
"Ly, sori."
Mata Ily langsung berbinar saat Elvan menyodorkan lima kotak susu Hi-Ly favoritnya di hadapannya. Tak sampai di sana, Elvan juga membawa dua bingkisan berisi roti cokelat beragam merek kesukaan Ily. Betapa bahagianya Ily kini, sampai lupa seharusnya ia marah-marah atas perlakuan Elvan kemarin-kemarin.
Yohan dan Eza yang menyaksikan Ily begitu, hanya mampu menghela napas kecil dan membuang wajah dengan sebal.
"Van, gue tau kalau bokap lo punya bank, tapi nggak segininya juga kali, traktir gue," kata Ily senyum malu-malu. "Tapi nggak apa-apa, deh, buat stock kalau lagi suntuk belajar."
Seulas senyum tercipta di wajah lelah Elvan. "Jadi, gue dimaafin?"
"Oh, so pasti, tapi yang paling penting lo nggak boleh mengulangi perbuatan yang merugikan begini lagi. Gue nggak suka dan nggak mau lagi sepupuan sama lo kalau sampai kejadian lagi," tukas Ily tanpa berpikir panjang. "Yaudah, ayo kita samyang bareng-bareng!"
"Ly," protes Eza tak suka. "Kok lo murahan sih?"
Ily menatap Eza dengan tajam. "Faedahnya lo bilang gitu apa, ya?" Kemudian Ily beralih cepat pada Yohan. "Apa kamu keberatan, Kim Yohan?"
Ditanya sedemikian rupa dengan mata tajam, membuat Yohan tak sempat berpikir lebih jauh dan hanya mampu mengangguk saja akhirnya. Lagipula kini ia ingin melepaskan segala dendam, segala pedih dan menyambut kebahagiaan dengan tangan selebar mungkin.
Pada wanita unik yang bisa dengan begitu cepat berubah suasana hati.
Ily tersenyum, kemudian menjentikkan jarinya untuk memulai acara perdamaian ditemani samyang dan orang-orang yang ia sayang sebelum lusa menyambut Try Out ketiga untuk dua Minggu kemudian melaksanakan Ujian Nasional yang merupakan pintu akhir untuk dirinya berjuang.
Selepasnya, Ily akan terbebas.
Menikmati hidupnya tanpa risau belajar lagi.
Pada akhirnya, segalanya tampak kembali normal dan tak ada masalah.
***
"Sayang sekali, aku tidak bisa mendengarmu bernyanyi."
Ily tertawa saat Yohan bersuara kecewa di sampingnya. Ia sedang memakan eskrim di atas roti pemberian Elvan dan Yohan duduk di sebelahnya. Mereka ada di kursi halaman belakang rumah Ily.
Awalnya, seperti yang dikirimkan Yohan pada Ily malam sebelumnya, mereka akan pergi keluar untuk bermain. Namun, Ily menolak karena malas dan memilih untuk di rumah saja. Yohan akhirnya mengalah, Ayah dan Ibu Ily pun lebih setuju mereka menghabiskan waktu di rumah saja.
Lebih terpantau, katanya.
"Kalau mau lihat, kamu mau apa? Pasti menertawakanku. Suaraku tak lebih bagus dari nyamuk di malam hari," balas Ily merendahkan diri sambil menunduk malu.
"Suaramu yang paling kusukai di sini," kata Yohan jujur. "Menenangkan, sama seperti Ibuku."
Pipi Ily sontak memanas, tiba-tiba suhu tubuhnya meningkat dan berkeringat hingga membuat Ily salah tingkah. Ia memilih untuk fokus memakan es krimnya saja, dibanding meladeni Yohan yang sudah berbicara aneh.
"Ily, apa kamu pernah berpacaran dengan seseorang?"
Ily langsung tersedak eskrimnya sendiri. Ia terbatuk-batuk, membuat Yohan secara refleks menepuk pelan punggungnya supaya merasa lebih baik. Ily berusaha untuk kembali normal, sampai akhirnya ia menatap tajam pada Yohan atas pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Daripada bicara yang seperti itu, aku lebih suka kita membahas soal matematika untuk UN, Yohan." Ily mendesis tak suka.
