Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 33


__ADS_3

"Ini namanya Always Happy, Te."


Lili mengarahkan Theo untuk berhenti di sebuah cafe dan masuk ke dalamnya. Cafe yang bernuansa cokelat dan kayu itu tampak tak besar, tak juga kecil. Sepertinya sudah lama bukan dan memiliki pelanggan sendiri karena banyak meja yang tersusun dan tak sedikit dari mereka yang terisi konsumen.


Lili dan Theo duduk di salah satu meja yang kosong, di dekat jendela, namun sangat jauh dari pintu masuk, otomatis jauh juga dari keramaian.


Lili ingin Theo nyaman. Lili menebak bahwa Theo suka keheningan daripada keramaian.


Mendengar Lili berkata begitu saat Theo sudah dengan jelas membaca nama cafe ini sejak dia turun dari motor membuatnya membuatnya lagi-lagi mendengus sarkas.


"Gue udah baca itu di depan."


"Ya, biasa aja. Gue cuma ngasih tau." Lili tersenyum tipis. Kemudian menyodorkan piring berisi donat, brownies dan cookies yang ketiganya berperisa cokelat yang dia pesan tadi pada Theo yang tampak tak tertarik sejak dia masuk. "Makan, Te."


Theo mengambil satu buah cookies. Laki-laki itu hanya mengunyahnya, kemudian menelannya. Tak ada ekspresi signifikan yang tercipta.


"Enak nggak sih?" Lili yang sedari tadi memerhatikannya jadi bingung.


Theo tak lebih dulu menjawabnya, ia mengambil minum yang dipesan Lili untuknya. Minuman itu rasa greentea dan Theo kurang suka pada rasanya. Meski begitu, wajahnya datar-datar saja.


"Kue-nya enak, minumnya nggak," jawab Theo kemudian.


"Lo makan yang enak sama minum yang nggak enak, mukanya sama aja." Lili turut meminum minuman yang sama, namun di gemas berbeda. "Ngakak gue."


"Emangnya gue harus gimana?"


"Ya, senyum, kek, apa, kek," balas Lili jadinya jengah juga. Theo hanya melengos tak peduli. "Oh, ya, gue mau curhat, nih."


Lili berdeham. "Boleh, ya?"


"Ini buat riset nulis juga?" tanya Theo agak tak suka. Namun, tetap namakan dan menikmati donat yang tersedia di depannya.


"Sebagian besar, iya."


"Ck, sebegitu sukanya lo nulis?"


"Oke, lo harus tau kalau menulis itu bukan hobi lagi. Sebagaimana lo anggap balapan dalam hidup lo, gue juga anggap menulis sebagai jantung gue, Te. Jantung yang membuat gue hidup. Sementara sumber inspirasi atau riset itu udah kayak oksigennya." Lili mengepalkan tangannya dengan penuh tekad dan ia simpan di dadanya. "Mirip-mirip kan sama balapan dan main malam buat lo?"


"Lebay banget. Gue nggak gitu, tuh." Theo mendengus kecil. "Balapan cuma iseng-iseng buat gue"


"Hilih, dengerin dulu aja, kali. Jangan dipotong-potong gitu." Lili berdecak. "Gue nggak akan pernah berhenti sebelum tulisan gue jadi buku. Apapun kata orang, gue nggak peduli. Cita-cita gue jadi penulis best seller! Dan gue nggak akan mudah nyerah!"

__ADS_1


Theo hanya tersenyum tipis.


"Awalnya gue bisa bercita-cita jadi penulis itu apa, sih?" Lili memberikan pertanyaan yang sebenarnya hanya pemanis saja, bukan untuk Theo jawab. "Lo kenal Vela Novela?"


Kening Theo mengerut dalam dan itu sudah cukup menjelaskan bahwa Theo tak mengetahui siapa Vela Novela.


"Dia novelis hebat yang berkecimpung di genre teen. Bukunya udah ada tiga belas dan semuanya udah gue baca, semuanya keren-keren. Dia panutan gue pokoknya, pengen banget ketemu tapi dia ada di Semarang, dong." Lili bercerita senang dan sedih. "Dia pernah Adain meet and greet tapi gue nggak ikutan karena sekolah. Sayang banget.


"Lo tau temen gue nggak?" Lili lanjut bercerita. "Nah, dia tetangga gue. Namanya Imel. Kita sama-sama kutu buku dan cita-cita jadi penulis gitu. Gila sih, dia udah terbitin tiga buku dan sekarang, dia lagi shooting, Theo. Buku dia diangkat jadi film, dong, terus dia main juga di sana."


