
"Gue mau ngaku."
Lili membuka mulutnya, tak percaya. "Jangan bilang lo suka sama gue?"
"Iya." Theo menukas tanpa tanggung-tanggung. Dia sudah basah, Theo akan menyelam sekalian. "Gue suka sama lo. Gue mau ngaku semuanya. Makanya gue mau ajak lo ke suatu tempat waktu itu."
Lili sebenarnya sudah menduga-duga, jadi harusnya jantungnya tak seberdebar ini. Namun, Lili hanya mampu mematung untuk beberapa saat.
"Kalau lo inget pernah nabrak gue di depan perpus dan kehilangan diari, itu adalah waktu di mana gue mulai suka sama lo." Theo menunduk dengan wajah malu sekaligus menyesal. "Maaf, gue baca diari lo tanpa bilang-bilang."
Tanpa bisa dicegah, air mata Lili menetes. Lili menekan bibinya dalam satu garis lurus. Menahan sesak yang terus menyerangnya. Lili mengalihkan pandangannya dari Theo.
Selama itu ... Theo menyukainya?
Lalu bagaimana perasaannya saat Lili sibuk menyukai Jae? Theo duduk tak jauh darinya saat Lili memuji-muji Jae. Theo berdiri di dekatnya saat Lili terus melihat Jae. Theo juga berada di dekatnya saat Lili mengaku bahwa dia menyukai Jae. Ah, bukan. Lili memberitahu Theo secara langsung tentang perasaannya pada Jae.
Lili merasa bahwa dirinya sangat jahat.
Waktu Theo mendongak. "Kok lo nangis?"
"Lo ... lo ... lo kenapa kalau suka gue nggak bilang dari awal?" tanya Lili jadi kesal. Meski begitu, air matanya terus mengalir. "Gue kan nggak tau. Lo pasti sakit hati waktu gue terang-terangan suka sama Kak Jae."
"Ya, gimana. Waktu itu gue takut, Li. Orang sebaik lo mana suka bisa suka sama cowok kayak gue. Gue sadar diri. Gue nggak apa-apa lah, Li." Theo mulai mendekatkan diri pada Lili. Menepuk kecil punggung tangan Lili. "Hati nggak ada yang bisa dipaksa juga. Hak lo buat suka Kak Jae."
"Serius nggak apa-apa?" tanya Lili dan saat dua menoleh, tahu-tahu wajah Theo benar-benar tepat di hadapannya. Sangat dekat.
Refleks, Lili mundur sedikit.
"Iya." Theo tak menyadari itu dan tersenyum kecil.
"Beneran?" tanya Lili ingin lebih memastikan
"Iya." Theo mengangguk dengan senyum geli. "Emang kalau gue nggak apa-apa, lo bakal balik suka sama gue?"
Lili jadi terdiam. Entah karena panas matahari atau yang lain, pipi Lili merona merah muda.
"Ekhm. Nggak usah dijawab ajalah." Theo bersuara canggung. "Udah, lupain aja. Anggap gue nggak pernah ngomong tentang itu. Gue nggak mau bikin lo makin stress."
Lili mengangguk lega atas ucapan Theo. "Baguslah kalau lo mengerti. Gue nggak perlu pusing-pusing lagi, kan? Gue takut dosa lagi soalnya bikin anak orang sakit hati."
"Lo nggak perlu pusing-pusing lagi. Gue nggak apa-apa." Theo mengangguk meyakinkan dengan senyum penuh, sampai matanya tampak menyipit.
"Kok lo jadi baik?" tanya Lili heran. Theo mengerutkan keningnya samar. "Maksudnya, lo jadi lembut banget, Yo."
Theo tersenyum bangga. "Gue rasa ini pribadi gue yang sebenarnya."
"Seneng dengernya." Lili turut bangga.
__ADS_1
"Baguslah." Theo mengangguk. Kemudian menunjuk tangan kanan Lili. "Sakit, Li?"
"Sakit. Agak nilu-ngilu gitu."
"Cepet sembuh, ya." Theo tersenyum lembut.
"Pasti." Lili mengangguk. Kemudian dia melihat keadaan Theo yang sebenarnya lebih patah darinya. "Lo juga. Pasti sudah jalan pake tongkat."
"Nggak begitu susah." Theo menjawab dengan nada santai. "Kalau udah biasa ya enak."
