
Tiffany terpaksa bangun lebih pagi dari biasanya saat mendengar Juna datang ke kediamannya.
Tiffany tak ada kelas hari ini, awalnya dia ingin tidur saja; beristirahat dan merilekskan pikiran dari pelajaran-pelajaran di kuliahnya, namun kedatangan Juna bukanlah sesuatu yang bisa Tiffany abaikan.
Jelas, Tiffany memilih Juna daripada waktu tidurnya yang sudah berlangsung lebih dari delapan jam.
Setelah dari pernikahan Raihan dan Shasi, Tiffany merasakan tulusnya Juna. Juna membangkitkan kembali sisa-sisa rasa yang ada dalam diri Tiffany untuk membuatnya tumbuh hingga tak bisa Tiffany elak lagi.
Juna berubah banyak.
Bagaimana dingin sikapnya memudar, bagaimana sikap bodoh amatnya yang seolah hilang dan bagaimana manis kata-kata serta tindakannya membuat Tiffany semakin jatuh hati lagi.
Sekarang, dia bisa meyakinkan diri bahwa perasaan pada Yohan dahulu hanyalah sesaat dan sangat salah. Tiffany yang dulu tergila-gila dengan popularitas, kini menyadari bahwa dirinya sangat agresif dan membuang-buang waktu, membuang-buang rasa Juna juga.
Hari ini, Juna mengajak Tiffany untuk berkunjung ke sebuah restoran Meksiko. Juna dengan pakaian serba hitam dan topi putihnya membuat Tiffany turut memakai jins dan baju putih polos. Keduanya seperti anak muda yang baru pacaran.
Sebab dari awal turun dari mobil, tangan keduanya sama sekali tak bertaut. Hanya berjalan bersisian dan saat di dalam restoran pun mereka sibuk pada kegiatan masing-masing.
Tiffany yang selfi dan Juna melihat-lihat menu.
__ADS_1
Sebenarnya bukan maksud keduanya untuk mengabaikan masing-masing atau canggung, sebab dari masa SMA pun mereka selalu begini. Tak perlu skinship untuk menunjukkan perasaannya.
Diam dan hening sudah cukup dan nyaman bagi Tiffany dan Juna.
"Mau pesen apa, Tiff?" tanya Juna akhirnya, memecah keheningan.
Tiffany mendongak sekilas dari ponselnya. "Apa aja boleh, Jun."
"Ini daging semua menunya, kamu nggak apa-apa?"
"Emang aku bakal kenapa?" tanya Tiffany yang heran dengan pertanyaan Juna. Tiffany sebenarnya mengerti pertanyaannya, namun tak mengerti kenapa Juna menanyakannya. "Kamu nggak bakal berpaling kan kalau aku gendutan?"
"Justru aku takut kamu nggak suka kamu kalau gendut. Cewek-cewek kan begitu," balas Juna untuk setelahnya berkata pada pelayan tentang pesanannya.
Juna menarik senyuman menenangkan. "Jelas. Asal kamu Tiff, aku menyukainya."
Tiffany turut tersenyum. Sesaat, merasa dirinya menjalin masa-masa indah dengan Juna saat SMA. "Aku senang, Juna."
"Hm?" Juna tak begitu mendengar gumaman Tiffany barusan.
__ADS_1
"Aku senang kamu kembali. Aku senang sama kamu. Aku bahagia, Juna," jelas Tiffany dengan suara yang ia keraskan. "Kamu kapan mau lamar aku? Aku udah siap."
Juna tampak terkejut, namun ia senang. "Kamu masih mau kuliah, kan?"
Tiffany menipiskan bibirnya. Menyampirkan rambutnya ke telinga dengan pandangan teralih ke arah lain karena salah tingkah. Juna sudah berdebar kencang jantungnya sekarang karena tak menyangka Tiffany akan secepat ini mengajaknya serius.
"Aku bisa batalin studiku, Juna." Tiffany kembali menatap Juna dengan pandangan lurus-lurus. "Semuanya terserah kamu."
Suasana jadi senyap sesaat. Juna larut dalam pikirannya. Tentang masa lalunya dengan Tiffany, kesehariannya lima tahun ini dengan memikirkan perempuan itu lalu perasaan Juna yang dulunya menggantung di lembah keputusasaan tanpa ada yang menariknya kembali, kini sudah hilang; sirna segenapnya.
Juna telah menemukan tangan yang membawanya dalam kubangan bahagia tiada tara.
"Besok kamu kosong?" tanya Juna dengan tatapan penuh tekad.
Tiffany tersenyum sampai matanya tampak menyipit. "Akan aku kosongkan buat kamu."
***
**aduh aku nggak sabar buat post Dari Korea 3 hahahaha
__ADS_1
aku kasih bocoran deh, judulnya itu Writing About Bad Boy's Life :-)
gimana saat baca judulnya? apakah tertarik**?