Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 74


__ADS_3

Belakangan ini hidup Ten terasa damai-damai saja.


Bukan berarti Ten mau hidupnya dilanda badai juga.


Kadang, setelah membantu mencuci piring di dapur, setelah menyapu lantai, mengepel lantai juga, setelah menyiram tanaman atau setelah mencuci baju-baju anak panti asuhan lainnya sebagai tanda terimakasih atas perhatian Bi Anis, Ten selalu duduk sendiri di teras rumah sederhana yang berisi banyak anak terlantar sepertinya.


Yang tak punya orang tua, yang tak punya rumah, yang kehilangan dan yang tak berdaya.


Ten selalu mengulang kembali harinya.


Memang kedengaran sangat melow atau melankolis, tapi Ten memang kebiasaan begitu. Ditemani angin semilir sore yang menenangkan hati, Ten memejamkan matanya.


Tanaman liar yang tumbuh di pekarangan rumahnya, bunga-bunga peliharaan Bi Anis dan pohon mangga besar yang kerap kali jadi panjatan anak-anak saat bermain membuat Ten rileks. Menghirup udara yang bersih, segar dan sehat.


Kadang, hal itu membuat pikiran Ten menjadi lebih baru, seperti didaur ulang.


Ten tertawa kecil. Lucu sekali hidup ini.


Dia merasakan suatu hal baru-baru ini. Tepatnya setelah Lucas mengeluarkan senjata ultimatum untuk menyelesaikan masalah antara Theo dan Regan, Ten menyadari apa yang paling kuat di dunia ini.


Seberapa sering pun Pak Toto memberitahukan kepala Ten bahwa otak Ten itu sudah cukup sebagai modalnya untuk hidup, hal itu nyatanya tak cukup membuat Ten tenang.


Ten tak bisa tenang jika dia tak punya banyak uang.


Apa gunanya otak yang isinya melimpah jika dengan uang, semua masalah bisa tumpah?


Lihat saja saat ini.


Regan tak lagi meneror Ten dengan pesan ancamannya, tak lagi memaksa Theo lagi dan seolah hilang dari dunia ini. Kabarnya Regan sudah pernah terlibat dengan pembunuhan di Australia sana, meski akhirnya tidak dinyatakan bersalah karena itu hanya sebuah kecelakaan.


Hal itu tentu saja membuat Lucas ketakutan dan khawatir masalahnya akan lebih besar jika dia tak segera menyelesaikannya.


Lucas terpaksa mengambil cara itu.


Ten paham itu.

__ADS_1


Hanya saja, dia benar-benar merasa rendah dan berjarak jauh dari Lucas. Bagaimana laki-laki itu bisa menendang Ten jauh-jauh karena status ekonominya. Maksudnya, Ten tak diberi kesempatan untuk menyumbangkan otaknya untuk turut ikut menyelesaikan masalahnya.


Ten sempat marah. Namun, dia tak mempermasalahkan lebih jauh karena masalahnya juga sudah selesai berhari-hari yang lalu.


Hidupnya, hidup Theo dan hidup Lucas juga berjalan baik-baik saja sejauh ini.


Ten menunduk. Dia harus cepat-cepat meraih tempat tertinggi dan menghasilkan banyak uang.


***


"Pendidikan bukan suatu yang harus ditunda-tunda, apapun alasannya, apapun hambatannya. Jika tak bisa sekolah, masih banyak cara untuk terus belajar. Lewat lingkungan, lewat tetangga, lewat komunitas masyarakat. Jangan pernah menyerah jika kita belum benar-benar berhenti jantungnya." Lili tersenyum saat dia lancar-lancar saja untuk berpidato. Dia menatap cermin toilet perempuan di sekolahnya. Sebentar lagi dia akan lomba pidato. "Sekian pidato dari saya. Terimakasih."


"Yosh, cukup aja." Lili mengangguk yakin, kemudian keluar dari toilet dengan segera.


"Bagi yang mengikuti lomba pidato, harap segera berkumpul di sisi lapangan. Sekali lagi, bagi yang mengikuti lomba pidato, harap segera berkumpul di sisi lapangan."


Suara pengumuman itu membuat Lili cepat-cepat melangkah mengikuti arah suara, tepatnya ke sisi lapangan di mana sudah ada banyak peserta lainnya yang mengikuti lomba. Gema adalah salah satunya.


"Gimana? Lancar?" tanya Lili pada Gema.


Lili menipiskan bibirnya dengan raut wajah penuh tekad. "Semoga lancar deh buat kita berdua."


"Yoi."


