
Lima tahun kemudian.
"Selamat ulang tahun, sayangku!" suara Ayla yang nyaring itu menjadi pemecah keheningan rumah Yohan dan Ily. Pada tanggal terakhir yang ada di kalender dalam satu tahun berjalan, Liliana Kim tepat menginjak lima tahun. "Ish, gemes, Lili udah lima tahun aja."
Hari ini.
Seperti ulang tahun-ulang tahun Lili sebelumnya, Yohan dan Ily mengundang teman-temannya pada malam hari setelah pesta perayaan ulang tahun Lili di siang hari berakhir.
Kado-kado dan serpihan-serpihan kertas metalik bekas pesta itu masih berserakan karena Yohan dan Ily baru membereskan hiasan-hiasan serta balon-balon. Malam sudah menjemput saat lantai masih kotor dengan sampah-sampah, entah bekas kado, karet balon yang pecab atau makanan dari tamu undangan.
Jam tujuh sudah menjemput saat Ayla serta Eza hadir. Mereka membawa satu kotak kado pada Lili yang segera menerimanya dengan senang hati.
"Kak Yaya kasih kado isinya apa?" Lili sudab akrab memanggil Ayla dengan sebutan itu karena Ayla yang mau dipanggil Kak, padahal umur sudah tak bisa disebut kakak lagi.
Ayla tiga tahun lebih muda dari Ily dan kini punya dua anak, mereka kembar yang masih berusia satu tahun. Ayla dan Eza menikah tahun kemarin, lima tahun setelah Yohan dan Ily berumah tangga.
Itu karena ayah Ayla yang banyak meragukan Eza dan menyuruh Ayla fokus karirnya lebih dulu. Karena cinta, akhirnya keduanya bisa bersama seperti ini.
"Ya, masa kakak kasih tau sih?" Ayla mengacak rambut Lili dengan gemas. "Ya, kamu buka aja."
Lili mengerucutkan bibirnya. "Kalau bukan buku, Lili nggak mau buka. Ini empuk gitu, kayaknya boneka, ya?"
Eza tertawa kecil mendengar perkataan Lili. Kemudian menatap Ily yang duduk santai di sofa. "Ly, lo ajarin apa deh ini anak? Kok kata-katanya nyebelin kayak lo?"
Ily membalas bisikan Eza dengan gerakan bibir tanpa suara yang mengatakan, 'bacot'.
Eza kontan mendelik.
"Lah, Lili bisa cenayang, ya?" Ayla tampak kehabisan kata-kata. Sudah terlanjur basah, maka Ayla akan berenang sekalian. "Iya, itu boneka Doraemon. Kamu suka nggak?"
"Nggak."
"Eh?"
"Wadow."
Ayla dan Eza dibuat tersinggung.
__ADS_1
"Namanya juga anak kecil, Za, La," kata Ily menenangkan keduanya.
Lili langsung pergi meninggalkan Ayla untuk duduk di pangkuan Ily yang sedang menonton TV.
"Ibu, ayah mana?" tanya Lili. "Kangen."
"Baru aja keluar. Mau jemput Om Elvan sama istrinya soalnya takut nyasar. Mereka kan selama ini tinggal di Australia," jelas Ily seraya mengusap-usap rambut Lili.
"Nggak ada buku, sih, sebel Lili," keluh Lili seraya memeluk erat perut Ily. "Lili pengen kado buku. Tapi nggak ketemu-ketemu."
"Nanti Kak Yaya beliin, deh," kata Ayla menenangkan. "Besok Kak Yaya ke sini lagi."
Mengapa Ayla begitu baik pada Lili adalah karena Ily banyak membantu dirinya selama hamil karena rumah mereka lumayan dekat. Yohan juga turut ikut berjuang bersama Eza untuk mendapat restu ayah Ayla yang super ketat itu.
Lili langsung berbinar matanya, pelukan eratnya pada Ily seketika lepas. "Bener, Kak?"
"Bener." Ayla mengangguk. "Emang kamu suka baca, ya?"
"Bukan suka lagi, suka banget. Itu di kamarnya udah banyak buku-buku yang dibeliin Yohan," jelas Ily mengambil alih. "Seharian Lili bisa baca lima buku."
Lili tertawa malu-malu.
"Halo, halo! Elvan datang!"
Tak lama, muncul Elvan--sepupu Ily--dengan Rose, istrinya yang asli dari Australia dan seorang anak laki-lakinya. Kedatangannya jelas membuat Ily, Eza dan Ayla senang.
"Kesampaian juga datang!" seru Ily Seraya bangkit dan menghadapi Elvan lebih dekat. "Kangen gue, Van."
Sementara mereka bertukar rasa rindu, Lili segera menghampiri kado yang dibawa Elvan. "Ini isinya buku, Om?"
"Sesuai keinginan kamu, Li," balas Elvan seraya berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Lili. Lili langsung tersenyum cerah, ia tak pernah bertemu Elvan dan hanya bertukar sapaan lewat Skype beberapa kali.
Lili tak mengira Elvan akan setampan ini dan Lili tak bisa menahan diri untuk tak memeluk Elvan. "Makasih, Om! Lili Sayang Om Elvan!"
Lili mengecup di pipi dan Elvan saat melepas pelukan singkat itu untuk setelahnya membuka kotak hadiah.
"Selamat ulang tahun, Lili," kata Elvan ramah.
__ADS_1
Kotak hadiah dari Elvan benar-benar buku. Mata Lili berbinar dan menatap Elvan senang sekali. "Makasih banyak, Om! Ini ada berapa ... woah, ada delapan!"
"Baca deh sepuasnya," kata Yohan yang sudah hafal kebiasaan Lili yang gemar, ah, sangat gemar membaca.
Lili tertawa polos.
"Eh, ini siapa?" Ily tertarik pada anak laki-laki yang sedari tadi diam.
"Anak gue-lah, siapa lagi," balas Elvan cepat.
"Biasa aja kali. Namanya siapa? Berapa tahun?" Ily merendahkan diri untuk seraya dengan anak itu. Senyum Ily mengembang.
Anak itu turut tersenyum tipis. "Regan Abraham. Lima tahun."
"Woah, seumuran sama Lili!" seru Ily senang. Sepupunya itu memang sudah ke Australia enam tahun yang lalu karena melamar pekerjaan sebagai jasa pengawalan berkat bantuan Juna. Sekarang, Elvan sudah punya istri dan anak yang seumuran dengan anaknya, Ily yakin Elvan bahagia di sana. "Sini, main sama Lili."
Yohan menarik tangan Lili untuk mendekat pada Regan. "Berarti ini sepupu kamu, Li."
Lili tersenyum, mengulurkan tangannya pada Regan. "Lili."
"Regan." Laki-laki itu bersuara tanpa balas menjabat.
"Sombong amat." Lili berdecak kesal untuk setelahnya pergi ke kamarnya untuk membaca. Dengan buku, Lili bisa saja melupakan segalanya.
Elvan tertawa kecil. "Anaknya emang judes."
"Mereka bisa bahasa Indonesia nggak, Van?" tanya Ily takut-takut.
"Nggak," balas Elvan seraya meringis.
Mulai dari Yohan, Ily, Ayla sampai Eza, mereka sama-sama menepuk keningnya dengan buangan napas lelah.
"Gimana mereka nggak kelihatan jutek kalau ngerti apa yang kita omongin aja nggak, Elvan Dodol!" seru Ily, mewakili tiga orang lainnya yang tak habis pikir dengan Elvan.
"Gue mau balik lagi, kok. Mungkin malam ini nginep, besoknya udah cus."
***
__ADS_1