Dari Korea

Dari Korea
LSF - 40


__ADS_3

Luhan menunggu kedatangan Sari di motornya yang terparkir karena dia tidak menemukan Sari di tempat latihan taekwondo seperti sebelumnya. Luhan tak mau mengira yang tidak-tidak, jadi dia menunggu saja dengan sabar.


Lethan, Langit dan Lingga jelas sudah pulang. Jadi, Luhan memainkan ponselnya saja untuk mengusir rasa bosan karena sendirian.


Luhan tertawa saat melihat kontaknya kini bersih dari banyak perempuan. Hanya ada satu perempuan di kontaknya yang selain keluarganya.


Gampang untuk menebaknya. Hanya Sari.


Luhan mengakui bahwa dia memang sesuka itu pada Sari. Dia bahkan merelakan dua barang berharganya pada Sari hari ini.


Ketika akhirnya melihat Sari berjalan di lorong masuk parkiran jauh di sana, senyum Luhan langsung terbit dan laki-laki itu langsung berdiri. Luhan niatnya ingin langsung menghampiri Sari. Namun, ketika melihat di bahu Sari ada tangan seseorang yang rupanya milik Deon, dunia Luhan seketika terasa hancur.


Waktu seperti dipercepat sampai tahu-tahu Sari ada di depannya. Tangannya menyodorkan jam tangan serta kalung perang milik Luhan. "Nih."


Luhan mematung. Ia masih tak menyangka dan tak bisa terima Sari tenang-tenang saja saat ada laki-laki yang merangkulnya.


"Gelang lo gue sita. Dua-duanya. Harusnya lo sadar kalau pake gelang di sekolah itu dilarang." Sari mengambil tangan Luhan dan menaruh dua barang milik Luhan di sana karena kelihatannya Luhan akan terus diam kalau Sari tidak bertindak.


Luhan menerimanya dengan tatapan kosong.


Sebelum Sari benar-benar pergi, Luhan menahan tangannya. Membuat langkah Sari dan Deon terhenti. Kelihatannya ... Sari dan Deon ada sesuatu. Luhan takut untuk memastikan kebenarannya.


"Kalian berdua pacaran?" Namun, Luhan memberanikan dirinya.


Sari tersenyum. Luhan terperangah melihat Sari bisa tersenyum selebar itu. "Nggak ada aturan sekolah yang larang buat pacaran, kan?"


Deon balas tersenyum. Kemudian dia tertawa. Deon menatap Sari dengan lembut. "Bisa aja lo."


Bagaimana cara Sari balas menatap Deon dibandingkan saat Sari menatap Luhan, membuat Luhan sadar akan sesuatu.


Sari sama sekali tak menaruh rasa tertarik padanya.


Luhan langsung berbalik, menyembunyikan wajahnya sedihnya. Sial. Sari benar-benar sudah jauh dari jangkauannya. Sudah benar-benar tak bisa dia jangkau lagi.


Luhan bukan tipe laki-laki yang tak tahu diri. Jika Sari tak menyukainya bahkan setelah Luhan menunjukkannya terang-terangan—sampai Sari menerima laki-laki lain sebagainya pacarnya, maka Luhan akan mundur dengan damai.


Menikmati sakit hati pertama kalinya dengan lapang dada.


Luhan tak pernah menyangka bahwa ditolak akan semenyakitkan ini. Apakah ini karma dari kelakukan Luhan sebelum-sebelumnya saat dia membuat ciwi-ciwi menangis?

__ADS_1


Luhan tersenyum, kemudian mengangguk kecil. Sepertinya jawabannya iya.


Luhan mendapatkan hukumannya sekarang.


***


Hari-hari berikutnya, Luhan jadi lebih pendiam dari biasanya dan Sari lebih ekspresif dari biasanya.


Dua hal yang janggal itu jelas membuat ketiga teman Luhan yang senantiasa memerhatikan Luhan beserta keadaannya merasa ada yang aneh dan serius yang terjadi di antara Luhan dan Sari.


Maka dari itu, waktu pulang sekolah, sebelum benar-benar cabut ke rumah masing-masing, Lethan menahan Luhan di tempatnya. Lingga dan Langit juga langsung sedia menempati kursi di depan Lethan dan Luhan.


"Lo ... sama Sari kenapa, deh?" tanya Lethan langsung.


Luhan berdeham. Tampak enggan untuk memberitahu.


"Han ...." Lingga turut memelas. Bagi Lingga, Luhan dengan kegilaannya itu berarti kondisi Luhan sehat. Jika Luhan kehilangan kegilaannya, maka Lingga menganggap kondisi Luhan sedang tidak sehat. "Lo berubah. Lo sadar itu?"


