
"Nggak apa-apa, Aira." Aura menatap Aira dengan tatapan menyakinkan. "Bagaimana pun, Leo adalah salah satu bagian terindah dalam hidup Kakak. Nggak baik buat melupakannya begitu aja."
Aira terdiam sebentar. "Yaudah. Tapi Kakak jangan aneh-aneh lagi, ya "
"Iya." Aura beralih dari Aira pada Theo. "Kayaknya Leo nggak pernah ngasih tau tentang saya, ya?"
Theo mengangguk. "Dan saya ingin tau."
"Kenapa?"
"Bang Leo tau semua cerita tentang saya." Theo tersenyum sedih. Meski begitu, dia berusaha kuat. "Nggak adil kalau saya nggak tau tentang Bang Leo. Mau sekecil apapun cerita itu."
Aura tertawa. "Oke, bakal saya ceritakan kalau gitu."
"Iya."
"Leo sering ke sini kalau kamu nggak tau. Mungkin ... sejak keluarga agak retak? Ya, kayaknya waktu itu. Waktu sebenar lagi kita mau kelulusan."
Aura menunduk menaut-nautkan tangannya karena gugup. Ceritanya diulang kembali dan itu tak menutup kemungkinan membuat Aura merasa mengalami itu lagi. Merasa senang lagi. Merasa bahagia lagi.
"Leo itu ketua kelas di kelas saya. Dia baik. Ke semua orang tentunya. Begitu aja, saya suka sama dia. Mungkin, sejak kelas sebelas? Ya, sepertinya begitu. Saya mulai ikutin dia ke mana-mana, saya penasaran bagaimana hidupnya, sampai suatu hari kepergok waktu dia makan di warteg. Waktu itu Leo tanya. Saya jawab jujur aja karena udah nggak ada alibi." Aura tertawa saat ingat bagaimana kikuknya ia saat itu. "Terus semenjak itu, kita jadi lebih dekat. Leo lebih-lebih baik waktu saya mengenalnya lebih dekat. Saya suka basket, dua juga. Saya suka masak, dia juga. Saya suka musik mellow, ternyata dia juga begitu."
Theo jadi ingat bagaimana kakaknya suka masak sambil diiringi lagi mellow seperti orang galau kalau kata Ibu. Leo memang sesuka itu pada musik dengan alunan tenang dan lembut.
Selain itu, Leo juga hobi masak. Mulai dari makanan kering sampai yang berkuah. Dari yang mudah, sampai rumit. Pokoknya Leo senang bereksperimen dengan mencari-cari resep dari Google dan membuat hidangan baru.
Hal itu tak menutup kemungkinan untuk Theo turut belajar masak. Leo kerap kali menyuruhnya ini itu sebagai asisten koki. Leo itu pintar di segala bidang, beda dengan Theo yang pemalas.
Berkat itu, Theo sedikit-sedikit bisa memasak. Setidaknya itu berguna saat terpaksa hidup berdua saja dengan Titi sekarang.
Kadang, Theo iri pada Leo yang serba bisa itu.
"Pokoknya waktu demi waktu berlalu, kita merasa cocok banget. Kita saling jatuh cinta. Waktu beres UAS semester ganjil, Leo ngajak saya pacaran. Senangnya minta ampun saya. Langsung diterima aja sama saya." Aura melanjutkan dengan debaran jantung yang masih terasa sama saat dia merasakannya tiga tahun yang lalu. "Seperti remaja kebanyakan, kami juga banyak melakukan date. Leo bukan anak yang terlalu pintar, tapi dia membuat saya melihatnya sebagai sosok sempurna. Dia pengertian, manis dan ... perhatian."
Theo menarik napas panjang saat dia juga merasakan hal yang sama dengan Aura. Kini, dia sangat rindu pada sosok kakaknya yang sebenarnya masih Theo benci.
"Sampai rasanya saya rela memberi seluruh dunia berserta isinya. Dia juga sering bilang bahwa saya adalah jantungnya. Beberapa kali juga kami merencanakan masa depan bersama. Kuliah sama-sama, menikah, punya anak, tertawa dan bersama sampai jadi tua. Mengingat itu, memang selalu menjadi hal paling indah dalam hidup saya."
