Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 58


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu, saat pengejaran Yohan.


"Yohan! Yohan, hei! Yohan! Tenang, hei, hei, hei, tenang!"


Yohan terus berlari tanpa arah, dengan Elvan yang berada beberapa langkah di belakangnya, mengejarnya seraya berteriak terus menerus untuk membuat Yohan menurunkan kecepatan langkahnya.


"Yohan, bukannya kita udah bikin kesepakatan?! Kenapa lo pake pistol segala, hah?!" Elvan berteriak muak saat Yohan mulai kebingungan untuk kabur lagi. Kini, dia sudah terjebak dan berhenti berlari dengan putus asa di antara mobil-mobil yang terparkir di parkiran bawah tanah ini.


Elvan melihat ke arah gerbang masuk parkiran, belum ada tanda-tanda pengejar yang lain. Kemudian, Elvan menatap Yohan yang sudah banjir keringat dan wajah gelap yang penuh kecemasan.


"Lo kenapa, sih, hah?!" bentak Elvan sampai suara seperti akan habis sebab sudah terlalu emosi. "Yohan, woi!"


Dibentak keras begitu, Yohan melempar pistol yang semula ada di tangannya yang bergetar hebat itu dan menjambak rambutnya. Keras-keras, karena Yohan berharap, ketakutan dan kecemasan yang membuat tangannya bergetar tanpa henti ini hilang.


"Yohan, hei, sadar!" seru Elvan, seraya berjalan mendekat perlahan-lahan. Ketika ia menyentuh bahu Yohan, laki-laki yang telah menembak kaki rekan-rekannya ini ambruk.


Kemudian menangis sejadinya dengan suara yang ditahan.


Elvan terkejut, mengapa mental Yohan bisa sejauh ini. Setahunya, ia adalah laki-laki kuat yang bahkan tak menangis saat membuat Ily menangis bertahun-tahun yang lalu. Elvan tak begitu paham, karenanya ia tak mau berspekulasi lebih lanjut.


"Lo kenapa nangis?" Elvan bertanya lebih pelan dan ikut berjongkok kala Yohan juga berjongkok dengan penuh air mata. "Lo dan gue bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Lo nggak perlu tertekan sampai begini, Yohan."


Yohan menatap Elvan dengan pandangan tak terbaca. Laki-laki itu tampak sedih, namun juga marah di saat bersamaan. Elvan bingung untuk bertindak selanjutnya.


Elvan bingung, apakah ia harus melepaskan Yohan atau justru menangkapnya hanya untuk membahayakan laki-laki yang disukai sepupunya itu.


Hingga akhirnya suara Bang Jefri terdengar, menggema di parkiran ini. Dengan gerakan secepat kilat, Elvan mengambil pistol yang ada dan tanpa berpikir panjang lagi, ia menembakkannya pada perutnya sendiri. Suara ledakan terdengar merobek gendang telinga, disusul cairan kental merah yang menodai alas pijakan serta tangan kiri Elvan yang dipakai untuk menutup lukanya dengan segera. Elvan terperangah, tak menyangka jika rasanya akan sesakit ini.


Sial.


Yohan melotot dengan wajah panik, langsung menghampiri Elvan agar tidak laki-laki itu tidak langsung ambruk. Elvan menggigit bibirnya dengan keras, menahan rasa sakit yang seperti akan membunuhnya saat ini juga.


"Pergi, Yohan. Pergi. Cepet!"


"Tapi ... tapi lo--"


Perkataan Yohan yang disuarakan dengan suara serak dan lemahnya serta wajah penuh air mata yang khawatir, marah dan sedih harus terinterupsi oleh suara seruan Elvan yang mengabur karena rasa sakit.


"Atau pengorbanan gue akan percuma!" seru Elvan penuh penekanan.


Yohan menarik napas berat. Menatap Elvan sekali lagi, untuk setelahnya berderap tanpa suara dengan cepat supaya tak tertangkap oleh Bang Jefri.

__ADS_1


Yohan kalut setelah itu, ia tak tahu arah berlarinya.


