Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 43


__ADS_3

"Kak Raihan? Kok bengong aja?"


Raihan sudah tak mampu lagi berekspresi saat tiba-tiba Joehee datang dan memeluk lehernya begitu erat di depan Ily. Rasanya dunia jadi gelap dan Raihan mengecilkan, tak bisa berbuat apa-apa hingga Ily langsung bangkit.


Wajahnya jelas-jelas sangat kesal. Seorang perempuan yang tampak jelas keturunan Korea membuat perasaan Ily campur aduk.


Ily segera mengambil permen kapas dari tangan Raihan untuk setelahnya pergi dengan langkah yang lagi-lagi dihentak-hentakan.


Raihan meringis menatap Joehee dengan tak enak. "Maaf, ya, sekarang gue lagi ada urusan."


Raihan berlalu pergi dan Joehee dibuat cemberut karenanya. Namun, setelahnya ia langsung tersenyum cerah. "Cantik banget pacarnya Kak Raihan! Harus ikutin!"


Di sisi lain, Raihan lagi-lagi harus berjalan cepat untuk menyambangi langkah Ily. Dengan wajah lelah dan memelas, Raihan mencoba untuk menarik perhatian Ily.


"Mau pulang, Ly?"


"Woah!" Langkah Ily yang tiba-tiba berhenti di sebuah kedai ramen membuat Raihan mengerutkan keningnya. Jangan bilang... "Makan ramen, yuk!"


Raihan tak tahu lagi bagaimana harus bereaksi. Bagaimana bisa... bagaimana bisa mood seorang perempuan berubah secepat itu?


"Terus permen kapasnya?" tanya Raihan bingung. Meski sebenarnya ia lega karena Ily tak menanyakan lebih lanjut mengenai Joehee.


Ily mengangkat alisnya. Segera menyantap permen kapas itu sampai habis tak tersisa dalam waktu yang terbilang amat singkat. Mulutnya terbuka lebar, terus menggigit dan memasukkan permen ringan itu dalam mulutnya.


Raihan seperti menyaksikan aksi lomba makan tepat di hadapannya. Wajahnya lagi-lagi terkejut. Aneh sekali, hari ini Ily aneh.


Mulai dari langsung kesal saat Raihan tidak peka membantunya, tiba-tiba kabur saat melihat Joehee dan sekarang ingin makan ramen saat sebelumnya Ily bilang dia tak lapar karena sudah makan di rumah.


Apa Ily kesambet, ya?


"Yuk!" ajak Ily setelah membuang gagang permen kapasnya ke tempat sampah terdekat. "Lo yang traktir, kan?"


Raihan mengangguk tak yakin. "Em... iya..."


"Yaudah, ayok!"


Mereka masuk kedai ramen yang tak begitu ramai itu dan duduk di salah satu bangkunya. Sejak Raihan mengajak Ily ke kedai ramen untuk pertama kalinya, lima tahun yang lalu, Ily menyukainya dan hampir memakannya setiap minggu.


Raihan tentu senang menjadi alasan mengapa Ily sangat menyukai ramen. Jika bukan karena dirinya, Ily tak mungkin tahu ramen dan menyukainya begitu pekat seperti saat ini.


Namun, wajah penuh senyum Ily harus pudar saat tiba-tiba ada seseorang yang ijin duduk di salah satu kursi kosong di mejanya dan Raihan.


"Kak, aku boleh gabung, ya?"


Ya, dia, tak lain dan tak bukan adalah Lee Joehee. Anak SMA pindahan dari Pulau Jeju, Korea Selatan, yang kini sudah kuliah dan betah tinggal di Indonesia. Raihan sudah lama tak bertemu dengannya sejak tiga tahun yang lalu, sejak Joehee kuliah di Bandung.


Mereka hanya berhubungan lewat media sosial selama itu.


Raihan menoleh pada Ily, seperti meminta persetujuan. Namun, Ily tak menjawabnya ataupun mengerti apa yang Raihan katakan lewat pandangannya.


Akhirnya, Raihan mengangguk, meski rasanya amat berat dan takut. Tak mungkin juga Raihan menolak keberadaan Joehee yang sebenarnya tak begitu menganggu. Dilihat-lihat juga, Joehee sepertinya kesepian karena dia datang sendiri.


