
Lebih baik kamu cari aman daripada memaksakan langkah lagi."
Lili terdiam lama. Dia memikirkan banyak hal. Apa hal-hal yang dilaluinya selama ini. Hal buruk, hal baik. Perbandingan mereka yang amat signifikan.
Hingga akhirnya pikiran Lili tertuju pada satu hal.
"Haruskah Lili menyerah, Yah?" tanya Lili akhirnya, setelah sekian lama terdiam karena berpikir.
"Sebelum terlambat, Li." Yohan mengangguk dan meyakinkan. "Percaya Ayah. Ayah jamin masa depan kamu akan lebih baik."
Lili menatap Yohan penuh arti. Kemudian, perlahan, senyumnya terbit.
Yohan membawa Lili dalam dekapan renggang, takut membuat Lili kesakitan karena tangannya masih diberi gips. Yohan menitikkan air matanya seraya menepuk-nepuk punggung rapuh anak putrinya.
"Maafin Ayah, ya. Kemarin-kemarin Ayah lagi sensitif."
Lili memejamkan matanya di pelukan Yohan. "Iya, Yah."
"Sekarang, kamu minum obat ya, baru tidur. Atau makan malam dulu kalau bisa. Oke?"
***
"Luhan ...."
Pagi-pagi sekali Lili keluar dari kamarnya. Ketika melihat Luhan sedang bermain dengan Luvi, Lili langsung memeluknya dengan erat. Dengan satu tangannya yang sehat. "Kangen banget. Uuuuu."
Lili mencium kepala Luhan bertubi-tubi dengan gemas. Luhan yang merasakan pelukan Lili langsung menatapnya dengan senyuman lebar. Sudah lama sekali dirinya tak melihat Lili.
"Kakak cepet sembuh, ya," kata Luhan dengan suaranya yang masih cadel dan lucu. "Nanti aku abisin telur mata sapinya sendirian lagi. Nggak enak kalau nggak ada Kakak."
Lili tertawa merasa senang. "Iya."
Ketika itu, tiba-tiba datang seseorang. Ada Rasha Yang membawa sebuah koper dan tersenyum lebar pada Lili. Lili mengernyit keningnya dengan bingung.
Perasaan dia tak mengundang Rasha ke sini.
"Hai, Lili." Rasha menyapa riang. Dua menghampiri Lili dan Luhan dengan santai. Radja mencium kepala Luhan, menyapanya. "Hai, Luhan."
"Hai, Kak," balas Luhan seadanya. Kemudian fokus lagi pada Luvi.
"Ngapain ke sini, Kak?" tanya Lili kemudian.
Rasha tersenyum lebar dengan sorot mata penuh arti. "Mau belajar make-up?"
__ADS_1
Lili tersenyum tak enak. Mana mungkin dia menolak. "Ayo, Kak!"
"Di kamar Lili aja, ayok," ajak Lili kemudian. Ia mengambil tangan Rasha untuk ditarik menuju kamarnya.
Rasha tersenyum lebar. Kemudian mengikuti Lili dengan senang hati.
Sampai di kamar Lili, Rasha membuka peralatan make-up miliknya yang super lengkap dan membuat Lili takjub. Banyak sekali barang-barangnya, atau lebih tepatnya alat-alat kecantikan milik Rasha.
Lili tahu Rasha gemar sekali dengan dunia kecantikan hingga melihat Rasha yang setiap harinya memakai make-up dan tampak sangat cantik. Tak jarang Rasha memperkenalkan Lili produk ini-itu untuk ini-itu yang jarang sekali Lili terapkan karena dia tak begitu semangat.
Lili rasa wajahnya tampak baik-baik saja. Bukannya sombing atau apa, tapi Lili lebih malas saja untuk berdandan apalagi itu tidak membuatnya bisa menerbitkan sebuah buku.
Jujur saja, tanpa menulis, Lili merasa hampa.
"Hei, ngelamun aja!" seru Rasha keras. Membuat Lili tersadar dan mengerjapkan matanya berkali-kali dengan wajah kebingungan.
"Oke, mulai aja, ya?" Rasha tersenyum penuh semangat.
Kemudian, entah berapa jam Rasha menjelaskan tentang dasar-dasar kecantikan dan make-up. Tentang alasan mengapa make-up itu penting, latar belakang make-up ditemukan dan fakta-fakta lainnya yang masuk di telinga kanan Lili dan keluar lewat telinga kirinya saat itu juga.
Namun, Rasha seolah tak bosan. Kemudian, perempuan berumur dua puluh tahun itu menjelaskan alat-alat make-up. Mulai dari yang kecil sampai yang terbesar. Mulai dari yang digunakan untuk ujung rambut sampai ujung kaki.
Lili sudah pusing saat belajar biologi di kelas, apalagi untuk mendengarkan penjelasan Rasha yang sebenarnya sangat berbelit-belit dan membosankan.
Perlu sampai sore untuk Rasha mengenalkan dunia make-up dan kecantikan pada Lili. Beberapa kali Rasha praktek dan melatih Lili, namun hasilnya jelas. Akhirnya, Rasha menyerah saja dan pulang.
Sebenarnya Lili kasih tak tau kedatangan Rasha ke sini yang tiba-tiba itu untuk apa. Namun, kemudian, saat malam, Yohan menjelaskannya.
