
"Theo." Lili kembali lagi ke samping Theo. Wajahnya khawatir. "Ada Pak Dodo."
"Oh, ya?" Theo langsung bangkit berdiri. Karena Lili, dia jadi tak fokus mengawasi hadirnya Pak Dodo. Tanpa peduli Lili, Theo kembali ke posisinya, menghormati bendera di ujung atas tiang.
Lili melihat itu dengan mata melotot. "Heh, gue gimana?"
"Kaburlah," saran Theo cepat.
Kaki Lili yang turut panik langsung melangkah cepat untuk berlari melewati tegah lapangan, saat suara Pak Dodo menghentikannya pada langkah kelima yang Lili ambil.
"Ngapain kamu di sini, nak?"
Lili berbalik dengan canggung. "Saya ...."
Kenapa otaknya jadi macet seperti ini, sih? Jerit Lili super panik dalam hati.
Lili metatap Pak Dodo dengan takut-takut. Kening Pak Dodo sudah sangat bingung dan meragukan Lili.
"Kamu?" tanya Pak Dodo menuntut. "Kamu kenapa?"
Theo diam-diam mencaci kebodohan Lili. Kenapa perempuan itu tak bilang saja baru dari toilet?
Tak seperti pikiran Theo, Lili tak bisa berbohong. Dia berulang kali berpikir apakah akan mengatakan kebohongan, saat Pak Dodo bertanya dengan tuduhan.
"Kamu ngasih Theo air minum?" Pak Dodo menatap botol bekas di tangan Lili.
"Iya, Pak, tadi--eh?" Mata Lili langsung bergerak panik saat menyadari baru saja dia keceplosan. Lili menatap Theo panik. "Eh?"
**** banget, *****, Theo membatin dengan tawa meremehkan.
"Bener ternyata. Kalian pacaran?" Pak Dodo bertanya marah. Menatap Lili lurus-lurus hingga membuat Lili merasa dirinya sedang dilaser oleh tatapan Pak Dodo.
"Kita nggak pacaran, Pak--"
"Diam kamu." Pak Dodo memotong ucapan Theo dengan cepat.
Lili hanya mampu memejamkan matanya.
"Mending kamu bersihin gazebo depan ruang guru." Pak Dodo memberi perintah pada Lili. "Daripada perhatian sama pacar nakal kamu kayak Theo, mending rawat gazebo sama tanaman-tanaman di kelilingnya. Ayo, ikut saya sekarang."
Akhirnya, Lili habiskan dua jam pelajaran untuk meredakan kemarahan Pak Dodo yang dia lakukan untuk pertama kalinya.
Semuanya gara-gara Theo. Awas aja itu anak.
***
__ADS_1
"Udah gue bilang kalau lo ngikutin gue lagi, lo bahaya."
Theo bertingkah seolah peduli dengan Lili, namun sebenarnya itu hanya omong kosong karena Lili terus diancam jika tidak mengikuti keinginan laki-laki itu.
Karenanya, Lili sebal sekali saat Theo berkata begitu ketika kenyataannya Lili harus menyalin kembali rangkuman Bahasa Indonesia milik Theo karena Theo menilai tulisan Lili terlalu berbeda dengan tulisannya.
Nanti Bu Ghina curiga.
Anak-anak kelas sudah pulang seluruhnya. Di kelas hanya tersisa Theo dan Lili. Theo memastikan Lili melakukan perintahnya dengan baik.
Dia sudah bicara pada Ten untuk menjaga adiknya dulu karena Theo akan pulang agak telat.
"Jangan terlalu terbang dari garis hurufnya," kata Theo memperingati.
"Iya, iya."
"Lo kesel?"
"Nggak."
"Terus kenapa suara lo kayak gitu?
"Suara gue kenapa emangnya?" Lili bertanya malas, sementara dia harus fokus menulis juga menjawab pertanyaan Theo.
"Kedengarannya lo kesel."
Lili menatap Theo lurus-lurus, menanti jawabannya.
"Kalau iya, berarti nggak bagus. Kalau nggak, berarti nggak bagus juga."
Kening Lili mengerut tajam. "Kok gitu? Kenapa?"
"Males gue ngomong sama yang lemot, kayak Lucas aja." Theo mendengus sebal. "Gue balik."
"Heh!" Lili lagi-lagi menahan kepergian Theo dengan menarik seragam pinggirnya hingga tak sengaja mencubit kulitnya.
"Sakit, bangst," umpat Theo tajam.
Lili melepas tangannya dengan senyum polos. "Oops, sorry."
Theo menatapnya malas. "Apa lagi?"
Lili menipiskan bibirnya. "Lo lupa lo ngasih lima kesempatan buat gue nanya? Gue mau tanya sekarang."
Theo membuang napas panjang dengan wajah lelah. "Fine."
__ADS_1
Senyum senang Lili akhirnya tercipta setelah banyak sekali cemberut tidak muncul hari ini. "Apa semalem lo balapan?"
"Lo kok tau?"
"Gue ngikutin lo dari Senin. Lo lupa? Lo, Ten sama Lucas pada ngomongin balapan."
"Gue bahkan lupa itu." Theo tertawa, merasa ngeri pada kemampuan Lili. "Iya, semalem gue balapan."
Lili mengangguk-angguk. "Coba ceritakan sedetail-detailnya mengenai balapan itu."
"Lo tau film Cars?"
"Tau."
"Kurang lebih kayak gitu." Theo menjelaskan dengan malas. "Cuma balapan kemarin nggak ada suporternya karena cuma balapan perkenalan. Cuma ada gue sama satu lawan gue yang datang. Gue kalah."
"Kalah?" Lili bertanya terkejut. "Ada berantemnya nggak abis lo kalah?"
"Gue orangnya suportif."
Lili tersenyum meremehkan. "Terus, kenapa dan sejak kapan lo ikut balapan?"
"Apa pertanyaan itu nggak terlalu pribadi?"
"Tujuan gue adalah mengenal pribadi lo." Lili menukas cepat, mulai menulis kembali fakta-fakta tentang Theo. "Jawab aja."
"Awas lo kalau lupa bayar."
"Tenang, gue orangnya suportif."
Theo mendengus meremehkan. "Sejak orang tua gue bercerai, gue nggak tau caranya buat bahagia. Waktu SMP kelas dua, gue ketemu temen yang suka balapan. Gue ikutan dan itu menyenangkan. Sampai sekarang itu jadi kebiasaan yang menyenangkan."
"Itu nggak baik lho." Lili memberi pesan. "Malem itu waktunya tidur."
"Lo bisa apa kalau nggak bisa tidur malem?"
"Oke, gue nyerah. Gue juga suka bergadang buat baca buku." Lili mengangkat tangannya dengan wajah menyerah. "Lo pernah jatuh cinta?"
Wajah Theo langsung berubah signifikan.
"Dari wajah lo, gue yakin jawabannya nggak." Lili berkata percaya diri. "Nah, kan. Faktanya Bad Boy itu sudah jatuh cinta karena mereka nggak peduli. Kenapa di Wetfed banyaknya Bad Boy jatuh cinta sih? Aduh ...."
"Kata siapa?"
"Eh?"
__ADS_1
"Kata siapa gue nggak pernah jatuh cinta?"