memang ingin mencoba lagi, namun ketika sudah ada jalan, dirinya takut terluka.
Tolong jangan maki Ily, dirinya ini memang masih sangat labil.
"Ck, bercanda, Ly. Serius amat mikirnya," tukas Bu Rima kemudian. Dengan tawa pecah yang membuat Ily bernapas lega kembali. "Maksudnya, udah mulai suka dunia bikin desain, bikin pola, menjahit sama rancang baju?"
Ily segera mengangguk kecil. "Iya, bu. Ily mulai suka, nih. Malah, tiap malem suka mikir-mikir buat warna bajunya, motif hiasannya sama variasinya."
"Wah, bagus, tuh. Kalau polanya udah selesai, kita mulai menjahit."
"Bisa selesai sekarang, bu. Besok langsung menjahit aja, Ily nggak sabar!"
"Eh, jangan besok."
"Hah, kenapa?"
"Pokoknya kamu pasti ada acara."
Ily mengerutkan keningnya dengan wajah bingung. "Eh... nggak ada kok, bu. Ily nggak pernah ada acara malahan."
"Eh, ada." Bu Rima tetap pada pendiriannya. "Tunggu aja."
"Yaudah, deh, bu." Atas perkataan Bu Rima yang tak ia mengerti saat ini, Ily hanya menipiskan bibirnya dan lanjut menggambar pola terakhir untuk menyelesaikan rancangan baju lebarannya.
***
Malam ini hujan turun deras.
Raihan perlu menepi di sebuah halte untuk berteduh sebelum sampai di tujuannya untuk makan malam dengan Shasi. Kedua insan yang berada di motor yang sama sebelumnya, harus buru-buru turun dan berlindung di bawah kanopi bangunan halte karena hujan turun dengan derasnya.
Shasi terdengar meringis keras dan mengeluh karena sepatunya menginjak genangan air yang membuatnya kini basah.
"Aduh, yang, ini sepatu baru aku jadi kotor, basah lagi, ish," kelah Shasi, terdengar manja di telinga Raihan.
Raihan menatap sepatu Shasi dengan wajah frustasi. Jika tak mau dianggap sebagai pacar yang membosankan oleh Shasi, sudah pasti Raihan akan menolak ajakannya untuk makan malam saat ini.
Besok memang libur, tapi bukan berarti Raihan senang. Masih banyak tugas yang belum selesai dan otaknya kini sudah penat dipakai belajar seharian tadi.
Shasi sih enak, belum kuliah dan belum sibuk ini-itu. Namun, sebagai pacar yang baik, Raihan harus tersenyum simpati pada apa yang sepatu Shasi alami.
__ADS_1
"Aduh, gue nggak bawa tisu, nih."
Shasi cemberut.
"Mau lap pake jaket gue?" Raihan menawarkan. Kebetulan jaket yang ia kenakan warnanya hitam dan tak akan terlihat jelas jika terkena noda. Dengan cepat, laki-laki itu membuka jaket tersebut.
Mata Shasi melotot. Menahan lengan Raihan yang hendak membawa jaketnya untuk mengelap sepatunya yang basah. "Heh, jangan, dong! Nanti jaket lo basah juga, kotor lagi. Ini kan cokelat banget nodanya, lihat!"
Sepatu Shasi yang berwarna putih memang membuat kotoran yang menimpanya terlihat jelas.
"Nggak apa-apa, jaket gue warnanya item. Pasti nggak keliatan," kata Raihan tak setuju dengan penolakan Shasi.
"Nggak apa-apa, sayang," tolak Shasi.
"Eh, gue juga nggak apa-apa," balas Raihan tak kalah keras kepala. "Lagian sayang juga kan itu sepatu baru."
"Nggak apa-apa, besok beli lagi aja yang baru," tukas Shasi enteng. "Cuman tadi kesel aja karena sial banget."
Raihan terdiam. Kemudian, menggantungkan jaket hitamnya pada kedua bahu Shasi. Perempuan itu memakai baju lengan pendek yang pastinya akan membuat hawa dingin menusuk jika tak diberi pelindung seperti jaket.
"Dingin, kan?" Raihan bertanya ketika Shasi menolehkan wajahnya dengan bingung.
Shasi tersenyum. "Makasih."
"Yoi." Raihan berdeham kemudian. "Sekarang lanjut jalan? Hujannya udah agak reda."
"Ayok." Shasi mengangguk seraya mengikuti langkah Raihan yang sudah lebih dulu ke arah motornya. Untuk setelahnya melaju, melewati gerimis malam dan hawa dingin yang dapat menembus tulang.
Sejurus kemudian, keduanya sampai di mall yang ramai. Jelas, malam Minggu menjadi malam terpadat karena banyak sekali pasangan-pasangan muda atau tua yang berkeliaran untuk mencari bahagia.
Raihan dan Shasi jelas salah satunya.
Tak banyak bicara, mereka berjalan ke tempat makan dan memesan di tempat ayam geprek langganannya. Shasi juga penyuka pedas untungnya, jadi Raihan tak perlu khawatir untuk memesan porsi serupa dengan level pedas teratas.
