Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 80


__ADS_3

Ten bingung.


"Boleh ikut gue ke gazebo dulu nggak?" pinta Lili dengan senyum lebar. Dia dan Ten belum seakrab itu, namun Lili mengalami situasi darurat saat ini.


Dia harap Ten bisa bekerja sama.


"Mau ngapain, deh?"


"Ikut dulu, yuk," ajak Lili. Dengan langkah agak Rau, ia melangkah memimpin jalan ke gazebo yang terletak tak jauh dari kelas Ten.


Lili kira Ten tak akan mengikutinya. Jadi dia terkejut saat telah duduk di gazebo dan Ten turut duduk di hadapannya. Namun, Lili buru-buru tersenyum lebar menyambut kesediaan Ten mengikutinya.


Ten mungkin terlihat keras dan galak di raut wajahnya, namun ternyata penurut juga. Tak seperti seseorang.


"Gue mau tanya sesuatu." Lili tersenyum lebih lebar. "Boleh?"


"Tanya apa?" balas Ten.


"Ini tentang Theo."


Raut wajah Ten langsung berubah. Tadinya kebingungan, kini sudah menampilkan sorot mata penuh arti. "Hm, menarique."


"Iya." Lili mengabaikan reaksi Ten yang agak mencurigakan. Dia mengeluarkan buku kecilnya berserta balpen dari saku rok. "Daripada nggak dapat apa-apa karena Theo, mending gue tanya lo langsung."


"Emangnya Theo nggak suka jawab kalau lo nanya?" tanya Ten curiga.


"Dulu ya Theo jawab-jawab aja." Lili membalas kecewa. "Tapi, sekarang udah rasa susah."


"Hm." Raut wajah Ten berubah lagi. Alisnya menukik seperti tak setuju dengan permintaan Lili. "Kalau Theo-nya juga nggak kasih jawaban, jelas gue juga nggak bisa, dong."


"Gue cuma punya ini." Lili sudah menduga ini akan terjadi. Karena itu, dia mengeluarkan sebuah cokelat pasta kesukaannya untuk disodorkan pada Ten di detik berikutnya. "Please, bantuin gue."


Ten tertawa kecil, terhibur dengan kegigihan Lili. "Jangan remehin solidaritas gue, dong. Sakit hati, nih."


"Aduduh, bukan gitu maksudnya. Gue nggak bermaksud buat ...." Lili berkeringat dingin saat mencoba untuk menjelaskan. Dia paham betul Ten adalah siswa yang pintar. Lili selalu merasa rendah dan semua pikirannya melayang jika berhadapan dengan orang-orang ber-IQ tinggi.


Pada akhirnya, Lili tak ada pilihan lagi selain menyerah, "Yah, anggap aja gue nyogok lo. Ah, gue emang mau nyogok lo."


"Nah, Itu tau." Ten menjentrikkan jarinya dengan senyum tipis. Dia menatap Lili lurus-lurus. "Apa lo tau kalau nyogok itu dosa?"


"Gue tau. Gue paham. Nggak usah dibahas lagi." Lili mengangguk-angguk. Dia kira Ten akan mudah untuk ditaklukkan. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso.


Ten hanya tertawa.


Perlahan, Lili bangkit dari duduknya. "Oke, kalau lo nggak mau, gue nggak akan memaksa. Maaf kalau gue ganggu waktu istirahat lo."


"Lo memang udah ganggu waktu gue."


Ten dan temannya memang tak ada bedanya. Kalau berkata-kata suka kasar dan menusuk tepat di ulu hati.


"Sorry." Lili menyesal. Dia menunduk dan hendak meninggalkan Ten di gazebo saat Ten lebih dulu bersuara sebelum dia sempat mengambil langkah pertamanya.


"Biar sekalian habisin waktu gue, kenapa lo nggak kasih gue tiga cokelat yang kayak gitu dan gue bakal jawab pertanyaan lo tentang Theo."


"Oh, serius?" Mata Lili langsung berbinar senang. Wajahnya kembali cerah. Lili duduk kembali di hadapan Ten dan mengambil sesuatu dari saku roknya. "Gue kebetulan ada lima, nih. Lo mau tiga aja? Boleh. Tapi serius lo nggak bakal menyesal? Kan lo bakal dapat dosa dengan menerima sogokan dari gue."


Ten berdecak jengah. "Mending cepet kasih gue cokelat itu daripada gue berubah pikiran."


"Oh, oke siap." Lili buru-buru memberi tugas coklat pasta dari tangannya ke Ten. "Nih."


"Oke." Ten menerimanya dan segera menatap Lili kembali setelah membuka kemasannya dan mulai memakan cokelat pastanya. "Lo mau tanya apa?"


"Tentang Theo, Sherin dan Dika. Mereka sebenarnya ada apa?" tanya Lili seraya membuka tutup balpennya, siapa mencatat.