"Ayah yang minta Rasha datang." Yohan menjelaskan waktu itu. "Ayah pikir kamu bakal sulit untuk mencari kesukaan kamu yang lain, selain menulis dan membaca. Jadi, Ayah minta aja Rasha untuk perkenalkan kamu dengan dunia Rasha. Tentang make-up begitu. Siapa tau kamu ikutan suka juga."
Sayang sekali, Lili sama sekali tak tertarik dengan itu.
Rupanya, usaha Yohan tak berhenti dengan mendatangkan Rasha. Besoknya, sore-sore sepulang sekolah, Yalya langsung datang ke rumah Lili.
Yalya masih memakai seragam lengkap dengan kaos kaki serta tas sekolahnya (jelas sekali tanpa pulang ke rumah, Yalya langsung ke rumah Lili) dan tahu-tahu berseru riang saat melihat Lili. Yalya menyapa singkat pada Ily yang ada dan langsung menarik Lili untuk ke kamarnya.
Yalya memang sudah sangat akrab dengan Lili dan keluarganya. Jadi, kelakukannya di rumah Lili agak tidak malu-malu.
"Kak Lili!" seru Yalya semangat seraya membuka tasnya dan mengeluarkan segala isinya hingga berserakan di atas tempat tidur Lili.
Mata Lili membulat sempurna saat melihat begitu banyaknya barang-barang non pelajaran yang keluar dari tas sekolah Yalya.
"Aku bawa printilan NCT, nih. Ayo kita fangrling bareng!" Yalya berseru lagi. Tak peduli dengan reaksi Lili yang begitu tercengang dan tak begitu senang. "Nih, ya, selain jadi penggemar dunia NCT, aku juga untuk karena jualin album, kaos, sweater, handband, bando, lightstick, ya pokoknya yang lain-lainnya, deh."
__ADS_1
Mana bisa Lili cemberut saja menyambut kedatangan Yalya yang sudah rela, bahkan saat mungkin Yalya capek dengan sekolahnya.
Jadi, Lili tersenyum mendengarkan penjelasan Yalya selanjutnya.
Perbincangan panjang dari Yalya dimulai dari penjelasan bagaimana Yalya bisa suka K-POP. Kata anak itu, dirinya diracuni oleh teman sebangkunya yang laknat tapi dia sayang.
Lili tertawa karena itu lucu baginya.
Yalya lanjut menjelaskan tentang apa itu K-Pop. Apa-apa yang ada di dalamnya, apa-apa yang menyusunnya hingga memberi beberapa pendahulunya yang Lili juga kenali.
Ada Super Junior, SNSD, EXO, BTS dan sederetan boy group dan girl grup dari negara ginseng sana.
Kemudian Yalya menjelaskan secara spesifik tentang satu boy group yang sangat dia sukai. Namanya NCT. Yalya menjelaskan kepanjangannya, awal mula dibentuk, tahun debut, lagu-lagunya, unit-unit group-nya, lagu terbarunya kini dan member-membernya yang membuat Lili takjub.
Soalnya, banyak anggotanya itu bisa dibikin satu RT kali, ya.
Setelah itu, Yalya menjelaskan tentang bisnisnya yang berhubungan dengan NCT ini untuk menghasilkan uang. Panjang sekali sampai rasanya tak ada satupun yang nyangkut dan menarik perhatian Lili.
Hingga akhirnya malam tiba. Yalya sudah pulang dan Lili kini sedang makan malam bersama keluarganya.
"Gimana?" tanya Ily tiba-tiba, ketika Lili menusuk udang di piringnya.
"Apanya?" Lili balas bertanya dengan kening berkerut samar. Bingung.
"Udah ada kemauan yang baru, kan?" tanya Ily memastikan. Senyumnya mengembang, sangat menantikan.
Ily pasti bicara tentang kedatangan Rasha dan Yalya beserta pengaruhnya untuk Lili. Melihat Ily bergitu antusias sementara Lili punya jawabannya yang sepertinya agak mengecewakan membuat Lili menipiskan bibirnya.
"Belum, Bu." Akhirnya Lili menjawab dengan lesu.
Ada kecewa di mata Ily. Namun itu hanya sesaat, karena setelahnya ia tersenyum maklum seraya berpandangan dengan Yohan dengan penuh arti.
"Ya, semuanya ada waktunya, sih." Ily menatap Lili dengan senyuman kecil. Kemudian beralih pada Yohan lagi. "Ya, Yah?"
"Iya." Yohan segera menatap Lili dengan hangat dan lembut. "Semangat, ya, Li. Besok Ayah undang siapa, ya? Kak Yaya mau nggak? Sekarang dia fokus kerjain kasus-kasus hukum, lho. Tertarik nggak?"
"Nggak dulu, deh, Yah." Lili menggeleng seraya meringis kecil. Tak enak saat menolak, tapi kau bagaimana lagi jika hati tak lagi bisa dipaksa-paksa. "Lili mau bener-bener pulih dulu baru mulai mencari minat baru Lili. Lili masih kepikiran menulis."
Yohan terdiam lama. Dia juga sedih.
"Ya, boleh." Akhirnya Yohan menjawab begitu. Menepuk pundak Lili dengan sayang. "Senyamannya Lili aja. Ayah dukung asal nggak bertentangan dengan firasat Ayah."
Lili hampir memutar bola matanya. Namun, dia buru-buru menunduk dan mengangguk-angguk. "Iya, iya."
__ADS_1
***