Penampilan Joehee banyak berubah. Mulai dari rambutnya yang dulu amat lurus seperti pasta, kini agak bervolume dan bergelombang sehingga memberikan kesan dewasa dan elegan. Joehee memakai riasan tipis yang cocok dengan umurnya.


Raihan tak berani menyapa duluan karena ada Ily. Takutnya menimbulkan sesuatu yang tak diinginkan, namun ia juga tak enak karena suasana jadi amat canggung dan kaku di antara ketiganya.


Biasanya juga Joehee yang selalu memulai percakapan, namun kini, perempuan Korea itu justru lebih kalem dan seolah ingin Raihan yang memulainya. Seolah ingin Raihan memperkenalkan dirinya pada Ily, begitu pula, Ily diperkenalkan pada Joehee.


Joehee memang tersenyum cerah sejak kedatangannya, namun Ily memasang wajah datar sejak kedatangan Joehee.


Raihan menggaruk tengkuknya secara agresif dan berdeham keras untuk memutuskan buka suara hingga kedua perempuan di depannya ini mengalihkan pandangannya pada Raihan.


"Oke!" seru Raihan, seperti menyemangati diri. Pertama-tama, dia melihat pada Ily. "Ily, ini namanya Lee Joehee, pindahan dari Pulau Jeju, Korsel, lima tahun yang lalu. Sahabat gue yang sekarang lagi kuliah di Bandung." Kemudian, Raihan berlatih pada Joehee. "Joehee, ini namanya Ilyssa Devania, tapi biasa dipanggil Ily. Ilyssayang juga boleh. Aw!"


Raihan sedikit menjerit karena Ily tiba-tiba mencubit lengannya yang liat. Raihan menatap Ily dengan wajah tersakiti seraya mengelus-elus bekas cubitan ganas Ily, sementara apa yang Raihan terima selanjutnya adalah pelotoan ganas yang rasanya mampu mengkoyak hati.


Joehee yang duluan tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Senang bertemu dengan pacarnya Kak Raihan."


"Gue bukan pacarnya Raihan," balas Ily agak marah, namun tetap menyambut uluran tangan Joehee dengan singkat. Rasanya tak nyaman dan mengesalkan. Entah kenapa. Logatnya masih kental Korea meski kata Raihan sudah tinggal lima tahun.


"Oh, bukan?" Joehee membulatkan matanya, menatap Raihan dengan mata menuntut penjelasan. "Ini Kak Ily yang kakak ceritakan waktu di kedai Bakso Pak Somad, kan? Masa belum juga jadian sampai sekarang?"


Raihan menipiskan bibirnya. "Tanya Ily aja."


Joehee menoleh pada Ily kemudian. "Kok bisa, Kakak tolak Kak Raihan, sih?"

__ADS_1


"Nggak ditolak," balas Ily tenang. "Masih dalam proses penimbangan."


"Dan lima tahun udah berlalu, proses penimbangan itu masih belum berakhir," tambah Raihan miris.


Joehee ikut sedih. "Kenapa, kak?" tanyanya pada Ily. "Kasihan Kak Raihan."


Ily awalnya mengira Raihan ada kaitan romantis dengan Joehee. Namun, setelah dilihat-lihat, tatapan keduanya sangat jauh dari kata romantis. Benar-benar seperti sahabat. Tidak jauh beda saat Ily menatap Elvan dan Eza.


Jadi, Ily tak jadi berprilaku dingin.


"Kan masih banyak cewek lain, Han," balas Ily memberi kebebasan. "Sampai sekarang, gue belum ada."


"Belum ada, atau memang sengaja dibuat nggak ada?" Raihan bertanya serius. "Jujur, Ly. Kita udah sama-sama selama lima tahun. Masa nggak ada yang tumbuh gitu di hati lo?"


Ily menunduk. "Ya... gimana, gue juga bingung sama hati gue."


Raihan berdecak, merasa amat frustasi dan tak mengerti. Raihan semakin curiga bahwa Ily sudah jatuh cinta pada lain hati. Entah siapa itu, sebab selama lima tahun ini, Ily tak pernah terlihat dekat atau berhubungan dengan laki-laki selain dirinya atau Eza.


Justru Raihan sempat berpikir, ada sesuatu yang lain pada diri Ily. Entah itu guna-guna, santet atau sihir.


