Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 29


__ADS_3

"Ya, nggak apa-apa, Ly. Namanya juga hidup. Ada gagalnya, ada suksesnya. Lo boleh saja sekarang nggak lolos, tapi dulu lo paling jago di sekolah. Menang lomba di sana di sini. Bikin anak orang iri, apalagi orang tuanya mereka," kata Eza panjang ketika Ily sibuk mencari-cari novel yang membuatnya tertarik.


Hari ini Ily meminta Eza untuk menemaninya membeli novel. Untuk menghiburnya saat luang, Ily memilih untuk membaca cerita-cerita. Jika terus menekuni soal-soal lagi, bisa jadi Ily akan stress dan membuat rambutnya rontok.


Kemarin saja, saat bersisir, rambutnya rontok lebih banyak dari biasanya. Ily mulai merasa itu tak sehat dan memutuskan untuk menyenangkan diri sendiri.


"Iya, Za, iya. Udah napa ceramahnya. Gue juga udah paham semua itu. Gue gagal untuk kuliah tahun ini di UI, tapi nggak boleh sampai gagal bahagia."


"Ya, gue takutnya lo tiba-tiba ada di berita gitu. Naik atap gedung buat loncat."


"Banyak imajinasi lo."


"Banyak imajinasi, banyak pikiran. Pikiran adalah ide. Orang dengan banyak ide itu biasanya pintar!"


"Pintar matamu."


"Harusnya nih, ya, masuk dua puluh besar itu termasuk pintar, lho."


"Dua puluh dari dua lima maksudnya?" Ily menjelaskan lebih faktanya.


Eza membuang napas tak percaya. "Iya, terus aja hujat. Nggak apa-apa. Nggak apa-apa."


"Bukan hujat, Za." Ily memberi pengertian. "Gue hanya membeberkan faktanya. Lo ini gampangan banget, aduh, kesel deh. Bete."


Wajah Ily langsung kusut dan cemberut hingga membuatnya tampak lucu seperti anak kecil yang merajuk. Selanjutnya, Ily melihat-lihat lagu novel yang berjajar dengan beragam genre.


"Mau beli eskrim?" tawa Eza tiba-tiba.


Ily menoleh dan secepat itu wajahnya berganti. Jika diibaratkan langit yang awalnya mendung dan akan terjadi badai dengan awan pekat bergelantungan, kini langit itu berubah cerah dengan awan-awan putih mengembangkan yang menyenangkan hati.


"Mau!" seru Ily semangat. "Eskrim mochi, ya? Yang cokelat!"


"Ck, elah, ditawarin dikit langsung nyaut. Kayak ikan yang dipancing paket pelet, lo," cerca Eza dengan tawa geli.


"Ya, yang penting lo traktir," balas Ily dengan senyum polos. "Oh, iya, sekarang kan lo udah ada pemasukan dari konser kecil-kecilan di cafe, kan? Mantap, Bosque, ayo ke Baskin!"


Eza hampir mendelik saat Ily langsung menarik tangannya untuk keluar dari toko buku. "Lho, lho, nggak jadi beli novel?"


"Ah, nanti aja, itu mah gampang--aduh!" Ily yang semula berbalik ke belakang untuk menatap Eza saat menjawab pertanyaannya hingga terantuk badan seseorang, kini berhenti melangkah.


"Heh, jalan liat-liat dong. Itu kepala bukan bisa. Sakit, jir," keluh orang yang ditabrak Ily. Suaranya familiar dan jelas orang itu adalah Raihan.


"Ngapain di sini? Padahal minggu kemarin juga lo ke sini," kata Ily langsung. Ketika memerhatikan Raihan yang agak meringis, Ily langsung merasa tak enak. "Oh, iya, maafin gue nggak liat-liat."


"Makanya jangan buru-buru, heh, gimana sih," timpal Eza seraya melepaskan tangannya dari genggaman Ily yang kuat itu.


"Maaf," kata Ily lagi.


"Yaudah, nggak apa-apa," balas Raihan akhirnya. Dia menatap Ily dan Eza kemudian. "Kalian mau ke mana?"


"Mau beli eskrim," jawab Ily cepat. Kemudian berpaling pada Eza. "Yuk!"


"Meluncur!"


Raihan yang ditinggal begitu saja, jelas tak terima. Laki-laki itu segera berbalik dan ikut berjalan di sebelah Ily yang bersebelahan dengan Eza. "Gue ikut, ya?"


"Buat apa?" Eza bertanya tak suka. Sejenak ingat pada Yohan. Kini, Yohan memang sudah tak di sini, namun datang Raihan.

__ADS_1


Jelas, menurut Eza, di antara dua orang itu tak ada yang cocok untuk mendapatkan hatinya Ily.


"Makan eskrim."


