Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 7


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal Theodoric Efrad? Laki-laki super tampan yang sayangnya setengah gesrek karena banyak kelakuannya yang tidak masuk akal itu jelas dikenal satu sekolah. Dari barisan kutu buku, aktifis sekolah, aktifis ekskul, guru-guru, sampai satpam dan para penjual di kantin sudah hafal siapa laki-laki yang kerap disapa Theo itu.


Theo pernah bolos satu Minggu dan hadir pada satu hari dengan badan berlimpah darah--maksudnya banyak luka di tubuhnya yang masih mengeluarkan darah. Laki-laki itu tak mau bicara banyak, namun beritanya sangat menggemparkan sekolah dan masih menjadi misteri sampai sekarang. "


Jelas, karena Theo tidak sendirian, mudah sekali baginya untuk terkenal. Ada tiga tampan lainnya yang senantiasa mendampingi setiap langkah dan beragam aksinya.


Dengan berteman dengan salah satu murid pintar yang bahkan pernah ikut OSN Matematika, Theo terkenal dibarisan anak-anak dengan otak encer. Tendric Alfareska, atau yang sering dipanggil Ten, adalah teman Theo dari TK, mereka satu lingkungan dan mereka adalah sepaket. Ten adalah partner in crime Theo, begitupula sebaliknya.


Theo dan Ten selalu kompak untuk bolos. Beberapa kali pernah kepergok merokok di kawasan sekolah, khususnya gedung tak terpakai di belakang lab bahasa paling ujung. Pernah bersekongkol untuk membocorkan ban seorang guru yang mereka dendami, pernah berkerja sama juga untuk mencuri soal ujian sekolah karena geram atas sistem ranking di sekolah ini yang tampak meremehkan siswa rendahan seperti Theo dan mengagungkan siswa pintar seperti Ten.


Selain Ten, Theo juga akrab dengan bintang sekolah. Laki-laki yang sudah mendapatkan tawaran iklan sampai film atas ketampanan wajahnya. Lucas Zefradihanyu. Mereka pernah terlibat percekcokan panas hingga akhirnya menjadi teman dekat secara tidak terduga.


Dengan berjalannya tiga diva itu, jelas satu koridor hening. Berpasang-pasang mata melihat mereka penuh pujian, penuh kekaguman dan penuh rasa senang. Mereka tersihir, bagaimana tiga paket itu menyegarkan mata mereka.


Banyak perempuan yang langsung bercermin di ponselnya, membasahi bibirnya, membenarkan tatanan rambut, mengerlingkan matanya, merapikan bajunya sampai menyemprotkan parfum untuk mendapatkan perhatian setidaknya salah satu dari tiga pemuda itu.


Kenapa begitu?


Jelas, selain super tampan, ketiganya jomlo.


Theo berjalan di tengah-tengah. Lucas samping kiri, Ten samping kanan. Ketiganya beda kelas. Theo, IPA 3, Lucas IPS 4 dan Then, tentu saja, IPA 1.


Meski begitu, kantin adalah tempat janjian tak tertulis mereka. Di mana pun mereka berada sebelumnya, pasti ketiganya akan berada di kantin pada akhirnya.


Hari ini kebetulan ketiganya ada di toilet yang sama dan akhirnya melangkah bersamaan ke kantin. Surganya sekolah bagi mereka.


"Lo ada latihan MTK lagi, kagak?" tanya Lucas pada Ten, ketika teringat dahulu Tentang sering absen dari tongkrongan karena latihan Matematika.


"Nggaklah." Ten langsung menjawab datar. "Gue udah lomba tiga bulan yang lalu. Kalau ada pun, kayaknya delapan bulan kemudian."

__ADS_1


"Oke."


Mereka bertiga akhirnya sampai di kantin. Tak begitu ramai karena belum waktunya istirahat, hanya ada beberapa anak nakal serupa Theo, Ten dan Lucas serta gerombolan anak kelas dua belas yang begajulan.


