
"Mendadak, uang kas menipis drastis." Bela tiba-tiba berkata waktu mereka (dirinya, Gema, Mila dan Fahmi—asalnya Adit kepingin ikut, tapi tiba-tiba ada urusan di rumahnya) berjalan bersamaan di lorong rumah sakit menuju kamar rawat Lili dan Theo.
"Ya, gimana lagi. Musibah nggak ada yang tau, Bel." Fahmi yang berjalan di sebelahnya menyahuti.
"Cepetan, dong." Gema bersemangat, dia berjalan lebih depan dari yang lainnya. "Gue nggak sabar ketemu Lili."
"Gue juga, dong." Mila menyusul Gema seraya berlari kecil. "Dua model kesayangan gue tumbang. Siapa yang bisa lebih sedih dari gue?"
"Emak bapaknya, lah." Gema menyahuti dengan senyum geli.
Kemudian, akhirnya mereka berempat sampai di depan pintu kamar rawat Lili dan Theo yang bersebalahan.
"Oke. Bagi-bagi, ya." Fahmi memimpin diskusi dengan wajah serius.
"Gue Lili." Gema memutuskan cepat.
"Gue Theo." Mila turut menyusul.
"Oke, kalau gitu gue Lili." Fahmi ambil suara dan menunjuk Bela dengan refleks. "Lo Theo."
"Oke sip." Bela mengangguk.
Kemudian, empat orang itu melangkah ke masing-masing pintu tujuan.
"Permisi." Gema langsung membuka pintu kamar rawat Lili. Ada Ibunya di sana. Lili sedang berbaring damai di bangsalnya. Meliriknya sekilas dengan senyum tipis yang kelihatan sekali sedihnya.
"Oh, temen-temennya Lili, ya?" Ily langsung bangkit dengan senyum tipis. Wajahnya masih diliput kesedihan dan lelah.
"Gema, Tante." Gema masuk dan melangkah mendekati Ily untuk memperkenalkan dirinya.
"Fahmi, Tante." Fahmi turut mengenalkan dirinya. "Ketua Kelas."
"Oh, iya." Ily mengangguk seadanya. Suaranya sangat lembut. "Kalian jangan sungkan-sungkan aja." Ily melangkah mendekati pintu. "Ibu bakal tunggu di luar."
"Iya, Tante."
Begitu Ily keluar, Gema dan Fahmi buru-buru mendekati Lili. Lili otomatis bangkit jadi setengah berbaring menyambut kedatangan dua orang temannya.
"Lili ...." Gema bersuara lirih. Sedih. "Cepet sembuh, dong. Gue sendirian mulu, dong."
__ADS_1
"Ya, siapa yang nggak mau cepet sembuh?" tanya Lili riang. Dia tak mau membuat orang-orang yang melihatnya bersedih. Karena itu Lili selalu riang. "Gue juga pengen pulang. Gue juga pengen sekolah. Gue juga pengen nulis lagi."
"Ini pulihnya kapan?" tanya Gema penasaran.
"Paling lama tiga bulan. Paling cepet satu bulan. Asal gue makan obat teratur, ikut saran dokter, ya, pasti optimis. Gue nggak mau nyerah, Gem."
"Baguslah."
"Gue sempet takut, Gem. Gue mimpi aneh waktu tidur." Lili mulai bercerita. Wajahnya jadi sedih tanpa bisa ditahan. Dia menatap Gema penuh arti. "Gimanapun, maaf ya kalau gue ada salah. Gue nggak mau bikin lo sakit hati dengan lo jadi temen gue. Gue bakal memperbaiki diri, Gem."
"Gila sih," kata Gema takut, "lo kayak yang mau apa aja, ah. Jangan gitu dong, gue takut."
"Ya, maafin gue makanya, Gem." Lili tersenyum tipis. Merasa amat bersalah.
"Orang sebaik lo mana bisa nggak gue maafin, sih? Huaaa." Gema buru-buru memeluk Lili pelan. Takut Lili kesakitan.
Orang baik katanya, Lili tersenyum tipis. Apakah itu benar?