Firasat Theo agak tak enak. Saat melihat raut wajah Aura agak muram dan penuh penyesalan.
"Kami sama-sama buta cinta. Hingga beraninya tidur sama-sama."
Theo merasa perutnya mual.
Dia hanya mengira Leo jatuh cinta dengan Aura lalu menjadi brengsek dengan meninggalkannya begitu saja.
Namun, ternyata ada alasan yang lebih buruk dari sekedar meninggalkannya begitu saja.
Theo merasa ... pandangannya selanjutnya pada Leo akan berubah; tak akan pernah sama laki.
__ADS_1
Kakak laki-laki yang dia idolakan telah hilang; tak akan pernah kembali.
"Waktu saya diperiksa hamil, dunia rasanya hancur bagi saya." Theo merasa jijik pada Leo ... juga sedikit merasa begitu pada Aura. Namun, wajah Aura yang sedih dan tampak bersih itu sedikit membuat rasa jijik Theo berkurang.
Sepertinya Aura itu anak baik-baik.
Kakaknya lah yang brengsek di sini.
"Tapi kamu tau? Leo bilang mau tanggung jawab dan bilang jangan aborsi ke saya. Saya tenang waktu itu. Saya nggak bilang dulu ke keluarga saya karena Leo bilang mau tanggung jawab."
Theo tertawa. Pasti ujungnya akan menyedihkan.
Aura menarik napas panjang. Napasnya mulai satu-satunya. Dadanya sesak. Seolah kejadian itu benar-benar diulang lagi.
"Saya nunggu ... dengan cemas. Bukannya saya nggak percaya ke Leo. Tapi hari itu, waktu kami sepakat buat bilang ke orang tua masing-masing tentang ini," air mata Aura luruh, deras, namun tak membuatnya terisak. Suaranya lah yang jadi amat lemah saat melanjutkan, "dia mendadak nggak bisa dihubungi."
Theo mengalihkan pandangannya. Tak kuasa menahan air mata.
Mendengar seseorang disakiti sampai begini oleh kakaknya sendiri membuat Theo merasa rendah dan hina.
Bagaimana bisa kakaknya melakukan hal sekecil ini?
Jika Leo lahir kembali, Theo tidak yakin dirinya mau menerima kakaknya lagi.
Aura hanya tersenyum saat melihat Theo yang sepertinya terguncang. Ketika Theo menoleh dan menatapnya lagi, barulah Aura melanjutkan.
Theo menatap Aura dengan sedih. Aira di belakangnya mengusap-usap pundak Aura supaya merasa tenang.
"Tapi, sebulan kemudian," Aura tetap menangis tanpa isakan. Kerongkongan tersekat sesaat saat dia ingat bagaimana hari di mana Leo sudah tak ada, "saya justru dengar kabar bahwa dia udah meninggal. Dia benar-benar udah saty meter di dalam tanah dan nggak akan bisa teraih lagi oleh saya."
Theo tersenyum kecil. "Memang, kematian kakak ditutup. Saya nggak tau alasannya, tapi Ayah memblokir semua media massa waktu itu."
"Karena itu ... karena itu ...." Aura memejamkan matanya. Memeras air matanya agar luruh seluruhnya hingga tak membuat pandangannya terhalangi. "Saya marah ... saya kecewa ... saya sedih ... saya juga merasa kasihan. Leo nggak bisa capai cita-cita karena saya. Berkali-kali saya ingin ikut menyusul Leo, namun saya ingat bayi saya dan orang tua saya. Mana mungkin saya mengecewakan semua orang lagi."
Theo dengan setia mendengarkan. Meski saat ini ia ingin berlari lalu memaki kakaknya yang jijik itu, Theo menahan karena dia menyesal pada Aura.
Karena kakaknya, masa depan seseorang hancur.