Yohan tertawa geli. Hal yang sangat jarang ditunjukkannya, namun cukup membuat Ily mematung untuk melihat wajah itu lebih lama. Jujur, daripada wajah datar penuh misterinya, Ily lebih suka pada wajah polos Yohan saat tertawa.
"Wajahmu ... kenapa selalu terlihat datar saat punya tawa selucu ini?" tanya Ily begitu saja, langsung membuat wajah Yohan kembali datar dengan mata terkejut.
Ily cemberut. "Ayo, ketawa lagi. Jarang sekali kamu melakukannya."
"Tawaku mahal. Kamu harus bayar seratus ribu." Yohan tersenyum jahil.
Ily mencubit pinggang Yohan tanpa ampun dan membuat Yohan mengasuh sambil tertawa lagi. Mendengar tawa itu, meski kesal, Ily sedikit tersenyum senang. Merasa nyaman berada di dekat Yohan.
Mata mereka bertemu, saling berpandangan dengan persepsi masing-masing dan itu terjadi cukup lama. Saling merasa nyaman dan bahagia.
"Katanya, kamu mau curhat," kata Ily ketika tiba-tiba ingat. Sedikit menjauhkan tubuh dan memutus kontak mata mereka.
"Aku menunggumu bertanya," balas Yohan enteng. Ia menghela napas kecil dan menipiskan bibirnya, bersiap untuk bercerita. "Kamu mau bertanya apa?"
"Kenapa malah bertanya?" Ily balik bertanya dengan kerutan jelas di keningnya. "Aku ingin kamu bercerita sendiri. Jangan memaksa jika tak mau, aku tak suka."
Yohan tersenyum, menyadari bahwa gadis di sampingnya memang sangat pengertian dan ia berdeham untuk menyiapkan diri lagi. Yohan akan menceritakan semuanya tanpa harus Ily bertanya lebih dulu.
"Aku pindah ke sini karena di Korea, aku sudah tak bisa bersekolah lagi. Semua orang tahu masa burukku dan tak mau menerima murid sepertiku. Setelah enam bulan di lapas, aku pulang." Yohan mengangguk kecil, menguatkan diri untuk tak terlihat buruk di mata Ily. "Ayahku memarahiku, mengancamku dan benci padaku. Namun, Ibuku berbeda. Ibu punya rencana lebih baik dan itu membuatku senang. Di sinilah pilihan Ibuku, tanah airnya. Aku awalnya tak mau, takut dan ragu, lalu begitu saja aku bertentanggaan denganmu."
Ily juga hanya mengangguk-angguk, tak mengomentari secara sepihak dan mendengarkan untuk menerimanya dengan lapang dada, sedamai mungkin mencipta suasana.
"Aku yang sudah belajar selama berada di lapas membuat Ibu tak takut-takut memasukkanku ke tahun terakhir. Tak kusangka, kelasku dan kelasmu sama. Bahkan kita satu meja. Itu membuatku sedikit lega dan berharap tak ada hal buruk menimpaku." Yohan menoleh, menatap Ily tepat di mata dengan penuh arti. "Ayahku berpesan untuk tak mencari masalah dan aku pikir bersamamu adalah yang terbaik. Kamu seperti murid baik-baik dan aku ingin dekat denganmu saja, menemaniku untuk menjelajahi kota."
Kini Ily mengerti. Mengapa Yohan bersikap sedemikian rupa saat pertama kali satu meja dengannya.
"Aku nyaman denganmu, Ily. Aku menjadi tak takut lagi dan bahkan mulai menikmati hidup di sini," ungkap Yohan menutup curhatannya itu. "Tapi sebentar lagi aku harus pulang, kembali ke Korea. Ayahku hanya ingin membuatku lulus SMA di sini, bukan selamanya di sini. Terimakasih atas waktumu yang dihabiskan denganku."
Ily tersenyum ikhlas. "Sama-sama."