Theo, Ten dan Lucas duduk di salah satu meja kosong, memesan soto masing-masing satu porsi dan menunggu kedatangan pesanan mereka.


"Hari yang tenang ya sekarang, nggak ada masalah," cetus Lucas kemudian.


"Gue ada masalah tiap hari," balas Theo kesal. "Lo enak. Gue ketemu bapak gue langsung sikat."


Lucas berdecak prihatin. "Maksud gue bukan gitu, Yo. Bukan masalah keluarga yang nggak ada. Masalah sekolah nih, yang nggak ada."


"Baru juga masuk. Emangnya lo may langsung tubir?" Ten membalas sewot. "Hari pertama sekolah damai-damai aja udah."


"Kalau ada bahan tubir, kenapa nggak?" Lucas bertanya dengan tawa renyah. "Udah lama nggak pake bogem andalan."


"Preman depan sekolah udah pindah, ya?" Theo tiba-tiba bertanya.


"Gue liat salah satu anak buahnya tadi di depan. Pas mau gue samperin, anaknya buru-buru kabur. Gue curiga," balas Theo serius. "Kadang, bokap gue ngawasin pake preman. Kalau gue nakal, pasti langsung dihajar."


Ten menatap Theo prihatin. "Nanti gue bantu selidiki, deh."


"Mau gue post di-iG biar viral? Bentukannya kayak gimana itu preman?" Lucas buru-buru membuka ponselnya.


Ten berdecak karena Lucas terkesan menyombongkan akun Instagram yang sudah memiliki centang biru. "Nggak usahlah, ngapain juga. Yang ada lo nanti jadi targetnya, berabe jadinya."


"Tinggal sewa bodyguard apa susahnya?" balas Lucas enteng.


"Iya, duit bapak lo kan ada segunung," tukas Ten jadi emosi. "Gue gimana? Nanti gue juga ikut berabe."

__ADS_1


"Udah napa. Tubir mulu. Gue tonjok lo berdua," lerai Theo yang sudah merasa tak kuat dengan perdebatan Ten dan Lucas yang tak berujung.


"Selow, Bosque," tukas Lucas dengan tawa kecil.


"Malem nanti ikut balap kan?" tanya Ten tiba-tiba. "Ada penantang baru. Katanya baru balik dari Australia."


Alis Theo terangkat. "Siapa, deh? Berani banget. Nggak tahu apa aturan kita-kita?"


"Dia udah tau, ****. Justru dia kapten daerah sono. Katanya bakalan ada tiga orang." Ten menukas tajam. "Gue takut kalau kita kalah."


Theo tersenyum penuh arti. "Nggak ada takut kalah dalam kamus gue. Jam berapa?"


"Biasa, Yo. Jam sebelas aja." Lucas membalas cepat. "Dedek Titi pasti udah tidur kan jam segitu."


"Oh iya dong, Theo dulu yang nina-boboin," tambah Ten jadi kompak menggoda Theo bersama Lucas.


"Ha ha." Theo tertawa hambar. "Pulang sekolah abis lo berdua."


"Bercanda doang, *****. Serius amat lo ah!" seru Lucas seraya menepuk kasar punggung Theo.


"Bercanda ada batasannya, Cas," tandas Theo serius.


"Buset deh ini anak garong amat sama sahabat sendiri juga," kata Lucas tak habis pikir. Dari ketiganya, Lucas memang yang paling manusiawi, maksudnya Lucas masih bisa bercanda dan tertawa selayaknya murid yang lainnya. Ten punya level di bawah Lucas. Ten masih bisa diajak bercanda, meski jarang sekali buat dia tertawa.


Beda dengan Theo yang akan tertawa jika ada yang benar-benar lucu menurut mereka, dan tidak akan pernah bercanda bahkan jika itu sangat diperlukan.


Serius adalah predikat sehari-hari seorang Theo.


Jadi, jangan berani untuk mengajaknya bercanda atau menggodanya jika tak ingin tamat hari itu juga.

__ADS_1


***


__ADS_2