
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan saat Ily melihat kamar Lili yang masih menyala lampunya. Sebelum masuk ke kamarnya sendiri, Ily menyempatkan diri untuk melihat Lili.
Ketika pintu kamarnya dibuka, Lili tak menoleh sama sekali dari laptopnya.
"Ibu, ya?" Lili bertanya, menebak.
Ily membuang napas panjang. Kemudian duduk di samping Lili. "Udah malem, Li. Tidur."
"Bentar, Bu." Lili membalas dengan tangan yang terus sibuk menari-nari di atas keyboard. "Lili harus beresin dulu ini. Takutnya idenya hilang, nanti hasilnya nggak sebagus sekarang."
"Jam sepuluh harus udah tidur, oke?"
"Iya, Ibu tenang aja. Sekarang Ibu tidur aja, istirahat, capek, kan?" Lili membalas tanpa menatap Ily.
Tangan Ily terangkat, mengusap rambut panjang Lili dan tersenyum. "Kamu boleh suka nulis--"
"Tapi jangan sampai lupa diri," potong Lili yang sudah hafal dengan kata-kata Ily tiap kali dia menulis hingga larut malam. "Ibu tenang aja. Lili nggak bakal bikin kecewa. Nanti tulisan Lili jadi buku."
"Iya, iya, Ibu tungguin," balas Ily ikut tersenyum saat Lili tersenyum dengan percaya dirinya.
"Lili pasti susul Imel. Liat aja."
"Jangan sampai larut banget ya, nulisnya. Nggak baik buat kesehatan," pesan Ily dengan lembut. Setelah mencium agak lama kening Lili, Ily pergi dari kamar Lili.
Orang tuanya tak pernah menentang hobi Lili, selama itu tidak membahayakan dirinya ataupun orang lain.
Lili terus menulis, tentang kehidupan Theo yang seperti sekarang, tak pernah serius memerhatikan pelajaran, suka bolos di pelajaran akhir, sering telat masuk dan bahkan masih diberi atau dikagumi oleh adik kelas dengan memberinya sebuah cokelat.
Lili menuliskan kehidupan yang masih berwarna tentang Theo, masa sekolahnya dan hal itu menghabiskan waktu sampai jam dua belas malam tanpa Lili sadari.
__ADS_1
***
Salah satu kelemahan Lili adalah sulit untuk dibangunkan.
Jika Ily bisa menyembuhkan sifat sulit dibangunkan dari tidurnya dengan aroma cokelat, sampai ini, Lili belum menemukan penyembuh dari sifatnya yang satu itu.
Selama ini, Ily membangunkan Lili dengan menyeretnya secara paksa ke kamar mandi. Hal itu selalu berhasil karena Lili kedinginan karena suasana kamar mandi.
Agak ekstrim sebenarnya, namun harus bagaimana lagi jika tak ada jalan lain?
Namun, hari ini beda. Lili tak bangun-bangun bahkan setelah Ily menyeretnya secara paksa ke kamar mandi. Justru, Lili tidur di sana seolah kamar mandi itu adalah kasur tidurnya sendiri.
"Ibu kok nggak bangunin Lili?" Lili menggerutu seperti itu saat sedang sarapan, sarapan yang sangat terlambat.
"Ya, kamu udah dimasukin ke kamar mandi masih tidur. Siapa yang salah?"
Lili tersenyum sedih. Dia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sebenarnya dia masih merasa mimpi, bagaimana bisa ada anak SMA yang datang ke sekolah jam sepuluh siang?
Mari simak mengapa bisa Lili seperti itu.
Ily sibuk memasak sampai lupa untuk membangunkan Yohan, setelahnya Ily disibukkan dengan menyiram tanaman di halaman depan dan setelahnya lagi, Ily Sibuk mencuci baju Luhan yang pagi-pagi sudah sangat menumpuk.
Tanpa memerhatikan lebih lanjut, di rumah itu hanya Ily yang bangun dan bergerak. Yohan, Luhan dan Lili masih tidur.
Hal itu baru disadari Ily saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Ily menepuk keningnya. Buru-buru, ia membangunkan Yohan karena suaminya itu harus bekerja. Setelahnya, ia melihat kamar Lili. Ketika memeriksa kamar mandinya, Lili terkejut bukan main.
Lili tidur di sana.
Ily langsung saja berteriak bahwa sekarang sudah jam sembilan dan Lili sontak bangun. Mereka berdua sempat berdebat sebentar dengan tangis yang mulai menggelantung di wajah Lili.
__ADS_1
Terpaksa, Lili mandi dan bersiap-siap untuk sekolah saja karena Ily menyarankan itu.
"Dari pada nggak sekolah sama sekali, mending berangkat tapi telat."
Dan tepat pada jam sepuluh siang, Lili berdiri di gerbang sekolahnya. Lili tak Bernai langsung masuk, dia mengecek ponselnya lebih dulu.
Ada dua orang yang mengiriminya pesan.
Satu dari Gema yang mengatakan bahwa dia akan berlomba hari ini hingga tak bisa ke kelas dulu untuk bertemu Lili karena lombanya dimulai pagi-pagi sekali.
Lili menertawakan dirinya dalam hati. Di saat orang lain bangun pagi dan bersiap-siap untuk berlomba, Lili masih berada di kamarnya, tertidur nyenyak.
Lili meremas rambutnya yang gemas. Ini karena di tidur larut malam hingga tak bisa kendalikan kantuk ketika seharusnya sudah bangun dari tidur.
Seseorang lainnya yang mengirimnya pesan adalah Theo.
Eh, Theo?
Mata Lili sedikit membulat karena terkejut. Dia tak menduga Theo akan mengirimi dirinya pesan.
Setahu Lili, Theo jarang sekali menggunakan media sosial karena laki-laki itu tampaknya suka langsung berhadapan saja dengan orang yang bersangkutan untuk melakukan sosialisasi jika situasinya tidak terlalu menuntut.
Theo: nggak sekolah?
Lili merasa terharu karena diperhatikan seperti ini oleh Theo. Pesan itu dikirimnya pada jam delapan. Lili langsung membalasnya.
Lili: sekolah gue
Tahu-tahu, seperti bukan kebetulan, seperti takdir yang memang sudah direncanakan sebelumnya, Theo keluar dari gerbang sekolah dengan selembar kertas HVS.
__ADS_1