Ayahnya mengatakan pada Yohan supaya hati-hati, dengan membekalinya senjata. Mereka tinggal tiga hari di Indonesia, dan pulang pada esok harinya. Namun, pagi-pagi sekali, saat Yohan sedang menyiapkan barang-barangnya untuk pulang, ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya pulang meninggalkannya.


Jam pulang itu siang, jam dua, namun jam empat, ayah sudah ada di bandara katanya. Entah memakai pesawat apa atau kendaraan lainnya, tapi Yohan sangat kesal, sangat sedih.


Dia dikhianati oleh ayahnya sendiri.


Meski begitu, ada pesan terakhir dari ayah sebelum Yohan dikepung oleh kawanan Elvan dan Bang Jefri.


Begini katanya: Jangan takut. Apa yang ayah ajarkan selama ini harus kamu pakai. Jangan pernah lupakan ayah. Berjuanglah sendirian dan datanglah kembali jika kamu telah kuat.


Yohan sempat meninju dinding, sempat berteriak frustasi dan sempat ingin melompat dari balkon hotel tempatnya menginap. Namun, air matanya tak keluar.


Dengan pandangan dingin, Yohan melukai dua teman Elvan untuk kabur. Lalu, dengan pandangan mengabur karena air mata, ia harus melihat Elvan terluka hanya untuk melindunginya yang sudah rusak ini.


Yohan tak tahu lagi harus bagaimana. Semuanya seperti tak terarah. Hidupnya terasa sudah hancur dan begitu hampa.


Ditekan terus menerus sejak kecil, dididik hanya untuk menjadi boneka penghasil uang, dikerasi untuk menuruti keinginan ayah yang bahkan amat jauh dari keinginannya sendiri. Kemudian, ketika sudah besar, ia dikorbankan dan dibuang hanya untuk menyelesaikan masalah yang dibuat ayahnya.


Yohan mengerti, bahwa dengan meninggalkannya di sini, menjadi bukti bahwa ayah sudah tak peduli lagi padanya, sudah membuangnya. Yohan mengira bahwa ayahnya merelakannya pada Kim Sungjun sebagai alat penyelesaian masalah.


Namun, Yohan disuruh memberontak. Ayahnya memang licik. Dan Yohan menyesal karena menurutinya.


Ketika Yohan berada di ambang putus asanya, bayangan perempuan itu terlintas. Bagai cahaya yang memimpin jalannya langkah cepat Yohan kini. Yohan terus berlari-lari, terus menuju tujuannya, harapannya dan cahayanya.


Hingga akhirnya sampai di rumah Ily. Untuk dapatkan kehangatan dan kebahagiaan kembali.


Namun, Yohan paham mengapa Ily marah. Jelas, Yohan belum memberitahukannya apa-apa.


***


"Nah, gitu, Ly," kaya Elvan setelah menceritakan bagaimana dia bisa terluka dan sedikit mengenai pengejaran Yohan serta keadaan tentang hubungan Kim Yongjun dan Kim Sungjun. "Intinya, Yohan sama sekali nggak bikin gue terluka seperti yang lo bilang tadi. Gue yang bikin diri gue sendiri terluka, tapi alasannya memang karena Yohan."


Ily menitikkan air matanya, menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang menyerang hatinya.


Atas semua kepahitan yang menimpa hidupnya, Yohan masih bisa tertawa dan bercanda dengannya tadi. Bahkan tak tampak kesedihan atau keinginan untuk bercerita lebar dan menangis pada Ily.


Ketika akhirnya Ily tahu bahwa Elvan terluka dan Yohan yang sebenarnya mengetahuinya tak berniat untuk memberitakan kepadanya, Ily justru sangat marah tanpa memikirkan perasaan Yohan.


Jika dia ada di posisi Yohan sekarang, pasti ia sudah membenci dirinya sendiri yang amat egois.

__ADS_1


"Itu anak emang nyebelin, bikin susah, tapi kasian," tambah Elvan dengan tawa ringan. "Hidupnya jadi begitu padahal anaknya baik-baik waktu kita SMA. Yohan emang terlahir dari orang jahat, tapi Yohan sendiri ... menurut gue, dia anak yang baik."


Ily menunduk, meremas jari-jarinya sendiri. "Gue paham banget, Van. Gue tau betul Yohan anaknya baik. Sangat-sangat hafal gue, Van."