Luhan membuang napasnya dengan berat. Rasanya frustasi dan campur aduk baginya.


"Gue bilangin ke Sari kalau lo mau ada sesuatu yang harus disampaikan ke dia." Langit angkat suara, menawarkan diri dengan suka rela. "Gue liatin dari kemarin-kemarin, lo kayak menghindari Sari terus."


"Semua orang udah tau itu, Han." Lingga menukas santai. "Masalahnya lo udah lindung lebih dari dua Minggu. Ini nggak normal banget buat gue."


Mata Luhan menajam saat menatap mata Lingga. "Maksud lo nggak normal?"


Lingga langsung kehilangan kata-kata. Bukan maksudnya untuk meledek Luhan di saat-saat seperti ini. Soalnya, Lingga tak punya kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan apa yang dipikirkannya kini.


"Gini, Han." Lethan ambil bagiannya. "Lo ada apa sama Sari sampai lo jadi begini?"


"Gue sakit hati, Than," aku Luhan dengan berat hati. Dia menunduk dalam dengan wajah sedih. "Tapi kalo liat wajannya Sari, gue pengen nangis dan hati ini kerasa sesak banget. Gue nggak tahan."


Lethan membuang napas tak percaya. Playboy kelas kakap yang biasanya tak memikirkan hati wanita dan ganti-ganti penghuni hati setidaknya seminggu sekali bisa patah hati sampai berubah seperti ini.


"Kenapa bisa sampai begitu?"


"Gue juga nggak tau lah, Than," balas Luhan frustasi. "Ini masalah hati. Kagak ada yang tau."


"Manusia di muka bumi ini adalah tujuh miliar lebih, Han," kata Langit memberi kata-kata penyemangat. "Kenapa lo nggak berencana untuk liat yang lain dan berusaha melupakan Sari?"

__ADS_1


"Apa bisa?" Luhan bertanya dengan wajah tak semangat. "Gue rasa Sari udah mengunci hati gue cuma buat dia."


"Apa dia pake pelet?" tanya Lingga asal.


Luhan langsung menepuk kepalanya dengan kesal. "Mana ada!"


"Kan gue cuma iseng doang."


"Jadi, gimana?" tanya Langit.


"Apa?" Luhan bingung.


"Nggak ada rencana?" tanya Langit mengulang.


"Apakah harus?"


"Ya masa lo mau galauin Sari sampai jaman akhir saat jelas-jelas Sari sama sekali nggak peduli sama lo?"


Luhan tersenyum lebar seraya menggeleng dengan wajah penuh keyakinan. "Gue rasa gue harus berhenti di sini."


Perkataan itu bagaikan petir di siang bolong bagi Lingga, Langit dan Lethan.


"APA?!"


"Iya." Luhan mengangguk. Menegaskan bahwa telinga tiga temannya itu tidak bermasalah saat mendengarnya memutuskan hal itu. "Gue rasa gue harus berhenti buat deketin cewek-cewek dan bikin mereka sedih. Gue sekarang paham rasanya sakit hati. Gue nggak mau ada korban lagi. Gue sebagai korban sendiri adalah penutup yang manis."


Luhan tertawa kecil. "Gue udah renungin ini selama dua minggu terakhir. Gue pikir gue harus berubah. Seperti kata Sari, gue juga serius juga menghadang dunia ini, jangan bercanda terus."


Langit, Lingga dan Lethan dibuat melongo atas kata-kata yang rasanya mustahil sekali bisa keluar dari mulut seorang Luhan Kim.


"Gue juga mau fokus di pelajaran. Gue masih belum tau tujuan hidup gue ke mana dan gue mau mulai untuk merencanakan tujuan masa depan gue." Luhan melanjutkan dengan nada serius yang jarang sekali laki-laki itu tunjukkan. Jadi, Luhan yang seperti ini terasa mimpi bagi Lingga, Langit dan Lethan. "Kalian juga belum ada tujuan kan? Gimana kalau selanjutnya kita fokus aja untuk susun rencana masa depan dan nggak main-main aja sekolah di sini?"


Entahlah. Saat mendengarkan keputusan Luhan itu, Lethan, Lingga, dan Langit tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Harusnya bersyukur atau sangat menyayangkan perubahan itu.


Langit, Lingga dan Lethan juga setuju untuk membenahi diri dan tak menganggap bahwa dunia ini akan terus menjadi tempat mereka untuk bermain-main. Suatu saat, mereka harus serius juga.


Dan saat itu, di mulai dari saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2