"Kamu tak menginginkanku tetap di sini?" tanya Yohan terkejut karena melihat reaksi Ily yang biasa-biasa saja, tak seperti dugaannya.
"Turuti saja apa kata Ayahmu, nanti dia marah," balas Ily santai.
__ADS_1
Yohan tampak sangat kecewa. "Benar juga katamu."
"Good." Ily mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. "Jangan lupa ke sini sesekali."
Tangan Yohan melakukan hormat dengan senyum kecil yang membuat wajahnya tampak sangat lucu dan menggemaskan. "Siap, Ily."
Ily tersenyum lagi, sampai matanya menyipit dan tanpa aba-aba, Yohan mendekat. Membuat Ily langsung mundur dengan wajah takut setengah terkejut, namun Yohan mengambil leher Ily Dan berbisik di telinganya.
"Ily."
Kening Ily mengernyit saat Yohan akhirnya kembali menjauh. Tak mengerti sama sekali apa maksud Yohan membisikkan namanya sampai Yohan tersenyum dan mengambil tangannya dengan lembut.
Matanya menatap Ily penuh arti. "Boleh aku menggenggam tanganmu sedikit lebih lama?"
"A-a untuk apa?" Ily tergagap dengan salah tingkah, langsung menjauhkan tangannya dari tangan Yohan dengan wajah takut.
"Ah, tak apa kalau tak boleh," kata Yohan tersenyum miris.
Ily bergedik ngeri. "Kamu modus, ya?"
"Modus? Apa itu?" tanya Yohan bingung. "Nilai terbanyak dari sebuah data?"
Ily memutar bola matanya dengan kesal. "Modus itu singkatan. Modal dusta. Kamu berbohong untuk mencari kesempatan mendekatiku karena menyukaiku. Iya kan?" tuduhnya dengan percaya diri.
Yohan mengerti dan langsung tertawa. Tak percaya mengapa gadis itu tanggal sekali atas perbuatannya. Senyumnya mengembang dan mantap Ily penuh minat, semakin tertarik dan tak ingin berpisah.
"Bolehkah aku menciummu?"
Ily melotot, langsung mendorong kening Yohan saat laki-laki mendekatkan diri dengan berani pada wajahnya. "Jangan gila, Yohan! Atau aku akan teriak!"
"Silahkan, kamu tak akan aku biarkan," kata Yohan dengan seringai mempesona, kemudian menutup pelan bibir Ily sehingga gadis itu tak bisa bicara.
Setelahnya, ia menempelkan bibirnya pada punggung tangannya yang menutup bibir Ily itu selama beberapa saat. Mata Ily langsung melotot dan tubuhnya membeku.
Mata Yohan yang tertutup berada tepat di depan matanya, membuat Ily hampir lupa pada dunia. Perbuatan Yohan sungguh membuat Ily tak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya laki-laki menjauh.
Dunia Ily seolah kosong.
Yohan menggigit bibir bawahnya sambil menatap Ily dengan salah tingkah. "Maaf--"
"Yohan, kamu ngapain, sih?!" tanya Ily marah, berusaha menutupi salah tingkahnya.
"Maaf, aku tak bermaksud apa-apa, aku hanya mencoba untuk--"
"Aku tak akan memaafkanmu karena telah mencuri first kiss-ku!" seru Ily malu setengah mati. "Dasar brengsek!"
"Pokoknya kamu brengsek!"
"Atau harus kutunjukkan ciuman sebenarnya untukmu?" tanya Yohan diluar akalnya. Entahlah, kini Yohan bahkan tak bisa mengendalikan pikirannya.
Ily melotot, langsung menutup bibir dan berlari terbirit-birit ke dalam rumahnya. Meninggalkan Yohan yang hanya mempunyai menatapnya dengan seringai geli.
Kemudian mengutuk dirinya sendiri karena ia mulai berpikir. Pasti akan canggung sekali untuk mereka berdua bertemu setelah ini.
Sial.
***
Ily tak bertemu Yohan pagi ini. Laki-laki itu tak sedia menunggunya seperti beberapa hari yang lalu. Bukannya Ily ingin diperlakukan seperti itu, namun pagi hari tanpa Yohan membuat sesuatu dalam diri Ily terasa kosong.