Lili merengek, hampir menangis. "Gue iri bangeeeet, Theo. Gue juga pengen begitu ...."


"Kalau gitu, tinggal ikutin langkah temen lo Itu," tukas Theo ringan.


"Gue udah berjuang, Theo. Tapi, semuanya nggak segampang itu buat teraih." Lili menggeram kesal. "Lo tau? Gue udah kirim tiga tulisan gue sebelumnya dan tiga-tiganya ditolak. Sedih banget, sakit hati, pengen nyerah tapi nggak bisa."


Theo tak punya kata-kata untuk membalasnya. Bingung. Theo baru bertemu dengan seseorang yang bercerita tentang mimpinya seserius ini. Bahkan untuk dirinya saja, Theo tak memiliki mimpi.


"Otak gue ingin nyerah aja, tapi hati ini nggak mau," lanjut Lili dengan nada lemas. "Gimana gue bisa hidup tanpa hati? Kan hidup ini harus dijalani sepenuh hati, mendengarkan kata hati. Iya, kan?"


Theo termenung. Cukup lama untuknya memikirkan jawaban, hingga akhirnya dia berdeham.


Sebab Theo tidak mengalami atau memiliki keduanya.


Lili meringis kecil. "Urusan gue itu lo."


"Hah?"


"Gue pengen curhat aja ke lo." Lili berdeham dengan malu. "Kata orang-orang, kalau udah saling cerita, artinya kedua orang itu bakal jadi deket."


Kening Theo mengerut dalam. "Lo suka sama gue?"


"Dih, ge-er banget," tukas Lili cepat.


"Lo lagi PDKT sama gue sekarang," tekan Theo tak suka.


"Emangnya PDKT sama orang artinya dia suka?"


"Iy--


"Nggak, dong!" seru Lili berapi-api. "Gue cuma mau jadi temen lo. Temen deket. Itu aja."

__ADS_1


Theo mendengus tak percaya. "Awas lo kalau suka sama gue."


"Emangnya--"


"Bahaya kalau lo sampai suka." Theo langsung berdiri dengan tatapan tajam dan nada suara yang tak mau dibantah lagi. "Kalau udah nggak ada urusan, mending gue pulang."


Lili berdecak kesal, lagi-lagi ditinggal Theo dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Memangnya Theo sebaya apa sih sampai-sampai selalu mengatakan bahaya dan bahaya jika Lili dekat atau sampai suka padanya?


Theo juga kan manusia biasa.


Harusnya, sesama manusia bisa dekat dan saling suka, kan?


Entahlah, Lili juga pusing memikirkannya.


***


Sore-sore, Theo pergi ke tempat pangkas rambut yang dekat dari rumahnya. Titi sudah tidur karena kewalahan bermain. Melihat aura wajahnya, Theo rasa Titi lebih bahagia dititip ke rumah Lili, daripada ke panti asuhan Ten.


"Rambut lo panjang banget."


"Risi gue liatnya. Coba kayak Ayah gue. Pasti keliatan rapi dan tambah ganteng."


Terngiang akan perkataan itu, Theo langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mengenyahkan bayangan Lili. Dia potong rambut karena tak mau banyak menggunakan shampoo untuk membersihkannya.


Theo mencukur rambutnya bukan karena ingin terlihat oleh Lili.


Benar. Theo memotongnya karena sudah terlalu panjang dan sempat ditegur oleh Pak Dodo.


"Kak, model biasa aja," kata Theo ketika dia telah duduk di kursi pelanggan tempat cukur rambut itu dan dengan begitu, rambutnya dicukur rapi.


Tak ada lagi rambut yang menutup lehernya sampai mencapai kerah, tak ada lagi rambut yang menutup telinganya yang berbekas tindikan serta tak ada lagi rambut yang menusuk matanya.


Setelah selesai, Theo bercermin dan segalanya tampak cerah.


"Nah, ganteng, kan."


Kening Theo mengernyit. Dia mendengar suara Lili, namun tidak dengan tubuhnya. Ketika sang pemberi jasa pangkas rambut menegurnya untuk memberikan uang kembali, Theo sadar bahwa dia baru saja berhalusinasi.


Tapi ... kenapa wajah Lili dan suaranya yang diciptakan alam sadarnya?


Theo tak mau memikirkan lebih banyak lagi saat dia akhirnya keluar dari tempat pangkas rambut. Awalnya Theo berjalan damai-damai saja, sampai seseorang yang keluar dari minimarket melihatnya dan langsung berjalan ke arahnya dengan wajah tak bersahabat membuat Theo yakin perjalanannya kembali ke rumah ke depannya tak akan damai lagi.

__ADS_1


__ADS_2