"Yaud--"


"Kalau mau jadi orang ketiga, yaudah, ayo," potong Eza pada jawaban yang hendak Ily berikan.


Wajah Raihan berubah sedikit. Meski begitu, ia tersenyum. "Iya, gue mau."


Eza berdecak meremehkan. Tak menduga jika Raihan punya mental yang sekuat itu. Sementara bagi Ily, kehadiran Raihan membuatnya tambah senang karena Ily suka makan eskrim ramai-ramai. Dengan begitu, dia bisa saling mencicipi banyak rasa tanpa mengeluarkan banyak biaya.


Sejurus kemudian, Ily, Eza serta Raihan telah duduk di sebuah meja dengan berbagai macam eskrim di depannya. Eza dan Ily duduk bersebelahan tentu saja, sengaja untuk membuat Raihan merasa panas.


Itu bukan maksud Ily, jelas itu merupakan tujuan Eza. Akal licik laki-laki itu untuk membuat Raihan mundur.


Ily ditraktir Eza tiga eskrim. Tiga-tiganya eskrim mochi. Rasa cokelat, stroberi dan vanilla. Raihan membeli satu cup rasa kacang cokelat, sementara Eza membeli eskrim cone yang juga rasa cokelat, namun bukan cokelat biasa, melainkan cokelat yang sudah ternama.


"Jadi, gimana, Ly?"


Raihan tiba-tiba bertanya sewaktu Ily mulai membuka kemasan eskrim mochi rasa cokelatnya. Refleks, membuat Eza ikut menatapnya dengan bingung.


"Gimana apanya?" Eza justru menjadi pihak yang menjawab.


"Em... apa, ya... lo sekarang gimana kabarnya?" Raihan memperjelas pertanyaannya.


Ily awalnya menatap bingung, mengernyitkan keningnya, kemudian berpikir. Jelas, pertanyaan Raihan menuju pada keadaannya kini setelah berbicara pada orang tuanya tentang kegagalannya. 


"As you see," balas Ily seraya menggerakkan kedua bahunya ke atas. "I'm ok."


"I'm ok, i'm ok," ledek Eza meremehkan. "Di dalam hati jingkrak-jingkrak kanan-kiri. Itu kaki bisa diem nggak--wadow, lo kenapa malah injek kaki gue, Chilli?"


Eza mengela napas pendek, sementara Raihan menahan senyum melihatnya. "Baguslah, lo baik-baik aja, Ly. Kalau ada apa-apa lo bisa cerita ke gue."


"Ye, emangnya lo udah berapa lama sih ketemu sama Ily? Berasa udah lama banget, jir," keluh Eza tak terima.


"Aduh, Za, lebay banget. Nggak apa-apa kali dia begitu. Kita juga udah kenal dari kecil," balas Ily terkesan membela Raihan dan itu jelas membuat Eza geram. "Ya, kan, Han?"


"Yoi," balas Raihan senang.


Eza mendelik, namun tak mendebat lagi karena sudah terlena akan enaknya eskrim yang sedang ia makan. Ily melakukan hal yang sama tak lama kemudian, namun Raihan berbeda.


Laki-laki itu lebih fokus pada ponselnya, dengan jari menari-nari di atas keyboard dalam ponsel layar sentuhnya.


***


"Bu, Elvan nggak usah kuliah aja."


Tangan ibunya langsung berhenti, yang mana sebelumnya melakukan kegiatan cuci piring. Sontak, ibu mencuci tangannya yang berbusa untuk menghampiri Elvan dengan wajah serius. Elvan sendiri duduk di kursi meja sambil memain-mainkan jarinya, jelas untuk menghilangkan rasa gugup kala mengatakan hal barusan.


"Kenapa?" tanya Alina dengan wajah bingung yang bercampur dengan aura tegas.


Elvan menggigit bibirnya, memalingkan wajahnya dari Alina karena takut kena semprot saat mengatakan, "nggak aja."


"Kenapa?" Alina menarik dagu Elvan supaya bertatapan dengan matanya langsung. "Jawab. Jujur."


Mata Elvan bergerak ke sana dan ke mari asal tidak bertubrukan dengan mata tajam ibunya. Dari dulu, Alina memang sudah sangat ketat dan tegas padanya apalagi tentang pendidikan, tak heran bahwa kini wajahnya sangat serius. Bahkan meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya akan terasa malas untuk melanjutkannya nanti.

__ADS_1


Elvan paham bagaimana rasanya menjadi Alina. Harus mengurus, memerhatikan dan memberi kasih sayang pada anak. Itu semua berat untuk dijalankan, namun Alina dapat menjalankannya tanpa membuat Elvan pernah kecewa.


Oleh karenanya, sangat berat sekarang untuk Elvan jujur. Sebab, jawabannya akan sangat-sangat mengecewakan Alina. Elvan sangat yakin.