"Mana ada enak." Lili langsung menukas dengan nada tak setuju. Menatap Theo dengan mata membulat marah. "Bohong lo. Gue yang tangannya digips aja pegel gakuna. Apalagi lo, double kill."
"Jangan samain gue sama lo." Theo tertawa karena dia senang Lili 'tampak' khawatir padanya. "Gue cowok. Kuat."
"Kalau mau pulang ya pulang aja, Yo." Lili tiba-tiba berkata begitu dan mengalihkan pandangannya lagi dengan cepat. "Mata lo barusan bilang gitu."
Theo mengerutkan keningnya dengan bingung. "Bilang gitu gimana?"
"Aduh pegel banget ini tangan. Aw, ini kaki rasanya mati rasa. Pengen rebahan di rumah cepet-cepet sambil disuapin buah sama Ibu." Lili menjelaskan agak kesal karena Theo tak paham-paham juga. "Mata lo bilang gitu, Yo."
"Kata siapa?"
"Kata gue. Barusan."
"Salah."
"Dasar pengarang." Theo tertawa lagi. Kemudian dia menarik napas dalam-dalam. "Daripada di rumah sendirian, mending gue temenin cewek yang gue suka."
"Sayangnya cewek yang lo suka nggak mau ditemenin." Lili menukas tajam. "Dia risi kalau ditemenin sama cowok yang tiba-tiba ngaku suka dan nggak malu-malu buat tunjukkin rasa sukanya sampai ngeliatin terus kayak lo."
"Sakit."
Lili menoleh pada Theo dengan tatapan tak mengerti.
"Hati gue sakit." Theo tersenyum sedih, menyentuh dadanya. "Sekarang."
"Ck." Lili kesal karena dipermainkan begini. "Bodo, Theo."
Theo tertawa dan Lili diam menatap ke depannya kembali.
"Izinin gue nemenin lo," kata Theo pelan. "Ya, sebagai temen sekelas aja gue nggak apa-apa."
Lili tak menjawab apa-apa.
Apa Lili jahat sekarang ini?
Lili lebih memilih diam dan melihat langit cerah. Menerangi wajahnya. Menyehatkan tulangnya. Menyembuhkan senyumnya. Lili suka begini. Tak peduli lagi dengan Theo, Lili hanya ingin menyembuhkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dan seperti ini, sudah cukup bagi Theo.
***
((**T A M A T))
(tapi boongan) hahahaha
-b o n u s**-
Waktu pacaran, Dika pernah tanya apa yang paling Sherin benci jika Dika melakukannya.
Jawabannya adalah mendatangi dukun alas menempuh jalan pintas untuk mencapai sesuatu.
Memang, Sherin itu anaknya percaya sekali bahwa sebuah kerja keras adalah kunci segala kebahagiaan. Berkat itu, Dika berjanji pada dirinya untuk tidak pernah pergi ke dukun atau sejenisnya.
Namun, sekarang, Dika justru ada di salah satu kediaman dukun yang terpecaya di lingkungan ibu-ibu komplek tetangganya.
Dika sudah banyak mempertimbangkan.
Sebab hari itu, Dika melihatnya.
Dika melihat bagaimana Theo disenggol oleh truk pembawa bahan makanan hari itu. Dia melihat Theo terluka. Dika terlalu takut untuk menampakkan diri lagi setelah menelepon ambulans untuk Theo.
Dika pernah menginginkan Theo celaka.
Saat melihatnya, dia tak merasa senang sama sekali. Hatinya bimbang dan tak terasa nyaman.
"Saya mau ingat semua yang terjadi tanggal 27 Maret kemarin, Bah Dukun." Dika langsung menyuarakan keinginannya pada Dukun yang dia temui sekarang.
"Yakin?"
"Yakin, Bah." Dika mengangguk.
"Bayaran saya mahal, lho." Dukun untuk memberi peringatan. "Anak sekolah kalau kamu mana mampu."
"Berapa, Om?" tanya Dika. "Eh, Bah Dukun, maksudnya."
"Dua ratus."
"Waw."
"Kenapa? Kalau nggak sanggup ya sana boleh," tukas Duku itu dengan suara malas. Dia tak suka diganggu anak ingusan seperti Dika, "m-i-n-g-g-a-t."
Dika meringis keras. "Boleh dicicil dua minggu nggak, Bah?"
***
__ADS_1