"Oh, soal itu."


"Iya! Kemarin lo liat nggak? Theo sama Sherin tuh boncengan entah ke mana, terus di seberang jalannya ada Dika." Lili berkata penuh semangat. Namun kemudian, wajahnya jadi tampak sedih. "Theo jadi pepacor dong?"


"Pepacor?" Kening Ten mengerut samar.


"Perebut pacar orang."


"Ooh, hahaha." Ten tergelak. Lili benar-benar sesuatu. Pastas saja Theo nyaman didekatnya. "Gue juga nggak tahu menahu soal itu. Tapi gue tahu gimana Theo kenal sama Dika dan Sherin."


"Oh, yaudah. Boleh. Cerita tentang itu aja." Lili mengangguk kecil.


Ten meringis kecil. "Btw, gue boleh nanya dulu nggak?"


"Tentu boleh." Dengan cepat Lili menjawab. "Lo mau nanya apa?"


"Buat apa ya lo korek-korek informasi tentang Theo ini?" tanya Ten curiga.


"Gue mau bikin novel."


"Tentang Theo?" Ten benar-benar terkejut. Tak percaya akan ada hubungan seperti ini antara Theo dan Lili.


Jadi alasan mengapa Theo tampak dekat dengan Lili baru-baru ini karena mereka akan membuat novel? Ah, Ten kita Theo benar-benar tertarik dengan Lili.


"Bukankah udah jelas banget? Kalau nggak, kenapa gue sampai nanya-nanya ke lo tentang Theo?"


"Oh, iya, bener." Ten mengangguk-angguk. Kemudian menatap Lili dengan respect. "Niat banget. Gue boleh tau nggak alasan kenapa lo tertarik buat jadiin kisah hidup Theo jadi novel?"


"Karena dia Bad Boy," balas Lili cepat. "Gue mau buktiin cerita Bad Boy tuh bukan kayak di Wetfed kebanyakan. Ya, gitu deh. Lo mungkin nggak paham kalau gue jelasin juga."


"Tapi gue juga Bad Boy lho."


"Maaf-maaf, nih." Lili tersenyum manis, memandang Ten dengan sangsi. "Gue nggak senekat itu buat jadiin orang asing sumber isi novel gue. Theo kan satu kelas sama gue, jadi nggak terlalu ... ya gitu deh. Kalau lo ... lo ... lo mungkin bahkan nggak kenal gue sebelumnya."

__ADS_1


"Ah, iya, iya, gue paham."


"Kalau gitu, bisa langsung cerita?" Lili tak menyangka Ten akan secerewet ini. Sudah sepuluh menit mereka berada di sini dan belum membuat Lili puas.


"Oh, gue ada pertanyaan satu lagi!" seru Ten baru ingat.


Lili memejamkan matanya. Membuang napas kecil dan mencoba bersabar menghadapi Ten.


Ten melihatnya. Kalau memiringkan kepalanya. "Lo kesel?"


"Ha? Ah, nggak!" Lili buru-buru tersenyum dan memasang wajah cerah. Theo dan temannya ini benar-benar mirip. Pastas mereka biasanya bersahabat. "Lo mau tanya apa?"


"Oke bagus kalau lo nggak kesel. Gue mau tanya." Ten menipiskan bibirnya. "Kenapa lo sampai tau Dika? Perasaan itu orang nggak pernah mengenalkan diri secara resmi ke lo atau mungkin Theo yang kenalian dia ke lo?"


"Nggak." Lili menggeleng pelan. "Gue tau Dika karena Theo pernah cerita. Terus tahu orangnya waktu dia sama Sherin ngobrol di pinggir warung Bu Ikah."


"Ooh."


"Iya." Lili membalas agak tak sabaran. Ia menatap Ten dengan penuh antusias. "Jadi, gimana ceritanya Dika sama Theo bisa ketemu?"


"Oh, itu. Jadi gini ...."


***


Waktu Theo kelas delapan ... setelah kedua orang tuanya bercerai ....


Dari kecil, Theo itu adalah anak yang pendiam. Bukan diam karena malu, lebih tepatnya dia tak tertarik dan malas saja untuk bersosialisasi hingga tak punya teman akrab satu pun. Theo hanya mengenal teman satu kelasnya, sebatas hafal nama.


Itu saja.


Selalu duduk sendiri karena jumlah anak kelasnya ganjil, selalu ke kantin sendiri di waktu akhir karena benci keramaian, selalu ini sendirian dan selalu itu sendirian.


Sebagian orang melihat Theo sebagai orang yang menyedihkan. Namun, tidak dengan Dika.


Laki-laki yang terkenal karena kesupelan pribadinya itu perlahan dekat dan akrab dengan Theo. Jika di kelas ada sisi hitam, maka Theo cocok untuk mendeskripsikannya. Sementara sisi putihnya adalah Dika, pemuda dengan seribu senyum dan kata-kata jenaka.