Elvan menarik napas panjang, menyiapkan diri matang-matang dan jelas itu membuat Alina makin geram tambah khawatir.


Alina berkacak pinggang seraya berdecak kesal. "Kalau kamu mikirin biayanya, kamu harus cepet hapus pikiran itu. Sekarang kita emang numpang sama nenek, minjem uang ke sana ke sini buat sehari-hari, tapi ibu bisa kerja keras ke depannya buat kehidupan kita. Kamu nggak perlu ikutan pikirin itu. Ini masalah orang tua. Kewajiban kamu hanya belajar, sekolah yang bener dan jadi orang berguna nantinya. Jangan sampe kayak ibu."


Kening Elvan berkerut tak suka. "Ibu kan S1."


"Kamu harus sampai master." Ibu membalas cepat. "Cita-cita ibu itu punya anak yang sekolah S3. Bisa, ya?"


Elvan mengela napas panjang. Alina tak tahu saja bahwa Elvan bisa sampai ke sini berkat bantuan Eza dan Ily yang senantiasa mengajarkannya kembali materi di kelas. Karena sesering apapun, sesering apapun Elvan memerhatikan guru yang tengah menerangkan, otaknya seolah menolak untuk memahami.


Sungguh, sekarang saja Elvan sudah sangat merasa bersalah. Apalagi jika ia melanjutkan kuliah, apalagi jika ia sampai S3. Belum lagi biaya dan tekanan-tekanan lainnya. Elvan merasa akan memilih menjadi gelandangan saja daripada tersiksa dengan hutang-hutang untuk sampai S3.


Biarlah orang-orang menganggapnya berpikiran sempit, Elvan hanya tak ingin memberatkan ibunya. Yang berjuang, lelah dan letih sendiri.


Elvan juga ingin ikut berjuang.


Oleh karenanya, Elvan mengambil tangan Alina. Yang dulu sangat lembut dan putih itu, kini telah kasar dan agak kecokelatan. Mungkin terlalu sering bekerja kasar dan berkeliaran di luar saat bekerja. Elvan ingin menangis melihatnya.


Alina mengernyit, namun tak bilang apa-apa saat Elvan menariknya untuk duduk di tempat asalnya duduk. Sementara itu, Elvan mulai merendahkan diri dengan tangan yang masih menggenggam tangan ibunya.


Posisinya seperti Elvan akan meminta restu untuk keputusan seserius meminta restu untuk menikah dengan seseorang yang kemungkinan besar akan Alina tolak.


Perlakuan Elvan yang sesopan dan melelehkan hati ini membuat Alina terharu serta ingin menangis. Namun, Alina menahannya karena tak setuju dengan keputusan Elvan beberapa saat yang lalu.


"Bu..." Elvan menenguk ludahnya kasar. "Elvan mau jujur, tapi ibu jangan marah."


"Tergantung," balas Alina tegas. Makin merasa khawatir saat Elvan bersikap lembut seperti ini. "Kamu mau jujur gimana?"


"Elvan nggak akan kuliah bukan karena mikirin apa yang ibu sebutkan sebelumnya. Karena jauh di dalam lubuk hati Elvan..." Alina sempat ingin membantah dan menyeramahi anaknya lagi, namun Elvan lebih dulu melanjutkan kalimatnya, "Elvan nggak mau kuliah."


"Ngaco kamu, nih," decak Alina tak suka. Menarik tangannya dari genggaman Elvan untuk menjitak kening anak semata wayangnya pelan. "Kebanyakan main. Udah, ah, ibu nggak mau denger hal itu lagi. Kamu harus lanjut sekolah pokoknya."


"Bu..."


Alina yang awalnya ingin melanjutkan mencuci piring setelah bangkit dari duduknya, menjadi berbalik lagi saat Elvan memanggilnya dengan suara super memelas.


"Jangan membantah, Elvan." Namun, Alina tetap pada wajah dan jawaban tegasnya.


"Elvan udah besar, Bu."


"Tapi belum cukup dewasa."


"Elvan bisa kabur dari sini sekarang. Elvan berani."


Alina terdiam dengan hati mulai murka. "Kamu mau ikutin jejak ayah kamu?"


Elvan terdiam seribu bahasa.


"Sana pergi."


"Bu..." Elvan bingung harus berbuat apa sekarang. Tangannya menggaruk tengkuknya saat mendekati Alina yang kini kembali mencuci piring dengan wajah menahan amarah. "Maaf, Bu. Bukan gitu maksud Elvan..."


Alina tak menjawab. Persis seperti bagaimana saat Elvan bolos sekolah. Seorang malaikat yang mengandungnya selama sembilan bulan dan merawatnya hingga sekarang itu akan mendiamkannya sesingkatnya tiga hari ke depan.

__ADS_1


Dan itu sangat menyiksa.


__ADS_2