Tapi jelas, rasanya itu tidak mungkin.


"Eh, ramennya udah datang! Ayo makan sebelum jadi bengkak!" seru Joehee, memecah keheningan antara Ily dan Raihan yang mulai tercipta.


***


"Weh, Eza!" seru Ily, menciptakan senyum lebar di wajahnya kala melihat Eza yang duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Sepertinya Eza baru datang, terlihat dari jaketnya yang baru dilepas waktu Ily masuk. "Udah lama banget nggak ketemu!"


Eza sekarang sudah benar-benar mencapai impiannya. Sudah punya album sendiri, bahkan beberapa masuk internasional dan sempat diundang ke luar negeri untuk konser tunggalnya. Rasanya masih mimpi, namun kepribadian Eza tak berubah sama sekali.


Meski jadwalnya padat dan membuatnya lelah, Eza tak jarang mampir ke rumah Ily untuk istirahat atau sedang membutuhkan saran. Satu tahun Ily Eza benar-benar absen ke rumah Ily dan baru kali ini Ily bertemu Eza.


Soalnya, Eza kini sudah official jadi artis. Susah sekali buat bertemu, apalagi di siang hari di mana banyak paparazi dan Mimin akun gosip.


Eza juga berhenti mencari scandal dengan berteman atau menggoda setiap perempuan cantik yang ia temui karena sangat berabe kalau itu terjadi. Eza pernah satu kali mengalaminya dan banyak pihak yang direpotkan karenanya.


Jadilah, sampai sekarang Eza memutuskan untuk sendiri saja. Karenanya, Eza merasa nyaman dan lebih bebas.


Mereka berpelukan sesaat, kemudian Eza menatap Ily dengan alis terangkat.


"Lah, kok tau?"


"Feeling," balas Eza dengan tawa kecil. "Jadi, bener, ya."


Ily mengangguk, kemudian duduk di sebelah Eza seraya mengela napas lelah. Eza menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Kayak abis marathon aja lo!" serunya seraya menepuk kecil kening Ily yang nyatanya sedikit berkeringat. "Buset, beneran matahon lo?"


Ily mendengus kecil. "Berisik lo, ah. Gue capek nih abis jalan-jalan as jalan-jalan beneran pake kaki."


"Nggak bawa mobil emang si Raihan?"


"Malah bawa sepeda."


"Dasar Si Ege."


Ily tertawa kecil. "Za."


"Hm?


"Ayah Ibu gue mana, deh? Kok nggak ada?"


"Di kamar. Katanya mau ada urusan gitu."


"Oh."


"Kenapa? Mau tidur bareng?" tanya Eza usil.


"Nggak, sih," balas Ily agak sedih. "Cuma pengen peluk aja."


Eza terdiam. Jika Ily sudah bersuara pelan dan sarat akan kegalauan seperti ini, pasti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. "Emangnya lo kenapa deh?"


Ily mengantupkan bibirnya, seperti enggan bercerita.


Dan Eza tak memaksanya. Dia hanya akan mendengarkan jika Ily memang mau bercerita. Bukan memaksa sampai perempuan itu merasa tak nyaman.

__ADS_1


Tiba-tiba, Ily menyenderkan kepalanya ke bahu Eza. Tampak ingin tidur, namun Eza tak menepisnya meski sadar Ily akan membuatnya bahunya sakit karena menahan kepala Ily yang lumayan berat.


"Za..."


"Hm?"


"Yohan... Yohan, kapan, ya, dia dateng?" Ily bertanya pelan, mata pelan hingga terdengar bagai bisikan. "Udah lima tahun ini. Dia bakal balik, kan?"


Eza tersenyum tipis. "Gue nggak tau."


"Dia udah janji, Za," balas Ily, berubah memelas dan seperti ingin menangis. "Dia udah janji buat nggak lupain gue, udah bilang ke gue buat nunggu lima tahun. Gue udah lakukan itu tapi, dia nggak ada tanda-tanda kembali. Apa gue harus menyerah?"


Eza menarik napas, bingung harus menjawab apa. "Gue pikir... lo harus tunggu lagi. Setidaknya, sampai tahun ini berakhir."


Kepala Ily bergerak, untuk menatap mata Eza. "Harus gitu, Za?"