Bermula saat classmeeting. Kelas mereka mengirim sebuah tim futsal. Saat itu Dika yang memilih anggota timnya karena dia sendiri adalah kaptennya. Dika kerap kali juara futsal dan anak kelas percaya padanya.


Namun, siapa sangka jika Dika memilih Theo. Anak pendiam yang selalu malas dan menolak untuk melakukan apapun jika tak berkenaan dengan nilai akademik.


Jelas saja Theo menolaknya.


Dika tak menyerah begitu saja saat itu.


"Kalau hidup lo cuma gitu-gitu aja. Berangkat, sekolah, pulang. Cupu namanya. Nggak seru." Dika berkata begitu saat Theo mau pulang sekolah.


Theo menatap Dika tak suka. "Jangan sok peduli."


"Idih, siapa yang peduli sama lo?" Dika membalas sama tak sukanya. "Gue mau ngajak lo latihan. Lombanya minggu depan. Kalau lo anaknya Cristiano Ronaldo sih gue maklum kalau lo langsung pulang aja sekarang."


"Gue nggak bakal ikutan futsal," tegas Theo.


"Woi!" seru Theo, terpancing emosi.


"Latihan dulu. Baru gue berhenti ganggu."


Theo menekan bibirnya membentuk satu garis lurus. Untuk menghadapi orang sekeras kepala Dika, Theo hanya tinggal menuruti perintahnya. Dia melepas tasnya dan bergabung di lapangan untuk bermain futsal.


Dika menyunggingkan senyuman puas.


Awalnya Theo tak bisa menguasai, namun berhari-hari latihan karena paksaan Dika, keahliannya meningkatkan lumayan baik. Tak dirasa, Theo mulai menikmatinya dan akrab begitu saja dengan Dika.


Theo tak pernah dekat dengan siapapun seperti dia dekat dengan Dika.


Hari lomba futsal pun tiba. Dika dan Theo berserta tim futsal kelasnya berlomba dengan sekuat tenaga. Dengan keringat dan air mata haru, kelas mereka menyabet juara pertama.


Bagaimana lelahnya, bagaimana bahagianya, Theo mulai menyukai perasaan-perasaan itu. Perasaan saat bersama teman-temannya, perasaan saat disemangati teman-temannya dan perasaan saat menjadi objek yang ditatap bangga oleh orang-orang di sekitarnya.


Tak dipungkiri, Theo masuk ekskul futsal bersama Dika dan mulai selalu bersama.


Mulai dari ke kantin, duduk satu meja, berjalan ke gerbang atau pergi ke toilet.


Secara alami, Theo pun mengenal teman-teman Dika yang lainnya.


Yang berada di dunia yang belum pernah Theo jamah sebelumnya.


Iya, balapan liar.


"Malam ini gue tanding. Lo mau ikut, nggak?" tanya Dika waktu pulang sekolah suatu hari.


"Ayo," balas Theo dengan senyum lebar. Menanti dengan semangat.


Ketika datang ke arena balapan, Theo menyukainya. Mendadak dia lupa masalahnya di rumah, lupa juga resahnya. Yang ada hanya bahagia dan luapan tawa.


Theo dan Dika jadi amat akrab. Sampai Theo ikut-ikutan ke rumah Dika karena tak mau berpisah dengan cepat.


"Lo jangan naksir sama gue," peringat Dika dengan ngeri waktu terpaksa mengajak Theo ke rumahnya.


"Ya kali, anjuir," balas Theo jijik.


Dan rumahnya Dika ... sebelahan sama rumah Sherin.


"Itu cewek yang gue suka, Yo," kata Dika agak malu-malu saat melihat Sherin keluar dari rumahnya dengan menenteng sebuah polibag berisi sampah. "Cantik, ya?"


Theo melihat seorang perempuan berambut gelombang dengan tubuh semampai dan wajah sekecil buah kelapa dengan wajah melongo. Dia memang yang tercantik dari yang paling cantik.


Theo tersihir pokoknya sampai tidak sadar Dika sudah tak ada di sebelahnya lagi.

__ADS_1


Dika langsung menghampiri Sherin.


"Rin," sapa Dika dengan senyuman lebar.


Sherin menoleh padanya, membalas senyumannya. "Oh, Ka."


"Mau dibantuin, nggak?" tanya Dika lembut.


Sherin tertawa, bunyinya terdengar cantik di telinga Dika. "Nggak usahlah. Deket juga."


"Oke."


Keduanya berjalan berdampingan menuju TPS yang ada di sebrang jalanan sana.


Tak lama, dengan langkah malu, Theo menghampiri.


Dika menyadarinya. Lengannya segera melingkar ke bahu Theo. Dia hampir lupa Theo karena dunianya fokus pada Sherin seketika.