Waktu terasa sangat cepat berlalu. Setelah Gema dipanggil untuk pidato Bahasa Inggrisnya dan perempuan itu menampilkan paparan pidato yang luar biasa menurut Lili, Lili kemudian dipanggil untuk tampil di tengah lapangan di mana semua anak SMA Aksara Nusa melihatnya. Tak berjalan sulit bagi Lili untuk menyelesaikannya. Lili sudah menghafal isi pidatonya semalaman hingga tak sadar Ida tidur larut sekali hingga bangun kesiangan dan tekat sarapan. Jadinya ia sarapan sedikit karena terburu-buru.


Sejurus kemudian, setelah dia turun dari mimbar di tengah lapangan dan keluar dari lapangan, Mila langsung menyeret tangannya.


"Lombanya satu jam lagi, gila!" seru Mila panik saat Lili diseret olehnya dengan wajah bingung. "Kita harus cepet siap-siap, Li."


"Waduh, kok bisa satu jam lagi?" tanya Lili ikutan panik.


Sejurus kemudian, mereka sudah berada di kelas. Beberapa anak tidak ada di tempatnya karena mengikuti mata lomba yang lain. Mila segera mengambilnya rok untuk Lili pakai dengan wajah frustasi.


"Gila aja anak OSIS. Katanya fashion show dimulainya jam dua. Gara-gara itu gue santai aja sambil nonton balap bakiak kan seru, lucu gitu." Lili memakai rok hasil dari barang bekas itu cepat-cepat saat Mila menyodorkannya. "Eh, taunya dimajuin dong waktunya. Katanya pidato selesainya nggak sesuai jam perkiraan. Kenapa sih semua lomba harus dibarengin waktunya? Aduh, stress gue."

__ADS_1


Lili membuang napas kecil. Tak ada gunanya dia ikutan cemas juga. "Cukup lah satu jam buat gue siap-siap."


"Iya, iya, semoga."


Tak lama kemudian, Theo datang ke kelas sebab baru saja ia mendapatkan SMA dari Mila. Asisten Mila mengambil alih Theo kemudian untuk memakaikannya jas dari kantung plastik hitam.


Mila memang terobsesi untuk merias Lili saja. Sementara yang lainnya bertugas mengurusi Theo.


Butuh dua puluh lima menit untuk Lili benar-benar siap. Dia memakai baju seperti putri di dongeng dalam kartun. Bajunya tak begitu seribet yang Lili pikirkan. Meski agak sangsi saat bergerak karena takut rusak, keseluruhan bajunya membuat Lili nyaman.


Kelihatannya bagus dan pas juga di tubuh Lili.


Tak lupa, Mila mengepang rambut panjang Lili menjadi satu seperti tokoh Elsa dalam Frozen. Diletakkannya sebuah mahkota dari bando bekas yang ditempeli ranting pohon kecil hingga mirip tanduk rusa di atas kepala Lili sebagai sentuhan terakhir.


Mila tersenyum. "Tinggal dimake-up dikit, Li. Mantep, dah, cantik."


Lili tersenyum tipis. "Jadi pengen ngaca."


"Bentar," tahan Mila seraya segera mengambil kotak make-up yang dia bawa sendiri dari rumah. Dia tersenyum pada Lili dengan penuh arti dan sorot mata penuh tekad. "Gue lukis dulu muka lo."


Mila membuka kaca mata Lili dan mulai memberi wajah Lili krim sebagai pondasi. Penglihatan Lili langsung buram, namun ia bisa menahannya dengan menutup mata.


Mila memang sudah terkenal dengan keterampilannya dalam mengaplikasikan make-up ke wajah. Feed IG-nya sudah dipenuhi dengan wajahnya sendiri dengan riasan yang anti mainstream. Mila sering membuat make-up karakter, animasi, Halloween sampai make-up untuk film action.


Perlu Lili acungi empat jempol untuk keahlian Mila.


"Lo kepikiran buat jadi make-up artis atau ahli make-up gitu nggak sih?" tanya Lili penasaran.


"Nggak ah, capek," balas Mila cepat. "Lagian ayah sama ibu gue nggak ngizinin gue serius berkarir di dunia make-up. Gue disuruh berkecimpung di dunia kedokteran."


Lili tersenyum tipis. Merasa kasian pada Mila. "Ya, gimana ya kalau ortu nggak izinin."


"Setidaknya gue bisa jadiin hobi aja," tukas Mila.


"Iya. Gimana pun, orang tua itu jadi perintah teratas kita. Sumber petunjuk jalan hidup kita."

__ADS_1


__ADS_2