"Coba dulu. Mungkin, besok dia datang?"


Ily menundukkan pandangannya lagi. "Oh... oke."


"Emangnya lo nggak suka Raihan?" Eza bertanya hati-hati. "Padahal dulu katanya mau ngegebet andai dia nggak punya pacar. Gue liat Raihan nggak deket sama cewek manapun lagi selain lo."


"Nggak, Za," balas Ily cepat. "Gue suka sama Raihan, tapi rasanya beda waktu gue jalan sama dia dan Yohan. Gue rasa, perasaan gue untuk Raihan nggak jauh beda sama perasaan gue ke lo atau Elvan. Hanya teman."


Eza berdecak, merasa perihatin untuk seseorang. "Raihan udah tahu tentang Yohan?"


Ily menaut-nautkan tangannya dengan gugup. "Ng... nggak..."


"Yah... kasian banget dia."


"Gue juga bingung harus gimana, Za..."


"Masalahnya nih, ya, Raihan udah berharap banget sama lo. Kalau lo mau tau, tiap malem Raihan curhat tentang lo, tentang perasaannya ke lo dan betapa sakitnya waktu tau lo nggak ada rasa yang sama ke dia."


Ily menggigit bibirnya, merasa seba salah. "Ya, gimana lagi, hati kan nggak bisa dipaksakan, Eza."


"Setidaknya, kasih tau dulu tentang Yohan ke Raihan supaya dia nggak terlalu kaget kalau..." Eza memberi jeda, menipiskan bibirnya dan melanjutkan dengan nada lebih pelan. "...kalau Raihan balik lagi ke sini."


Atas perkataannya, Ily terdiam. Seketika, ia merasa menjadi jahatnya dalam kehidupan Raihan.


***


"Masih di mana? Ibu telpon Ily, katanya dia udah ada di rumah. Bukannya kamu jalan sama dia malam ini?"


Raihan tak langsung menjawab pertanyaan ibu karena sedang melamun. Melamunkan takdirnya yang amat menyedihkan di rooftop sebuab gedung pencakar langit. Rambut gondrongnya tertiup angin malam yang dingin, namun Raihan menikmatinya.


Dengan rokok terjepit di antara mulutnya, Raihan cukup terhibur malam ini.


Diusapnya batang nikotin itu, kemudian dihembuskannya asap yang bisa membuat Ily batuk-batuk jual menghirupnya. Teringat akan wajah itu, Raihan segera membuang batang rokok yang bahkan baru diisapnya satu kali itu.


Raihan berdecak pelan, mengacak rambutnya dengan frustasi. Apa ini karma? Jika iya, Raihan sangat tersiksa karenanya.


Dulu, ia memang senang mempermainkan perasaan Ily dengan sok tak peduli padahal dia membacanya dengan jantung berdebar kencang tak karuan. Raihan ingin bersenang-senang, kemudian salah pergaulan dan bertemu lagi dengan Ily.


Kemudian jatuh, ke dalam dasar, bahkan terlalu dasar hingga tak bisa diselamatkan.


Sayangnya, sedihnya, mirisnya, ia jatuh sendirian.


Sedih membawanya ke sini dan miris membuat rokok ikut campur ke dalamnya.


Namun, ketika terlintas wajah riang Ily, senyum lebar Ily, Raihan tersadarkan.


Sedang apa dia di sini? Untuk apa merokok?


Raihan batal untuk sok menenangkan diri seperti rokok dalam drama dan akhirnya menjawab pertanyaan ibu dengan tenang. Raihan itu anak yang kuat, anak yang tegar dan sudah berubah dari anak kecil cengeng yang pengecut menjadi laki-laki dewasa dengan penuh tekad dan karisma.


"Ini di jalan mau pulang, bu."


Benar adanya, Raihan kini turun ke lantai dasar gedung itu, berjalan cepat menuju basement tempat sepedanya terparkir dan mulai mengayuhnya menunju rumah yang tak jauh dari sini.


"Oh, bagus. Sini ke rumah, ibu ada sesuatu untuk dibicarakan."


"Oke, bu."


Tanpa Raihan duga, di rumahnya sudah ada dua orang lain yang menyambutnya dengan senyum sarat kebahagiaan dan ... kerinduan.

__ADS_1


__ADS_2