Menggantikan Yohan, Elvan datang bertepatan dengan Ily mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojol. Sepupunya itu segera mengambil ponselnya dan membuat Ily mendongak dengan wajah kesal.
"Bareng gue aja, njir. Boros uang," katanya dengan senyuman lebar. "Buruan."
Ily mengangguk seadanya, tak mau mendebat karena kali ini Elvan benar. Mereka berdua akhirnya menempuh jarak bersama ke sekolah, setelah sekian lamanya.
Sejak kelas tiga, Elvan sibuk pada latihan dan kelas sepuluh yang perlu dia bimbing, jadi Ily agak terbiasa dengan ketidakberadaan Elvan. Sementara Eza, laki-laki itu rumahnya jauh dan tak mungkin bisa berangkat bersama Ily.
Sekarang, pada punggung yang sedang mengendarai motor ini, Ily rindu.
"Van," panggil Ily tiba-tiba.
"Hm," balas Elvan berusaha fokus pada jalanan di depannya.
"Thanks, ya," kata Ily sambil tersenyum meski tahu bahwa Elvan tak akan pernah bisa menyadarinya. "Udah mau ditebengin."
"Gue yang ngajak sih, santai aja."
"Oke." Ily mengangguk, kemudian hanya diam melihat pemandangan di sisi kirinya yang seolah saling berlarian.
Cukup sepuluh menit untuk mereka sampai di sekolah. Elvan tahu jalan pintas dan mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, berbeda dengan Yohan yang perlu dua puluh menit untuk sampai. Parkiran mulai ramai dan Ily tersenyum tipis melihat motor Yohan terparkir di tempat biasanya.
Itu artinya laki-laki itu telah terbiasa tanpa Ily dan Ily lega karenanya.
"Gue ke kelas duluan, ya," kata Ily pamit, saat Elvan sedang membuka helmnya.
__ADS_1
"Yaudah, sana," balas Elvan agak ketus.
Ily berdecak sebal, kemudian menepuk pelan bahu sepupunya itu untuk setelahnya melangkah riang menuju kelasnya.
Sampai di kelasnya, Ily melihat Yohan sudah duduk di kursinya sedang memainkan ponsel. Seolah sadar Ily datang, Yohan mendongak dan tersenyum ke arahnya. Ily mendadak salah tingkah, namun balas tersenyum dengan kaku.
"Pagi, Ily," sapa Yohan hangat.
Ily mengangguk. "Pagi."
Dengan inisiatif tingkat tinggi, Yohan berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Ily untuk di sebelahnya.
"Maaf aku duluan," kata Yohan malu-malu. "Ada tugas yang belum kukerjakan."
Ily langsung mengernyit. "Tugas yang mana?"
Yohan gegalapan. "Tugas... tugas, ah, Seni Budaya! Aku harus menyusul hari ini," balasnya agak kikuk.
"Oh," balas Ily seadanya. "Memangnya waktu itu kenapa kamu tidak masuk?"
Wajah Yohan berubah tegang. Jantungnya berdebar dan matanya tak sanggup membalas tatapan Ily Yang polos itu. Akhirnya, Yohan hanya mampu terdiam, tak berniat untuk menjawab.
Ily menangkap gerak-gerik itu, kemudian tersenyum maklum dan mengambil buku pelajarannya. "Tak apa kalau kamu tak mau cerita. Semua orang butuh waktu."
Mendengar perkataan menenangkan itu membuat Yohan menoleh, menatap Ily dengan senyum lebar. Membuat Yohan yakin untuk melakukan sesuatu.
"Terimakasih. Kamu sangat pengertian. Aku akan cerita, tapi kamu jangan terkejut."
Ily tertawa kecil. "Memangnya kamu melakukan apa sampai membuatku terkejut?"
"Aku memukuli seseorang dan membuat orang itu terluka--"
"Apa?!"