Fahmi hanya bisa tersenyum melihat persahabatan antara Lili dan Gema yang erat.
***
Mila membuka pintu kamar rawat Theo dan membuat Laura yang tengah berada di samping jendela menatap ke arahnya. Bela turut menampakkan dirinya tak lama kemudian.
Laura tersenyum mendapati keberadaan dua teman sekelas Theo itu. "Eh, kalian lagi."
"Iya, Tante." Mila mulai berjalan mendekat ke arah Laura dan Theo. "Masa teman satu kelasnya nggak jenguk Theo yang lagi terbaring di bangsal rumah sakit?"
"Yaudah, kalau gitu Tante keluar aja. Ngobrol sepuasnya aja, ya." Laura mengangguk dan menepuk kecil pundak Theo.
"Baik, Tante." Mila tersenyum setelah mengangguk.
Secepat itu, Laura telah menghilang dari kamar ini. Menyisakan tiga orang di sana.
"Yo," kata Mila memecah keheningan, membuat Theo menatapnya,"lo kenapa bikin gue sedih mulu, sih? Lo dendam sama gue gara-gara ajak lo ikut fashion show?"
"Ck. Nggak gitu, elah." Theo tersenyum kecut. "Gue kecelakaan aja."
"Oh ya, Yo." Bela cepat-cepat mengeluarkan lima buah pisang di sebuah kantong. Menyodorkan pada Theo. "Maaf ya cuma bisa kasih segini. Cash flow kelas lagi nggak lancar."
__ADS_1
Theo menerimanya dengan senang hati.
"Ya setiap harinya juga nggak lancar, sih." Bela tersenyum tak enak. "Tapi, cukup kan?"
"Kalian ke sini juga udah cukup buat gue." Theo tersenyum lembut.
"Sejak kapan lo had soft gini, sih, Yo?" tanya Mila curiga. "Bikin was-was aja."
"Kenapa was-was? Aneh, ya?" Theo tertawa kecil. Kemudian membuang napas kecilnya dengan wajah lelah. "Gue mencoba buat berubah."
"Lo bikin gue takut kalau gue jatuh cinta sama lo." Mila menyuarakan apa yang sebelumnya ia tahan untuk tak disuarakan. Membuat Theo terkejut sesaat. "Tapi, lo kan udah nyangkut ke Lili. Berebut degan teman itu bukan level gue."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Eh, kenapa, Yo?" Bela jadi khawatir. Kemudian menepuk Mila dengan gemas. "Lo kalau ngomong disaring dulu, dong!"
Mila merasa bersalah pada Theo. "Maaf, Yo. Maaf."
"Ada materi baru dari Pak Toto, ya?" tanya Theo mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Gue pengen ikutan."
"Kalau lo mau, gue bawa nih bukunya. Gue pinjemin deh." Bela cepat-cepat membuka tasnya dan menyerahkan sebuah buku pada Theo. "Soalnya gue udah back-up data di HP."
"Wah, wah, wah." Mila mencium bau-bau sesuatu dan menatap Bela dengan curiga. "Buat sontekan ya lo? Kok pake back-up back-up di HP?"
"Ck. Kepo aja lo." Bela enggan menjawab Mila. "Nih, Yo. Cepet Ambil."
Theo menerima buku itu dengan senyuman senang dan berterimakasih. "Makasih, Bel."
"Ck pantes nilai lo suka oke, ya?" Mila masih curiga. "Padahal kayaknya lo nggak begitu oke waktu pelajaran."
Bela menatap Mila dengan terganggu.
Tiba-tiba, Theo tertawa karena melihat tatapan Mila yang masih curiga dengan lucu pada Bela meski Bela sudah memberinya tatapan penuh peringatan. Tawanya itu membuat Bela dan Mila menatapnya dengan penuh ketertarikan.
"Ih, ketawa." Mila tersenyum bangga. "Ganteng banget. Coba dari tahun lalu lo begini. Udah gue gebetan jadi pacar."
"Theo, sini, kita fotbar!" seru Bela antusias.
Theo senang.
__ADS_1
***