Pada intinya, Raihan tak sendirian menikmati makanan favoritnya.
Setelah memesan, keduanya duduk di meja yang kosong. Setelah duduk, Raihan langsung membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel untuk dimainkan. Saat menghidupkan data, pesan-pesan banyak masuk. Namun, yang pertama ia buka adalah dari Ily.
Ily: makasih ya cokelatnya^^ baru dimakan sekarang
Senyum Raihan refleks tercipta saat akan membalasnya.
Raihan: sama-sama hehe. Enak nggak? Enak pasti
Tak perlu lama Raihan menunggu, Ily langsung membalasnya.
Ily: enak sih, tapi bentukannya agak rusak gitu. Kayak meleleh, hancur terus beku lagu karena gue masukin kulkas langsung waktu itu
Lagi, senyum Raihan tercipta lebar karenanya. Raihan tidak menyadari, Shasi memerhatikannya dengan mata tajam. Tanpa bisa ditahan lagi, Shasi berdeham keras hingga perhatian Raihan teralihkan.
"Oh, Si." Raihan tersenyum padanya. Kemudian mematikan ponsel dan menaruhnya di sisi meja. "Kenapa?"
Shasi hampir mendelik andai saja wajah Raihan tak tampak ramah dengan senyum lebar itu. "Lo yang kenapa, Raihan."
"Hah?"
"Lo beda hari ini." Satu tahun lebih berpacaran dengan Raihan, bukan hal yang sulit untuk Shasi dapat membaca suasana hati dari raut wajah Raihan.
Raihan langsung terdiam lebih lama dari seharusnya.
"Kenapa?" tanya Shasi bingung, mungkin lebih tepatnya khawatir. "Lo bosen sama gue?"
"Kok lo bisa bilang begitu?"
"Apa gue salah?" Shasi langsung membalas dan dengan balasannya, Raihan terdiam telak dan membuat Shasi tertawa hambar setelahnya. "Gue bener rupanya. Gara-gara cewek itu, ya?"
Raihan meneguk ludahnya kasar. "Oke, gue nggak mau banyak pura-pura lagi sama lo, Si."
"Bener, jir. Shit." Shasi memaki pahit seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya dari Raihan.
Jujur, melihatnya, Raihan merasa sangat bersalah. Sakit melihat raut wajah Shasi kini berpura-pura tegar dan amat kecewa. "Lo orang baik, Si. Sejak gue kenal lo, sampai sekarang. Lo masih sangat baik."
"Jangan sok manis lo. Gue udah ilfeel duluan," balas Shasi pedas.
"Ye," tukas Raihan patah semangat. "Jangan begitu dong, Si."
"Ya terus gue harus apa?" Shasi balas bertanya dengan nada sewot.
Raihan mengela napas kecil. "Gini, Si. Bukannya gue bosen atau apa sama lo. Tapi---"
"Lo memaksa untuk bosen karena ada cewek itu," potong Shasi kelewat bawa perasaan. "Lo begitu, Raihan. Udah nggak ada yang perlu dibahas lagi. Gue mau pulang udah makan ini. Anterin."
Raihan melongo, namun tak mampu membalas lagi karena sudah pasti akan kena semprot Shasi setelahnya. Yang ia lakukan selanjutnya hanya diam, menunggu dan makan pesanan yang telah tiba beberapa saat kemudian.
Jika harus menjelaskan lebih lanjut, Raihan menyukai Shasi karena perempuan itu tampak apa adanya, menyayanginya apa adanya dan tak pernah membuat Raihan kehilangan arah. Shasi sabar, meski kadang memaksakan kehendaknya. Shasi pengertian, meski kadang memutuskan sepihak. Shasi baik, meski kadang membuat Raihan merasa dikhianati.
Sebab pernah satu kali, Shasi tak menghubungi Raihan satu minggu karena perempuan itu dijodohkan oleh ayahnya yang mengharuskannya fokus selama tujuh hari itu. Shasi tak memberitahu Raihan dan jujur, meski Shasi pada akhirnya kembali lagi padanya, Raihan sangat sakit hati.
Sekarang, Raihan yang menyakiti Shasi.
Mungkin, Shasi paham bahwa cinta itu tak bisa diteruskan jika saling memberi luka, jika saling membalas sakit dan jika salah satunya tak lagi memberi hati. Karenanya, Shasi tak mendebat lebih banyak atau memaksa Raihan untuk berubah pikiran.
Toh, hubungan mereka juga belum sejauh itu dan tak ada hak untuk Shasi terus mendekap Raihan dalam peluknya yang mungkin tak akan dibalas kembali sebab Raihan sudah punya tempat yang lain untuk ia singgahi hatinya.
Tak apa, Shasi menerima dengan lapang dada. Toh, masih banyak juga laki-laki lain.
"Maaf, ya, Si," kata Raihan merasa perlu.
"Sekali lagi ngomong, gue tusuk tuh mulut pake ini garpu!" seru Shasi kejam.
Dengan begitu, mulut Raihan terkunci.
__ADS_1
***
5 komen baru lanjooooooot^^^