"Sudah kubilang jangan terkejut." Yohan berdecak sebal, bahkan sampai memutar bola matanya ketika Ily kini melotot dengan wajah tak santai. "Aku akan jelaskan semuanya. Tolong mengertilah."
"Ah, iya. Silahkan, lanjut. Aku akan mengomentari diakhir." Ily mengangguk serius.
"Bukannya aku sembarangan memukuli orang. Tapi dia tiba-tiba mengambil tasku di parkiran dan membawaku ke tempat sepi, tua dan kotor. Dia berkata aku membuat seseorang yang dia sukai menangis, kemudian memukulku. Aku balas memukulnya untuk membela diri. Aku yakin aku tak salah, namun orang itu malah terluka lebih parah."
Kening Ily mengerut. "Kamu tau siapa dia?"
"Namanya Juna, seperti dia menyukai Tiffany, tapi Tiffany lebih menyukaiku." Yohan menyimpulkan. "Aku menolak Tiffany, Tiffany menangis dan Juna langsung memukulku."
Ily langsung memukul pundak Yohan sambil melotot. "Jangan terlalu percaya diri seperti itu, kamu terlihat seperti buaya!"
"Buaya? Kenapa manusia tampan sepertiku bisa terlihat seperti buaya? Matamu rusak, ya?" tanya Yohan sarkas, keningnya mengerut tak suka.
Ily memutar bola mata dengan kesal. "Yohan, di Indonesia, laki-laki yang suka memainkan perempuan disebut buaya. Kamu harus ingat itu!"
Yohan berdecak, masih tak mau menerima. "Aku tak mengerti dengan pemikiran orang Indonesia."
"Ah, sudahlah." Ily mengibaskan tangannya dengan malas. "Sekarang, Juna di mana? Kamu sudah minta maaf?"
Ily ingat siapa Juna. Laki-laki itu adalah pacar Tiffany sejak kelas sepuluh. Namun, Juna tak bersekolah di sekolah yang sama, laki-laki itu justru home schooling sebab orang tuanya tak mau lagi Juna berulah. Pasalnya, Juna telah terlibat banyak kriminal dan bahkan membuat orang tua Tiffany ikut kewalahan untuk mengurusnya.
Mereka berdua dijodohkan dan Ily tahu betapa garangnya wajah Juna. Ia takut Yohan kenapa-kenapa selanjutnya.
"Kamu sebaiknya jangan terlibat lagi dengan Juna. Itu bisa ribet dan aku tak mau mengurusnya."
Namun, bukannya mengiyakan perkataan Ily, Yohan justru menentang mentah-mentah usulan Ily.
"Untuk apa aku minta maaf? Orang itu yang duluan memukuliku dan bukan salahku jika Tiffany berpaling padaku."
Ily memutar bola matanya dengan jengah. "Yohan, minta maaf bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Minta maaf adalah jalan terbaik untuk meluruskan permasalahan. Kamu harus minta maaf supaya kamu bisa hidup damai."
Mendengar perkataan panjang Ily, Yohan hanya tersenyum. "Aku tak mau. Kamu saja."
"Yaudah, kalau begitu kasih tau di mana Juna sekarang," balas Ily tak kalah membuat Yohan kesal.
"Apa pedulimu?" tanya Yohan kesal.
"Kok kamu begitu?!" balas Ily lebih kesal.
"Aku bagaimana?" tanya Yohan lagi sambil melotot.
Ily mengernyit tajam. "Sejak kapan kamu jadi begini? Kamu mau menentangku? Kamu mau kita musuhan? Yaudah, ayo."
Yohan memalingkan wajahnya, tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia tak mau bertemu Juna lagi untuk meminta maaf, dan di sisi lainnya ia tak mau juga bermusuhan dengan Ily.
Menghela napas panjang, Yohan akhirnya kembali menatap Ily Yang sedari tadi menatapnya dengan tajam dan menusuk.
"Juna ada di rumah sakit. Pulang sekolah ayo kita ke sana," katanya pelan. Membuat Ily langsung tersenyum lebar dan wajahnya berubah cerah.
Pada akhirnya, Ily meruntuhkan segala egonya.
__ADS_1
***