"Rin, ini Theo. Temen gue." Perkataan Dika membuat langkah Sherin berhenti dan menatap sejenak pada Theo yang tersenyum kaku.


"Hai," sapa Theo kikuk.


Sherin tersenyum. "Hai."


Berawal dari perkenalan singkat itu, Dika, Theo dan Sherin menjadi akrab. Meski Sherin beda sekolah, pelajaran mereka masih sama. Setiap pulang sekolah, Theo dan Dika kerap kali menyambangi rumah Sherin untuk belajar bersama.


Dika menyukai Sherin dan Sherin pun menyukai Dika. Mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih saat kelulusan SMP. Theo menyelamati Dika dengan agak cemburu.


Beruntung sekali Dika mendapatkan perempuan secantik, selembut, sepintar dan sesopan Sherin. Yah, Sherin sempurna pokoknya.


Namun, bukan berarti Theo berani merebut Sherin dari Dika.


Bukan Theo yang berniat merebutnya.


Entah kenapa, awal pertama masuk tahun kedua sekolah SMA, Sherin tiba-tiba dingin pada Dika dan malah dekat dengan Theo. Dika yang terpisah sekolah karena dia mengambil jurusan otomotif di SMK negeri, memang merasa hubungannya agak renggang dengan Theo. Namun, Dika tak menyangka Theo akan menusuknya dari belakang hingga akhirnya dia marah.


Memusuhi Theo dan melupakan semua suka yang dilalui bersama-sama dengannya.


Intinya, Theo sudah merebut miliknya tanpa permisi dan Dika marah karenanya.


Padahal, berkat Theo, Ten dan Lucas juga mengenal Dika dan sama-sama menyukai balapan liar malam-malam.


***


"Ya, cuma segitu yang gue tau ...." Perkataan simpulan yang akan Ten katanya menggantung, menatap Lili dengan bingung. "... nama lo siapa, sih?"


Lili mendongak dari buku kecilnya. Dia baru saja selesai menulis rangkumannya. "Lah, lo nggak tau nama gue tapi tetap nyambung?"


"Gue tau siapa lo, cuma nggak tau nama aja," balas Ten santai.


"Lili."


"Hah?"


"Nama gue Lili."


"Oh, Lili." Ten mengangguk-angguk. "Oke."


Lili kemudian bangkit berdiri setelah mengangguk kecil. "Oke, makasih ya atas informasinya. Bantu banget."


"Sip."


"Jadi masalahnya ada di Sherin, ya?" Lili bertanya sebelum benar-benar pergi.


Ten mengangkat bahunya, tak begitu yakin karena dia juga tak tahu.


Baru Lili akan pergi, Ten memanggil namanya.


Lili berbalik lagi. "Kenapa?"


"Yang gue tau, Theo tuh jarang banget cerita tentang hidupnya," kata Ten dengan sorot mata yang tak Lili pahami. "Apalagi ke cewek. Dia cerita tentang Dika ke gue sama Lucas aja setelah dia babak belur sama Dika dan kita khawatir. Itu anak tertutup banget sebenarnya."


Lili mengangguk. "Oke."


"Dia rela cerita ke lo." Ten menambahkan. "Bisa jadi lo spesial."


"Aduh, apaan, sih," tukas Lili jadi salah tingkah.


"Eh, seriusan." Ten menatap Lili penuh arti. "Theo suka sama lo."


Lili mendadak tersedak ludahnya sendiri. Dua terbatuk-batuk dengan dramatis. Wajahnya memerah dan membuat Ten khawatir.


"Woi aduh, lo kenapa?" tanya Ten, bahkan berdiri untuk mengecek keadaan Lili lebih dekat.


Lili mundur satu langkah dari Ten. Kemudian melotot padanya. "Lo kalau ngomong disaring dulu napa. Ngaco banget. Mana ada Theo suka sama gue? Dia sukanya Sherin, kali."


"Ck." Ten memutarkan bola matanya dengan jengah. "Gue yang udah setahun bareng sama Theo jelas tau. Mana orang yang Theo suka, mana orang yang Theo cuma anggap temen dari tatapan matanya."


"Sa ae lo," tukas Lili masih tak mau percaya.


Ten jadi gemas. "Theo udah cerita apa aja ke lo?"


"Hm ... katanya sih udah semuanya, tapi gue nggak percaya," jawab Lili.


"Nah, berarti dugaan gue bener," tukas Ten dengan senyum puas. "Theo beneran naksir sama lo, tuh."


Lili menatap Ten dengan penuh kecurigaan. "Ngaco lo. Udah ah, gue cabut. Bye!"

__ADS_1


Ditinggal begitu saja, Ten tertawa geli. "Nggak percayaan banget itu anak. Lili, Lili, aduh, lucunya."


***


__ADS_2