Elvan menatap Ily dengan sendu. "Sayangnya, dia mendapat takdir yang rusak."


Ily terdiam lama karenanya.


"Seharusnya dia sama lo kan, seharusnya juga tetep gue sama kalian. Sukses bareng, bahagia bareng, apa-apa selalu bersama." Elvan tersenyum getir, mulai merasa sesak dan ingin menangis. Namun, ia menahannya. "Gue seharusnya jadi arsitek dan pemimpin basket yang sukses. Gue bisa hadir di panggung Eza sekaligus wawancara karena gue ganteng. Gue juga harusnya liat butik lo dan kasih beberapa tips."


Air mata Elvan tak kuat untuk tetap menjadi bendungan dan membentuk kaca-kaca di matanya. Titik-titik bening itu meluncur mulus, satu-persatu hingga akhirnya bersatu membentuk sebuah tangisan tanpa suara yang menyayat hati.


"... Gue juga harusnya ... harusnya rayain tahun baru setiap tahun bareng-bareng sama kalian sambil cerita-cerita tentang kegagalan dan kesuksesan."


Pasokan oksigen untuk napas Ily seperti menurun, rasanya sesak sekali. Air matanya terbendung lagi.


"Tapi, yang gue punya hanya kegagalan. Gue terlalu malu buat ketemu dan gabung lagi sama kalian, sampai akhirnya gue ketemu kalian lagi karena ada Yohan," sambung Elvan dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Kita sama-sama punya takdir yang rusak dan terkait masalah sialan yang dibuat sama ayahnya."


"Nggak ada takdir yang rusak, Van," balas Ily dengan gelengan dan wajah serius. "Takdir lo, takdir Eza, takdir gue dan takdir Yohan. Itu sama. Ada baiknya, ada buruknya. Tapi, nggak ada takdir yang cacat."


Mulut Elvan refleks terbungkam. Tak tahu lagi untuk membalas, sebab perkataan Ily sangat menusuk hatinya.


Selama ini, Elvan selalu menganggap dirinya sangat sial. Elvan selalu menganggap dirinya terbelakang daripada Ily Dan Eza. Elvan selalu menganggap dirinya mendapat takdir yang rusak sebagaimana yang ia sematkan pada takdir Yohan.


Tanpa mengetahui, bagaimana ada keindahan atas rasa tak bersyukurnya selama ini.


Jelas, adanya Ily, membuat Elvan paham.


"Semua orang pasti bahagia dengan takdir, yang membedakan adalah prosesnya, juga akhirnya. Semuanya bisa bahagia, dengan caranya masing-masing, dengan cara yang berbeda." Ily membenarkan rambut Elvan yang menutupi keningnya, menutupi matanya. Ily menyingkapnya hingga membuat pandangan Elvan lebih jelas, lebih cerah dan jelas, lebih indah sebab tak ada lagi penghalang. "Lo nggak boleh menyalahkan takdir, lalu menyerah, lalu menangis, nggak bersyukur dan kehilangan bahagia."


Elvan menitikkan air matanya tanpa sadar. Begitupula dengan Eza, yang sedari tadi mendengarkan tanpa bicara.


"Iya, Ly, gue ngerti sekarang."


Jika Elvan tak mendapatkan takdirnya, ia tak akan bertemu Bang Jefri, laki-laki yang tulus merawatnya serta berada di sampingnya seperti ayah sendiri. Jika Elvan tak berjalan di takdirnya, ia tak akan kuasai bela diri untuk melindungi orang tercintanya nanti. Jika Elvan tak memiliki takdirnya, ia tak akan bertemu orang-orang seperti Yohan, Eza bahkan Ily.


Semuanya adalah sumber kebahagiaan Elvan sebenarnya selama ini, namun laki-laki itu terlalu tak bersyukur untuk menyadari.


"Banyak orang-orang yang lebih menderita di luar saja, Van," tambah Ily kemudian, dengan nada lelah dan senyum tipis.


"Iya, Ly, iya, gue bersyukur atas kehidupan gue sekarang," balas Elvan dengan senyuman yang sama.

__ADS_1


***


__ADS_2