"Ya, akhirnya keluarga saya memutuskan untuk menyuruh saya lakukan aborsi. Karena katanya, apa gunanya jika perempuan kelewat muda punya anak tanpa ayah?" tanya Aura seraya tertawa hambar. "Saya juga setuju. Waktu itu saya nggak berpikir lebih panjang. Saya juga marah dan benci pada Leo. Dengan marah dan sedih, saya kehilangan orang yang berarti bagi saya lagi untuk yang kedua kali."
Theo mengangguk-angguk setuju. Sejauh ini, tak ada hal yang membuatnya menatap Aura dengan jijik. Ceritanya dan langkah yang dia ambil tak terdengar salah.
"Awalnya saya membenci Leo karena meninggalkan saya," lanjut Aura, "tapi setelah bertahun-tahun berlalu, saya paham Leo nggak benar-benar berniat meninggalkan saya. Pasti ada sesuatu."
Theo terdiam. Apakah iya seperti itu?
"Kamu sendiri berpikir bagaimana?" tanya Aura khawatir.
"Awalnya saya pikir Bang Leo pergi karena perceraian orang tua saya." Theo menjawab. "Tapi mungkin juga karena Kakak."
__ADS_1
Wajah Aura langsung tampak terkejut dan tersinggung, membuat Theo buru-buru menjelaskan lebih lanjut perkataannya.
"Maksud saya, mungkin saja Bang Leo merasa sangat bersalah dan tertekan hingga akhirnya ...."
"Nggak!" bantah Aura cepat. "Leo nggak begitu. Dia cinta sama saya, dia nggak akan meninggalkan saya begitu aja."
Theo ingin memaki kakaknya karena membuat Aura seperti orang gila. "Kalau dia cinta kakak, pasti dia nggak akan tinggalin kakak gitu aja."
"Karena itu," kata Aura penuh penekanan. "Karena itu. Saya pikir ada yang aneh di rumah kamu, atau keluarga kamu. Pasti ada yang mendorong kepergian Leo."
Theo tak bisa menjawab apa-apa.
Aura menatapnya khawatir. "Kamu benci Leo, ya? Kamu jijik sama Leo, ya?"
Theo menatap Aura lurus-lurus. Kenapa Aura bisa tau?
Aura tersenyum, kemudian dia menoleh pada Aira. "Reaksi kamu sekarang sama kayak reaksi Aira. Dia bilang saya bege, dia bilang saya hina, dia bilang saya jijik, dia maki-maki dan benci saya pokoknya ... tapi waktu demi waktu berlalu, dia berubah. Aira pasti paham. Dia mengerti."
Theo termenung.
"Saya harap kamu nggak membenci Leo," kata Aura kemudian, pada Theo. "Leo anak yang baik. Saya pikir ada yang salah dengan keluarganya. Tapi, waktu lihat kamu ... saya pikir Leo punya saudara yang baik. Yang mirip sekali dengannya."
Theo tiba-tiba merasa tak enak badan. Dia mual. Matanya berkaca-kaca karena menahan rasa mual itu.
"Kamu kenapa?" tanya Aura khawatir.
"Kayaknya masuk angin," jawab Theo susah payah. Urat-urat lehernya tampak. "Wle."
Theo muntah. Namun tak keluar apa-apa. Aura segera menepuk-nepuk punggungnya. "Kamu mau pulang? Ayo, saya anterin."
"Nggak apa-apa, Kak. Saya sendiri aja." Theo buru-buru bangkit dan tersenyum kecil pada Aura. "Kalau begitu, saya pamit, Kak."
"Ya udah. Hati-hati."
***
Ada yang aneh dari Theo.
Waktu Theo tiba di rumahnya menjemput Titi dan Lili mengantarkan Titi dengan suka rela ke gerbang rumahnya, Theo seperti sakit karena bibirnya pucat. Dari pulang sekolah, Theo tak bilang apa-apa dan melaju pergi dengan motornya entah ke mana.
Lili sudah bertanya apakah Theo sedang sakit, tapi boro-boro menjawabnya, melirik saja tidak.
Theo memang sedingin itu, ya.
Karena rasa penasaran Lili itu setinggi menara Eiffel, dia menelepon Theo malam harinya. Siapa tau Theo kenapa-kenapa. Lili khawatir.
Itu saja.
***
__ADS_1